3rd Month, Orang China (Rasis Mode:On)

“yep, entering America looks like will be harder now since Trump becoming president.” Ucap salah seorang teman native China saya di SJTU, dia tahun terakhir S1 yang lagi menyiapkan aplikasi S3-nya ke US, iya, kamu gag salah baca, S3, Phd, Doctoral degree, langsung dari S1. Gila ini anak, badannya kecil banget, kurus, masih muda, udah mau langsung Phd aja, apa bisa? iya bisa, sumpah! Saya juga tahu kalau bisa sejak saya kesini.

“well sure, it will harder for me also later on if I deciding to take my Phd there, since I’m a muslim, they racist to muslim also”, balas saya.

“you know what, I have friends who is muslim and chinese also, wonder what will happen to him”. Dan kita tertawa, kemudian merenungi nasib si China muslim ini tadi, kaco juga ya, untung dia gag kulit hitam juga sekalian, bisa triple kill nanti di US kalo bahasa Counter Strikenya.

Rasis ada dimana-mana, suka gag suka rasis ada dimana-mana.
Tulisan ini bukan untuk menyebar bibit-bibit kebencian (sumpe, ini situs namanya ahmadarib.com, bukan lalalalalapiyungan.com).
Juga bukan untuk menebar kedamaian antar umat beragama (yeelah, saya belum qualified suer, sholat Ied di Ho Chi Minh tahun lalu aja salah tanggal sehari lebih awal, rada telat lagi datangnya, yang hadir beberapa orang Malaysia doang, untung ada ustadnya dari Malaysia satu).

Tulisan ini cuma buat cerita ke 1 atau 2 orang yang membaca, tentang bagaimana keadaan di kondisi yang dirasiskan itu sendiri, gimana orang-orangnya, dan apa yang mereka pikirkan tentang sisi yang lain secara menyeluruh.
Yep, ini cuma cerita, keadaan sehari-hari yang saya temui, sepenuhnya subjektif, karena case saya sendiri juga cuma ketemu beberapa orang saja, di China juga baru ke 2 area saja, Shanghai sama Shandong, dengan harapan 1 atau 2 orang yang membacanya mengerti tentang pihak lainnya. Karena menurut saya orang rasis karena belum paham dengan apa yang dirasiskannya, belum masuk ke dunia yang dirasiskannya, bahkan belum pernah ngobrol atau punya teman dengan orang yang dirasiskannya. Karenanya, mari kita bahas satu-satu beberapa hal menarik sesuai judul.

Orang China

1.Pemalu

Well, pake wechat disini dan ngobrol dengan beberapa teman native disini sedikit membingungkan di awalnya, why? lah ini teman-teman China saya di wechat foto profilnya kartun semua, ada one piece lah, emot lah, pemandangan lah, macam-macam, terus tulisan namanya kan keriting semua tuh aksara China, susah banget nyarinya.

Begitu saya tanya ke teman Indonesia yang sudah lama disini dan Taiwan, dia bilang bahwa native sini malu-malu orangnya. Pada malu buat ngepost fotonya di profil wechat, begitu juga di moment wechat, jarang banget mereka post foto sendiri, moment wechat itu udah kayak timeline facebook lah. Tapi gag tau deh kalau weibo atau QQ, social platform yang lain, belum nyobain.
Begitu juga di kelas, dosen nanya ada pertanyaan atau nggak atau siapa yang bisa jawab soal di depan, dieemm semua, termasuk saya, lah kalau saya kan jelas gag nanya karena gag paham sama sekali, kalau mereka harusnya kan paham, minimal beberapa orang. Jadi kalau misalnya kurikulum siswa aktif di Indonesia mau diterapkan disini gag bakal work saya yakin.

