Live Report 4th Month, Muslim in China, Hijrah from Majority to Minority

Warga Muslim di Shanghai, Setelah Jum'atan

Sebenarnya saya gag qualified buat nulis hal ini, muslim, duh berat banget materinya, haha. Mengingat masih sering bolong-bolong sholatnya, terutama subuh, apalagi sekarang winter, ya ampun gravitasi selimut semasa winter itu luar biasa hebatnya, yah mudah-mudahan saya semakin membaik imannya dengan nulis ini.

So, muslim in China.

Pertama kali design mau ke China, udah clear semua di list, potensi ke depan, checked.
Performa kampus, checked.
Probability eksekusi agenda lainnya, checked.
Bisa survive ato nggak, makanan, cuaca, orang-orang, checked.
Dah aman semua list udah oke rasanya, coba dibaca-baca lagi, eh baru ingat ada ketinggalan satu hal, gimana muslim disana, haha.

Sejujurnya saya nggak ada ide di awal bagaimana muslim di China, gag ada teman untuk ditanya, dan materi-materi di online gag nemu yang bahas muslim di China. Tapi berhubung sudah ada teman kontak-kontak anak master degree juga di Shanghai Jiaotong University, Lemington, anaknya super pintar anyway, dan single, prospektif masa depan cerah, kalau ada cewe yang single dan minat boleh komentar di bawah :D, saya tanyalah ada kantin halal atau nggak di kampus, dia bilang ada, ya sudah, aman berarti, kampus mengakomodir kebutuhan siswa muslim yang persentasenya dikit banget di kampus udah cukup oke menurut saya, mau tau berapa persentase muslim di China, check pie cart berikut:

perbandingan muslim di Indonesia & China
perbandingan muslim di Indonesia & China

Makanya judul Live Report kali ini fix, Hijrah, dari Majority ke Minority.
Dan Chinese Religion itu apa please jangan tanya saya, hingga saat ini saya bingung itu apa, menurut saya, personally, pandangan subjektif, so please jangan dijadikan acuan, Chinese Religion lebih seperti kepada kepercayaan, kepada leluhur, hukum-hukum kemanusian, confusius, dan sebagainya, ini mungkin ya, besar kemungkinan juga saya salah.

Nah balik lagi ke topik Muslim in China, dari negara yang populasi muslimnya 87%, tiba2 hijrah ke negara yang populasi muslimnya gag sampe 2%, dan itupun mayoritas di provinsi Xinjiang dan Ningxia, di area lain seperti Shanghai, hmm, 1% ada harusnya udah bersyukur sih, haha, jadi coba kita bahas satu-satu beberapa hal yang membuat hijrah ini terasa begitu luar biasa.

1. Makanan Halal

Di Indonesia, everything is halal unless it say haram. In China, everything is haram unless it say halal.
Untuk makan aja susah, hadeh.
Tapi gag sesusah itu juga sih sebenarnya, untunglah di kampus SJTU udah ada 3 kantin yang menyediakan makanan halal, total kantin di SJTU ada 6, dan 3 kantin halal ini spesifik memiliki bangunan terpisah sendiri, dengan mekanisme food management sendiri, dan staff-staff muslimnya sendiri. Staffnya pake kopiah sama jilbab beberapa, meskipun standar pemakaiannya rada beda seperti di Indonesia.

Menunya?
Yaaa, okelah menurut saya, ayam goreng, daging, sayurnya banyak, ada berbagai jenis mie juga. Tapi lama-lama bosan juga sih sebenarnya sama menunya, haha, padahal saya baru beberapa bulan saja disini, apalagi kalau sudah beberapa tahun ntar, hmm. Tapi bagaimanapun inilah opsi tersimple, termurah dan tergampang yang bisa diakses untuk makan makanan halal. Harganya nasi, sayur dan lauk biasanya selalu di bawah 10 yuan sekali makan, kisaran antara 7-9 yuan biasanya.

