CEO General Electric Indonesia Handry Santiago

Handry Santiago CEO General Electric Indonesia

Beberapa waktu lalu, StudentsXCEOs bertemu dengan Pak Handry Santiago, CEO dari General Electric Indonesia. Jujur saya pengen banget ketemu dengan Pak Handry ini, cerita dari teman-teman yang sudah pernah bertemu, kharismanya benar-benar luar biasa, dan ternyata dia adalah seorang difabel berkursi roda, hal ini terjadi ketika dia masih remaja, dikarenakan sakit kanker yang menimpa dirinya.

Handry Santiago CEO General Electric Indonesia
Handry Santiago CEO General Electric Indonesia

Maka StudentsXCEOs melakukan CEO Meeting dengan beliau, sementara di waktu yang sama saya harus hadir di Leadership Camd & Award di Puncak, Bogor. Duh, kacau, minta notulensi aja kalau begini, sama videonya Pak Handry dari teman-teman StudentsXCEOs yang hadir. Sementara notulensi dan videonya masih diproses, saya coba share surat Pak Handry untuk para pemipin muda Indonesia, yang nantinya akan menjadi pemimpin di berbagai perusahaan, instansi, provinsi, kementrian dan lembaga di Indonesia.

Berikut surat dari Pak Handry untuk Anda, future leader.

 

Handry Satriago

CEO

GE Indonesia

BRI II Tower, 16th Floor

JL. Jend Sudirman No. 44-46.

Jakarta 10210

Indonesia

Jakarta, 9 July 2012
Kepada para pemimpin Indonesia masa depan

Di manapun Anda berada

Di dunia yang semakin global

Saat saya menulis surat ini kepada Anda, dunia yang saya huni ini mampu membuat 112 buah mobil dalam 1 menit, menerbangkan orang non-stop dari Singapura ke New York dalam 18 jam, dan menghasilkan produk “Made in The World” seperti celana jeans yg saya pakai sekarang. Karena, walaupun saya beli di Bandung dan berlabelkan “Made in Indonesia”, celana ini melibatkan lebih dari 15 negara dalam value chain pembuatannya.

Malam ini, ketika surat ini saya ketik dengan komputer yang mampu mengumpulkan 411 juta informasi dalam 0.23 detik untuk pencarian kata “leadership”, saya membayangkan keterbatasan mencari pengatahuan yg dihadapi ayah saya, saat mimpinya untuk sekolah sirna karena perang yang berkecamuk. Saya memikirkan daya apa yang dimilikinya, sehingga dia berani mendobrak keterbatasannya dengan merantau dan berjibaku untuk survive di berbagai kota di Sumatera hingga akhirnya sampai di Jakarta, Tidakkah dia takut dengan keterbatasannya?

Usianya baru 15 tahun saat itu, dan hidup tidak berjalan seperti yang dia inginkan. Saya juga terkenang dengan peristiwa mengerikan yang saya hadapi sendiri pada tahun 1987, ketika saya tiba-tiba divonis menderita kanker lymphoma non-hodkin- kanker kelenjar getah bening, yang tumbuh di medulla spinalis saya dan merusaknya sedemikian rupa sampai saya kehilangan kemampuan untuk berjalan. Bulan-bulan yang melelahkan karena harus berobat ke sana ke mari, dan akhirnya berujung kepada keharusan menjalankan hidup dengan menggunakan kursi roda. Saya ingat betul betapa takutnya saya untuk menjalani hidup saat itu. Keterbatasan menghadang di banyak hal.

Usia saya baru 17 tahun waktu itu, dan hidup berjalan jauh dari yang saya harapkan. Apa yang bisa dilakukan ketika keterbatasan seakan menjelma menjadi tembok besar dan ketakutan adalah anak panah berapi yang terus dilontarkan kepada kita sehingga kita tidak berani maju dan terus mundur?

