13th Month, Anniversary: Nilai, Pantai Bali & Peti Mati

Walau sudah membuat komitmen sebelumnya untuk nulis sebulan sekali dalam edisi life report di China, ternyata saya melanggar komitmen sendiri hanya dalam waktu satu semester.
Hmm, whyy?
Hal ini dikarenakan munculnya satu nilai D di report sekolah setelah menjalani satu semester di sini. Yep, nilai D, well, technically itu lulus, namun nilai GPAnya hanya 1 dari 4. Dan saya memilih satu course yang dapat nilai D itu sebagai salah satu nilai yang menentukan GPA. Alhasil, GPA drop jadi cuma 2.4 doang dari 4. Hahaha, eh buset, seumur-umur baru ini dapat nilai segini.

Stress jelas, karena saya gag pernah paham sebelumnya ada sistem milih2 course untuk jadi nilai GPA, dan milihnya salah lagi, kepilihlah matkul2 susah untuk jadi GPA, haha. Okelah, satu semester anggap aja gag sengaja, semester kedua bakal lebih serius, malu buat nulis di blog tentang study saya kalo GPA aja masih segitu. Ya sudah, semester dua udah hati-hati, milih course dengan hati-hati, nentukan yang mana buat GPA lebih hati-hati lagi. Dan ketika nilai semester 2 keluar kemaren, jeng jeng jeng, dengan tanpa bersalahnya muncul lagi satu nilai D, whattt thee fffff!!! Oh God whyy?? Dan satu matkul yang dapat nilai D ini dari supervisor saya sendiri, well, supervisor besar yang dimana dia Dekan fakultas juga, dan pada saat ngajar terkadang dia digantikan oleh asistennya, yang mana asistennya ini gag kenal saya. Padahal supervisor kecil, bawahannya supervisor besar suggest ambil matkul ini buat perbaiki nilai meskipun saya tahu gag bakal paham banyak karena kelasnya menggunakan bahasa mandarin, malah jadi memperparah keadaan, hahaha. Ya sudahlah, emang performa saya jelek di kelas, dan kelompoknya juga gag optimal ngerjain project akhirnya kemarin.

Sehingga akhirnya GPA keluar hanya dapat 2.62 saja dari 4. Standard LPDP berapa? saya ingat waktu itu Bu Ratna bilang di PK LPDP standardnya 3.25 kalo gag salah, buset, jauh bener, bakal dideportasi pulang nih saya sama LPDP. Untunglah ini direvisi di buku peraturan yang baru bahwa standardnya untuk Master by Research (which is program saya) mengikuti standard kampus dan fakultasnya, mengingat setengah masa study kami di riset, hanya setengahnya saja di coursework. Dan standar fakultas adalah, jeng jeng jeng jeng, 2.7, well, 0.08 lagi dari standard, hahaha. Jadi sekiranya saya udah ngurusin riset mulai semester 3 ini, masih harus retake 1 kelas lagi yang dapat D semester 1 kemaren.

Meskipun nilai masih di bawah standard, tapi ya sudahlah beda-beda tipis, mudah2an bisa bagusan nilai setelah semester 3 ini, haha. Dan performa di matkul yang sesuai dengan topik saya yakni Big data juga rata-rata rada bagus sebenarnya, Big Data Algorithm, Computer Networks, Big Data Security & Web Search Data Mining. Jadi lanjut nulis aja lagi akhirnya, di edisi spesial Anniversary 1 tahun kuliah di Shanghai Jiaotong University, China.

