Pertukaran Pemuda Indonesia ke Australia

Deadline Jum’at, 11 Desember 2015 jam 23.59 WIB via Email.

Australia-Indonesia Muslim Exchange Program (MEP) 2016

pertukaran pemuda ke australia
pertukaran pemuda ke australia

Pendaftaran sekarang dibuka untuk tokoh Muslim muda Indonesia yang tertarik berpartisipasi dalam Pertukaran Tokoh Muslim Muda Indonesia dan Australia (MEP). Program ini dimulai sejak tahun 2002, bertujuan untuk membangun hubungan baik antara masyarakat Muslim di kedua negara dengan meningkatkan pemahaman dan pengertian akan peranan agama dalam masyarakat di masing-masing negara

Didanai oleh Pemerintah Australia dan dilaksanakan oleh Australia-Indonesia Institute (AII), program ini ditetapkan sebagai salah satu program AII unggulan. Sampai saat ini, 52 peserta Australia dan 132 peserta Indonesia telah ikut serta dalam program ini.

Program Pertukaran Tokoh Muslim melibatkan kunjungan dua minggu ke Australia oleh kelompok muda Muslim dari Indonesia dan kunjungan dua minggu ke Indonesia oleh mitra mereka dari Australia. Tokoh muda ini dari berbagai profesi (seperti penulis, akademisi, pekerja lembaga swadaya masyarakat dan organisasi keagamaan). Kunjungan peserta Australia difokuskan agar peserta mendapat pemahaman dengan menyaksikan langsung keberadaan aliran Islam di Indonesia, begitu pula bagi peserta Indonesia agar dapat membuka mata terhadap kemajemukan masyarakat di Australia

Calon peserta di wawancarai dan di seleksi oleh sebuah panitia independen berdasarkan kemampuan dan keluasan jaringan kerja mereka dan dapat bertindak sebagai duta bangsa dalam dialog lintas agama.

Syarat-syarat pendaftaran bagi peserta Indonesia sebagai berikut:

  1. Untuk pria diharapkan berusia dibawah 40 tahun dan peserta wanita dibawah 45 tahun .
  2. Lancar berbicara bahasa Inggris dengan melampirkan salinan score TOEFL (international atau institusional) minimal 450,diutamakan yang diatas 500.
  3. Mengisi formulir aplikasi yang telah disediakan di bawah ini. Tinggal download dengan cara klik di kanan atas dokumen, dan download via Google Drive.


Batas akhir pengiriman lamaran: Jumat 11 Desember 2015 jam 23:59 WIB via email ke panitiamep2015@paramadina.ac.id dengan size data maksimum 15 MB. Jika file melebihi 15 MB, harap kirimkan email 2 kali dengan isi yang dibagi-bagi. Email client akan menolak secara default setiap email masuk yang melebihi 15 MB.

Ada pertanyaan, post di kolom komentar di bawah.

Review solo trip ke Vietnam, part 1 arrival in Ho Chi Minh City

16 – 21 Juli lalu ada kesempatan ke Ho Chi Minh City, Vietnam, tiket PP dah dibeliin, sama hotel buat 3 malam juga udah dicover (solo trip kantor). Jadi yg dicover personal adalah nginap 2 malam di Ho Chi Minh, makan, dan traveling expense, so mungkin kalau kalian solo backpacker atau group trip kesini, biaya-biaya dan hal-hal lainnya perlu menyesuaikan. Foto-foto di artikel ini mayoritas hasil google, karena hape hilang saat jalan-jalan disini (dan gag aktifkan android shared photo), kenapa bisa hilang? baca aja deh sampe habis reviewnya, hehe.

Notes 1, saya gag nukar rupiah ke vietnam dong (VND) sama sekali, atau bawa USD juga nggak, modal bawa kartu debit BCA, Mandiri & BNI aja, baca-baca review di internet sih katanya mending tarik ATM aja ntar di negeri orang, ratenya rate bank jadi lebih bagus ketimbang di money changer dan lebih aman juga, karena gag bawa2 uang cash nominal gede di dompet. Modal baca review doang saya percaya, hehe.
Notes 2, better di setiap debit card yang kamu bawa ada internet bankingnya, jadi kamu bisa cek rate setiap penarikan dan biaya yang dikenakan serta kalau misalnya mesin ATM menelan kartu debit kamu, kamu bisa segera transfer balance di kartu yang ketelan itu ke kartu lainnya (ada beberapa kasus dishare online kartu debit dari Indonesia ditelan ama mesin ATM karena perbedaan jumlah nomor PIN (4 sama 6 digit).

