Pertukaran Pelajar ke Luar Negeri, Part 5

Pertukaran pelajar ke luar negeri, baiklah, kali ini saya akan menceritakan sedikit apa saja yang kami lakukan pada hari kelima pada pertukaran pelajar JENESYS ke Jepang. Hari kelima, kami masih berada di prefektur Okinawa (prefekur adalah penggilan untuk lokasi tertentu di Jepang, kalo di kita namanya Provinsi). Kali ini kami berkeliling Okinawa untuk mencicipi ritual budaya khas Okinawa, yakni Bingata dan mengunjungi kastil terkenal di Okinawa, yaitu Shurijo Castle, Okinawa.

Bingata, pada saat Pertukaran Pelajar

Bingata di Okinawa, saat pertukaran pelajar
Bingata di Okinawa, saat pertukaran pelajar

Bingata, merupakan praktikal budaya tradisional masyarakat Okinawa, yang berarti mewarnai kain katun berwarna putih dengan pewarna alami dengan berbagai motif yang sudah digambarkan pada kain tersebut. Kebetulan kami pada saat itu mewarnai sesuka hati motif hewan spiritual khas Okinawa yang disebut sasheer. Ya, menurut Tomita-san, sasheer bisa disamakan seperti burung Garuda di Indonesia, dengan logo, simbol, dan arti tersendiri bagi masyarakat lokal. Jika anda lihat gambar di samping, terlihat kami bersama-sama sedang mengecat kain milik kami masing-masing, oh ya, kain ini sudah dijahit membentuk tas tangan kecil, sehingga hasil prakarya inipun dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari, hehe. Jujur saja, saya benar-benar mewarnainya asal-asalan, I have no idea what I’m doing, tapi pas sudah selesai dan jadi, kok jadi keren banget paduan warna hasil prakarya saya, haha.

Selanjutnya, masih di lokasi budaya Bingata, ada toko souvenir yang menjajakan berbagai macam oleh-oleh berkesan budaya Okinawa, ada baju, ada patung sasheer, alat musik, dan berbagai macam pernak-pernik lainnya. Jelas kesempatan ini jadi kesempatan hunting oleh-oleh bagi kami. Dan pada akhir sesi belanja-belanja, kami dihibur dengan nyanyian klasik Jepang oleh salah seorang petugas di sana, dengan menggunakan alat musik tradisional Okinawa yang namanya Shamisen, yakni alat musik seperti gitar kecil yang hanya memiliki 3 dawai saja. Pada akhir sesi, kami menyempatkan diri untuk berfoto-foto di sekitar lokasi ini, dan sayapun mengabadikan berbagai momen ini dengan video hp sederhana saya, dengan harapan suatu saat saya bisa melihat dan mengenangnya kembali.

Kastil Shurijo, pertukaran pelajar

Di Benteng Shurijo, pertukaran pelajar ke Jepang
Di Benteng Shurijo, pertukaran pelajar ke Jepang

Siangnya, kami pindah ke kastil Shurijo, kastil yang juga menjadi benteng tradisional Jepang kuno, situs yang memiliki cerita historis tinggi. Kastil ini terletak di lokasi perbukitan yang cukup tinggi, melalui cukup banyak perjuangan bagi kami untuk bisa mencapai Shurijo kastil ini. Di bagian depan, terdapat gerbang utama Shurijo kastil, persis di lokasi dimana saya berfoto ini. Masuk ke dalam kastil, setelah melalui tangga batu yang entah berapa banyak, kami tiba di lapangan utama Shurijo kastil, dimana terdapat bangunan besar kastil yang berwarna merah. Saat kami kesini, kastil tersebut sedang dipugar dan dicat ulang, dan tahukah anda bahwa para ilmuan di Jepang menggunakan bahan cat yang sama persis seperti bahan cat yang digunakan oleh nenek moyang mereka pada saat mengecat bangunan bersejarah tersebut. Sehingga nilai historisnya tetap sama, memugar dan memperbaharui tanpa melukai nilai sejarah, begitu cerdas dan berbudaya. Jadi ingat benteng Marlborough di kota saya, Bengkulu, benteng batu kuno peninggalan Inggris yang dicat secara sembarangan menjadi berwarna putih mentereng yang sama sekali norak dan aneh, yah, begitulah adanya negara kita, hehe.

By ahmad arib alfarisy, pertukaran pelajar ke luar negeri.