Saya, dan mungkin juga ayah saya waktu itu, memulainya dengan menerima kenyataan. Menerima bahwa jalan tidak lagi mulus, bahwa lapangan pertempuran saya jelek, dan amunisi saya tidak lengkap. “Reality bites” kata orang. Betul itu. Tapi menerima “gigitan” itu berguna untuk membuat kita mampu menyusun strategi baru. Menghindarinya atau lari darinya justru membuat kita terlena mengasihani diri kita terus menerus dan menenggelamkan kemampuan kita untuk dapat melawan balik.

Kemudian saya mengumpulkan kembali puing-puing mimpi saya. Tidak! Mimpi tidak akan pernah mati. Manusia bisa dibungkam, dilumpuhkan, bahkan dibunuh, tapi mimpi tetap akan hidup. Ketika keterbatasan dan ketakutan melanda, mimpi kita mungkin pecah, runtuh, dan berserakan, tapi tidak akan hilang. Dengan usaha keras, kita bisa menyusunnya kembali, dan ketika mimpi telah kembali utuh, ia akan hidup, menyala, dan memberikan cahaya terhadap pilihan jalan yang akan ditempuh untuk mewujudkannya.

Dua puluh enam tahun menjalani kehidupan dengan kursi roda membuat saya semakin yakin bahwa Yang Maha Kuasa memang telah menciptakan kita untuk menjadi makhluk yang paling tinggi kemampuan survival nya di muka bumi ini. Kita diberikan rasa takut, yang merupakan mekanisme primitif yang dimiliki organisme untuk survive, yaitu keinginan untuk lari dari ancaman, atau… melawannya!. Ketika pilihannya adalah melawan, maka perangkat perang telah disiapkanNya untuk kita. Perangkat itu terwujud dalam kemampuan bouncing back—daya pantul, yang jika digunakan mampu membuat kita memantul tinggi ketika kita dihempaskan ke tanah. Kitalah yang bisa membuat daya pantul itu bekerja. Jika kita tak ingin melawan, perangkat perang tersebut bahkan tidak akan hadir.

Berpuluh kali, atau beratus kali atau mungkin beribu kali saya diserang rasa takut ketika menjalani kehidupan dengan kursi roda ini. Ketika membuat pilihan kembali ke sekolah, ketika menyeret kaki untuk menaiki tangga bioskop agar bisa menemani wanita pujaan menonton, ketika memutuskan untuk kuliah, ketika menghadapi 4 lantai untuk bisa praktikum kuliah, ketika harus menjalani kemoterapi, ketika memulai bekerja, ketika naik pesawat, ketika akhirnya bisa ke luar negeri, ketika melamar calon istri, ketika mulai bekerja di GE yang penuh dengan orang asing, ketika menerima tawaran untuk mempimpin GE di Indonesia….Saya takut. Tembok besar berdiri tegak, angkuh, dan ribuan panah berapi menghujami saya.

Namun seiring dengan rasa takut yang timbul tersebut, mimpi saya untuk dapat menjalankan dan menikmati hidup menerangi jalan yang ingin saya tempuh. Dan ketika perangkat perang—semangat untuk memantul, saya gunakan, saya seakan menjelma menjadi jenderal yang siap perang, yang didukung oleh ribuan pasukan—keluarga, teman, bahkan orang yang tak dikenal, yang tiba-tiba hadir karena mereka percaya terhadap keyakinan saya. Saya maju berperang, dengan keyakinan bahwa peperanganlah yang harus saya jalani, saya nikmati. Hasil peperangan sendiri tidaklah terlalu penting, karena kalaupun kalah, toh saya akan berperang lagi.

Kalau mati, saya akan mengakhiri perang dengan senyum, karena saya tahu saya telah berjuang dengan sebaik-baiknya. Sang Pencipta lah yang pada akhirnya memilihkan hasil dari perjuangan kita. Menjadi pemimpin bermula dari memimpin diri sendiri. Mewujudkan mimpi yang ingin dicapai. Tidak perlu membayar orang untuk menjadi pengikut. Jika mereka melihat anda dengan penuh keyakinan berani mempimpin diri anda sendiri, mereka akan mengikuti dan membantu anda dengan tulus, serta percaya pada kepemimpinan anda.