Notes 3, saya menggunakan penerbangan yang sama dari Jakarta ke Ho Chi Minh, Tiger air, jadi check in udah langsung sepaket saat mau pergi di Jakarta maupun saat mau pulang di Ho Chi Minh, dan bagasi sudah langsung dipindahkan saat transit di bandara Changi. Yang saya bawa saat transit di Singapura hanya backpack simple, isinya laptop, charger, buku jurnal harian kesayangan, air minum botol dan peta. Light backpack solo traveler ini saat bermanfaat ketika jalan-jalan edisi transit 5 jam saat rute pulang.

Dari Jakarta naik Tiger air di terminal 2 Soetta, berangkat jam 9.45, nyampe Changi jam 12.40, beda sejam waktu Jakarta dan Singapura. Keliling-keliling Changi airport, nyampenya kan di terminal 2, muter2 lihat-lihat Changi airport, maklum kampung, ini yang perdana kemari. Lihat outlet-outlet coklatnya, banyak yang menarik. Oh ya saya sempat mencoba trik di Notes 1 untuk narik tunai di Changi airport, ngetes di ATM OCBC pake kartu debit BCA (karena di ATM ini ada logo Cirrusnya), narik 100 dollar Singapore, di ebanking tercatat balance keluar seperti di gambar berikut.

tarik tunai ATM Singapura pakai debit indonesia
tarik tunai ATM Singapura pakai debit indonesia

So, 1 dollar Singapura saya beli seharga Rp 9.758,55 (not baaaddd at all cuyy, ketimbang rate money changer bandara jakarta)
Dengan biaya administrasi Rp 25.000, yang langsung dibebankan ke rekening BCA saya.

Nah, sekarang baru pede keliling-keliling Changi dengan dollar Singapura seadaanya di kantong. Hmm, ternyata outlet-outlet di Changi mahal-mahal semua. Jadi jajannya ntar aja deh, pas rute pulang, karena saya niat keluar dari Changi airport saat next transit disini. (next review: Review solo trip 5 Jam transit di Singapura, Changi – MRT- Merlion – Orchard st)
Muter-muter ke terminal 1 via Skytrain Changi airport. Seru suasana airportnya disini, ada bioskop, ada tempat istirahat, ada banyak hal deh, udah kayak jalan-jalan di mall, hehe, maklum kampung.
Next lanjut ke terminal 3, via Skytrain juga.
Dari terminal 3 ke terminal 2 naik Skytrain juga. Cek peta di bawah ini deh kalo bingung ngebayanginnya.

peta changi airport
peta changi airport

Sampe di Terminal 2 udah jam 15.00, pesawat ke Ho Chi Minh berangkat jam 15.30, maka saya segera masuk ke terminal keberangkatan yang tertera di papan display pengumuman. Di pesawat, baca-baca majalah, baca buku di tas, tas backpack kecil saya selalu saya letakkan di bawah, karena buku, headset, macam-macam keperluan saya ada disana semua.

Sesampainya di Ho Chi Minh, Tan Son Nhat International airport terminal 2, keluar lewat imigrasi, gag begitu lama ngantrinya. Kemudian ambil bagasi, keluar dari bandara segera cari ATM terdekat, posisi ATM center ada di sebelah kanan ujung sekali, ada banyak ATM disini, saya pilih HSBC.

Saya tarik 2.000.000 VND, ternyata ada biaya tambahan 50.000 VND, jadi saya menarik uang 2.050.000 VND disini. Uangnya pecahan besar semua, 500.000 VND 4 lembar, sementara saya perlu uang pecahan kecil buat naik bis. Jadi saya tarik lagi 200.000 VND, juga dengan biaya tambahan 50.000 VND. Total rupiahnya di image berikut diambil dari rekap ebanking BCA.

tarik tunai ATM HSBC Vietnam pake debit BCA Indonesia
tarik tunai ATM HSBC Vietnam pake debit BCA Indonesia