2. Hemat & Efisien

Waktu itu kita mau tampil tari saman, kan ada kelas tuh ya, terus kita dibagikan surat izinnya buat dikasih guru di kelas. Surat izinnya itu selembar kertas A4 yang dibagi 4, dipotongin jadi 4 panjang-panjang.
Duh, ya ampun.
Sebagai mantan ketua OSIS yang dulu hobi banget bikin rapat gag penting agar bisa bolos kelas saya ingat banget tiap surat izin itu mesti selembar kertas A4 full, meskipun nama yang diizinkan cuma 1 orang, tapi kan ya ada kop suratnya, ada nomor dan perihalnya, ada kata pengantarnya, ada isi dan detail kegiatan, baru penutup dan salam hormat. Kalau nggak kayak gitu bakal marah lah guru di kelas, dibilang nanti gag menghormati, apalagi kalau salah tulis dikit nama gurunya, beuhhh, gag bakal diijinkan keluar itu yang ada di surat pas jamnya dia.
Lah ini A4 dibagi 4 coba, panjang2 kecil gitu, kagak ada kop surat, pengantar, dll, apalagi salam hormat. Bayangin gimana ceritanya kalau ini dikasih ke guru saya dulu, haha.
Kemudian ada satu lagi teman native China saya, namanya David, nama Chinanya ahhh sudahlah, dia bilang waktu itu dalam tempo 2 detik saya sudah lupa, terlalu rumit untuk diingat di memory saya yang kecil dan sumpek sama katalog game & movie.
David, itu dia udah kerja sambilan ngajar anak SMA sejak dia S1. Penghasilan sambilannya sekitar 3.000-8.000 yuan perbulan, tergantung banyaknya jam dan kelas yang dia ajar, dan dengan ini dia cukup untuk bayarin hidupnya sehari-hari, serta biaya kuliah S1 & S2nya. Sekarang dia udah mau graduation S2 Maret nanti, barusan kemarin akhirnya dapat kerja sebagai guru di SMA negeri di Shanghai, dengan gaji 11.000 yuan/bulan (1 yuan=2.000 rupiah).  Waktu saya gag sengaja kelihat saldo Alipaynya ada 80.000 yuan depositnya disana, pas saya bilang buset banyak amat tabungan ente cuy (dalam bahasa Inggris tentunya), dia bilang dengan santainya, ane masih punya 50.000 yuan lagi masbro dalam bentuk saham, ini 80.000 yuan ane pindahin ke Alipay semua karena rate bunganya lebih tinggi 2x lipat ketimbang rate bunga bank (dalam b.ing juga tentunya, ya kali ini anak ngomong ane ama masbro, ntar kaskusan lagi dia).
Dan, tiap ketemu saya dia masih pake sepeda butut itu-itu aja, yang saya yakin harganya gag lebih dari 200 yuan, karena sepeda saya sama bututnya dan harganya segitu.

Ya salam.
Ini anak.
Hemat sekaliii !
Jangan kalau mau bandingkan dengan salah satu kenalan di kampung halaman saya di Bengkulu, kerja di salah satu perusahaan dengan gaji 3 juta rupiah (estimasi yg baik banget, beberapa bilang dibawah itu) sudah kredit mobil aja, gajinya full buat bayarin kredit mobil, lah terus hidupnya, makan, minum, tempat tinggal? kan tinggal sama orangtua, jadi gratis dong, gubrak. (true story anyway, all things I state I never lie or made it up).

3. Study hard, Work hard, Live hard

Tiap liat anak native China disini saya selalu malu, mereka baca buku kuat banget, kayak kecanduan.
Yang pake kacamata di kelas itu nyaris 4/5.
Belajar itu dari jam 8 pagi sampai jam 12 malam, jedanya cuma untuk tidur, toilet & makan.
Bioskop sepi.
Di kafe kampus bawa laptop sama buku semua, baca buku sama kerjain pe er.

Dan hidupnya, dari SMA udah tinggal di dorm sekolah, S1 juga di dorm sekolah.
Sekamar 4 orang, ranjang bunk bed kamar sempit ala ala militer.
Kamar mandi diluar gedung, jadi kalau mau mandi bawa baskom, handuk sama peralatan mandi jalan kaki dulu ke kamar mandi.
They live hard by design, sekolah ya seperti ini, keras, meskipun di rumah mereka rumah mewah, orangtua sediakan bed nyaman ber-AC tapi kalau udah sekolah ya seperti ini kondisinya.
Dan sebagai anak yang dulu hidup keras, not by design, tapi emang karena dulu kondisi hidup susah menurut saya ini hal yang oke. Kita yang biasa hidup keras bakal survive mau ditaro dimana aja, keadaannya seperti apa aja, bakal hidup, dan bakal nyaman sendiri. Tanpa AC, kasur keras di lantai, cuci baju pake tangan, tidur rame2 di kamar tipe dorm. Dan bakal sangat appreciate ketika keadaan membaik, seperti sekarang punya kamar single sendiri, punya AC sama kulkas sendiri, ada kompor & peralatan masak sendiri, ada mesin cuci sama mesin pengering, serta punya uang cukup buat makan apa aja di kantin sekolah. Dan walau nanti keadaan memburukpun dan setiap fasilitas menjadi tiada juga tidak masalah, karena sudah biasa.
Orang Indonesia di China
Siapapun orang yang memiliki paspor Indonesia maka dia orang Indonesia, sudah, titik, itu definisi saya.
Tanpa ada pembagian jenisnya lagi.
Atau definisi lanjutannya.
Walau diantara yang memiliki paspor Indonesia mungkin ada juga yang memiliki paspor Taiwan atau China, sama bahasa Indonesianya nggak lancar, tak masalah, kita orang Indonesia semua.