Saat saya menulis surat ini kepada Anda, dunia tempat saya hidup sekarang ini menghasilkan pendapatan kotor setahun $70 triliun. Sekitar 40% dari pendapatan dunia tersebut dihasilkan oleh 500 korporasi terbesar dunia, dan tidak ada satu pun yang berasal dari negara kita (133 dari Amerika Serikat, 79 dari China, 8 dari India). Terdapat sekurangnya 136 negara yang berkompetisi di dunia ini untuk mendapatkan keuntungan terbanyak dari proses ekonomi global, dan daya saing Indonesia terukur pada ranking 46. Singkat kata, kita masih belum menjadi pemeran utama di panggung dunia yang tak berhenti mengglobal.

Pekerjaan rumah anda sebagai pemimpin Indonesia tidaklah mudah. Tidak berarti, tembok besar dan ribuan panah api bisa menghentikan langkah anda untuk berperang.

Sharing Pak Hasnul Suhaimi, CEO XL, Part 2

Presentasi Pak Hasnul Suhaimi 4

Sesuai janji saya, karena saya adalah orang yang menepati janji, kali ini saya akan menceritakan lanjutan dari pertemuan antara kami dengan Pak Hasnul Suhaimi, di ruang meeting CEO Xl Axiata. Pak Hasnul Suhaimi juga membagikan beberapa cerita pertarungan sengit yang terjadi di ranah telekomunikasi antara XL dan provider lainnya beberapa tahun yang lalu.

Dia menceritakan bahwa untuk menyerang, diperlukan beberapa strategi khusus, diantaranya Frontal Attack, yakni serangan marketing secara langsung, seperti yang dilakukan oleh Mie Sedap terhadap dominasi Indomie. Kemudian ada juga Flanking Attack, yaitu menyerang kompetitor di daerah kelemahannya.  Ada juga Encirclement Attack, yaitu mengepung kompetitor di suatu wilayah persaingan bisnis. Ada juga Bypass, yakni menguasai teknologi selangkah di depan kompetitor. Dan yang terakhir ada Guerilla attack, yaitu menyerang lawan sedikit demi sedikit.

Namun ada satu hal lainnya, yang seringkali dilupakan oleh para pemimpin bisnis, yaitu cracking zone. Hal ini diaplikasikan beliau ketika pertama kali menjabat sebagai CEO XL Axiata, Pak Hasnul Suhaimi yang pada saat itu dikontrak selama 3 tahun oleh shareholder, memiliki visi untuk menjadikan XL perusahaan telekomunikasi nomor 2 di Indonesia, setelah sekian tahun hanya di posisi 3 saja.

Strategi Pak Hasnul Suhaimi

Presentasi Pak Hasnul Suhaimi 3
Presentasi Pak Hasnul Suhaimi

Bagaimana caranya, dengan membanting harga telponan di Indonesia pada tahun 2008, yang biasanya 1.000 rupiah permenit, menjadi 100 rupiah/menit. Harga diturunkan 90% nya, dan dia minta kepada tim-nya agar revenue bisa naik, traffic melonjak, dan profitpun bisa didongkrak. Jelas tim-nya kaget, dan berkata

“Wah, gag bisa begini Pak, gimana caranya ?”

“Lah, saya gag tahu, saya mau harganya turun 90%, tapi profit kita naik 2x lipat.”

Serempak kita yang diruangan ketawa sejadi-jadinya, ya iyalah, bos nya begini, ada-ada aja Pak Hasnul ini. Namun dengan diskusi yang solid, serta tim kuat yang dibentuknya, selama beberapa minggu akhirnya didapatkan cara yang jitu. Sebuah terobosan otentik untuk mengalahkan kompetisi harga. Sehingga dikeluarkanlah program XL nelpon 1 rupiah/detik, dengan iklannya yang sangat bombastis. Dengan promo setelah 2 menit pertama dengan harga normal. Karena mengapa? Saat itu masyarakat Indonesia rata-rata cuma nelpon 57 detik/telepon, karena biaya nelpon yang sangat mahal, sehingga perlu untuk mengubah habit masyarakat untuk menelpon lebih lama, dan harga bisa menjadi lebih murah.