Pertukaran Pelajar ke Luar Negeri, Part 4

Pertukaran Pelajar ke Luar Negeri Part 4, H4 dari perjalanan panjang kami. Hari ini jadwal kami adalah mengunjungi SMA Yokatsu di pusat kota Okinawa (mungkin, karena saya juga tidak begitu ingat lokasinya dimana). Tapi yang jelas itu berada di daerah Yokatsu, tanpa embel-embel nomor sekolah seperti kita di Indonesia. Seingat saya, satu daerah hanya memiliki satu SMA, yang dibangun dengan sangat besar dan luas, serta menampung banyak sekali siswa. Menurut saya ini ide yang brilian, dengan hanya satu sekolah negeri di satu kawasan, maka pemerintah bisa fokus ke sekolah ini saja, murid-murid juga dikumpulkan, guru-guru akan ditraining dengan sempurna, fasilitas yang sangat lengkap juga dapat dibuat di dalam satu sekolah saja di satu daerah. Bayangkan, di sekolah bertingkat 6 ini, ada kolam renang seluas kolam renang olimpiade nasional, gedung Gymnastik berlantai kayu berpelitur yang sangat keren, fasilitas theater yang hebat, halaman yang luas, dan suasana hijau yang nyaman.

Pendamping Pertukaran Pelajar

Pendamping Pertukaran Pelajar Jepang
Pendamping Pertukaran Pelajar Jepang

Saat pertama kali tiba, kami dipersilahkan untuk mengganti sepatu kami dengan sandal yang disediakan di ruangan pertama kali masuk ke gedung SMA Yokatsu, ada 3 warna sandal yang mewakili 3 angkatan di SMA ini (hal ini baru saya ketahui dari pendamping personal saya di sekolah ini, namanya Taisuke). Setiap orang dari kami diberikan seorang pendamping, dari international club di SMA Yokatsu yang memiliki kemampuan bahasa inggris cukup baik. Dan pendampingku adalah seorang siswa tingkat akhir (kelas 3 SMA), bernama Taisuke, laki-laki tentu saja, walaupun awalnya saya sangat berharap seorang wanita, haha. Kalian bisa melihat penampakan pendamping saya di sebelah ini. Sebelah paling kanan, yang mengenakan penanda nama “Taisuke”, masing-masing dari kami siswa Indonesia juga mengenakan hal yang sama, namun tulisan nama kami dalam bahasa Jepang dan aksara kanji Jepang.

Dia pendamping yang sangat menyenangkan, membawaku berkeliling sekolahnya, mengikuti setiap kelas yang dia ikuti, dan ikut belajar bersama mereka. Dan kami siswa-siswa Indonesia terpisah antara satu dengan yang lainnya, mengikuti pendamping kami masing-masing. Nah, bayangkan, saya sendirian di kelas-kelas yang dimasuki oleh Taisuke. Yang saya ingat ada kelas matematika, gurunya seorang laki-laki, yang tidak terlalu diperhatikan oleh mereka dan juga saya sendiri, karena materinya tentang trigonometri, sin tan cos, dengan pembahasan yang cukup njelimet, eh, jujur, njelimet banget. Taisuke orangnya pendiam, malah yang banyak mengajak saya mengobrol adalah teman-temannya yang lain, dengan bahasa Inggris seadanya, digabungkan bahasa isyarat, kami ngobrol mengenai manga, ya, manga atau komik Jepang, seperti Naruto, Doraemon, Bleach, dan One Piece, haha.

Kegiatan Pertukaran Pelajar

Makan siang di SMA Yokatsu
Makan siang di SMA Yokatsu

Selanjutnya adalah kelas sejarah dan seni, hmm, seni menulis Jepang, dengan tulisan menurun ke bawah, nah, ini saya gag paham sama sekali. Bu gurunya wanita, masih muda, dan sangat cantik menurut saya pribadi, memberikan pinjaman buku materi dan beberapa lembar materi pada hari itu, dalam bahasa Jepang tentunya. Kelas olahraga di ruangan gymnastik, mereka bermain basket, karena saya tidak membawa baju olahraga, maka sayapun berkeliling saja di sekitar gedung gymnastik. Pelajaran terakhir adalah bahasa Inggris, untuk kelas ini, jelas terlihat saya lebih expert dibanding mereka, haha. Tapi sepertinya kelas ini cuma pilihan saja, karena yang ada di dalamnya hanya sedikit, tidak mencapat 30-an siswa, tidak seperti kelas-kelas sebelumnya yang mencapai 50-an siswa lebih malah. Oh ya, sistem kelas disini pun moving class, seperti perkuliahan. Di kelas bahasa Inggris ini, saya sempat diminta untuk menjawab pertanyaan kuis, dan menjelaskannya di depan kelas, untung saya paham dengan kuisnya, dan dapat menjawabnya dengan lancar, saya juga diminta memperkenalkan diri. Dan ketika saya berkata bahwa saya dari Bengkulu, pulau Sumatra, salah satu dari siswa di kelas langsung berkomentar dalam bahasa Jepang, dan guru bahasa Inggris kemudian memberitahukan kepada saya bahwa siswa tersebut mengetahui pulau sumatra dari buku teks mereka, dan tahukah anda mengenai hal apa, Gempa, haha, memang cuma itu sih yang kayaknya terkenal dari Pulau Sumatra di mata internasional.