Dan suatu ketika, saya sama seorang teman, sebut saja William, kita sama-sama Orang Indonesia di China yang sama-sama sedang belajar dan kebetulan sama-sama di kampus Shanghai Jiaotong University dan dulu kebetulan sudah kenal duluan di Indonesia, berencana untuk menemui teman-teman Indonesia rombongan IChYEP (Indonesia China Youth Exchange Program) yang singgah ke Shanghai semalam untuk selanjutnya balik ke Indonesia keesokan harinya.
Ya udah kita datang ke hotel mereka, kita tungguin teman kita.
Nah teman kita datang, terus kita duduk-duduk dulu ngobrol di lobi hotel.
Terus datang ibu-ibu Indonesia rombongan, dikenalkanlah kita sebagai mahasiswa Indonesia di Shanghai, berikut petikan kenalannya.
Arib: Halo Bu, saya Arib, mahasiswa di SJTU.
Ibu-ibu: Oalah, mahasiswa ya.
William: Saya William Bu. (perlu saya tegaskan, kita semua ngomong dalam bahasa Indonesia)
Ibu-ibu: Ohhh, dari Indonesia ya, temannya ABC semua?
William: Iya Bu, dulu satu kegiatan.
Ibu-ibu: Sudah bisa bahasa Mandarin semua berarti ya?
Arib: Saya belum bisa Bu, masih belajar, William yang bisa.
William: bisa sedikit aja
Ibu-ibu: Ohhh, kamu China kan? (what????)
William: (bingung) Nggak Bu, saya Indonesia (lah jelas ini anak ngomong Indonesia kok, lahir ama besar di Indonesia, paspor Indonesia, kuliah juga baru S2 ini kesini)
Ibu-ibu: Iya, saya tau, tapi kamu China kan?

Well, then, terlalu awkward moment itu untuk diceritakan lagi.
Yah, mau bilang apa lagi, teman saya yg di IChYEP jadi gag enak banget sama William, kaco itu Ibu-ibu.

I do really hope, teman-teman yang baca jangan seperti Ibu-ibu itu ya please, please banget.
Dan cobalah untuk melihat hal-hal baru dari sudut pandang yang lain.
Saya dulu tinggal di kota kecil terus ke kota besar jadi paham sudut padang masing-masing pihak.
Sekolah di Univ swasta yang entah ranking berapa dan kumpul sama anak-anak top 4 Univ, paham perspektif masing2 pihak.
Ikut organisasi difabel selama setahun, dua minggu pelatihan hidup bersama mereka, jadi paham bagaimana perspektif difabel di Indonesia.
Dan sekarang saya sekolah di China, sebagai muslim dari Indonesia, saya masih belajar tentang perspektif mereka.

Hidup itu terlalu singkat untuk rasis & diskriminatif terhadap pihak-pihak lain, lebih menyenangkan untuk memahami pihak-pihak tersebut secara langsung, serius, sangat menyenangkan dan membuka pikiran.
Sebagai penutup berikut model paling non rasis menurut saya, why?
Panda is WHITE.
Panda is BLACK.
Panda come from CHINA.
Be like Panda, be non racist.
#credit to 9gag, they always have stupid poem like this

Panda di Shanghai Wild Animal Park
Panda di Shanghai Wild Animal Park

Salam pendidikan gratisan!

Daftarnya kan buat passport dulu, iya kalo keterima, kalo nggak, buat apa passportnya…

Titiknya tiga kali lho.

Kalo tanda tanya di akhirnya saya masih bisa mengerti, ohh itu pertanyaan, maka saya bakal jawab dengan santai, lah ini titiknya tiga kali coba, maksudnya apa?