Yang datang kesini siapa aja?
Xinjiang people, penampilannya berbeda dengan Han Chinese (majority China race), menurut saya lebih ke Turki, namun Asianya juga masih kentara, ngomongnya nggak mandarin, bahasa Xinjiang, rada ada arab-arabnya kadang. Cewek Xinjiang cantik-cantik, rambutnya ikal, tapi ya tetap masih cantik pacar saya, haha, perlu disclaimer ini.
Kemudian Han Chinese muslim, ada beberapa juga Han Chinese muslim disini mahasiswanya.
Dan yang paling ribut di kantin halal adalah geng Urdu speaking people, gengnya Pakistan. Ternyata ada banyak banget mahasiswa Pakistan di China, usut punya usut mereka punya program kerjasama yang sangat bagus dan sudah sejak lama antara China dengan Pakistan, sehingga kuota penerima beasiswa China Government Scholarship yang ke China jumlahnya super banyak, gag cuma di kampus saya saja, di berbagai kampus lain di seluruh China. Dan forum-forum diskusi scholarship China yang saya ikuti dulu juga banyak provider infonya dari Pakistan.

Kalau lagi makan di luar, selalu ada beberapa pilihan restoran halal di luar kampus, biasanya dominasi warna hijau, dengan logo halal di palangnya, serta menunya rata-rata sama antara restoran halal satu dengan yang lainnya, Xinjiang Restaurant apa namanya, saya lupa.

Namun yang terbaik adalah tetap masakan sendiri, berhubung sudah bosan dengan makanan kantin dan malas beli keluar, beberapa bulan ini saya belajar masak, yep, setelah berusia 23 tahun akhirnya saya belajar masak juga, gag cuma nasi mie aja seperti tahun yang sudah-sudah, namun mulai mencoba masak nasi goreng, masak ayam goreng, masak udang sambal goreng, masak ikan, serta udah juga bikin sop ayam, sejauh ini yang paling mantap sop ayam sih, hehe. Kompor listrik sudah beli, di lantai 1 ada kitchen set sih, tapi saya tinggal di lantai 5 cuy, haha, capek duluan naik turun tangganya, jadi belilah kompor listrik, panci set, piring mangkok dan kitchen set.

Bahan makanan halalnya?
Bumbu halal ada di minimarket dekat kampus, sama ada sayur-sayuran juga disana, dan seafood, saya suka udang, ikan susah prosesingnya, repot bener, haha.
Kemudian ayam sama daging sapi dan domba mesti beli ke friday market di Huxi mosque, area kota, sejam naik subway dari kampus. Hari jum’at sengaja saya kosongkan semua jadwal kuliah, buat sholat jum’at dan makan-makan di friday muslim market, satenya enak bener disini, dan kadang ketemu teman Indonesia juga, seringan orang Malaysia sih, sama Pakistan tentunya yang paling banyak, sering banget ketemu teman Pakistan kampus disini.

2. Sholat

Sholat 5 waktu no problem, kan bisa sendiri di kamar, kebetulan juga roomate saya yang awalnya sekamar, dari Korea Selatan, entah mengapa memutuskan untuk pindah keluar, gag jadi sekamar dengan saya, hmm, no idea why, jadi stay lah saya sendiri di kamar dan sholat sendiri di kamar gag jadi masalah.

Nah, buat Jum’atan gimana?
Karena peraturan pemerintah, di fasilitas pendidikan dan pemerintah lainnya itu nggak ada masjid, atau surau, atau bangunan keagamaan buat agama apapun, bukan hanya untuk muslim saja. Jadi yah opsi terbaik untuk jum’atan adalah melakukannya di kota, di masjid area kota yang jumlahnya gag begitu banyak.
Atau ikut sholat Jum’at versi mahasiswa Pakistan di dorm kami ini, dorm 51.
Di lantai dasar ada ruang belajar, itu kami bereskan dulu meja dan kursinya, bentang tikar, kemudian sholat jum’at deh disana. Ada mungkin 20 sampai 30 orang yang sholat jum’at di dorm. Imamnya sama mas-mas itu aja, khotbahnya full bahasa Arab, tak paham sama sekali saya.
Di kota, imamnya khotbahnya 2 kali, dengan 2 imam, pake bahasa China semua, tak paham sama sekali juga saya, hahaha.