Promosi oleh Tim Pak Hasnul Suhaimi

Presentasi Pak Hasnul Suhaimi 4
Presentasi Pak Hasnul Suhaimi

Tim advertising pun segera memberikan draft poster dan iklan yang akan dikeluarkan ke seluruh Indonesia untuk promosi besar-besaran ini. Dan sebelum diluncurkan, dibawa dulu ke Pak Hasnul Suhaimi untuk diperiksa. Kata Pak Hasnul.

“Nggak beres pikiranmu ngeluarin poster kayak gini?”

“Lho, kenapa Pak?”

“Satu, itu kata termurah gimana bisa coba? Kita bukan yang termurah di Indonesia saat ini. Dua, itu 1 rupiah/detik kan setelah 2 menit pertama, informasi tentang itu dimana coba?”

“Itu ada Pak, tulisan di kotak bawahnya.”

“Tulisan kecil ini? waduh, terus ini gambar cewe nya gag bisa diganti apa, ini bahaya sekali masang gambar poster wanita seperti ini.” Jelas saja, waktu itu sudah H-14 menuju pembukaan bulan Ramadhan, jelas Pak Hasnul paham bahaya apa yang akan muncul kedepannya.
namun jawaban kepala marketingnya sungguh mengejutkan.

“Ya sudah beginilah adanya Pak, kalau bapak nggak mau ya kita nggak usah pasang.” Pak Hasnul bilang kepada kami, berani juga ya timnya yang satu ini, maka mau tak mau diapun mengalah juga.

“Baiklah, kalau kita pasang, resikonya apa saja?”

“Kena tegur Pak, kena demo FPI, dan kena denda.”
“Okelah kena tegur dan didemo, sudah biasa saya. Kalau dendanya kira-kira berapa?”

“Satu milyar Pak.”

“Oh, gag papa, lanjutkan saja.”
Maka proyek promosi inipun dilanjutkan, dan hasilnya benar-benar spektakuler, sekaligus juga mendatangkan resiko-resiko yang sudah disebutkan oleh tim Pak Hasnul, meski demikian, sebagai seorang pemimpin perusahaan, Pak Hasnul berkata bahwa kita harus berani mengambil resiko yang sudah diperhitungkan, jangan takut menghadapi masalah. Respon pasar, jelas terkejut, namun mulai mengambil XL sebagai pilihan nelpon yang utama.

Bagaimana tanggapan kompetitor saat itu Pak Hasnul? Tanya kami. Ya 3 bulan awal mereka bilang, ah, gag mikir itu si Hasnul, liat aja nanti gag jalan itu strateginya. 6 bulan berjalan, mereka biarkan saja, toh sebentar lagi juga budget iklan mereka akan habis sia-sia. 1 tahun berjalan, traffic XL melonjak tajam, profit melejit, subscriber berkali-kali lipat, jelas kompetitor kalang kabut, dan mengeluarkan perlawanan seperti gambar berikut.

Reaksi Kompetitor oleh Aksi Pak Hasnul Suhaimi

Presentasi Pak Hasnul Suhaimi 5

Presentasi Pak Hasnul Suhaimi

 

 