Demikian tulisan saya kali ini, yang membahas tentang Nilai, tuh kan ada di judulnya diatas.
Sekian.
.
.
.
.
Lha, terus itu di judul kenapa ada Pantai Bali & Peti Matinya juga.
Gag da apa-apa, random aja akhirnya pake i semua, ingat pelajaran bahasa Indonesia dulu, biar iramanya bagus, hahaha.
Okelah, mari kita lanjut ke bagian kedua dari tulisan ini, tentang Pantai Bali.
So semester kedua setelah mulai beradaptasi dengan kehidupan disini, udah santai, dikontaklah sama Annisa Ika (sebut saja Mawar, eh salah redaksi, Ika maksudnya), anak S2 di Amsterdam, sama-sama LPDP, sekelas dari XLFL batch 1 dari tahun 2012 dulu apa kalo gag salah, sama-sama anak didiknya Deedee, the most awesome Facilitator in the world! link reviewnya, hmm, cek2 di web dulu, nah disini nih https://ahmadarib.com/xl-future-leader.html dan https://ahmadarib.com/kegiatan-xl-future-leader.html
Link yang pertama gag penting, yang penting itu link kedua, disana saya ada nulis

Networking XL Future Leader

Satu hal yang saya dapatkan, selain materi yang luar biasa hebat, adalah teman-teman luar biasa dari berbagai kampus di Indonesia, dan berkenalan dengan mereka sungguh sebuah menambah informasi dan networking yang sangat berharga. Dari salah satu teman di XL Future Leader ini saja saya bisa bergabung ke komunitas business leader yang lainnya, dengan kapasitas yang sama baiknya seperti XL Future Leader.

Sehingga saya sekarang memahami, perkataan Pak Hasnul Suhaimi dahulu dan sampai sekarang terus diucapkannya, “saya membayangkan akan ada ratusan future leaders yang semuanya merupakan teman akrab pada saat mereka masih mahasiswa dahulu, duduk di meja makan konferensi ekonomi internasional, bertemu di event bisnis, menjalin kerjasama bisnis, kerjasama antar negara, dan bersama-sama mereka melakukan perubahan untuk kondisi Indonesia yang lebih baik.”

Well, saya nulis itu dulu waktu masih jaman bego-begonya, sekarang (walau masih bego), dan masih belum duduk di meja konferensi internasional (lha kan masih bego, IP aja 2.6), Ika udah ngajak buat perubahan agar Indonesia lebih baik, eh ciee super sekali kata-katanya. Well, intinya dia ngajakin lomba, namanya Telkom Socio Digi Leaders, SDL, yang ngadain Telkom Indonesia. Webnya di https://sdl.telkom.co.id/
Ika nanyain siapa lagi buat diajak, karena 3 orang 1 satu team, tidak lain dan tidak bukan kutunjuklah satu nama luar biasa, yang menggantikan tugas saya dulu saat kabur dari OPPO Indonesia (reviewnya disini mbak/om https://ahmadarib.com/saya-kerja-di-perusahaan-hape-cina-hmm-why-bro.html,) yang juga tidak lain dan tidak bukan merupakan teman sekelas XLFL 1 juga, balik lagi baca kutipan Network XL Future Leaders, masa iya saya copy paste lagi buat manjang-manjangin tulisan. Dan namanya adalah Irfan, saat ini dia udah pulang kampung ke Purworejo, sudah mau nikah juga dengan gadis Purworejo, ada toko pertanian keluarga di Purworejo, sawah-sawah, juragan beras Purworejo, dan punya anak nanti di Purworejo juga, demi Purworejo yang lebih baik lagi. (mudah-mudahan benar Purworejo, kan ada Purwokerto, Purwodadi, Purbolinggo apa, gag ngeh saya, anak Sumatera soalnya, harap maklum).
Singkat cerita, saya, Irfan dan pacarnya Ika, Aulia Recky kita jalan-jalan di Pantai Kuta Bali.
Whatt??, kesingkatan om.
Terus kenapa tiba-tiba muncul pacarnya Ika, si Aulia Recky? itu pemain bayaran darimana coba. Dari Belanda juga, TU Delft, LPDP juga, setahun diatas saya dan Ika tapi, dan anak XLFL 1 juga, dari kelas Yogya tapi. Banyak amat juga dan tapinya bro, lha iya, kembali lagi tentang Networking Xl Future Leaders diatas (eh buset, saya udah kayak brand ambassador XLFL).
Balik lagi ke SDLnya punya Telkom, karena Indonesia butuh kita (cuma anak SDL yang paham, haha), kita bikinlah sebuah ide, yang memiliki fitur lallaa, dan fungsi jajaja, untuk menyelesaikan masalah yayayaya, hahaha.
Tonton aja deh video idenya disini https://www.youtube.com/watch?v=zHR0D7Feexs