Dan berikut beberapa foto kehidupan muslim di China selama saya disini

Pelayan Restoran Halal di Jinan
Pelayan Restoran Halal di Jinan

 

Waktu Sholat di Masjid, Jinan, Shandong
Waktu Sholat di Masjid, Jinan, Shandong

 

Masjid di Jinan, Shandong
Masjid di Jinan, Shandong

 

Friday Muslim Market, Shanghai
Friday Muslim Market, Shanghai

 

Khotbah Huxi Mosque, Shanghai
Khotbah Huxi Mosque, Shanghai

 

Warga Muslim di Shanghai, Setelah Jum'atan
Warga Muslim di Shanghai, Setelah Jum’atan

3rd Month, Orang China (Rasis Mode:On)

Panda di Shanghai Wild Animal Park

“yep, entering America looks like will be harder now since Trump becoming president.” Ucap salah seorang teman native China saya di SJTU, dia tahun terakhir S1 yang lagi menyiapkan aplikasi S3-nya ke US, iya, kamu gag salah baca, S3, Phd, Doctoral degree, langsung dari S1. Gila ini anak, badannya kecil banget, kurus, masih muda, udah mau langsung Phd aja, apa bisa? iya bisa, sumpah! Saya juga tahu kalau bisa sejak saya kesini.

“well sure, it will harder for me also later on if I deciding to take my Phd there, since I’m a muslim, they racist to muslim also”, balas saya.

“you know what, I have friends who is muslim and chinese also, wonder what will happen to him”. Dan kita tertawa, kemudian merenungi nasib si China muslim ini tadi, kaco juga ya, untung dia gag kulit hitam juga sekalian, bisa triple kill nanti di US kalo bahasa Counter Strikenya.

Rasis ada dimana-mana, suka gag suka rasis ada dimana-mana.
Tulisan ini bukan untuk menyebar bibit-bibit kebencian (sumpe, ini situs namanya ahmadarib.com, bukan lalalalalapiyungan.com).
Juga bukan untuk menebar kedamaian antar umat beragama (yeelah, saya belum qualified suer, sholat Ied di Ho Chi Minh tahun lalu aja salah tanggal sehari lebih awal, rada telat lagi datangnya, yang hadir beberapa orang Malaysia doang, untung ada ustadnya dari Malaysia satu).

Tulisan ini cuma buat cerita ke 1 atau 2 orang yang membaca, tentang bagaimana keadaan di kondisi yang dirasiskan itu sendiri, gimana orang-orangnya, dan apa yang mereka pikirkan tentang sisi yang lain secara menyeluruh.
Yep, ini cuma cerita, keadaan sehari-hari yang saya temui, sepenuhnya subjektif, karena case saya sendiri juga cuma ketemu beberapa orang saja, di China juga baru ke 2 area saja, Shanghai sama Shandong, dengan harapan 1 atau 2 orang yang membacanya mengerti tentang pihak lainnya. Karena menurut saya orang rasis karena belum paham dengan apa yang dirasiskannya, belum masuk ke dunia yang dirasiskannya, bahkan belum pernah ngobrol atau punya teman dengan orang yang dirasiskannya. Karenanya, mari kita bahas satu-satu beberapa hal menarik sesuai judul.

Orang China

1.Pemalu

Well, pake wechat disini dan ngobrol dengan beberapa teman native disini sedikit membingungkan di awalnya, why? lah ini teman-teman China saya di wechat foto profilnya kartun semua, ada one piece lah, emot lah, pemandangan lah, macam-macam, terus tulisan namanya kan keriting semua tuh aksara China, susah banget nyarinya.

Begitu saya tanya ke teman Indonesia yang sudah lama disini dan Taiwan, dia bilang bahwa native sini malu-malu orangnya. Pada malu buat ngepost fotonya di profil wechat, begitu juga di moment wechat, jarang banget mereka post foto sendiri, moment wechat itu udah kayak timeline facebook lah. Tapi gag tau deh kalau weibo atau QQ, social platform yang lain, belum nyobain.
Begitu juga di kelas, dosen nanya ada pertanyaan atau nggak atau siapa yang bisa jawab soal di depan, dieemm semua, termasuk saya, lah kalau saya kan jelas gag nanya karena gag paham sama sekali, kalau mereka harusnya kan paham, minimal beberapa orang. Jadi kalau misalnya kurikulum siswa aktif di Indonesia mau diterapkan disini gag bakal work saya yakin.

