Pengumuman XL Future Leader 2

Pengumuman XL Future Leaders
Pengumuman XL Future Leaders

Pengumuman XL Future Leader 2, ini nih yang ditunggu-tunggu oleh teman-teman pendaftar XL Future Leader 2 se-Indonesia, akhirnya pengumuman XL Future Leader tahap pertama sudah keluar, dan bagaimanakah hasilnya, bisa segera di cek disini

www.indonesiaberprestasi.com/futureleader/detail/52

Berdasarkan pernyataan Kepala Sekolah Fasilitator XL Future Leader, jumlah mahasiswa yang lolos tahap seleksi administrasi dan screening awal ini mencapai 1.500 peserta dari seluruh Indonesia, menyisakan 6.300 mahasiswa lainnya yang tidak berhasil memasukkan namanya dalam daftar pengumuman XL Future Leader 2.

Peserta yang lolos seleksi tahap pertama ini akan menghadapi seleksi tahap selanjutnya, yakni Tes Potensi Akademik dan Tes Bahasa Inggris, serta ada Focus Group Discussion dan Presentasi Case Study dalam Bahasa Inggris. Untuk kalian yang namanya masuk dalam daftar pengumuman XL Future Leader 2 selamat berjuang untuk tahap selanjutnya. Dan bagi anda yang belum beruntung jangan bersedih hati, karena masih ada banyak sekali program sejenis yang bisa anda ikuti.

Selamat berjuang para Future Leaders.

Perspektif Difabel untuk Youth Leaders

23 orang mahasiswa yang merupakan mahasiswa terpilih anggota XL Future Leaders dari berbagai Universitas di Jakarta menggelar sharing session sekaligus buka puasa bersama dengan teman-teman difabel penglihatan dari Kartunet (Karya Tuna Netra) dan Panti Sosial Bina Netra Cahaya Batin, Jakarta Timur, DKI Jakarta.

Perspektif Difabel untuk Youth Leaders
Perspektif Difabel untuk Youth Leaders

Menurut saya pribadi, sebagai anggota XL Future Leaders sekaligus aktivis disabilitas, acara ini diinisiasi untuk mempertemukan para pemuda calon pemimpin masa depan dengan kelompok disabilitas untuk memberikan perspektif disabilitas yang benar kepada calon pemimpin sedini mungkin. Sehingga nantinya pada saat mereka benar-benar telah menjadi pemimpin, mereka akan membuat keputusan-keputusan yang mempertimbangkan dan memperhatikan kepentingan-kepentingan dari kelompok difabel.

Acara ini dihadiri oleh Dimas Muharam, founder dari media online Kartunet, yang berbicara mengenai perspektif disabilitas penglihatan dari sudut pandang difabel itu sendiri. Dimas menegaskan bahwa sebagai seorang difabel bukan berarti mereka tidak bisa melakukan hal apapun. Dengan media dan sarana yang disesuaikan berdasarkan keperluan mereka, difabel juga mampu untuk mengikuti proses kehidupan sama seperti para non-difabel lainnya. Seperti pendidikan, percakapan sehari-hari, dan pekerjaan.

Dia juga menyatakan bahwa tidak sedikit difabel penglihatan yang mampu mandiri dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat sekitarnya. Walau memang harus diakui bahwa saat ini di Indonesia masih banyak sekali penanganan difabel yang tidak sesuai, sehingga tidak mampu mendukung perkembangan potensi dari difabel itu sendiri.

Faradina Alifia Maizar, mahasiswi Universitas Indonesia yang ikut dalam kegiatan ini menyatakan bahwa sharing session ini sangat inspiratif, serta memberikan perspektif baru bagi dirinya karena pengalaman kontak langsung dengan difabel seperti ini adalah yang pertama kali baginya.

