Please Dengerin Kata-Kata Saya, Jangan Mau Kuliah Lagi, Ambil Computer Science, Apalagi ke China!

So sebelumnya, disclaimer dulu nih, saya lahir dari keluarga sederhana yang kedua orangtua saya gag ada yang S2, di Bengkulu, pernah dengar Bengkulu? gag pernah, wajar, banyak orang rasanya gag tau Bengkulu ada dimana, kadang ada yang bilang di sebelah Balikpapan, ada yang berpendapat di Sulawesi, dibawah Toraja, yah, terserah. Dan saya juga orang bodoh, S1 nya cuma di Universitas Swasta, bukan Universitas negeri peringkat atas di Indonesia. Peringkat Universitas Swasta S1 saya entah di ranking berapa, ranking Univ di Indonesia lho, bukan dunia, gag tegaan mau carinya di list ranking Universitas, mesti cek halaman kesekian dulu baru ketemu, hehe. Akreditasinya apaan? Duh, please jangan nanya itu dong, saya gag pernah cek.

akreditasi-kampus
akreditasi-kampus

Jadi, secara sederhana, nasehat dibawah ditujukan untuk anak daerah yang kurang paham bagaimana dunia akademik standard baik itu seperti apa, keluarganya gag ada yang S2 sehingga gag ngerti proses kuliah S2 seperti apa, dan bodoh sehingga banyak gag pahamnya ketimbang pahamnya ketika di kelas atau dimanapun.

Untuk anda yang lebih beruntung, lahir dan tinggal di kota besar sehingga lebih memahami bagaimana dunia akademik standard baik bahkan ikut serta di dalamnya, pernah menemui atau kenal seseorang yang S2 bahkan mungkin di keluarga sendiri, atau bahkan S3 malah, serta cerdas dalam artian mudah memahami pembelajaran di kelas dikarenakan memiliki bekal pengetahuan yang cukup sebelum masuk kelas, well, tulisan ini bukan untuk anda, konteksnya kurang pas, serta perspektif saya juga gag pas rasanya 😀

Nah disclaimer sudah disebutkan diatas, jadi mari kita mulai.

Kuliah S2 itu berat banget.

Apalagi ambil jurusan engineering, semisal Computer Science.

Begonya lagi ambil ke luar negeri, kayak China.

 

Oke kita bahas satu-satu.

Kuliah S2 itu Berat Banget

Pernah merasa kesal dengan tugas matematika saat S1, nah pas S2 tugas matematikanya itu udah gag ada angkanya lagi, simbol semua, sama huruf-huruf. S1 enak, masukin angka ke rumusnya, selesailah sudah, S2? hmm, buktikan bahwa rumus A bisa menghasilkan rumus B, C, D, E. Dan buktikan kembali bahwa proses tersebut bisa dibalik sehingga dari rumus E, bisa diturunkan untuk menghasilkan D, C, B & A.

Assignmentnya setiap professor kasih pertanyaan di kelas, dan gag da yang jawab, maka itu jadi assignment.

Hadir gag hadir gag dihitung, tapi kalo gag hadir gimana ngerti Pak Prof-nya ngajarin apa? Sama assignment buat minggu depan apaan.

Nyontek? Hahahahahahahahhahahahahahahaha, Good luck, kalo kamu cuma satu-satunya siswa dari Indonesia di kelas.

Teman? Kamu kira yang sekolah S2 anak-anak remaja yang hobi gaul, main2, akrab, dan suka mencari teman baru?

Nah ini baru ngomongin coursework, sialnya saya milih master by research (lah karena saya bodoh tadi, kan sebelumnya gag tau S2 seperti apa, jenis-jenisnya, mana yang susah mana yang gampang), keambil deh program master degree by research. 1 tahun coursework (sekolah di kelas, ujian), 1,5 tahun lagi bikin research, bukan sejenis research yang sering kamu nonton di TV, atau sinetron, atau bayangan kamu pada umumnya, bukan. Saya juga baru tau research itu susah banget, baca paper banyak banget, percobaan terus, seringan gagal, collect data, pagi sampe malam di lab, labnya bukan yang ada layar gede di depan, terus tiap orang ngetik di panel kontrol yang keyboardnya panjang banget bukan, labnya persis kayak kantor, kotak2 cubicle, tiap meja ada tumpukan buku study serta satu PC dan layarnya sekalian.

Yakin masih mau lanjut kuliah S2?

 

Ambil jurusan Susah, semisal Engineering, Computer Science

Entah kenapa dulu saya maunya cuma ambil jurusan Computer Science (IT), karena suka game kali, saya pikir belajar computer science enak, kayak main game, kenyataannya?
Duh, jauh banget dari main game, yang ada dimainin sama Computer Sciencenya iya.

Belajar matematikanya banyak banget.

Belajar banyak banget pemrograman, ada PHP, HTML, CSS, Java, C++, Phyton, Ruby, SQL, MySQL, NoSQL.

Belajar computer science di kelas itu jarang beli textbook dari dosen, iya emang, karena materinya berubah terus tiap bulan, updatenya cepet banget, mesti ngikutin terus perkembangan terbaru yang lebih efisien, lebih baik, dan lebih baik lagi. Dan kalau di kelas cuma bahas general saja, sisanya spesifik di bidang yang mau ditekuni mesti belajar sendiri, beli buku textbook atau material cari sendiri online.

Banyak praktek, banyak nyoba, banyak gagal codingnya, banyakan stressnya.

Yakin masih mau lanjut kuliah S2?