2. Hemat & Efisien

Waktu itu kita mau tampil tari saman, kan ada kelas tuh ya, terus kita dibagikan surat izinnya buat dikasih guru di kelas. Surat izinnya itu selembar kertas A4 yang dibagi 4, dipotongin jadi 4 panjang-panjang.
Duh, ya ampun.
Sebagai mantan ketua OSIS yang dulu hobi banget bikin rapat gag penting agar bisa bolos kelas saya ingat banget tiap surat izin itu mesti selembar kertas A4 full, meskipun nama yang diizinkan cuma 1 orang, tapi kan ya ada kop suratnya, ada nomor dan perihalnya, ada kata pengantarnya, ada isi dan detail kegiatan, baru penutup dan salam hormat. Kalau nggak kayak gitu bakal marah lah guru di kelas, dibilang nanti gag menghormati, apalagi kalau salah tulis dikit nama gurunya, beuhhh, gag bakal diijinkan keluar itu yang ada di surat pas jamnya dia.
Lah ini A4 dibagi 4 coba, panjang2 kecil gitu, kagak ada kop surat, pengantar, dll, apalagi salam hormat. Bayangin gimana ceritanya kalau ini dikasih ke guru saya dulu, haha.
Kemudian ada satu lagi teman native China saya, namanya David, nama Chinanya ahhh sudahlah, dia bilang waktu itu dalam tempo 2 detik saya sudah lupa, terlalu rumit untuk diingat di memory saya yang kecil dan sumpek sama katalog game & movie.
David, itu dia udah kerja sambilan ngajar anak SMA sejak dia S1. Penghasilan sambilannya sekitar 3.000-8.000 yuan perbulan, tergantung banyaknya jam dan kelas yang dia ajar, dan dengan ini dia cukup untuk bayarin hidupnya sehari-hari, serta biaya kuliah S1 & S2nya. Sekarang dia udah mau graduation S2 Maret nanti, barusan kemarin akhirnya dapat kerja sebagai guru di SMA negeri di Shanghai, dengan gaji 11.000 yuan/bulan (1 yuan=2.000 rupiah).  Waktu saya gag sengaja kelihat saldo Alipaynya ada 80.000 yuan depositnya disana, pas saya bilang buset banyak amat tabungan ente cuy (dalam bahasa Inggris tentunya), dia bilang dengan santainya, ane masih punya 50.000 yuan lagi masbro dalam bentuk saham, ini 80.000 yuan ane pindahin ke Alipay semua karena rate bunganya lebih tinggi 2x lipat ketimbang rate bunga bank (dalam b.ing juga tentunya, ya kali ini anak ngomong ane ama masbro, ntar kaskusan lagi dia).
Dan, tiap ketemu saya dia masih pake sepeda butut itu-itu aja, yang saya yakin harganya gag lebih dari 200 yuan, karena sepeda saya sama bututnya dan harganya segitu.

Ya salam.
Ini anak.
Hemat sekaliii !
Jangan kalau mau bandingkan dengan salah satu kenalan di kampung halaman saya di Bengkulu, kerja di salah satu perusahaan dengan gaji 3 juta rupiah (estimasi yg baik banget, beberapa bilang dibawah itu) sudah kredit mobil aja, gajinya full buat bayarin kredit mobil, lah terus hidupnya, makan, minum, tempat tinggal? kan tinggal sama orangtua, jadi gratis dong, gubrak. (true story anyway, all things I state I never lie or made it up).

3. Study hard, Work hard, Live hard

Tiap liat anak native China disini saya selalu malu, mereka baca buku kuat banget, kayak kecanduan.
Yang pake kacamata di kelas itu nyaris 4/5.
Belajar itu dari jam 8 pagi sampai jam 12 malam, jedanya cuma untuk tidur, toilet & makan.
Bioskop sepi.
Di kafe kampus bawa laptop sama buku semua, baca buku sama kerjain pe er.