Selain sharing session, pada kesempatan kali ini juga diadakan games-games menarik yang melibatkan peserta XL Future Leaders dan difabel, pada games ini, terlihat kontak yang menarik antara non-difabel dan difabel, dengan cara mereka masing-masing, non-difabel yang hadir berusaha untuk berkomunikasi dengan teman-teman difabel penglihatan dengan memberikan intruksi serta petunjuk games melalui insyarat suara.

Setelah itu, setiap peserta yang hadir di aula Panti Sosial Bina Netra Cahaya Batin berbuka puasa bersama, dengan suasana keakraban yang semakin terasa dekat melalui kegiatan-kegiatan yang telah dilalui sebelumnya.

Memang perspektif disabilitas yang benar, serta kontak antara difabel dan non-difabel hendaknya mulai diperkenalkan kepada generasi muda yang terpilih, mereka yang berpotensi untuk menjadi pemimpin dengan kemampuan intektualitas dan komunikasi yang bagus pada dasarnya sangat terbuka untuk menerima perspektif disabilitas secara langsung dari difabel itu sendiri. Sehingga kedepannya isu disabilitas ini dapat disounding oleh berbagai pemimpin besar yang dahulu pernah memiliki kontak dan kepedulian terhadap kelompok difabel.

CEO Meeting bersama Bu Dian, CEO Kennedy Voice & Berliner (KVB)

Jum’at, 19 Juli 2013, berlokasi di ruang rapat M22 Menara Karya lantai 28, jalan H.Rasuna Said Kav. 1-2, Jakarta, perwakilan StudentsXCEOs bersama dengan beberapa guest star dari berbagai Universitas di Jakarta dan Bandung ikut menghadiri Sharing Session eksklusif bersama Bu Dian Noeh Abubakar, CEO dari perusahaan PR (Public Relation) Kennedy Voice & Berliner atau yang biasa dikenal dengan KVB.

CEO Meeting Ibu Dian, CEO Kennedy Voice & Berliner
CEO Meeting Ibu Dian, CEO Kennedy Voice & Berliner

Ibu Dian sharing mengenai perjalanannya bagaimana hingga menjadi CEO pada saat ini, hal-hal apa saja yang banyak membantunya dalam menjalani karir professionalnya, serta pandangannya mengenai bagaimana generasi muda sebagai calon pemimpin bisnis masa depan dalam menyikapi berbagai tantangan yang hadir di masa-masa mendatang.

Perjalanan karir Ibu Dian tidak serta merta langsung menjadi CEO perusahaan yang kuat, sebelumnya beliau terlebih dahulu bekerja di berbagai perusahaan PR Agency multinasional di Jakarta. Dari sini, Ibu Dian banyak belajar dari mentor-mentornya di tempat kerja. Bu Dian tidak hanya memperdalam pemahamannya mengenai PR, namun juga mengenai financial, marketing, leaderships, dan team management. Hal-hal inilah yang pada akhirnya mendorong Bu Dian untuk membentuk perusahaan PR miliknya sendiri di bawah nama Kennedy, Voice & Berliner.

Ibu Dian menjelaskan bahwa walaupun perusahaan yang dimulainya ini termasuk baru, namun mereka memiliki berbagai client besar dan jadwal kerja yang cukup sibuk. Hal ini dikarenakan order pekerjaan yang terus menerus masuk sehingga memaksa Bu Dian untuk terus mengembangkan kapasitas KVB dengan melatih dan merekrut talent-talent baru untuk bergabung bersama KVB.

Mungkin kita akan bertanya, darimana saja order pekerjaan tersebut masuk. Bu Dian mengatakan bahwa order pekerjaan datang dari channel professional networking yang dia miliki. Dari kenalan berbagai pimpinan perusahaan yang dia miliki, order pekerjaan terus berdatangan. Bu Dian mengatakan

“When it comes to business, it’s all about networking and trust.”