 

Ambil Keluar Negeri, China lagi

Seakan-akan belum cukup dengan 2 hal diatas, saya milihnya keluar negeri, di China lagi, ya ampun, saya baru paham mengapa sedikit banget LPDP dari angkatan pertama sampai angkatan saya (66) yang memilih ke China. Seharusnya saya milih negara-negara mainstream aja, yang udah banyak orang kesana, dan udah banyak yang mengalami, udah banyak yang pengalaman dan cerita di blog,  jadi gag perlu shock sendiri begini.

Saya kasih tau deh dari sekarang sehingga kamu bisa memilih dengan baik dan benar tujuan study buat S2 nanti.

  1. Pelajaran di China, terutama Math & Sciencenya udah advance, materi yang diajarkan udah jauh bangett bagi saya. Jadi ada rongga kosong, jarak antara yang saya pelajari S1 di Indonesia di kampus swasta saya yang entah rankingnya berapa itu mungkin kalau di analogikan sudah sampai di skala 16, nah ini S2 mulainya langsung di skala 729. Jadi ada jarak 713 skala yang harus saya pelajari sendiri, di waktu yang sama mesti ngikutin pelajaran di kelas dengan baik.
  2. Internet blockage, No Google, No facebook, No gmail, noooo so muchhh things. Ada namanya China Great Firewall, kontrol dari pemerintahnya. Akses web2 yang biasanya rutin saya akses dan sudah jadi rutinitas, harus pake VPN.
  3. Culture shock, gag sanggup buat bahas disini, googling aja ya please, petunjuknya, toilet, antri, meludah, susah makanan halal.
  4. Language barrier, bahasa China itu susah banget belajarnya, fonemnya, aksaranya, tone nya. Saya udah punya basic? kata siapa! nol besar, beda dengan teman-teman saya disini yang udah punya modal bahasa China semua, karena dari keluarganya sudah dibiasakan sejak kecil, keluarga saya, selalu bahasa Bengkulu brooo. Duh, tobat. Dan saya mesti belajar bahasa China kalau mau survive disini. Yang bilang susah siapa? saya? Bukan! Cek disini http://list25.com/25-of-the-most-difficult-languages-to-learn-in-the-world/5/
belajar-bahasa-china
belajar-bahasa-china

 

Yakin masih mau lanjut kuliah S2?

 

Dengan adanya tiga hal diatas, rasanya mau pulang ke Bengkulu saja tiap hari.

Tapi begitu mikir mau pulang, saya lihat kamar saya.

Hmm, kasur saya empuk, selama 5 tahun sejak S1, ini adalah kasur terempuk yang pernah saya miliki. Ada ranjangnya lagi, 5 tahun ini selalu tidur di kasur yang langsung ketemu lantai. Kamarnya luas (menurut saya pribadi), ada meja belajar dan kursi belajarnya (saya gag pernah punya sebelumnya), lemari pakeannya gede. Internet kencang, 90 Mbps via speedtest.net, di kostan dulu cuma 5 Mbps. Ada mesin cuci pake koin, masukin koin, masukin baju, kasih deterjen udah deh tinggalin 45 menit udah bersih dan cukup kering, tinggal angin2kan saja udah kering, duh jangan tanya dulu S1 gimana nyucinya, pake tangan, peras sendiri, jemur depan kostan. Terus dorm yang ini ada balkonnya, lantai 5, view balkon ada sungai kecil, pohon-pohonnya rindang. Harganya 1.200 yuan, sekitar 2,4 juta rupiah perbulan, 4x lipat sewa kostan saya perbulan dulu.

Siapa yang bayarin? LPDP.

4.000 yuan perbulan, 8 juta rupiah per bulan, untuk biaya hidup bulanan saja. Belum menghitung biaya kuliah saya yang dibayarkan ke kampus.

Untuk apa LPDP bayarin saya? Biar saya belajar, karena saya bodoh, dan banyak orang bodoh lain di Indonesia, bangsa ini masih banyak orang bodohnya seperti saya. Dan saya rasa LPDP berpikir Indonesia butuh banyak orang pintar agar bisa menjadi negara maju, membangun Indonesia dalam jangka panjang. Tanpa LPDP saya yakin tidak akan bisa sekolah disini, dengan semua fasilitas dan kebutuhan hidup yang mendukung study saya. Agar menjadi orang pintar, dan bermanfaat untuk keluarga, negara dan masyarakat nantinya.

Ya ini amanah.

Dan ini adalah hutang, yang nanti wajib saya cicil pelunasannya.

Dan saya paham betul, belajar diluar negeri itu kemewahan, yang cuma sebagian kecil sekali dinikmati oleh orang Indonesia. Dan saya ditawarkan kesempatan ini, entah saya mampu atau tidak saya wajib berusaha semaksimal mungkin terlebih dahulu.

 

Dan sebagai anak internet, yang menghabiskan sebagian besar waktu saya di internet.

Saya tahu dengan pasti bahwa bahasa merupakan kunci untuk membuka akses ke dunia lain, bukan dunia lain seperti acara TV itu lho bro/sist.

Saat saya paham bahasa Indonesia, saya bisa mengakses dan mengeksplorasi semua informasi yang menggunakan bahasa Indonesia, dan mendapatkan berbagai keuntungan dan kesempatan dari informasi berbahasa Indonesia.
Begitu saya mengerti bahasa Inggris, saya bisa mengakses material dalam bahasa Inggris, di waktu yang sama memperoleh keuntungan serta kesempatan yang tidak dinikmati oleh mereka yang hanya bisa berbahasa Indonesia saja.