Well, sebagai orang kurang kerjaan yang sempat-sempatnya nulis di blog ini, saya memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan berbagai orang, mengenai topik yang sangat saya sukai, yakni mengenai beasiswa. Dan kali ini saya akan cerita mengenai salah satu komentar yang masuk ke admin panel blog saya.

Isinya begini, dan saya jawab begini.

buat apa passport

Maafkan kata-kata saya diatas, itu bukan buat anda, itu buat yang nanya aja, karena langsung reply ke emailnya kalo gag salah kalo saya reply via sistem.

Dan sejujurnya saya ingin menolong yang bertanya, dengan cara saya sendiri tentunya, dia harus paham betapa pentingnya passport.

Dan sejujurnya lagi, saya sangat menghargai orang-orang yang mau menyempatkan dirinya untuk mengetik komentar, mengenai apapun pemikirannya, dan saya pasti akan menyempatkan diri untuk membalasnya.

Nah, blog post ini, khusus untuk teman-teman yang lain, yang hingga saat ini masih belum punya passport juga. Iya kamu yang baca, kalau udah punya paspor udah close aja, ini buat yang belum punya paspor aja.

Berapa persentase warga Indonesia yang punya paspor saya belum tahu pasti, udah nyari kemana-mana tapi gag nemu, barusan saya emailin humas@imigrasi.go.id mengenai hal ini, mudah-mudahan dijawab, kalau dijawab nanti akan saya update disini, atau kalau ada teman-teman yang tahu datanya monggo komentar di bawah, tapi menurut saya pribadi rasanya gag banyak masyarakat Indonesia yang punya paspor, karenanya postingan ini rasanya masih valid untuk dipublikasikan.
Paspor itu penting banget, sumpah.

Dan lebih baik kalau kamu punya secepatnya.

Sekarang? Iya, sekarang!
Jangan nunggu-nunggu mau ke luar negeri dulu baru bikin, jangan nunggu-nunggu daftar program dulu baru bikin, atau nunggu dapat undian umroh dulu baru bikin paspornya, jangan, bikin sekarang juga, atur jadwal sekarang juga buat ke kantor imigrasi, atau baca di web tentang syarat membuat paspor.

Karena, yang ada kalau kamu gag punya paspor adalah seperti berikut.
Ada program pertukaran pelajar ke Jepang, butuh paspor, ahh saya gag punya paspor, ntar aja lah ikutnya.

Ada program beasiswa ke malaysia, butuh paspor, ahh saya gag punya paspor, ntar aja lah ikutnya.

Ada tiket promo Airasia murah banget ke Vietnam, ahh saya gag punya paspor, ntar aja lah belinya.

Nahhh, ntar nya ini gag ada batasnya, sementara program pertukaran pelajar, beasiswa dan tiket promo ada batas waktunya semua. Dan percayalah kamu bakal melewatkan batas waktunya sementara paspor belum ada.

Jangan nunggu mau ikut pertukaran pelajar, beasiswa atau tiket promo dulu baru bikin paspor.
Yang bener adalah, bikin paspor dulu baru cari program diatas, dan begitu dapat infonya, langsung ikutan!

Untuk biaya saya gag bisa ngomong apa-apa sih, ya memang sejumlah uang untuk bikin paspor itu cukup besar buat sebagian orang, namun percayalah ini hal yang diperlukan, kalau mau menjadi manusia global, kalau mau berkembang, kalau mau memiliki pandangan luas tentang dunia, paspor sangat diperlukan.

Nabung.
Cari uang.
Lakukan berbagai cara, kalau ada kemauan Insya Allah bakal ada jalan.

Saya cerita seperti diatas karena saya udah mengalami capeknya bikin paspor mendadak, mepet pas ikut program pertukaran pelajar, dan saya tidak mau hal ini terjadi sama siapapun, jauh lebih baik punya duluan sebelum dibutuhkan.

Waktu itu tahun 2010, 17 Juni, saya ingat banget karena hari itu ultah saya, dan saya dapat pemberitahuan lolos pertukaran pelajar Jenesys ke Jepang, di hari yang sama kami bertiga kandidat dari Bengkulu harus menyerahkan scan paspor ke Kemenpora pusat, gimana ceritanya paspor sehari jadi di tahun 2010?
3 bapak kami berkumpul, mengumpulkan semua berkas yang diperlukan untuk paspor.

Meminta surat rekomendasi dan penjelasan kebutuhan mendadak dari kemenpora Bengkulu.
Berjam-jam diskusi di kantor imigrasi.
Akhirnya bisa juga, ambil foto, masuk jalur prioritas, wawancara, dan jadi hari itu juga paspornya.