Tidak dipungkiri bahwa dalam berbisnis memang networking memegang peranan yang sangat penting. Seorang pebisnis tentu lebih merasa nyaman untuk melakukan transaksi bisnis dengan seseorang yang dikenalnya. Dari networking ini, kita harus menjaga kepercayaan dengan integritas tinggi, dan hasil pekerjaan yang memuaskan. Sehingga layanan bisnis kita akan terus digunakan, bahkan direkomendasikan kepada pemimpin-pemimpin bisnis lainnya.

Bu Dian menyatakan bahwa tidak lama lagi, Indonesia akan memasuki masa Asean Economic Community (AEC) pada 2015. Beliau sangat menyayangkan sikap pemerintah nasional yang hanya sibuk memikirkan pemilu 2014, tanpa memikirkan tantangan besar yang akan segera hadir di depan mata. Bu Dian menyatakan bahwa kalangan bisnis sudah mulai merapatkan barisan dan memperkuat lini pertahanan untuk menghadapi gelombang besar AEC 2015 nantinya.

Kepada kami, generasi muda yang akan menghadapi tantangan baru ini, Bu Dian menyatakan bahwa sudah saatnya kami mempelajari hal-hal baru di luar pelajaran yang biasanya kami temui, untuk menghadapi AEC 2015. Saat ditanyakan apakah kami perlu untuk mensosialisasikan mengenai AEC ini kepada teman-teman yang lain, Bu Dian menjawab dengan sederhana.

“Ya, kalian perlu untuk melakukannya, tetapi ingatlah untuk mempersiapkan diri kalian sendiri terlebih dahulu. Saya selalu ingat prinsip dari airlines, di awal penerbangan akan ada peragaan yang menyatakan bagi Ibu yang membawa anaknya, hendaknya memasang sabuk pengamannya sendiri dahulu, baru memasang sabuk pengaman anaknya. Bahkan pada saat kondisi darurat terjadi, dan masker oksigen turun, Ibu juga SEHARUSNYA memasang masker oksigen sendiri, baru memasang masker oksigen untuk anaknya.”

Secara sederhana hal ini berarti bahwa kita sendiri harus aman dan selamat terlebih dahulu, baru kita bisa mengamankan dan menyelamatkan orang-orang lainnya. Selain itu, dia juga menegaskan kepada tiap-tiap dari kami untuk mulai memikirkan strategi ASEAN dalam mengembangkan konsep bisnis kedepannya.

“Being a CEO is not about fancy title, it’s all about responsibility.”

Sebagai seorang CEO Kennedy Voice & Berliner, Bu Dian merasa berkewajiban untuk membangun impactful business, beyond profit taking, dengan berbagai cara berikut:

  • Provide good financial rewards for stakeholders and employee
  • Help talents for sustainable business growth
  • Build ecosystem, growth of industry (Disini Bu Dian menyatakan pentingnya bagi praktisi untuk ikut mengajar dalam pendidikan Universitas formal. Untuk memberikan insight hal-hal yang terjadi di lapangan kepada mahasiswa)

Creates Innovation

CEO Meeting Bareng Pak John Riady, Director of Lippo Group, Editor-at-Large Berita Satu Media Holdings

18 Juni 2013 lalu, berlokasi di private meeting room, lantai 36, di MRCC Siloam Sudirman, 24 mahasiswa future business leaders dari regional Jakarta dan Bandung berkumpul untuk bersama-sama ngobrol dan sharing dengan Pak John Riady, mengenai perjalanannya menjadi seorang business leader, dari awal kehidupannya, hingga saat ini, dan bagaimana juga hal-hal yang dia inginkan nanti ke depannya.

John Riady, CEO BeritaSau.com, Director of Lippo Group
John Riady, CEO BeritaSatu.com, Director of Lippo Group

Di awal meeting, Pak John menyempatkan diri untuk meminta kami memperkenalkan diri satu persatu, nama, jurusan dan kampus kami masing-masing. Sugguh terlihat bahwa dia merupakan pendengar yang baik, memperhatikan setiap detail yang kami bicarakan, dengan eye contact yang bagus. Jika dilihat dari foto di atas, saya di sebelah kanan, menggunakan baju abu-abu, dan sedang memegang buku jurnal (haha, jurnal ini selalu saya bawa kemana-mana, untuk mencatat berbagai hal, termasuk materi dari berbagai CEO Meeting yang saya ikuti).