Nah, disini ada biaya Rp 25.000 juga beban dari BCAnya. Secara rate (mengabaikan biaya 50.000 VND & Rp 25.000). 1 IDR = 1,635 VND. Yep, rupiah lebih tinggi ketimbang Vietnam dong.
Kemudian saya baru ingat, mau beli kartu turis disini, cek ada mas-mas yg tulisan di kartonnya 3G Simcard, ya sudah, saya datangi bilang pake bahasa inggris mau beli simcard, ehh terus dia malah ngomong pake bahasa Vietnam, nah, bingung,  saya bilang “Sorry, can you speak english?”. Dia juga bingung, baru sepertinya sadar dan kemudian ngomong pake english “ahh, sory, I think you’re vietnamese, your face just look like us, where are you come from ?”
heh, oke, memang agak mirip2 sepertinya Indonesia sama Vietnam wajah-wajahnya, sambil ngobrol2, saya beli Simcardnya seharga 130.000 vnd (seharusnya saya gag narik 200.000 vnd tadi di atm, ini udah dapat uang kecil kembalian belanja, hadeh). Dia bilang selama saya stay 5 hari disini kartunya bisa dipake internetan, sms & telpon nomor vietnam unlimited. Dipake, yeay, back to internet, aktifkan WA & Line, kabarin orang rumah.
Dari airport, naik bis 152 ke Pham Ngu Lao street, jalannya para turis dan backpacker. Tarif bisnya 10.000 dong, 5.000 untuk orangnya dan 5.000 untuk bagasi saya. Mungkin 152 ini bisa disamakan kayak Damri deh, tapi busnya lebih kecil kayak metromini, tapi pengemudinya lebih santai dan ramah ketimbang metromini. Bis 152 ini kabarnya selalu ada sih, dari jam 8 pagi hingga jam 6 sore. Saya sampai waktu itu jam 5 sore.

bis 152 ho chi minh vietnam
bis 152 ho chi minh vietnam

Dia berhenti beberapa kali, naikin penumpang Vietnam lainnya, suasananya rame di Ho Chi Minh, banyak banget motor, kayak Jakarta, tapi kendaraannya lancar, gag macet, ramai dan lancar. Helm pengemudi motor sini gag SNI banget, haha.

jalanan di ho chi minh city
jalanan di ho chi minh city

Sekitar 30 menitan, bis yang saya tumpangi ini tiba di stasiun yang letaknya dekat dengan Benh Tanh Market dan Pham Ngu Lao street. Jadi saya jalan kaki saja, ke penginapan backpacker yang saya pesan beberapa hari lalu via Agoda, yakni di Vietnam Inn Saigon, seharga Rp 190.000 untuk 2 malam yang dorm sekamar isi 10 orang mix gender, bayarnya pake jasa paradise-indonesia.com (saya gag ada credit card).
Link hotelnya http://www.agoda.com/vietnam-inn-saigon/hotel/ho-chi-minh-city-vn.html
Saya pilih disini karena rekomendasi teman vietnam sih, dia bilang bagus baik lokasi, service, harga maupun viewnya.

Check in, kembali si resepsionist ngomong pake bahasa Vietnam kepada saya, dafuq.
Setelah penjelasan, lalala, kasih passport ke resepsionist, dia kasih kunci, saya diantar ke kamar di lantai 5, ada 3 kamar disini, shared dorm semua. Kamar saya isinya 10 bed, 5 bunkbed 2 tingkat, saya dapat di pojokan bunkbed bagian bawah. Kamarnya mix gender, 4 cewe western (cakep cakep), 3 cowo western, 1 cowo asia (cakep, red:saya), 2 bed lagi kosong. Toiletnya 1 mix gender juga, ada 6 toilet room yang digabung dengan kamar mandi juga. Karena mix toilet room, kalo ke toilet sering pas pasan sama cewe yang pake handuk doang, ato kadang pake bra sama handuk kecil doang lagi sikat gigi di cermin besar memanjang dan beberapa wastafel yang dipake bersama. Not recommended place to stay ya teman if you have problem with this view 🙂
Selama 2 malam saya stay disini, penyewanya mostly western, kayaknya cuma saya sendiri deh yang asia, sama ada 2 orang cewe dari Cina sepertinya di malam terakhir saya stay.
Bongkar muatan, simpan laptop dan barang berharga di locker yang disediakan (gembok kecilnya bawa sendiri), bawa backpack kecil, pake sendal, keliling Pham Ngu Lau di malam hari, sendirian, ya, sendirian, namanya solo traveler (sedih).
Disini ada tamannya, banyak orang Vietnam yang olahraga, sampe malam jam setengah 7an, ada banyak juga mbak mbak vietnam yang senam, lari2 dan olahraga lainnya. Kemudian keliling-keliling di jalan Pham Ngu Lao dan Bui Vien. Berikut ini maps area yang saya keliling malam ini.