Dan hidupnya, dari SMA udah tinggal di dorm sekolah, S1 juga di dorm sekolah.
Sekamar 4 orang, ranjang bunk bed kamar sempit ala ala militer.
Kamar mandi diluar gedung, jadi kalau mau mandi bawa baskom, handuk sama peralatan mandi jalan kaki dulu ke kamar mandi.
They live hard by design, sekolah ya seperti ini, keras, meskipun di rumah mereka rumah mewah, orangtua sediakan bed nyaman ber-AC tapi kalau udah sekolah ya seperti ini kondisinya.
Dan sebagai anak yang dulu hidup keras, not by design, tapi emang karena dulu kondisi hidup susah menurut saya ini hal yang oke. Kita yang biasa hidup keras bakal survive mau ditaro dimana aja, keadaannya seperti apa aja, bakal hidup, dan bakal nyaman sendiri. Tanpa AC, kasur keras di lantai, cuci baju pake tangan, tidur rame2 di kamar tipe dorm. Dan bakal sangat appreciate ketika keadaan membaik, seperti sekarang punya kamar single sendiri, punya AC sama kulkas sendiri, ada kompor & peralatan masak sendiri, ada mesin cuci sama mesin pengering, serta punya uang cukup buat makan apa aja di kantin sekolah. Dan walau nanti keadaan memburukpun dan setiap fasilitas menjadi tiada juga tidak masalah, karena sudah biasa.
Orang Indonesia di China
Siapapun orang yang memiliki paspor Indonesia maka dia orang Indonesia, sudah, titik, itu definisi saya.
Tanpa ada pembagian jenisnya lagi.
Atau definisi lanjutannya.
Walau diantara yang memiliki paspor Indonesia mungkin ada juga yang memiliki paspor Taiwan atau China, sama bahasa Indonesianya nggak lancar, tak masalah, kita orang Indonesia semua.

Dan suatu ketika, saya sama seorang teman, sebut saja William, kita sama-sama Orang Indonesia di China yang sama-sama sedang belajar dan kebetulan sama-sama di kampus Shanghai Jiaotong University dan dulu kebetulan sudah kenal duluan di Indonesia, berencana untuk menemui teman-teman Indonesia rombongan IChYEP (Indonesia China Youth Exchange Program) yang singgah ke Shanghai semalam untuk selanjutnya balik ke Indonesia keesokan harinya.
Ya udah kita datang ke hotel mereka, kita tungguin teman kita.
Nah teman kita datang, terus kita duduk-duduk dulu ngobrol di lobi hotel.
Terus datang ibu-ibu Indonesia rombongan, dikenalkanlah kita sebagai mahasiswa Indonesia di Shanghai, berikut petikan kenalannya.
Arib: Halo Bu, saya Arib, mahasiswa di SJTU.
Ibu-ibu: Oalah, mahasiswa ya.
William: Saya William Bu. (perlu saya tegaskan, kita semua ngomong dalam bahasa Indonesia)
Ibu-ibu: Ohhh, dari Indonesia ya, temannya ABC semua?
William: Iya Bu, dulu satu kegiatan.
Ibu-ibu: Sudah bisa bahasa Mandarin semua berarti ya?
Arib: Saya belum bisa Bu, masih belajar, William yang bisa.
William: bisa sedikit aja
Ibu-ibu: Ohhh, kamu China kan? (what????)
William: (bingung) Nggak Bu, saya Indonesia (lah jelas ini anak ngomong Indonesia kok, lahir ama besar di Indonesia, paspor Indonesia, kuliah juga baru S2 ini kesini)
Ibu-ibu: Iya, saya tau, tapi kamu China kan?

Well, then, terlalu awkward moment itu untuk diceritakan lagi.
Yah, mau bilang apa lagi, teman saya yg di IChYEP jadi gag enak banget sama William, kaco itu Ibu-ibu.