Dan pahamilah bahwa nyaris 1 dari 5 orang di dunia ini berbicara dalam bahasa China, dan bahasa China merupakan bahasa yang paling banyak digunakan di dunia.

most-used-language-in-the-worldSource: http://www.infoplease.com/ipa/A0775272.html

 

Betapa banyaknya material, kesempatan dan keuntungan yang bisa saya dapatkan seandainya saya bisa menguasai bahasa China, dimana bahasa ini digunakan secara umum di China, Taiwan, Singapura serta Indonesia sendiri juga lumayan banyak (dalam beberapa konteks). Belum lagi ketika bisa menguasai karakter China, akan lebih mudah untuk mempelajari karakter serta bahasa Jepang & Korea, katanya lho ya, saya belum paham sedikitpun karakter China, jadi belum bisa confirm. Tapi ada anak S1 disini sudah fasih Indonesia, Inggris, China & Korea, asalnya dari Pontianak, SD sampe SMA di Pontianak lho, mirip status pedalamannya kayak Bengkulu rasanya. Duh, malu banget pas udah tua baru saya belajarnya.

 

Yang pastinya bakal banyak banget masalah ke depannya, tapi toh kehidupan siapa sih yang tanpa masalah?

Belum lagi berpikir LPDP hanya akan membiayai study saya selama 2 tahun, sementara kuliah disini MINIMAl, minimal lho ya, untuk master degree itu 2,5 tahun, karena ada coursework dan research, serta sebelum thesis HARUS publish paper research dulu di jurnal atau seminar internasional yang telah ditentukan, top tier journal dan seminar. Dan karena saya rada bodoh tadi, saya rasanya butuh waktu 3 tahun deh buat bisa lulus.

Terus 1 tahun lagi bayarnya gimana, hmm, akan saya pikirkan lagi nanti rasanya, haha, sayangnya karena kurangnya fokus dan pendeknya pemikiran, saya cuma bisa mikir satu hal di satu waktu. Seperti apply beasiswa dulu, mikir satu satu, ambil beasiswa apa, LPDP, ya udah urus LPDP, satu program beasiswa aja, LPDP doang, eh LPDP dapat. baru mikir apply kampus gimana, daftarnya satu kampus doang, gag da yang lain, cari supervisor, interview, lalalala, eh dapat Shanghai Jiaotong University, di jurusan dan research area yang sesuai. Dan sekarang saya mikir course aja dulu, agar lulus dengan nilai sesuai harapan, dan belajar sebanyak mungkin dari semua waktu yang tersedia. Dan begitu waktunya tiba nanti, saya yakin akan mendapat solusinya juga.

Dan bukankah ada hadist yang berkata bahwa

“Barangsiapa keluar (dari rumahnya) dalam rangka menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang.” (HR At-Tirmidzi, hadits ini dinilai hasan li ghairihi oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 88.)

Allah tidak akan meninggalkan hambanya yang kecil ini kan ya rasanya, yang mengikuti jalanNya.

Dan bukankah ada pepatah Arab yang berkata bahwa
“Tuntutlah ilmu hingga ke negeri China.”
Maka ke China lah saya menuntut ilmu, dan bagaimana denganmu teman? Yakin masih mau lanjut kuliah S2?
Salam Pendidikan Gratisan!

S2 yang Indah itu Ketika S2 keluar Negeri Barengan si dia, Gratisan Lagi

Tulisan ini, yah, kali ini saya dedikasikan bukan untuk diri saya sendiri. Bukan, ini bukan cerita tentang saya, bukan tentang S2 saya, atau tips-tips dapet beasiswa S2 dari saya, maupun tentang bagaimana cara dapet beasiswa LPDP sama seperti yang saya dapatkan.

Karena case & background saya mendapat beasiswa S2 ini rasanya gag relevan buat sebagian orang, mungkin termasuk kamu-kamu yang baca saat ini, bagaimana bisa gag relevan?

1. 5 tahun lalu, saya apply beasiswa full S1 ke Rusia, Korsel, India & Mercubuana Jakarta. 3 yang pertama hingga tahap akhir, wawancara di kedubes & gagal. Yang terakhir lulus. Saya paham preparation beasiswa sejak 5 tahun lalu, bahkan menulis buku tentang hal ini.

2. Saya cukup paham membaca mekanisme & prepare beasiswa, September tahun 2015 saya resign sudah dapat saya prediksi bahwa saya berangkat kuliah September tahun 2016, dengan semua hal yang perlu dipersiapkan, saya tahu bahwa 1 tahun waktu yang wajar.

3. Skor TOEIC saya 950 dari max skor 990.
3 tahun SMA debat bahasa Inggris, 3 tahun di kuliah nyambi jadi supervisor TOEIC & TOEFL test, yang ngawas test lho ya, mana nggak hapal sama tipe soal & jawabannya apa, hehe.

Lha terus ini tulisan tentang siapa?

Pacar saya, Chisillia Mayang Sari 🙂

Kondisinya menurut saya, sekali lagi menurut saya lho ya, lebih relevan dengan kebanyakan orang yang mau lanjut S2 keluar negeri dengan beasiswa, apa aja kondisi pacar saya?

1. Resign bulan Desember 2015, mulai prepare beasiswa bulan Januari 2016, ini juga sambilan bantu perusahaan keluarga.

2. S1-nya dulu di Universitas MH. Thamrin, kampus swasta yang gag begitu jelas juga sebenarnya, mirip2 kampus saya Mercubuana, haha, bahkan namanya aja baru ganti sekitar 2 tahun lalu, dulunya AKA STIEBI. Gedung kampusnya 1 bangunan tua banget, mesti zikir dan baca Al Fatihah dulu sebelum masuk kuliah, dan katanya pernah dipake sama salah satu stasiun TV untuk syuting acara show yang ada hantu-hantunya itu lho.