Capeknya luar biasa, belum lagi ngomong biayanya.

Dan karena itu saya jadi yang pertama di keluarga, yang punya paspor, sekarang keluarga saya sudah punya semua. Adik saya udah 3 kali dibelikan tiket promo Airasia, Singapura tahun ini, Malaysia April 2017 nanti, Thailand, Cambodia & Vietnam November 2017. Mudah-mudahan dia juga mampu dan mau buat lanjut kuliah S2 diluar negeri juga nantinya. Insya Allah kedua orangtua juga bakal menunaikan ibadah haji nantinya, umroh kalau ada rejeki, dan yang terdekat mungkin wisuda saya 2019 nanti di Shanghai, China.

Dimulainya darimana? Dari paspor.

Masih mikir ntar aja bikin paspornya?
Salam pendidikan gratisan!

2nd Month, I’m still Alive in China, I Even Participate in 双十一

Setelah 2 bulan tinggal di China, dan setelah sebulan seperti tulisan saya disini https://ahmadarib.com/please-dengerin-kata-kata-saya-jangan-mau-kuliah-lagi-ambil-computer-science-apalagi-ke-china.html, hal yang menakjubkan terjadi…..

Saya masih hidup, ternyata manusia gag bisa mati sama overdosis belajar dan membaca, ini fakta menarik yang harus diberitahu ke setiap guru di penjuru Indonesia, paksa aja anak didiknya buat belajar dan membaca, tenang aja, gag bakal mati itu anak.

Dan banyak hal menakjubkan lainnya terjadi, seperti

  1. Dompet saya menjadi tipis sekali

Tipikal isi dompet saya sehari-hari adalah, 3 kartu, 1 kartu transport, 1 kartu mahasiswa dan 1 kartu ATM bank, ada 2 pas foto (cewe satu cowo satu, yang cowo cakep yang cewe nya cantik, anak saya? bukan!), kemudian selembar 20 yuan, 2 lembar 10 yuan dan 4 koin recehan, biasanya 2 koin 1 yuan dan 2 koin setengah yuan. Dan gag peduli kapanpun, hari apapun, pergi kemanapun isi dompet saya gitu-gitu aja. Karena saya kere kah? hmmm, ya iya saya kere sih, tapi bukan karena itu juga sepenuhnya, di Jakarta dulu saya juga kere tapi masih tebel juga dompetnya, minimal 5 ribuan ada kayak 10 lembar lah nangkring di dompet, tapi sekarang semua sudah berubah, sejak negara api menyerang!

…………………….

waaat……. daaa….. pakkkk

No, seriously.

Yang sebenarnya adalah karena avatar menghilang…….

Oke2, kali nih serius, saya baru dapat inspirasi menulis lagi.

Yakni karena simplifikasi hidup di China, mulai dari kartu, saya hanya punya 3 kartu ketimbang dulu di Indonesia punya lebih dari 5 kartu, apa aja? udah… buka dompet masing2 deh, cek kartu apa aja ada disana.

Nah disini cuma 3 kartu aja, udah, cukup. Mengapa cukup?

1 kartu transport, ini kartu warna ungu bisa dipake buat semua kendaraan umum di Shanghai, mulai dari bus, kemudian subway, juga ada kapal dan taksi, 1 kartu buat semua mode transportasi, dan bisa deposit di setiap stasiun kereta. Jadi semisal saya mau Jum’atan di masjid Huxi area kota, maka saya akan naik sepeda dari dorm ke pintu gerbang kampus, dari gerbang kampus saya bakal naik bus tap pake kartu transport, untuk ke stasiun subway, di stasiun subway tap lagi buat naik subway, subway disini bisa cover semua area dan destinasi, jadi keluar subway tinggal jalan kaki. Habis dari Jum’atan, saya jalan2 dulu keliling kota, pulangnya kemalaman di stasiun akhir udah gag ada subway lagi (maklum, kampus di pinggiran kota), jadi mesti naik taksi, bayar taksi juga bisa tap pake kartu transport.