I do really hope, teman-teman yang baca jangan seperti Ibu-ibu itu ya please, please banget.
Dan cobalah untuk melihat hal-hal baru dari sudut pandang yang lain.
Saya dulu tinggal di kota kecil terus ke kota besar jadi paham sudut padang masing-masing pihak.
Sekolah di Univ swasta yang entah ranking berapa dan kumpul sama anak-anak top 4 Univ, paham perspektif masing2 pihak.
Ikut organisasi difabel selama setahun, dua minggu pelatihan hidup bersama mereka, jadi paham bagaimana perspektif difabel di Indonesia.
Dan sekarang saya sekolah di China, sebagai muslim dari Indonesia, saya masih belajar tentang perspektif mereka.

Hidup itu terlalu singkat untuk rasis & diskriminatif terhadap pihak-pihak lain, lebih menyenangkan untuk memahami pihak-pihak tersebut secara langsung, serius, sangat menyenangkan dan membuka pikiran.
Sebagai penutup berikut model paling non rasis menurut saya, why?
Panda is WHITE.
Panda is BLACK.
Panda come from CHINA.
Be like Panda, be non racist.
#credit to 9gag, they always have stupid poem like this

Panda di Shanghai Wild Animal Park
Panda di Shanghai Wild Animal Park

Salam pendidikan gratisan!

2nd Month, I’m still Alive in China, I Even Participate in 双十一

tari saman di shanghai jiaotong university china

Setelah 2 bulan tinggal di China, dan setelah sebulan seperti tulisan saya disini https://ahmadarib.com/please-dengerin-kata-kata-saya-jangan-mau-kuliah-lagi-ambil-computer-science-apalagi-ke-china.html, hal yang menakjubkan terjadi…..

Saya masih hidup, ternyata manusia gag bisa mati sama overdosis belajar dan membaca, ini fakta menarik yang harus diberitahu ke setiap guru di penjuru Indonesia, paksa aja anak didiknya buat belajar dan membaca, tenang aja, gag bakal mati itu anak.

Dan banyak hal menakjubkan lainnya terjadi, seperti

  1. Dompet saya menjadi tipis sekali

Tipikal isi dompet saya sehari-hari adalah, 3 kartu, 1 kartu transport, 1 kartu mahasiswa dan 1 kartu ATM bank, ada 2 pas foto (cewe satu cowo satu, yang cowo cakep yang cewe nya cantik, anak saya? bukan!), kemudian selembar 20 yuan, 2 lembar 10 yuan dan 4 koin recehan, biasanya 2 koin 1 yuan dan 2 koin setengah yuan. Dan gag peduli kapanpun, hari apapun, pergi kemanapun isi dompet saya gitu-gitu aja. Karena saya kere kah? hmmm, ya iya saya kere sih, tapi bukan karena itu juga sepenuhnya, di Jakarta dulu saya juga kere tapi masih tebel juga dompetnya, minimal 5 ribuan ada kayak 10 lembar lah nangkring di dompet, tapi sekarang semua sudah berubah, sejak negara api menyerang!

…………………….

waaat……. daaa….. pakkkk

No, seriously.

Yang sebenarnya adalah karena avatar menghilang…….

Oke2, kali nih serius, saya baru dapat inspirasi menulis lagi.

Yakni karena simplifikasi hidup di China, mulai dari kartu, saya hanya punya 3 kartu ketimbang dulu di Indonesia punya lebih dari 5 kartu, apa aja? udah… buka dompet masing2 deh, cek kartu apa aja ada disana.

Nah disini cuma 3 kartu aja, udah, cukup. Mengapa cukup?

1 kartu transport, ini kartu warna ungu bisa dipake buat semua kendaraan umum di Shanghai, mulai dari bus, kemudian subway, juga ada kapal dan taksi, 1 kartu buat semua mode transportasi, dan bisa deposit di setiap stasiun kereta. Jadi semisal saya mau Jum’atan di masjid Huxi area kota, maka saya akan naik sepeda dari dorm ke pintu gerbang kampus, dari gerbang kampus saya bakal naik bus tap pake kartu transport, untuk ke stasiun subway, di stasiun subway tap lagi buat naik subway, subway disini bisa cover semua area dan destinasi, jadi keluar subway tinggal jalan kaki. Habis dari Jum’atan, saya jalan2 dulu keliling kota, pulangnya kemalaman di stasiun akhir udah gag ada subway lagi (maklum, kampus di pinggiran kota), jadi mesti naik taksi, bayar taksi juga bisa tap pake kartu transport.