Nah, setelah panjang ceritanya dan ribet dokumennya, serta kita bertiga juga dimana-mana, Ika di Belanda, saya di Shanghai, Irfan di Purworejo, yang ribetnya super parah, dan koordinasinya luar biasa, untunglah kita dah temen lama jadi udah paham gimana kerja bareng meski jarak memisahkan kita semua, terutama Irfan yang internetnya super kaco parahhhh, maap bro, haha.
Masuklah kita interview video 100 besar oleh dewan juri, jadi itu harusnya kan ada 2 layar yang dilihat oleh dewan juri untuk interview, 1 layar PPT, 1 lagi untuk 3 peserta presentasi. Lha kalau kita jadi 4 layarnya, 1 PPT, masing-masing dari kita 1 layar, dan Irfan mesti pergi ke kantor pusat Telkom Purworejo bawa surat ijin dari Telkom pusat untuk interview disana, haha. Belum lagi, di tengah-tengah interview laptop yang layarnya menghadap saya mati (baru make Ubuntu, dan sebelumnya lagi dioprek parah), ya sudah Irfan langsung lanjut saja presentasi handle bagian saya juga.
Untunglah kita lolos ke 25 besar, diundang Bootcamp di Bali, Ika nya gag bisa karena ada ujian penting, maka berdasarkan musyarawah dan mufakat, kita pilihlah Recky untuk mewakili Ika, haha, super random. Walau emang Recky juga ikut sih sejak awal kita diskusi juga.

Soo, barulah resmi, singkat cerita saya, Irfan dan Recky jalan-jalan di Pantai Kuta Bali. Saat itu sunset, pantainya bagus banget, dan ini baru pertama kali saya ke Bali, suer, gag ada duit mau ke Bali, nunggu penugasan ITC dulu yang freelance gag pernah dapat kalo ke Bali. Dan baru sekarang ke Balinya, dibayarin lagi full transport dari Shanghai, terima kasih banyak Telkom, dan Pak Yudi selaku direktur SDL Telkom Indonesia.

Selama Bootcamp, kita bertiga makin bego-bego aja, we got no expectation to win, we just go to have fun, dan pulang kampung tentunya dibayarin, LPDP cuma bayarin pergi dan pulang sekolah aja, tengah-tengahnya gag ada, untunglah ada SDL Telkom, terima kasih Telkom.

SDL Telkom tahun ini internasional, ada beberapa foreigner yang join. Dan beberapa teman-teman yang sekolah di luar negeri yang join, termasuk tim kami, dan, kebanyakan anak-anak LPDP, jadi kita reunian deh Indonesia aku pasti mengabdi (cuma anak LPDP yang paham, haha). 2 orang bahkan dari PK yang sama dengan saya, wah wah, PK-66 super sekali. Balik lagi deh tentang Network diatas, cuma konteksnya ganti jadi LPDP sekarang, haha.

Berikut video reviewnya (ini yang jadi cover Youtubenya temen setim, Recky Aulia, haha)

SDL are so awesome! Kamu mesti ikutan tahun depan! Jadi saya skip bagian Bootcampnya agar menjadi misteri yang menantangmu agar bisa dapet Bootcampnya. ehh, alesan, haha. Capek bro nulis, ini juga belum mandi, dah mau mandi dulu, ada temen backpacker Indonesia yang main ke Shanghai, beberapa bulan lalu dia main ke Shanghai statusnya pegawai PLN, ketemu saya, saya racuni dengan paham-paham radikal kekiri-kiran, dan September lalu dia resmi ganti statusnya jadi pengangguran yang sekolah di China, dengan beasiswa pemerintah China, gimana caranya, cuma dengan baca ini doang cukup https://ahmadarib.com/s2-yang-indah-itu-ketika-s2-keluar-negeri-barengan-si-dia-gratisan-lagi.html