1 kartu bank, Bank of China, dulu di Indonesia saya punya setidaknya tiga kartu bank, BNI, BCA, Mandiri, karena masing-masing punya fungsi transaksi yang berbeda, dan kalo transfer beda bank sayang, kena fee transfer, kan anak mahasiswa kere, jadi mesti perhitungan dong. Kalo disini duh seingat saya, saya belum pernah make ATM buat transfer duit, ambil duit dari ATM aja masih bisa diitung sama jari, jangan ditanya kalo dulu di Indonesia deh, sehari bisa dua kali ke ATM, dah kayak mandi. Mengapa 1 bank cukup, karena ada Alipay, saya bakal cerita lagi tentang Alipay di bawah.

1 kartu mahasiswa, ini kartu segala fungsi pembayaran di dalam kampus, bayar makan di kantin tap pake kartu ini, beli snack di minimarket kampus tap pake kartu ini, beli apel juga tap, beli milk tea juga tap, masuk dorm tap kartu, masuk perpus tap kartu, pinjam buku tap kartu di mesin, mau mandi air panas tap kartu (air panas bayar), bayar tagihan listrik tap kartu di mesin, naik bis kampus yang ke Xuhui kampus di kota tap kartu ini juga, semua pake kartu ini.

Kemudian bawa uang juga cukup selembar 20 yuan, 2 lembar 10 yuan dan 4 koin recehan aja, bawa 30 yuan karena saya kadang lupa bawa kartu mahasiswa buat makan siang di kantin, abis mandi air panas pagi sebelum kelas biasanya saya lupa ambil kartunya, bawa recehan buat bayar parkir sepeda di stasiun kereta, setengah yuan seharian, bisa ditinggal lama, tinggal dikali aja setengah yuan per harinya. Dan transaksi lainnya, makan di luar bareng temen, beli apapun di supermarket besar, atau Family Mart pinggir jalan, semua bisa dilakukan dengan Alipay, nanti nanti saya jelasin Alipaynya, sabar om.

 

2. Saya menjadi Unofficial, Unpaid, Unrecognized Taobao Ambassador

Taobao adalah salah satu marketplace consumer terbesar di China, dan terdiri dari banyak merchant yang jual semua hal yang bisa kamu pikirkan, di Indonesia sama aja kayak Tokopedia deh, dimiliki oleh group Alibaba, dan banyak banget barang di dalamnya, apa aja ada, dan banyak yang murahhhh.

Murahnya itu kebangetan, gag paham lagi, sepatu gimana ceritanya bisa 20 yuan (40rb rupiah), powerbank bisa 40 yuan, jaket winter tebal 180 yuan, kompor listrik beserta 2 alat masak 170 yuan, sepeda gunung 200 yuan, dan semuanya menurut saya dan teman Pakistan barang2 yang kami beli oke, layak pakai, enak, dan semua barang yang saya beli sejauh ini free ongkir, dan nyampenya cepat, diantar langsung di box logistik di gedung dorm, nanti bakal terima sms notifikasi passwordnya, kemudian kita ambil sendiri di box masukin kode dr sms, logistik disini oke punya.

Dan beruntungnya lagi, beberapa hari yang lalu adalah hari belanja online terbesar di planet ini, dan itu terjadi di China, dan namanya 双十一 (karakter pertama shuang, artinya double) (karakter berikutnya shiyi, artinya eleven), yap, double eleven, 11.11 yang secara harfiah terjadi di tanggal 11 November lalu, disebut-sebut sebagai hari single di China, tapi yang merayakan satu negara.

Di hari ini, buanyak banget yang diskon, terutama online, offline juga banyak.
Yang paling heboh di online sih tetep, di taobao.
jadi satu negara China, di tanggal 10 November malam, sekitar jam 23.59 jempolnya udah siap semua buat klik order dan bayar di Taobao, disini behavior belanjanya sekitar 85% dari smartphone semua, jadi makanya saya bilang jempolnya udah ready semua, termasuk saya, 双十一 pertama gag mau kalau dari warga China yang lain, begitu jam 00.00 tanggal 11.11 tiba, denggg, internet lalod, appnya lalod, hahaha, beberapa menit kemudian baru lancar lagi, banyak barang bagus dah habis, diambil orang, sialan, saya kebagian sisa-sisanya aja, tapi lumayan, masih diskon dan masih bagus juga, begitu selesai order, bayar pake Alipay juga, gag mesti buka internet banking atau ke ATM tengah malam buat transfer, cukup masukkan password transaksi Alipay, done, order dibayar dan diproses oleh merchant, sementara saya yang bergerak cuma jempol tangan kanan aja, sama kelingking tangan kiri, buat apaan kelingkingnya? buat ngupil.