1 kartu bank, Bank of China, dulu di Indonesia saya punya setidaknya tiga kartu bank, BNI, BCA, Mandiri, karena masing-masing punya fungsi transaksi yang berbeda, dan kalo transfer beda bank sayang, kena fee transfer, kan anak mahasiswa kere, jadi mesti perhitungan dong. Kalo disini duh seingat saya, saya belum pernah make ATM buat transfer duit, ambil duit dari ATM aja masih bisa diitung sama jari, jangan ditanya kalo dulu di Indonesia deh, sehari bisa dua kali ke ATM, dah kayak mandi. Mengapa 1 bank cukup, karena ada Alipay, saya bakal cerita lagi tentang Alipay di bawah.

1 kartu mahasiswa, ini kartu segala fungsi pembayaran di dalam kampus, bayar makan di kantin tap pake kartu ini, beli snack di minimarket kampus tap pake kartu ini, beli apel juga tap, beli milk tea juga tap, masuk dorm tap kartu, masuk perpus tap kartu, pinjam buku tap kartu di mesin, mau mandi air panas tap kartu (air panas bayar), bayar tagihan listrik tap kartu di mesin, naik bis kampus yang ke Xuhui kampus di kota tap kartu ini juga, semua pake kartu ini.

Kemudian bawa uang juga cukup selembar 20 yuan, 2 lembar 10 yuan dan 4 koin recehan aja, bawa 30 yuan karena saya kadang lupa bawa kartu mahasiswa buat makan siang di kantin, abis mandi air panas pagi sebelum kelas biasanya saya lupa ambil kartunya, bawa recehan buat bayar parkir sepeda di stasiun kereta, setengah yuan seharian, bisa ditinggal lama, tinggal dikali aja setengah yuan per harinya. Dan transaksi lainnya, makan di luar bareng temen, beli apapun di supermarket besar, atau Family Mart pinggir jalan, semua bisa dilakukan dengan Alipay, nanti nanti saya jelasin Alipaynya, sabar om.

 

2. Saya menjadi Unofficial, Unpaid, Unrecognized Taobao Ambassador

Taobao adalah salah satu marketplace consumer terbesar di China, dan terdiri dari banyak merchant yang jual semua hal yang bisa kamu pikirkan, di Indonesia sama aja kayak Tokopedia deh, dimiliki oleh group Alibaba, dan banyak banget barang di dalamnya, apa aja ada, dan banyak yang murahhhh.

Murahnya itu kebangetan, gag paham lagi, sepatu gimana ceritanya bisa 20 yuan (40rb rupiah), powerbank bisa 40 yuan, jaket winter tebal 180 yuan, kompor listrik beserta 2 alat masak 170 yuan, sepeda gunung 200 yuan, dan semuanya menurut saya dan teman Pakistan barang2 yang kami beli oke, layak pakai, enak, dan semua barang yang saya beli sejauh ini free ongkir, dan nyampenya cepat, diantar langsung di box logistik di gedung dorm, nanti bakal terima sms notifikasi passwordnya, kemudian kita ambil sendiri di box masukin kode dr sms, logistik disini oke punya.

Dan beruntungnya lagi, beberapa hari yang lalu adalah hari belanja online terbesar di planet ini, dan itu terjadi di China, dan namanya 双十一 (karakter pertama shuang, artinya double) (karakter berikutnya shiyi, artinya eleven), yap, double eleven, 11.11 yang secara harfiah terjadi di tanggal 11 November lalu, disebut-sebut sebagai hari single di China, tapi yang merayakan satu negara.