pham ngu lao street area
pham ngu lao street area

Vietnam Inn Saigon ada di Le Lai street, lihat-lihat taman, kemudian keliling Pham Ngu Lao dan Bui Vien street. Jujur, saya gag nyangka kalo Vietnam seperti ini ramenya, turis dimana-mana, di setiap blok ada yang menawarkan paket perjalanan, sampe ke Laos, Kamboja & Thailand (next time, if I have more time & money, I’ll consider Vietnam – Laos – Cambodia – Thailand backpack trip). Bar ada dimana-mana, tempat makan, dan berbagai hal lainnya, seru jalan-jalan disini.

pham ngu lao & bui vien nightlife
pham ngu lao & bui vien nightlife

Cari makan, beres, ada rumah makan india yang halal disini dan ada juga di deretan sebelah kiri Benh Tanh market, disana banyak rumah makan malaysia yang islami, dan pengunjungnya banyak orang malaysia.
Cari motor, beres, dapat yang harganya 100.000 dong perhari, nama tempatnya Shop Hoang Loan di ujung Bui Vien steet yang mengarah ke bunderan Benh Tanh, jual aksesoris juga tokonya, jam & kacamata, saran saya kalo nyewa motor mending sekalian beli kacamata hitam, karena helm yang nggak SNI, kalau jalan jauh banyak debu masuk ke mata. Untuk sewa motor mereka perlu menyimpan pasport kita, jadi pasport saya yang di hotel saya ambil dulu, baru kasih ke penyewaan motor.
Keliling Ho chi minh di malam hari, sendirian pake motor, wah, serunya itu luar biasa. Gag tau jalan sama sekali, bermodal GPS di smartphone, muter2 keliling, lihat-lihat suasana kota Ho chi minh. Isi bensin karena dikasih bensinnya udah dikit banget, kode kodean sama mamang bensinnya, dia bilang 50.000 dong, karena sudah disetel di angka itu, saya ikut saja, bayar 50.000 dong sudah mau penuh bensin skuter yang saya sewa.
Capek, pulang ke penginapan, parkir motor di depan, ini tukang parkir ngomong pake vietnam lagi, hadeh, jelasin, lalala, eh ternyata bahasa inggrisnya bagus walau sudah tua bapak-bapaknya, dia bantu masukin ke parkir dalam, sambil nanyain “Are you sure you stay in here?”, saya jawab “Yeah, why?”, “hmm, nothing.” jawabnya sambil senyum gag jelas.
Lanjut to next post ya, first full day trip in Ho Chi Minh, with motorcycle 🙂

Proposal seperti apa yang biasanya diterima oleh perusahaan?

So, sekitar bulan lalu, atau mungkin 2 bulan lalu, saya memberikan informasi yang hanya saya share di group XLFL batch 3, mengenai OPPO menerima proposal sponsorship di kampus-kampus Indonesia. Hanya saya share ke mereka karena menurut saya, mereka merupakan mahasiswa-mahasiswa yang cukup berpengaruh di kampusnya masing-masing, sehingga cukup mengenal HIMA atau BEM yang mengadakan kegiatan di kampus masing-masing.

Well, ternyata saya salah, mereka bukan masiswa yang “cukup berpengaruh”, tetapi “sangatttt berpengaruh”, so the message went viral, out of control. Email inbox overload, request ke pihak hosting untuk upgrade space, dikabulin, selang 2 hari udah overload lagi, dammnnn, request dispensasi extra big space for limited time, approved by hosting, karena udah langganan kali ya.

Gag semua email bisa saya respons, banyak sekali email proposal yang nyeleneh, gag nyambung, bukan dari mahasiswa, dari SMA, SMP, yayasan, bahkan ormas (what???)

Banyak juga dari mahasiswa, dari berbagai Universitas di Indonesia, banyak yang saya reject, ada yang saya beritahu, kebanyakan nggak sempat saya kasih tahu, karena workload di kantor lagi ngaco-ngaconya.

Banyak juga yang saya keep, baik karena timing yang belum fix, maupun butuh diskusi lebih lanjut baik dengan internal perusahaan maupun pihak penyelenggara.

Sebagai fresh grad, yang masih rasa-rasa mahasiswa (cieee), dimana dulu juga sering bikin proposal dan ngajuin ke beberapa perusahaan, berikut hal-hal yang bisa saya share kepada rekan-rekan mahasiswa sebagai concern  sebelum ngirim proposal apapun itu ke perusahaan.