Penampilan Pertukaran Pelajar

Penampilan Pertukaran Pelajar
Penampilan Pertukaran Pelajar

Setelah jam sekolah berakhir, kami mengadakan pagelaran seni dengan baju daerah kami masing-masing, menyanyikan lagu nasional yang dipadukan dengan puisi dan penampilan panggung lainnya. Cukup singkat, tidak terlalu panjang, dan tentu saja sesi foto-foto dan perkenalan yang lebih santai dan akrab terhadap teman-teman SMA Yokatsu ini, pertukaran pelajar ke Jepang.

Pertukaran Pelajar ke Luar Negeri, Part 3

Pertukaran Pelajar Part 3, so, berikut ini laporan singkat mengenai perjalanan saya di Jepang, pada H3. Masih di hotel Grand Prince New Takanawa, kami makan di restoran hotel yang terletak di bawah tanah (underground), nama restorannya Il Leone Restaurant, dengan logo singa bersayap di pintu masuknya.

Sarapan Pertukaran Pelajar

Makanan Pertukaran Pelajar
Makanan Pertukaran Pelajar

Seperti yang terlihat di gambar, suasananya cukup temaram walaupun waktu menunjukkan jam 8 pagi, dikarenakan ruangannya di bawah tanah. Makanan tipe prasmanan, dengan 2 jenis makanan yang disediakan, yakni west food dan japanese food. Kebanyakan diantara kami memilih makanan ala barat, karena yang ala jepang terlihat begitu aneh, hehe. Minuman disediakan berbagai jenis, mulai dari berbagai jenis susu, dan jenis jus disediakan disini, kami mengambil sesuka selera kami.

Selesai makan, kami bersama-sama naik bis dan menuju Narita Airport, pagi ini kami sudah memiliki jadwal pindah ke Okinawa, perjalanan udara kami memakan waktu sekitar 3 jam. Dan kami tiba di bandara Naha, Okinawa. Suasana panas ala pantai sudah terasa sejak kami keluar dari bandara. maklum, Okinawa merupakan kepulauan kecil yang dikelilingi lautan.

 

Bus Pertukaran Pelajar

Tidur di Bus Pertukaran Pelajar
Tidur di Bus Pertukaran Pelajar

Perjalanan di bis juga sangat menyenangkan, beberapa kali kami melewati pantai Okinawa, suasana siang yang cerah, terlihat karang dan ombak yang segar di pantai Jepang, serta sangat bersih. Teman-teman di bis terlihat sudah tidur semua, di bis inipun terlatun lagu Shimancu Nu Takara, lagu daerah Okinawa, dengan musik instrumen khas Jepang klasik. Namun saya sendiri tak bisa tidur, melihat pantai, melihat rumah-rumah, dan melihat hal-hal menarik di sisi kiri dan kanan bus, dalam perjalanan yang tak terlupakan ini.

Akhirnya sampai juga kami di penginapan kami yang selanjutnya, yaitu JICA Okinawa center. Disini disediakan fasilitas lengkap untuk tamu-tamu luar negeri untuk program yang dilakukan oleh JICA (Japan Internetional Cooperation Agency). Kamar saya 114, single bed, yang artinya saya bisa menikmati ruangan ini sendirian. Ruangan kecil, sederhana, dan begitu menyenangkan. Di dalam ruangan kecil ini ada lemari pakaian berwarna hitam, yang segera saya gunakan untuk meletakkan barang-barang saya. Sebuah tv flat yang ketika saya hidupkan isi channelnya Jepang semua (jelaslah, haha), gag ada yang paham apa yang mereka bicarakan, toilet kecil yang memiliki bak berendam yang cukup tinggi, serta pintu belakang berupa kaca yang bisa digeser untuk membukanya, langsung mengarah ke kolam renang JICA dan pemandangan kota Okinawa di bawah kami, karena JICA Oinawa ini terletak di atas perbukitan.

Sore harinya kami belajar bahasa Jepang dengan bahasa pengantar Inggris, serta orientasi mengenai kegiatan kami selama di Okinawa. Malam hari setelah makan, kami berlatih pementasan seni, yang besok akan kami tampilkan di SMA Yokatsu, Okinawa. Jam 10 malam, saya hidupkan notebook, koneksikan ke kabel LAN di kamar, dan menghubungi keluarga saya di Indonesia, bercerita mengenai kegiatan pertukaran pelajar kami hari ini.

Pertukaran Pelajar ke Luar Negeri, Part 2

Shibuya pada Malam Hari

Pertukaran Pelajar Part 2. Ok, sesuai janji saya (walaupun molornya lama banget), berikut ini cerita kelanjutan perjalanan saya di Jepang.