Saat kita keluarkan 1 rupiah/detik, mereka bikin 0,5 rupiah/detik. Gag mau kalah XL, bikin program 0,1 rupiah/detik. Dihantam kompetitor dengan program 0,01 rupiah/detik. Panas, XL keluarkan program 0,0000000000000…..1 rupiah/detik, satu baris penuh, dengan kata-kata “dijamin” termurah. Eh, ditimpali lagi dengan kompetitor bikin 0,000….1 nol-nya ada 3 baris, dan ada pula tambahan kata-kata, “dijamin pasti” termurah. XL putar haluan, buat iklan baru denan tagline 600 rupiah sampai puasssssssss. Haha, gag berhenti-berhenti kami di ruangan tertawa dengan penjelasan Pak Hasnul Suhaimi mengenai reaksi kompetitor ini, dan bagaimana cara XL menghadapinya. Dan pada akirnya, Pak Hasnul berhasil menempatkan XL di posisi kedua setelah 4 tahun menjadi CEO, meningkatkan subscriber sebanyak 4 kali lipat, Revenue melejit 3 kali lipat, total traffik naik gila-gilaan menjadi 30 kali lipat, net profit naik 4 kali lipat, dengan jumlah pekerja yang tetap sama, tanpa ada penambahan maupun pengurangan, sehingga bisa dikatakan efesiensi pekerja meningkat drastis. Sungguh pencapaian hebat yang diperoleh oleh Pak Hasnul Suhaimi, telah membawa XL Axiata menjadi perusahaan telekomunikasi nomor 2 di Indonesia, dengan kapitalisasi pasar mencapai 20 persen lebih. Dan beliau terus melakukan inovasi, rencana strategi marketing baru, serta planning besar lainnya yang akan kita lihat dalam tahun-tahun mendatang, mari berikan applause meriah untuk Pak Hasnul Suhaimi, CEO XL Axiata Tbk.

Sharing Pengalaman Pak Hasnul Suhaimi, CEO Xl Axiata Tbk

CEO Meeting bareng Pak Hasnul Suhaimi
CEO Meeting bareng Pak Hasnul Suhaimi
CEO Meeting bareng Pak Hasnul Suhaimi

Setelah sharing tentang kegiatan XL Future Leaders dari XL Axiata, saya rasa ada baiknya jika saya memperkenalkan sosok hebat pemilik ide brilian tersebut, yakni Pak Hasnul Suhaimi, CEO XL Axiata Tbk sejak 2006 yang lalu. Pak Hasnul Suhaimi sudah sharing di depan saya sebanyak 3 kali, yang pertama adalah di national gathering XL Future Leaders pertama, di Graha XL, bersama dengan 120 XL Future Leaders lainnya. Yang kedua di Pusat Studi Bahasa Jepang, Universitas Indonesia, pada saat roadshow XL Future Leaders ke UI. Dan yang ketiga inilah yang paling berkesan, sharing secara ekskusif kepada 19 mahasiswa anggota StudentsXCEOs (organisasi future busines leaders, dimana saya member terpilihnya) chapter Jakarta dan Bandung, di ruangan meeting CEO Office, lantai 8, Menara Prima.

Pada 2 pertemuan sebelumnya, dia tidak pernah bicara secara sendiri dan eksklusif, selalu ditemani orang lain (pertemuan pertama bersama CEO Indosat, Alexander Rusli, pertemuan kedua bersama kang Goris, entrepreneur muda sukses) dan durasi yang sangat singkat, tidak sampai 1 jam. Namun pada saat sharing eksklusif kali ini, beliau sendirian sharing, dari jam 2 siang sampai jam setengah 6, wow, 3 setengah jam kami bersama belajar dan sharing mengenai CEO, mengenai XL Axiata, mengenai bagaimana menjadi seorang CEO perusahaan, dan sharing pengalamannya selama menjadi CEO. Berikut ini beberapa ringkasan dari sharing kami yang luar biasa itu.

Bermula dari Kecil, Ciptakan yang Lebih Besar, by Hasnul Suhaimi

Setiap orang, pasti memiliki satu cerita sukses di masa kecil mereka, kesuksesan kecil inilah yang perlu untuk diingat, bahwa kita merupakan pribadi yang hebat, bahkan sejak kanak-kanak. Dan dari kesuksesan kecil ini, kita memperbaiki diri, mendapatkan kesuksesan yang lebih tinggi, kemudian evaluasi dan meningkatkan kapabilitas diri, sehingga mencapai kesuksesan lagi, begitu seterusnya. Seperti kisah pada Pak Hasnul yang menjadi juara pidato saat Sekolah Dasar, yang menjadikannya menyadari kemampuan hebat yang dimilikinya.