 

1. Tangan di bawah vs Jabat Tangan

2 tahun lalu mungkin, saat ngajuin proposal kegiatan booktalk, pernah ngobrol bareng manager corpcomnya XL, dia bilang

“Proposal yang saya terima dari mahasiswa, kebanyakan begini (sambil menadahkan tangan kirinya) sama perusahaan, sementara yang kita butuhkan dari mereka adalah yang begini (sambil memberikan tangan kanannya untuk jabat tangan).”

Saat itu saya masih mikir-mikir, ini maksudnya apa ya bahwa kita Tangan di Bawah, sementara yang dia harapkan Jabat Tangan, dan bagaimana itu om-om bisa melihat mana “Tangan di Bawah” dan mana “Jabat Tangan” tanpa melihat tangan siapapun, dalam artian, dia hanya memegang hardcopy proposal, atau membaca email proposal.

Saat ini, setelah mereview ratusan proposal, saya baru paham apa maksudnya.

Mostly, proposal dari mahasiswa banyak bercerita tentang apa event mereka, siapa mereka, latar belakang mengapa mereka melakukan event tersebut, begitu panjang lebar, kemudian baru masuk ke budget event, lalu tentang paket sponsorship dan benefit untuk perusahaan.

Intinya adalah, proposal ini kebanyakan “Tangan di Bawah” untuk memenuhi kebutuhan mereka atas budgeting. Dengan sedikit pembahasan mengenai apa keuntungan bagi perusahaan atau institusi yang bersangkutan. Dengan perbandingan 8 halaman tentang mereka sendiri (which is company don’t care at all, seriously) baru 2 halaman tentang keuntungan bagi perusahaan (which is company CAARREEE SOOOO MUUCCHHHH). Tentunya hal ini hanya berlaku untuk kasus umum, bukannya ketika ada orang tua mahasiswa di perusahaan bersangkutan, itu mah sponsorship jalur khusus, hehe.

Kalau bisa, mulai ubah konsep proposal sponsorship yang kalian ajukan, dibalik formatnya, 8 halaman benefit untuk perusahaan dan 2 halaman tentang acaranya kapan, dimana, tentang apa, berapa audience & exposurenya, dokumentasi event kalau ada. Atau formatnya 5 halaman : 5 halaman deh, biar adil, itu juga udah cukup “Jabat Tangan” menurut standar perusahaan.

 

2. Proposal keren & stylish vs proposal print & jilid

Well, ehm, gimana ya bilangnya, sebenarnya perusahaan gag begitu peduli lho proposal kalian keren & stylish atau proposal biasa saja, mungkin saat mahasiswa dulu saya mikir, kalau saya bikin proposal yang keren, stylish, maka perusahaan akan terkagum-kagum, salut dan percaya bahwa kegiatan kami memang keren, sehingga layak untuk mendapat sponsorship dari mereka.

But then setelah diperusahaan, concern saya berubah, kegiatan “keren” menurut perusahaan itu ternyata indikatornya tidak pernah ada tampilan proposalnya. Tapi lebih kepada berapa besar exposurenya, cocok atau tidak tema dan kegiatannya, seberapa besar kampusnya, masuk list 100 kampus top atau tidak (saya pake list ini http://bit.ly/1g18LpM), kalaupun masuk ada di peringkat berapa, di provinsi itu sendiri apakah termasuk yang favorit, bagaimana exposure brand di provinsi yang bersangkutan, apakah sudah ada kegiatan brand di provinsi yang bersangkutan atau belum, kalendernya cocok atau tidak dengan planning brand, dan beberapa indikator lainnya.

But then, personally saya suka dengan proposal yang “usable”, seperti dari Telkom University berikut, proposalnya keren, ada kalender dibaliknya, kebetulan belum ada kalender di meja saya, maklum anak baru, dan kalaupun sudah ada saya yakin akan saya berikan ke siapa kek, keren soalnya. Apakah akan saya terima? Hmm, masih ada beberapa concern sih, tapi yang jelas, saya akan terus ingat sama Telkom University, dan entah dengan satu atau dua cara akan saya “bayarin” kalender meja dari mereka.

IMAG2534IMAG2535

3. Hard copy proposal vs soft copy proposal

Saya pribadi prefer hardcopy sebenarnya, karena lebih enak enak megangnya, lebih cepat reviewnya, lebih gampang kalaupun jadi dan minta persetujuan dari brand manager.