3. Pertama kali test TOEIC, skornya 510 (standard LPDP TOEIC keluar negeri 750), beberapa bulan kemudian test lagi setelah beli buku, kursus di kampung inggris, saya ajarin, dan berdoa yang banyak alhamdullilah naik, jadi 535, wkwkwk.

4. Jurusan S1-nya tentang ekonomi, spesifik di Pasar Modal, tiba-tiba juga masuknya ke jurusan itu karena dulu gag begitu disiapin milih jurusannya. Tapi memang tepat juga sih pada akhirnya, karena terbukti dari kerjanya ternyata sesuai dengan minatnya.

Dan tepatnya akhir bulan Juli lalu, dia berhasil dapat beasiswa penuh S2 selama 3 tahun di Shandong University, Jinan, Tiongkok. Dibiayain semua biaya kuliah, asrama kampus, dan biaya hidup sebesar 3.000 yuan perbulan selama 3 tahun oleh Pemerintah Tiongkok, tanpa kontrak, tanpa kewajiban kerja apapun pasca study.

Berangkatnya barengan lagi, di bulan September tahun ini, wahh.

LoA dari Universitas di Tiongkok, yang kanan punya saya, kehujanan, wkwk
LoA dari Universitas di Tiongkok, yang kanan punya saya, ada noda kehujanan, wkwk. Di LoA pacar saya dia diterima sejak 27 April, namun dari pihak CGS-nya baru memutuskan pada akhir Juli lalu.

Well, sebenarnya banyak juga sih teman-teman yang sudah pasangan waktu udah mau berangkat S2 keluar negeri, baik itu masih pacaran, tunangan ataupun menikah, apalagi di LPDP tuh. Banyak yang sebelum berangkat, yang jomblo cari pacar dulu yang sama negara tujuannya, atau yang sudah pacaran nikah dulu sebelum berangkat kuliah diluar negeri, pasangannya ikut dibawa keluar negeri. Atau kadang juga ada pasangan yang sudah menikah pisah dulu selama study, karena bisa jadi pasangannya sudah memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan atau study S2 juga namun negara dan waktunya berbeda (jadi inget om Wide di LPDP PK-66, barengan test ke Aussie istrinya lolos dia enggak, pas lolos LPDP dapetnya ke UK lagi, kasian si om kangen berat sama anaknya sih katanya, bukan kangen istrinya, hehe).

Banyak yang bilang kejadian seperti kami, sama2 dapat S2 keluar negeri di negara yang sama dan waktu intake yang sama merupakan keberuntungan parah, tapi sebenarnya menurut saya ini bukan karena keberuntungan juga bro/sist.
Pacar saya dapat beasiswa S2 keluar negeri hanya dalam waktu 7 bulan saja (Januari-Juli), dan pertama kali mencoba, full beasiswa lagi, dengan jurusan yang sesuai, tentunya bukan karena keberuntungan saja, tetapi karena persiapannya yang sempurna di awalnya.

Yang dapat beasiswa itu bukan mereka yang pintar, tapi mereka yang siap.

Si dia bisa dapat beasiswa full karena persiapannya luar biasa.

Januari, riset tentang semua kemungkinan beasiswa full ke China, opsi apa aja yang dimiliki sesuai kemampuannya. Ada LPDP, ada China Government Scholarship (CGS), CGS ini juga ada CGS jalur bilateral embassy Tiongkok di Indonesia, CGS jalur University di China, CGS jalur kerjasama khusus.

Februari, persiapan untuk setiap jalur, melihat mana yang mungkin dilakukan mana yang nggak. LPDP skip karena b.ing kurang. CGS jalur embassy skip karena kompetisi tinggi banget, gag worth to try. CGS jalur University hajar full, riset lagi tentang semua Universitas yang menyediakan program yang dinginkan dan tingkat persaingan yang bisa dihandle dan kalau bisa dekat dengan Shanghai (saya target sejak awal di Shanghai, susah kalo LDR kejauhan bro/sist, berat diongkos, wkwk).

Maret, dapat list 6 Universitas yang sesuai kriteria (waktu itu saya targetin 10), mulai usaha untuk penuhi semua requirement yang diminta oleh Universitas.

April, Requirement Universitas dipenuhi semua, kirim dokumen aplikasi via Pos Indonesia (biar murah) ke 6 Universitas di Tiongkok. Tiba-tiba ada pengumuman beasiswa penuh program kerjasama khusus antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Tiongkok. Kesempatannya sebesar 50 orang lebih, via Kemenristekdikti, ini apply juga. Total ada 7 berkas aplikasi dikirimkan dalam sebulan, 7 kesempatan yang menurut hitungan saya cukup tinggi persentase lolosnya.

Mei, Juni, penantian, lagi puasa juga, banyak-banyak berdoa.

Juli, hasil mulai keluar. CGS University 3 gagal sejak awal (rejected), 2 diproses statusnya (on review) dan akhirnya 1 lolos, di Shandong University, Master of Finance, diajarkan dalam bahasa Inggris, selama 3 tahun masa study, full scholarship.

Agustus, urus visa, beli tiket pesawat (dapet promo Airasia). Sementara program kerjasama Kemenristekdikti belum pengumuman, jadi kalau bisa diawal jangan cuma ngandalin satu kesempatan aja, tapi bikin beberapa peluang sekaligus.