Saat saya memperkenalkan diri, Pak John melihat bahwa di baju saya tertera AhmadArib.com, dan kemudian menanyakan.
“AhmadArib.com apa itu ?”
“Oh, website personal saya itu Pak”

” Hmm, website berita ya.”
“Gag kok Pak, cuma informasi-informasi personal saja.”

“Nah, itukan termasuk berita juga, berita personal namanya, haha.”
Lalu kamipun tertawa sejenak, dia pemimpin dari Berita Satu Media Holdings, sehingga memang memiliki passion yang kuat di bidang berita dan media.

Setelah perkenalan kami semua, beliau mulai memperkenalkan dirinya, serta background keluarganya. Pak John mengakui bahwa dia berasal dari keluarga yang memiliki karunia lebih dari Tuhan, dengan kehidupan materi yang berkecukupan, dan keluarga yang harmonis. Namun dia menyatakan, bahwa “your blessing is your curse”, yang berarti bahwa karunia yang kamu dapatkan, terkadang malah menjadi hal yang menjatuhkanmu sendiri.

Seperti kecukupan materi, dia sendiri mengakui begitu banyak anak yang berasal dari keluarga berkecukupan tidak mampu melaju lebih cepat dan lebih jauh dibandingkan mereka yang memiliki keterbatasan finansial. Malah berdasarkan pengamatannya selama menjadi pengajar di UPH (beliah saat ini aktif di dunia pendidikan, menjadi dekan Fakultas Hukum di Universitas Pelita Harapan), menyatakan bahwa banyak mahasiswa yang berasal dari daerah, memiliki progress yang lebih baik dibandingkan mereka yang asli dari Jakarta.

Oleh karena itu, keluarganya menetapkan sistem pendidikan yang cukup unik untuk Pak John kecil, semasa Sekolah Dasar, ayah beliau selalu menugaskan John Riady untuk bekerja di tempat-tempat “kecil” selama liburan sekolah, Pak John pernah menjadi petugas counter tiket saat sekolah dasar, menjadi petugas kebersihan di Mc. Donald, dan menjadi bell boy di sebuah hotel saat masih SMP. Pak John mengakui, bahwa hal-hal inilah yang membawanya menjadi sadar akan “value of money”, akan nilai riil sejumlah uang, sebanyak apa waktu dan tenaga yang dihabiskan untuk mendapatkan uang seratus ribu rupiah. Kesadaran akan value of money inilah yang membawanya maju dalam berbisnis, dan menurutnya tidak banyak dipahami oleh anak-anak muda lainnya, sehingga mereka begitu mudah meminta berbagai hal dari orangtua mereka, menganggap bahwa uang itu bisa didapatkan dengan mudah.

Pak John memiliki ketertarikan terhadap politik dan pendidikan, beliau mengakui bahwa dia memulai bisnis media untuk mengikuti passionnya, media merupakan bisnis yang memiliki tingkat pengaruh tinggi di bidang sosial, politik dan pendidikan masyarakat. Saat ditanya apakah media yang dibesarkannya bebas dari pengaruh politik dan tidak memihak kepada pihak manapun, pak John tidak setuju akan hal tersebut. Dia menyatakan bahwa kita harus memihak kepada salah satu pihak yang kita rasa paling benar. Karena kita tidak bisa diam saja, terutama di bidang politik. Jika kita diam saja, tidak melakukan sounding terhadap pihak yang kita anggap terbaik, maka mereka akan kehilangan dukungan, dan pihak terburuklah yang akan mendapatkan suara, dan akhirnya kita akan dipimpin selama 5 tahun oleh pemimpin yang buruk.