H2, bangun pagi, jam 6 udah di telepon sama morning callnya resepsionist hotel Grand Prince New Takanawa yang nelpon

“Morning Sir, your teacher ask me to wake up you all in this time, please wake your friends too.” englishnya lucu banget, abis dia nelpon gag tahan saya ketawa ngakak, sampe si Alvin dan Andrew yang sekamar sama saya kebangun. Kemudian saya mandi di kamar mandi mewah hotel (asli, keren banget deh kamar mandinya, seharusnya saya ambil fotonya).

Pertukaran Pelajar ke Jepang

Museum Edo Tokyo (pertukaran pelajar)
Museum Edo Tokyo (pertukaran pelajar)

Jam 7 pagi, kami sama-sama naik bis ke Museum Edo Tokyo, ada kelas umum bagi kami dari salah seorang professor mengenai Jepang dan Orang Jepang (Japan and Japanese). Bagus materi dan pembahasannya, walaupun setelah beberapa lama penjelasannya menjadi cukup membosankan dan berhasil membuat kami ngantuk berat.

Setelah kuliah yang sama sekali tidak singkat itu, kami mengelilingi isi dalam Museum Edo Tokyo, menarik sekali. Museum ini memiliki koleksi bersejarah Jepang dari Jaman Edo, mulai dari layout kota Edo, pakaian-pakaian masyarakat pada masa itu, peralatan bercocok tanam, replika kapal nelayan sebesar ukuran aslinya, peralatan perang masyarakat Jepang, termasuk pakaian samurai. Hingga ketika Jepang memasuki masa Industrialisasi, dan Jepang menuju moderninasasi. Tomita-san, selaku pendamping grup kami, menjelaskan berbagai hal melalui headset yang kami gunakan, sehingga dia tidak perlu ribut-ribut dan rusuh di dalam museum saat menjelaskan berbagai hal di museum (jadi ingat kunjungan museum daerah beberapa waktu lalu, guru sejarahnya rusuh banget di dalam museum menjelaskan objek-objek bersejarah kayak Sukarno lagi pidato, hehe).

Pertukaran Pelajar SMA

Makan di Sumo Restaurant (pertukaran pelajar)
Makan di Sumo Restaurant (pertukaran pelajar)

Setelah lelah keliling-keliling, kami diajak makan siang di sebuah restoran klasik bertema sumo, kami duduk lesehan, dan makanan akan disediakan di meja panjang di depan kami. Seperti yang anda lihat di foto berikut. Makanannya enak, dengan citarasa yang Jepang banget deh pokoknya, ada ikan, ada cumi, ada sedikit nasi, dan berbagai sayuran yang digoreng bersama dengan tepung yang lembut. Di tengah meja, ada mangkuk keramik besar berisi bermacam-macam makanan laut dengan kuah yang enak banget. Masih teringat di lidah saya citarasa makanan di tempat ini.

Setelah itu, kami pulang kembali ke hotel, beristirahat sejenak, makan malam steak di restoran steak tidak jauh dari hotel, sehingga kami berjalan kaki saja kesana. Steak yang enak, dan banyak sekali porsinya.

Malam ini secara umum tidak ada acaranya, jadi kami grup Okinawa (kelompok saya) memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri malam ini, tanpa izin dan tanpa pendamping. Sehingga berangkatlah kami 19 orang siswa SMA Indonesia, dengan Jaket hitam bertuliskan JENESYS dan INDONESIA gede di punggungnya, berjalan-jalan di Tokyo pada malam hari. Tujuan pertama kami adalah stasiun kereta yang dekat dengan hotel, berjalan kaki kesana, luar biasa ramenya di stasiun tersebut. Setelah meneliti rute kereta yang ada, dan bertanya sana sini kepada orang-orang di stasiun, akhirnya kami memutuskan ke Shibuya saja, kota yang terkenal dengan Hachiko dan Harajuku style.

Jalan-jalan Saat Pertukaran Pelajar

Shibuya pada Malam Hari (pertukaran pelajar)
Shibuya pada Malam Hari (pertukaran pelajar)

Perjalanan di kereta bawah tanah cukup lancar, tanpa kendala, aman terkendali. Di Shibuya asik banget suasana malam harinya, rame banget, style orang orang disana juga keren keren, jadi ajang foto-foto deh kesempatan ini. Ada ketemu restoran mie ramen, tapi kami ragu kandungan halal haramnya, batal deh nyicipin ramen langsung di Jepang, padahal penasaran banget kok Naruto hobi banget makan mie ramen. Pulangnya kembali naik kereta bawah tanah, kami bertemu dengan orang Indonesia di kereta, dan ngobrol sepanjang perjalanan mengenai kabar Indonesia, dan bagaimana kehidupan di Jepang. Sampai di hotel dengan selamat, juga tetap utuh 19 orang, hehe, Pertukaran Pelajar ke luar negeri.