 

Review & tulisan pacar saya bisa dicek di link berikut https://www.facebook.com/notes/chisillia-mayang-sari/cara-mendapatkan-beasiswa-di-tiongkok/1220671444633129, disana dibahas lebih detail teknis-teknis bagaimana dia bisa mendapatkan beasiswa S2-nya. Dan saya sendiri Insya Allah akan segera release tulisan-tulisan berikutnya tentang bagaimana dapet beasiswa S2 secara umum, dan LPDP juga, walaupun sebenarnya kalian bisa cek di Google udah banyak banget sih yang bahas, haha, mungkin saya cover bagian2 yang belum banyak dibahas aja, kayak mengapa lanjut S2, persiapan budget diawal, dan hal-hal lainnya.

Satu hal yang harus kamu inget banget, kalau mau dapat beasiswa, wajib nebeng persiapan sama mereka yang udah pro.

Saya saat test LPDP persiapannya bareng teman XLFL namanya Annisa Ika, dari UI Kesmas angkatan 2010, pacarnya dari UGM udah lulus LPDP duluan, dia nyusul pacarnya ke Belanda. Sebelum ikut LPDP, Ika udah coba ikut 5 beasiswa lain sebelumnya, kebayang dong betapa preparenya, nah makanya saya nebeng sama dia persiapan berkas bahkan sampai latihan interview bareng fasilitator XLFL Deedee (thanksss Deedee), dan kita lolos bareng LPDP, saya PK-66 dia PK-68, thanks banget Ika, LPDP jadi percobaan beasiswa pertama saya dan langsung lolos, hehe.

Dan pacar saya persiapannya nebeng saya, yang lulus LPDP ke Tiongkok. Meskipun dengan program yang berbeda namun persiapan ke universitasnya mirip2 juga, dan syarat dapat beasiswanya juga mirip, jadi lolos juga dia dalam waktu yang menurut saya cukup singkat dan pertama kali mencoba juga.

Percayalah kamu juga bisa lanjut sekolah gratisan, asal persiapannya oke.

Salam Pendidikan Gratisan!

Beasiswa hanya untuk si Miskin? Kalau gag Miskin, lantas saya gimana? Bayar?

Well, yah, hallo semuanya, balik lagi ke tulisan gag jelas saya, please kalo kamu lagi ada hal penting yang mau dikerjain, kerjain aja dulu hal penting itu, ini postingan sumpah gag penting-penting amat.
Atau kalau kamu udah masuk dalam kategori miskin dan gag da masalah buat urus beasiswa miskin udah skip aja baca ini, tulisan ini buat mereka-mereka yang gag mau bayar kuliah aja tapi status keluarganya nggak miskin, jadi gag bisa minta surat keterangan miskin.
Tulisan ini terinspirasi oleh 2 orang yang dulu pernah saya kenal, cieee, kayak film2 laga Mandarin.

Pak Sonny
Kiriman Facebook dari Pak Sonny, Solider

Tulisan terakhir saya di blog tanggal 15 Januari lalu, yep, 5 bulan yang lalu, maka pantaslah Pak Sonny nanya demikian.
Dan perhatikan kata-kata Pak Sonny secara literal, “gag pernah kubaca n dengar lagi”, karena memang beliau literally menggunakan facebook dengan cara “mendengar” kata-kata di Facebook, nggak seperti saya dan kalian kebanyakan, yang “melihat” facebook, hehe, saya yakin gag banyak yang nangkap maksud saya.

Dan orang kedua (mudah2an nggak ada orang ketiga, kayak sinetron ini lama-lama tulisan) adalah:

beasiswa miskin 1

beasiswa miskin 2
Rizka Amalia, menulis tentang temannya yang mau minta surat keterangan miskin demi beasiswa

Salah satu teman penulis juga, tulisan-tulisannya bagus, monggo di-add orangnya di Facebook.
Scopenya, bukan beasiswa untuk S2, namun beasiswa untuk S1, murni S1 tok, please nanti komentar jangan kemana-mana dari scope tulisan ini, dan tulisan ini lebih banyak membahas filosofi mengapa kuliah gratisan.
Dan kondisi tulisan status facebook Rizka diatas, related banget ke saya, dan banyak orang lainnya seperti saya, yang titelnya bukan berasal dari keluarga miskin, tapi ngotot gag mau bayar kuliah, kenapa? Pelit? Iye!
Lulus SMA tahun 2011, yah, 5 tahun lalu (buset ane dah tua), dari salah satu SMA di Bengkulu, Ayah bekerja di dinas pendidikan, Ibu guru honorer, keluarga kami tinggal di perumahan standard, ada komputer dan internet di rumah, ada motor juga di rumah, jelas bukan kategori miskin.
Tapi kehidupan selama 12 tahun saat dulu masih tinggal di rumah penjaga sekolah di salah satu SMA Bengkulu, dimana dulu Ayah bekerja sebagai pegawai TU disana, Ibu jualan nasi goreng, saya sore-sore ngumpulin gelas aqua untuk nantinya dijual lagi ke tukang loak, dan saat ke SD bawa makanan untuk dijual ke teman-teman sekelas, mengajarkan saya satu nilai sederhana, “Apa itu Uang”.
Dan sepertinya hal ini banyak terlewat oleh teman-teman seusia saya, tentang nilai dari uang, tentang seberapa besar perjuangan untuk memperoleh sejumlah uang, saya paham makna dan usaha di balik lembaran 10 ribu, karena saya sudah berusaha sejak kecil untuk memperoleh nominal segitu.
Makanya saya jarang meminta kepada orang tua saya, apakah meminta beli baju, atau sepatu, atau mainan, atau apapun itu.
Apalagi meminta untuk membayar biaya kuliah.
Dengan perhitungan saya waktu itu, tahun 2011
Uang bulanan 1.500.000, belum termasuk kostan. (sekarang masih tetap segitu, dan harus udah termasuk kostan & internet speedy)
Uang pangkal masuk kuliah 15.000.000
Uang semesteran 5.000.000
Uang buku, tugas, print, dll belum dihitung, kalo hitungan ortu saya masuknya di 1.500.000 diatas/bulan.