Di hari ini, buanyak banget yang diskon, terutama online, offline juga banyak.
Yang paling heboh di online sih tetep, di taobao.
jadi satu negara China, di tanggal 10 November malam, sekitar jam 23.59 jempolnya udah siap semua buat klik order dan bayar di Taobao, disini behavior belanjanya sekitar 85% dari smartphone semua, jadi makanya saya bilang jempolnya udah ready semua, termasuk saya, 双十一 pertama gag mau kalau dari warga China yang lain, begitu jam 00.00 tanggal 11.11 tiba, denggg, internet lalod, appnya lalod, hahaha, beberapa menit kemudian baru lancar lagi, banyak barang bagus dah habis, diambil orang, sialan, saya kebagian sisa-sisanya aja, tapi lumayan, masih diskon dan masih bagus juga, begitu selesai order, bayar pake Alipay juga, gag mesti buka internet banking atau ke ATM tengah malam buat transfer, cukup masukkan password transaksi Alipay, done, order dibayar dan diproses oleh merchant, sementara saya yang bergerak cuma jempol tangan kanan aja, sama kelingking tangan kiri, buat apaan kelingkingnya? buat ngupil.

3. Alipay, bikin Saya Lupa Diri

Makan diluar yuk?
Ayuk, makan dimana?
Di resto halal aja, ada Arib ikutan.
Hmm, memang saya perusak suasana, gag jadi kan teman-teman saya makan makanan haram karena saya, hahaha, anyway saya di kampus berdua muslim disini, satu orang Phd dan saya master.
Selesai makan, satu orang bayar billnya pake Alipaynya dia.
Terus billnya kita bagi bertujuh, dan masing-masing dari kami transfer via Alipay ke Alipaynya yang bayar bill tadi, sebut saja Wirawan, nama asli.
Biasa bayar berapaan sudah dibagi, kadang 17,81 yuan, kadang 21,3 yuan, bisa berapapun, dan enak, tinggal klik aja di aplikasi Alipaynya sudah deh transfernya.

Atau kalau misalnya lagi mau belanja dimanapun juga di Shanghai, mereka pasti nerima Alipay, di pinggir jalan, resto, famili mart, supermarket, toko baju tas, bahkan kakek2 jual apel di pinggir jalan juga terima Alipay, sayangnya gag nemu pengemis disini, di Shanghai, sapa tau kan mereka pake Alipay juga, hehe.
Dan pemakaiannya juga sangat gampang, kita bisa isi deposit di Alipay dari bank, sekali klik, atau tiap transaksi secara otomatis ambil saldo kita di bank, juga sekali klik, bebas, pilih manapun yang kita suka.

Alipay ini juga punya Alibaba, sama kayak Taobao, makanya belanja online jadi gampang banget.
Food delivery makanan halal juga pake Alipay.
Beli tiket movie Dr Strange lalu juga pake Alipay.
Beli tiket kereta cepat liburan kek Jinan ketemu sang kekasih juga pake Alipay.
Alipay is the best dah.

Karena Alipay kadang kaget, tiba2 ATM dah kosong aja, duh maklum kere.
jadi mesti nukar USD kiriman LPDP dulu jadi yuan ke bank, dan inilah satu2nya hal yang saya lakukan kalo ke ATM. terima kasih LPDP atas kiriman uangnya 😀
Saya habiskan dengan baik kok, di taobao juga belanja keperluan pendidikan, saya beli Kindle ebook reader di taobao, buat baca buku kuliah, seriusan, novelnya juga ada sih, dikit doang.

Then, saya realized satu hal, Indonesia kapan begininya ya?
Punya payment system seperti Alipay, mobile based, praktis, full integrity ke bank, free transaction fee dan diterima secara global baik online maupun offline.
Atau punya sistem transport integritas, satu kartu buat semua public transport.
Atau punya kartu mahasiswa buat semua kebutuhan mahasiswa di kampus, kampus S1 saya dulu gag ada, tapi kampus saya jelek sih, gag tau kalo kampus bagus di Indonesia gimana.

No idea, mungkin nanti, setelah selesai demoin Ahoknya 😀
Salam pendidikan gratisan!
Nih foto dari team tari saman Shanghai Jiaotong University, di acara international student show, ayo tebak saya yang mana?
Yang pojok kiri atas yang pake jas? wanjir, bukanlah!

tari saman di shanghai jiaotong university china
tari saman di shanghai jiaotong university china