3. Alipay, bikin Saya Lupa Diri

Makan diluar yuk?
Ayuk, makan dimana?
Di resto halal aja, ada Arib ikutan.
Hmm, memang saya perusak suasana, gag jadi kan teman-teman saya makan makanan haram karena saya, hahaha, anyway saya di kampus berdua muslim disini, satu orang Phd dan saya master.
Selesai makan, satu orang bayar billnya pake Alipaynya dia.
Terus billnya kita bagi bertujuh, dan masing-masing dari kami transfer via Alipay ke Alipaynya yang bayar bill tadi, sebut saja Wirawan, nama asli.
Biasa bayar berapaan sudah dibagi, kadang 17,81 yuan, kadang 21,3 yuan, bisa berapapun, dan enak, tinggal klik aja di aplikasi Alipaynya sudah deh transfernya.

Atau kalau misalnya lagi mau belanja dimanapun juga di Shanghai, mereka pasti nerima Alipay, di pinggir jalan, resto, famili mart, supermarket, toko baju tas, bahkan kakek2 jual apel di pinggir jalan juga terima Alipay, sayangnya gag nemu pengemis disini, di Shanghai, sapa tau kan mereka pake Alipay juga, hehe.
Dan pemakaiannya juga sangat gampang, kita bisa isi deposit di Alipay dari bank, sekali klik, atau tiap transaksi secara otomatis ambil saldo kita di bank, juga sekali klik, bebas, pilih manapun yang kita suka.

Alipay ini juga punya Alibaba, sama kayak Taobao, makanya belanja online jadi gampang banget.
Food delivery makanan halal juga pake Alipay.
Beli tiket movie Dr Strange lalu juga pake Alipay.
Beli tiket kereta cepat liburan kek Jinan ketemu sang kekasih juga pake Alipay.
Alipay is the best dah.

Karena Alipay kadang kaget, tiba2 ATM dah kosong aja, duh maklum kere.
jadi mesti nukar USD kiriman LPDP dulu jadi yuan ke bank, dan inilah satu2nya hal yang saya lakukan kalo ke ATM. terima kasih LPDP atas kiriman uangnya 😀
Saya habiskan dengan baik kok, di taobao juga belanja keperluan pendidikan, saya beli Kindle ebook reader di taobao, buat baca buku kuliah, seriusan, novelnya juga ada sih, dikit doang.

Then, saya realized satu hal, Indonesia kapan begininya ya?
Punya payment system seperti Alipay, mobile based, praktis, full integrity ke bank, free transaction fee dan diterima secara global baik online maupun offline.
Atau punya sistem transport integritas, satu kartu buat semua public transport.
Atau punya kartu mahasiswa buat semua kebutuhan mahasiswa di kampus, kampus S1 saya dulu gag ada, tapi kampus saya jelek sih, gag tau kalo kampus bagus di Indonesia gimana.

No idea, mungkin nanti, setelah selesai demoin Ahoknya 😀
Salam pendidikan gratisan!
Nih foto dari team tari saman Shanghai Jiaotong University, di acara international student show, ayo tebak saya yang mana?
Yang pojok kiri atas yang pake jas? wanjir, bukanlah!

tari saman di shanghai jiaotong university china
tari saman di shanghai jiaotong university china

Tips Liburan Hemat ke Singapura

Merencanakan liburan ke luar negeri nampaknya menjadi sebuah hal yang sangat wah, dan identik dengan budget yang besar. Namun siapa bilang liburan ke luar negeri selalu membutuhkan budget yang besar, Anda pun bisa liburan hemat ke luar negeri. Tak perlu jauh – jauh, Singapura bisa menjadi salah satu pilihan Anda.

singapura

Sumber : youtube.com

Singapura merupakan salah satu destinasi favorit orang Indonesia yang ingin liburan ke luar negeri, selain jaraknya yang dekat, harga tiket pesawat menuju Singapura pun cukup murah. Terdapat beberapa maskapai Low Cost Carrier (LCC) yang menyediakan rute penerbangan ke Singapura, salah satunya adalah Airasia.