I do agree dengan jawaban disini https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20130401000329AABoCEJ
Dan menurutku memang rata-rata anak kuliah yang rantau menghabiskan sekitar 100 juta dari awal kuliah hingga selesai, dan ini juga saya sebut di buku S1 gratisan saya (eh bukunya udah benar-benar gratisan, download dimari).
Tentu saja univ negeri & univ swasta beda biayanya, belum lagi biaya hidup kota besar & kota kecil.
Hal inilah yang membuat saya memutuskan untuk hunting beasiswa S1 dulu, 5 tahun lalu.
Yang pada akhirnya dapat di Univ Mercubuana Jakarta, full beasiswa selama 4 tahun, jadi biaya 100 juta bisa dipotong hingga setengahnya.
Mengapa nggak ambil beasiswa di Universitas negeri? Lha emang ada yang full buat non-miskin? Emang informasi beasiswa S1 full sejak awal masuk hingga selesai dibuka secara online di web-web Universitas negeri. Emang syaratnya gag harus miskin?
Saya dulu mau lho ke Universitas Negeri, sayang bego aja, eh sory keceplosan, sayangnya mesti ikut Bidikmisi aja, mundur deh saya, lha bukan orang miskin kok mau urus Bidikmisi gimana ceritanya, keluarga saya bukannya gag mampu buat bayar uang kuliah, sayanya aja yang pelit buat bayar kuliah.
Karena kuliah di Indonesia menurut saya pribadi cukup mahal (https://www.cekaja.com/info/perbandingan-biaya-kuliah-di-negara-berkembang-termasuk-indonesia/)

Sementara uangnya menurut saya lebih baik saya gunakan untuk kepentingan belajar non-formal saja, les bahasa kek, belajar entrepreneur kek, praktek ilmu yang diajarkan di kuliahan, beli domain sendiri, beli hosting sendiri, jadi belajar webnya nggak di Localhost aja, tapi online langsung, bayar kursus internet marketing, beli buku pengembangan diri, beli novel, beli equip di game online (what??) dan lain sebagainya.
Solusinya buat yang mau kuliah S1 tapi pelit buat bayar namun bukan keluarga miskin gimana jadinya?
1. Kalau masuk Univ Negeri, usahakan dari jalur yang uang pangkalnya kecil. Dan kalau sudah masuk di dalamnya, mulai deh cari2 beasiswa buat yang berprestasi dan tidak mensyaratkan miskin, yah saya tau gag banyak, terus saingan bejubel, tapi hajar aja lah 🙂
2. Kalau rela masuk Univ Swasta (kayak saya), cari sejak awal yang menawarkan beasiswa penuh S1 tanpa embel-embel pengabdian lalalala, tapi ya resikonya begitu, Univ Swasta kualitasnya lebih rendah dibandingkan Univ Negeri, networkingnya juga lemah ketimbang Univ Negeri, apalagi kerennya cuy, beuhh, gag da keren-kerennya sama sekali. Nah kalau kamu sudah terlanjur di dalam Univ Swasta melalui jalur reguler, coba cek-cek aja dari bagian kemahasiswaan serta internet beasiswa yang bisa kamu ikuti namun gag mensyaratkan status miskin.
3. Cari duit sendiri, ente bisa baca tulisan gag jelas ini pake apaan? hape? laptop? PC? yang penting ada internet kan. Mulai browsing-browsing di Google cara cari duit gimana aja, cari orang-orangnya di facebook, tanyain, kalo sedaerah datangin ke rumahnya buat berguru, kalo ada komunitasnya join, kalau ada kursus berbayarnya beli, itung-itung modal awal.

Mudah-mudahan tulisan ini sedikit mencerahkan yang mau kuliah gratisan, walau tulisan ini lebih kepada filosofi mengapa kuliah gratisan, untuk teknisnya yang S1 bisa baca buku saya, sementara yang S2 masih belum sempat dishare, Alhamdulillah saya dapat beasiswa LPDP buat lanjut kuliah gratisan lagi S2-nya, namun masih nunggu LoA dari kampus, repot parah ternyata urus kuliah S2, haha.
Kalau dirasa bermanfaat monggo dishare melalui button berikut, bisa share ke Whatsapp sama Line lho itu yang tombolnya hijau berdua, siapa tahu bisa membantu teman, rekan atau adiknya yang punya semangat kuliah gratisan juga.

Salam Pendidikan Gratisan!

Anak UNDIP jangan bersedih? Anak SWASTA jangan bunuh diri please…..

Hari ini tanggal 5 Januari 2016, yep, tumben saya ingat hari ini tanggal berapa karena hari ini mesti naik kereta buat balik ke Jakarta. Jam di hape OPPO diskonan karyawan (dulu) menujukkan pukul 07.57, sambil melihat keluar jendela kereta, melihat orang-orang lalu lalang di stasiun tugu Yogya.

Tiba-tiba terlintas di pikiran saya, sialan, saya lupa beli air minum sama snack buat di kereta. Ya udahlah, ntar makan di kantin kereta aja. Terus tiba-tiba satu pikiran terlintas lagi, damn, headset saya ketinggalan entah dimana, tadi pagi pas beres2 tas gag ketemu itu headset dimana, batallah rencana nonton Sherlock The Abominable Bride yang kemaren bela-belain download make kuota di hape, hadeh.