Pak Hasnul berkata, Globalisasi telah membawa perubahan besar pada lingkup kepemimpinan bisnis di Indonesia. Pada saat jaman dia dahulu, saingannya masih orang-orang Indonesia, belum banyak expatriat yang masuk dan bekerja di Indonesia. Namun saat ini, pada saat kami nanti dewasa dan siap menjadi pemimpin bisnis, saingan kami bukan hanya orang-orang Indonesia, tetapi Eropa, Afrika, terutama China dan India. Mereka memiliki kapabilitas yang luar biasa, kecerdasan yang tinggi, kemampuan komunikasi bagus, pemahaman bisnis yang hebat. Namun kita sebagai orang Indonesia tetap memiliki kelebihan yang tidak mereka miliki, yaitu pemahaman atas market Indonesia. Kita tahu bagaimana kultur budaya orang Indonesia, kita tahu bagaimana bekerjasama dengan orang-orang Indonesia, serta kita tahu dengan jelas bagaimana menjual kepada orang-orang Indonesia.

Diamond utama Korporasi, by Hasnul Suhaimi

Presentasi Pak Hasnul Suhaimi
Presentasi Pak Hasnul Suhaimi

Menurut penjelasan Pak Hasnul, kegiatan utama sebuah korporasi bisa digambarkan sebagai diamond di samping, terdapat 4 komponen, yaitu Marketing, Human Relation, Finance, dan Operation. Untuk menjadi seorang CEO, setidaknya harus sudah masuk ke dalam 3 dari 4 bagian diamond ini. Sehingga pada saat memimpin perusahaan nanti, seorang CEO dapat memiliki pandangan helikopter yang total dan menyeluruh mengenai suatu masalah korporat. Pak Hasnul Suhaimi menyatakan bahwa dia memulai karirnya dari diamond Operation, sebagai lulusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung, pekerjaan pertamanya adalah sebagai tukang solder di perusahaan pertambangan bernama Schlumberger. Kemudian memutuskan untuk pindah ke Indosat sebagai teknisi tower Indosat.

Suatu ketika, dia menceritakan bahwa dia dan timnya baru saja melakukan tugas berat yang membuatnya bergadang selama 3 bulan penuh, waktu itu Indosat ingin memperluas jangkauan BTS-nya dalam waktu yang singkat. Ketika pekerjaan tersebut selesai, Pak Hasnul menghadap ke rapat direksi, dan melaporkan kepada atasannya. Sang atasan mengucapkan terima kasih dan meminta direksi yang lain untuk bertepuk tangan atas kerja keras tim teknis oprasional. Setelah itu atasan tersebut kembali membahas mengenai marketing dan sales. Betapa panasnya hati Pak Hasnul, merasa tidak dihargai, merasa kerja kerasnya hanya dipandang sebelah mata saja oleh pimpinannya.

Sehingga dia kemudian menemui seorang temannya yang merupakan konsultan bisnis, dia menyarankan Pak Hasnul untuk pindah ke diamond lainnya, dan menyarankan Pak Hasnul untuk mengambil MBA, maka Pak Hasnulpun mengambil MBAnya di Universitas Hawaii, Amerika Serikat. Setelah lulus, beliau masuk ke diamond marketing, beberapa tahun berselang beliau masuk ke diamond finance, tak lama setelah itu beliau menjabat direktur Utama Indosat dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2006. Dan sejak 2006 sampai dengan saat ini menjadi CEO di XL Axiata.

8 Disciplines of Excellence, by Hasnul Suhaimi

Presentasi Pak Hasnul Suhaimi 2
Presentasi Pak Hasnul Suhaimi 2

Dari keempat diamond utama, bisa dijabarkan 8 disciplines of excellence untuk menjadi excellence leader, yang pertama Brand haruslah dipercayai, yang kedua produk harus relevan, ketiga profit yang real, keempat investasi haruslah cerdas, kelima eksekusi yang dijalankan, keenam sistem yang simple, ketujuh teamwork harus saling membantu, dan kedelapan motivasi untuk menyemangati. Mungkin akan saya lanjutkan lagi di postingan berikutnya mengenai sharing dari Pak Hasnul Suhaimi, maklum, sudah malam banget nih nulisnyanya, hehe.