Tapi memang concern di mahasiswa adalah budgeting, sehingga mengirim softcopy proposal dirasakan sebagai opsi yang paling enak untuk dilakukan, yah, okelah, saya juga baca kok softcopy proposal, namun dalam durasi yang lebih lama ketimbang hard-copy, karena email2 kerjaan lah yang pertama kali saya baca, softcopy proposal baru saya baca ketika ada alokasi waktu untuk hal itu.

Dan mohon banget perhatikan hal-hal berikut ketika mengirim proposal via softcopy

1. Jangan lupa lampirannya

1.Jangan lupa lampiran
1.Jangan lupa lampiran

 

2. Jangan kirim massal please, kan gag enak lihat di recepientnya ada banyak perusahaan-perusahaan lainnya

2.Jangan penerima massal
2.Jangan penerima massal

 

3. Isi email to the point, apa? kapan? dimana? siapa?

3. Isi email langsung dan deskriptif, lengkap
3. Isi email langsung dan deskriptif, lengkap

 

4. nama file attachment pake format please, jangan cuma “proposal” atau hal general lainnya, saat review sekilas jadi bingung, begitu juga pas nyarinya kembali. kalau bisa penamaannya seperti proposal dari Universitas Brawijaya, atau UNIB, ada nama Universitas, nama event, nama provinsi dan bulan apa acaranya.

4. Penamaan File, jangan proposal atau proposal sponsorship
4. Penamaan File, jangan proposal atau proposal sponsorship

 

5. Kenal orang dalam vs gag kenal siapa-siapa

Well, ini gag banyak pengaruh sih sebenarnya, hanya mempermudah proposal sampai, penjelasannya seperti apa, dan follow up-nya bagaimana, sudah, titik. Sisanya adalah bagaimana kegiatan itu sendiri, budget plannya cocok atau nggak, kalendernya cocok atau nggak, dan berbagai pertimbangan lainnya.

 

At the end, gag semua proposal yang dikirim lantas diterima dan didanai oleh perusahaan.
Banyak bahkan tidak sempat untuk diresponse (I still working on system to make every proposal are reviewed, decided and responsed in short time, that’s big work actually, and not simple at all).

 

Dan sejauh 2 bulan lebih dikit saya disini, OPPO sudah sponsorin

1. Workshop FT Universitas Gunadarma, untuk workshop IT

2. Event seni budaya sekolah vokasi UGM, Yogyakarta

3. D’preneur Surabaya, bersama detik.com, audience 1500, mayoritas mahasiswa Surabaya

4. Innovation Idea Competition dari OPPO Campus Club, yang anggotanya dari berbagai Universitas di Jabodetabek, idea.oppomobile.co.id

 

Serta saya masih review banyak proposal kegiatan dan pihak yang bisa bekerjasama untuk kegiatan-kegiatan di kampus, hingga bulan-bulan kedepannya.

Mengapa saya share hal ini? yah, saya harap anda para mahasiswa mengerti bagaimana kebutuhan kami (orang perusahaan yang terima dan review kegiatan kampus) untuk “Jabat Tangan”, sehingga anda bisa menawarkan “Jabat Tangan” yang perusahaan butuhkan. Percayalah, kampus selamanya akan menarik bagi perusahaan, tinggal bagaimana cara kalian mengemasnya dan menawarkan jabat tangan ke pihak-pihak yang dirasakan cocok dengan kegiatan tersebut. Karena aslinya saling membutuhkan kok antara perusahaan dengan kampus, tinggal bagaimana format komunikasinya yang disamakan aja lagi. Happy hunting proposal guys!

Kalau mau tahu gimana hunting Danus, Dana Usaha, sehingga ada opsi lain mengumpukan dana untuk acara, bisa dicek di blog cewe ini, caranya kreatif untuk mencari danus hingga puluhan juta, sehingga acara HIMA nya tidak perlu cari sponsor lagi http://gelangdanus.blogspot.co.id/

Dan Berhubung banyak yang request sample proposal yang “Jabat Tangan” seperti apa, berikut rekomendasi saya, saya share atas persetujuan panitia. Dan tentunya saya approve dan sponsorin mereka saat saya masih di OPPO. (Saat ini saya sudah resign, mau lanjut sekolah)

Link download via Google Drive, klik di kanan atas, ada button Donwload/Unduh

https://drive.google.com/file/d/0B7AaQPahuTeUWXYxaWtfdEh2cm8/view?pref=2&pli=1