Jadilah ngecek hape aja, cek WA, cek Line, cek timeline Line, ada tulisan menarik nih, yang mengilhami tulisan saya ini, saya screenshoot & share dimari ya guys, all credit to the original writers.

Anak swasta jangan bunuh diri please
Anak swasta jangan bunuh diri please

First of all, no hard feeling, sepenuhnya saya mendukung konten utama dari tulisan diatas, yakni anak UNDIP menggunakan fasilitas yang disediakan, apapun yang saya tulis berikutnya di bawah ini resmi merupakan opini saya pribadi, untuk merespon kedua paragraph pertama berdasarkan perspektif anak swasta, yang merefleksikan mengapa saya sampai menulis judul diatas, Anak UNDIP jangan bersedih? Anak SWASTA jangan bunuh diri dong…..

Sampai-sampai itu titiknya saya tulis sama persis, 5x titik lho. Dan sisanya, persis kebalikan dari judul tulisan yang saya share pict-nya diatas.

Ini pengalaman pribadi sebagai almameter kampus swasta (ciee, bangga gag wajar), yang rasanya mewakili suara-suara mistis (dafuq) anak-anak kampus swasta lainnya, di seluruh penjuru alam fana, eh salah, Nusantara. Dan ditujukan buat kamu-kamu anak perguruan tinggi swasta yang kebetulan gentayangan lewat, atau malah anak-anak negeri (terutama UNDIP, UI, ITB & UGM karena kalian tuh yang dibahas pada pict diatas) yang salah pergaulan jadi nyasar ke tulisan saya ini.

Paragraf pertama

Sudah begitu menohok bagi saya sendiri, saya quote disini.

“Kita mungkin acapkali merasa minder duluan jika berhadapan dengan mahasiswa-mahasiswa dari Universitas lain yang peringkatnya jauh lebih baik dari almamater kita Universitas Diponegoro”

Gag jauh kok peringkat Undip ketimbang Univ top lain di Indonesia, satu digit doang selisihnya, beberapa nomor doang, gag jauh-jauh amat kok.

Lah Univ swasta saya, kalo diibaratkan hasil search engine Google itu, mesti klik page kesekian baru nongol nama kampusnya, ini dah mendingan, teman-teman kampus swasta lain rasanya nasibnya lebih mengenaskan, yang kalau diibaratkan hasil search engine Google malah gag keindex sama sekali (wkwkw, sorry guys).

Dan itu saja kalian “acapkali merasa minder”, nah lho apalagi saya yang peringkat Univnya memang benar-benar jauh lebih bawah, mungkin kata yang levelnya diatas “acapkali” apa ya , “seringkali”, atau “tiapkali”. Nah saya harusnya “tiapkali merasa minder” duluan jika berhadapan (ciee, kayak IP MAN) dengan mahasiswa dari Univ lainnya. Apalagi yang nama kampus swastanya dibawah kampus swasta saya, lebih-lebih lagi kali mindernya, atau malah langsung bunuh diri aja kali pas ketemu (sorry lagi guys, haha).

But then, ehmm, ngapain mesti minder coba, kita manusia yang sama, diciptakan dari materi yang sama, dan berkedudukan yang sama baik di mata agama maupun di mata hukum. Terus ngapain ente mesti minder bro/sist?

Itu anak kampus lain sama aja kok kayak ente-ente pada, gag da bedanya, suer.

Anak kampus terbaik itu sama aja anaknya kayak anak kampus terburuk, sama-sama manusia.

Dan perasaan minder ini, umumnya dibentuk oleh perasaan kamu sendiri, yang merasa lebih rendah dibanding orang-orang lainnya. Just don’t do that please. Kamu sama seperti yang lainnya, jangan merasa minder cuma karena peringkat kampusmu lebih rendah, atau prestasimu lebih sedikit, atau motormu lebih butut, atau wajahmu yang lebih mirip lukisan abstrak. Please, jangan minder. Ngapain minder, gag asiklah orang-orang yang minder cuma karena masalah-masalah sepele demikian. Ngapain juga minder karena urusan peringkat kampus, emang kampus bakal merepresentasikan prestasimu, kualitasmu, kehebatanmu, nggak kan? Kamu bisa aja jago walau kampusmu gag jelas.

Dan biasanya perasaan minder ini muncul karena kalian merasa bahwa mereka (anak-anak yang peringkat Univ nya diatas kalian) melihat kalian dengan sebelah mata (red: meremehkan). Padahal yang sebenarnya terjadi sama sekali tidak demikian. Anak-anak kampus terbaik yang pernah saya temui, belum ada yang terlihat meremehkan seseorang berdasarkan asal kampusnya. Belum ada tuh anak UI atau anak ITB apalagi anak UGM yang melihat saya langsung menyipitkan mata, geleng-geleng kepala, atau malah langsung meludah seperti di sinetron-sinetron itu, suer, gag pernah ada. Yang ada malah kebalikannya, jabat tangan erat, obrolan ramah (terkadang agak menyimpang dikit), dan ketawa-ketawa gag jelas. Mereka sama-sama manusia, dan mereka menghargai siapapun sebagaimana manusia berpendidikan lainnya.

JANGAN MINDER!

Dan mungkin kalian merasa minder karena saat seleksi, test atau lomba, itu anak-anak UI, UGM atau ITB udah pada kenal duluan, duduk barengan, saling sapa, ketawa-ketawa bareng. Sementara kalian cuma duduk di pojokan, bareng anak kampus sendiri, yang perginya bareng cowok semua, sementara anak UI, UGM atau ITB ada cewek cakepnya. Jadi minder karena gag bisa kumpul bareng mereka.