Anda dapat mencari harga tiket maskapai AirAsia yang paling murah untuk menuju Singapura, melalui Traveloka.com. Harga tiket dari Jakarta menuju Singapura pada umumnya berkisar antara Rp400.000 – Rp500.000, bahkan jika sedang promo Anda bisa mendapatkan harga yang jauh berada di bawah kisaran harga normal. Hal ini tentu dapat Anda manfaatkan untuk berlibur hemat ke Singapura.

stasiun MRT singapura

Sumber : amabeltravel.com

Selain memanfaatkan maskapai LCC beserta promonya, terdapat beberapa tips yang kamu harus perhatikan untuk liburan hemat di Singapura. Penasaran apa saja tipsnya untuk berlibur ala backpacker di Singapura? Simak ulasannya berikut ini.

  1. Pesan hotel Budget Murah

Setelah sampai di Bandara, Anda bisa menuju pusat kota dengan menggunakan Mass Rapid Transportation (MRT), yang berada di terminal 2 Bandara Internasional Changi. MRT adalah salah satu transportasi tercepat dan termurah yang dapat Anda gunakan di Singapura. Dari bandara untuk menuju pusat kota dibutuhkan waktu sekitar 30 menit dengan MRT.

budget ke singapura

Sumber : ruthusher.com

Terdapat banyak penginapan yang dapat Anda temukan di pusat kota, Anda harus pandai dalam memilih hotel yang murah dan memiliki tempat strategis. Jika hotel masih dirasa cukup mahal, Anda dapat menekan budget dengan menginap di hostel. Jika ingin mencari penginapan, usahakan carilah penginapan yang dekat dengan stasiun MRT agar lebih mudah.

  1. Menggunakan Kartu MRT

Sebaiknya Anda menggunakan kartu MRT (multi trip) yang dijual untuk turis, karena dengan menggunakan kartu ini Anda akan mendapat dua kelebihan. Anda akan mendapat harga yang lebih murah dibanding tiket satuan, dan Anda pun dapat menggunakannya untuk bus umum.

MRT singapura

Sumber : 123travelguide.blogspot.co.id

Harga kartu ini sekitar SGD 12 dan sudah terisi saldo sebesar SGD 7, kartu ini dapat Anda beli di beberapa stasiun MRT. Jika saldo sudah hampir habis, Anda pun dapat membeli saldo dengan top up minimal sebesar SGD 10.

Satu lagi yang menarik dari kartu MRT ini, jika saldo Anda masih cukup banyak saat akan meninggalkan Singapura, maka Anda dapat mengambilnya sisanya dengan cara mengembalikan kartu ini. Jadi tidak rugi kan?

  1. Menggunakan Sim card Lokal

Jika Anda ingin up-to-date terus selama liburan di Singapura, maka sebaiknya Anda menggunakan sim card lokal seperti provider Singtel. Sim card provider ini dapat banyak Anda temukan di  toko Seven-Eleven. Harganya pun cukup murah, yaitu sebesar SGD 15 dengan saldo sebesar SGD 18. Pastinya saldo ini sangat lebih dari cukup untuk berlangganan paket data.

Namun jangan lupa untuk membawa paspor saat hendak membeli sim card, karena kamu akan diminta menunjukan paspor untuk melakukan verifikasi data.

  1. Mencari Makanan Lezat dan Hemat

Banyak terdapat tempat makan yang bisa Anda temui disini, termasuk warung khas Indonesia. Lauk pauknya lebih mirip dengan warteg, dan yang lebih penting lagi warung ini sangat murah. Untuk satu porsi dengan telur dan tahu goreng Anda hanya cukup membayar SGD 1 saja. Wah, sangat murah banget kan!

Warung makan halal khas India dan Melayu juga dapat Anda temukan di sini, seperti nasi briyani dan roti prata. Roti prata adalah salah satu cemilan murah namun cukup mengenyangkan. Cara memakan roti ini adalah dengan mencocol roti ke kuah kare, harganya pun hanya sebesar SGD 1. Wah, banyak ya makanan yang cukup murah dan mengenangkan yang bisa kamu temui.

  1. Jangan Berlebihan dalam Belanja

Cukup banyak wisatawan yang datang ke Singapura untuk berbelanja, nah jika Anda ingin membeli oleh – oleh di sini sebaiknya tidak perlu berlebihan, karena tujuan Anda adalah liburan dengan hemat. So jangan terlalu lapar mata, karena barang – barang tersebut juga mungkin dapat Anda temui di Indonesia.

Bagaimana? Cukup banyak ya hal – hal yang penting untuk diketahui para backpacker yang ingin mengunjungi Singapura. So, jangan khawatir jika ingin berlibur ke luar negeri meski dengan budget yang sedikit.