Ya wajarlah cuy, itulah lingkaran pergaulan mereka, seleksi, test atau lomba itu bukan pertama kalinya mereka bertemu, udah kesekian kalinya, jadi wajarlah mereka langsung akrab dan kumpul bareng. Kalau kamu mau kumpul bareng mereka juga, JANGAN MINDER, masuk ke dalam lingkaran pergaulan itu entah gimana caranya, ngobrol bareng, nanya2, apa aja deh, kreatif-kreatif caramu aja, yang penting adalah PEDE, JANGAN MINDER. Kalo dah gabung kamu bakal tahu bahwa mereka santai-santai & asik-asik kok anaknya, kan lumayan juga bisa kenal ama cewek-cewek cakepnya, hehe.

 

Paragraf Kedua

Pembahasan saya yang kedua sekaligus yang terakhir, saya quote disini.

            “Pengalaman ini pernah disampaikan oleh salah satu alumni UNDIP yang saat ini bekerja di salah satu perusahaan MNC. Ia menyatakan bahwa, lulusan UNDIP seringkali malu, kurang percaya diri dan minder duluan di setiap penyaringan kerja di tempat-tempat kerja yang top. Mereka minder duluan bertemu lulusan UI, UGM dan alumnus universitas lainnya.”

(Notes, diatas ada tulisan perusahaan MNC, nah buat yang gag paham, ini maksudnya perusahaan Multi National Company, perusahaan global, yang keren, yang mantep, yang gajiya gede, yang dikejar-kejar oleh anak-anak Universitas top)

Nah, ini nih yang paling banyak disinggung oleh anak-anak dari Univesitas nggak keren, apalagi anak-anak Universitas Swasta. Mengenai kesempatan bekerja yang tidak sama, antara mahasiswa kampus nomor 1 dengan mahasiswa kampus nomor 1 dari bawah.

Seorang teman yang ikutan jobfair di sebuah gedung besar, melihat panitia rekrutment perusahaan, memilah ratusan berkas applicant hanya dengan melihat sampul depan mapnya saja, dari nama & Universitas. Dengan sakit hati itu teman memperhatikan si penyeleksi langsung memisahkan berkas applicant berdasarkan nama kampus top & non top, dan sesuai dugaan mapnya masuk dalam tumpukan kampus non top.

Well, sebagai mantan pegawai magang HR di perusahaan MNC (baca disini untuk pengalaman saya magang di P&G), dan beberapa kali bantuin HR perusahaan recruitment saat mengawas test TOEIC untuk recruitment perusahaan-perusahaan top (baca disini untuk pengalaman saya freelance ngawas test di ITC), saya bisa memahami sepenuhnya, mengapa itu si penyeleksi melakukan hal demikian.

Intinya begini, seleksi itu takes time banget buat baca resume satu-satu sehingga mendapatkan applicant dengan kualifikasi terbaik untuk posisi yang ditawarkan. Cara mempersingkat proses tersebut adalah dengan mempercayai filter yang telah ada sebelumnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa untuk masuk ke Universitas top itu dilakukan saringan yang sangat ketat. Sehingga yang didapat adalah anak-anak dengan kualifikasi terbaik saja. Nah filter inilah yang dipercayai dan digunakan langsung oleh si penyeleksi kita tadi, untuk mempermudah pekerjaannya.

Nggak fair?

Kualifikasi kamu siapa tahu lebih bagus?

Ya inilah dunia bro/sist, get used to it, world never fair to you, and also to anyone.

Saran saya adalah sebaiknya kamu mempersiapkan solusi atas masalah ini, ketimbang marah-marah, apa solusinya?

  1. Milikilah kualifkasi (skill) yang bermanfaat bagi orang banyak, dan dapat digunakan oleh pemberi kerja. Milikilah kualifikasi diri yang bisa dijual di pasaran, serta dibutuhkan orang lain. Semakin banyak skill yang kamu kuasai semakin baik.
  2. Buatlah orang-orang disekitarmu (terutama mereka yang penting) mengetahui skill apa yang kamu miliki, apakah dengan cara membantu mereka, bercerita dengan mereka, atau hal apapun deh. Dan semakin banyak orang yang tahu semakin baik.

Cukup lakukan 2 hal diatas selama masa kuliahmu yang 4 tahun itu, dan yakinlah saat lulus nanti kamu tidak akan perlu untuk ikut ke jobfair di gedung-gedung berisi ribuan orang dan mengalami sakit hati seperti teman saya sebelumnya.

Dan sejujurnya, kamu bisa memiliki pilihan untuk tidak bekerja nantinya saat lulus jika memiliki kedua hal diatas.

 

Anak SWASTA jangan bunuh diri please …..

Ya, kamu anak swasta, dan negeri mungkin, harusnya bersedih dengan keadaan yang ada, dengan keterbatasan kesempatan, dengan keterbatasan guru, dengan keterbatasan fasilitas pendidikan, dengan keterbatasan gag adanya alumnus di perusahaan MNC.

Terus di lap matanya tuh sekarang pake tissue.

Terus mikir, mau ngapain dengan semua keterbatasan itu?

Mau bersedih lagi sampe Judith anaknya Rick di The Walking Dead nikah sama Leon di Resident Evil 4? silahkan.

Mau bangkit berdiri dan meninju semua masalah sampe habis kayak Saitama One Punch Man, itu lebih baik lagi.

List semua masalah yang kamu hadapi saat ini, science the shit out of it.

“You do the math. You solve one problem. And then you solve another. And then another. Solve enough and you stay alive.” – Mark Watney, The Martian.

Good luck bro/sist, keep survive!