Dan kemarin barusan nemenin mentor pada saat kita SDL kemarin, kak Aditya, direktur Gamatechno, serius? iye suer, profilnya disini nih kalo gag percaya https://www.gamatechno.com/about/greeting
Kemarin kak Adit transit bentar di Shanghai menuju Kanada, jadi mampir temeni keliling Shanghai dan ngobrol2 santai. Berkat SDL nihhh, sekali lagi terima kasih SDL Telkom (Pak Yudi, saya udah banyak nih Pak promo SDL nya, kalo ntar saya ikut rekrutman Telkom mohon rekomendasinya Pak, haha)

Dan akhir cerita SDL Telkom, kita gag menang, mentok di 10 besar, which is pretty good dengan tim super bego seperti cerita diatas. Dan project Kancatani masih kami lanjutkan mengingat itu bagian dari riset saya juga di SJTU, udah di approve sama supervisor, dan Irfan juga punya agenda sendiri mengingat bakal lama juga di industri agribisnis Purworejo.

Sudah acara SDLnya, saya pulang kampung ke Bengkulu.
Santai dulu di rumah, saya ajak adik saya di Yogya pulang kampung juga dulu, bayarin tiket pesawatnya dari uang transport SDL, Alhamdulilah ada banyak, terima kasih SDL Telkom, berkat SDL Telkom keluarga kami bisa dipertemukan kembali, ciee, hahaha.

Di Bengkulu makan yang banyak, capek makan makanan China.
Makanan Bengkulu enak-enak parah, apalagi makanan rumah, beuhh, the best!
Juga kumpul dengan teman-teman SMA, update kabar, 2 orang udah mau nikah, mantap!
Nonton di bioskop subtitlenya udah bahasa Indonesia lagi, gag pake subtitle Mandarin.

Dan, di tengah-tengah itu semua, pas lagi buka Facebook (yang udah gag diblok lagi, di China diblok tau), ada status dari Ibu Ratna, Monev LPDP, yang lagi di bandara menunggu jenazah alm. Syahrie Anggara, salah satu rekan LPDP yang kuliah di UK dari Bengkulu. Saya bilang kebetulan saya lagi di Bengkulu, kita PM2an, Ibu Ratna request untuk mewakili awardee LPDP mengantar jenazah ke rumah duka. Jadilah saya, ayah dan Ibu menemani dari bandara Fatmawati di kota Bengkulu, hingga ke rumah duka yang berjarak 4 hingga 5 jam naik mobil dengan kondisi jalan yang parah banget menembus jalan tambang batu bara ke rumah duka alamarhum. Disana banyak sekali keluarga almarhum yang berkumpul, teman-temannya, dan guru-guru serta juniornya. Dan saya menemani hingga prosesi penguburan. Kebetulan yang baru saya sadari beberapa waktu kemudian adalah, yang mendampingi almarhum saat mendaki gunung Mont Blac yang membawanya ke akhir hayatnya adalah anak dari China (berkebangsaan China), dan sekarang yang mendampinginya hingga ke penguburannya juga ada satu anak dari China, kebetulan.

Saya sampaikan ucapan duka kepada Ibu dan Ayah almarhum, juga kepada adiknya almarhum. Di rumah duka yang sederhana, di suatu dusun yang jauh di pedalaman sana. Kami pulang tidak lama setelah itu, dan saya pikir-pikir, well, tidak semua dari kami yang berjuang menuntut ilmu pulang dengan kesuksesan yang dibangga-banggakan tulisan lain di internet sana, beberapa pulang dengan berdarah-darah IPKnya (seperti saya), dan bahkan ada juga yang pulang dalam peti mati, literally. Bahwa proses yang sedang kami jalani merupakan perjuangan, dan tidak semua perjuangan berakhir bahagia, nope, this is not a happy story, sorry, you got into the wrong blog.

Sekian tulisan dari saya, udah panjang banget, semoga bisa menjadi pengganti life report yang harusnya ditulis tiap bulan sebelumnya. Semoga bermanfaat, baik mengenai Networking maupun kalau nanti berniat melanjutkan sekolahnya lagi, ingat-ingatlah, bahwa tidak semua perjuangan berakhir bahagia, waspadalah, waspadalah! (whattt, bang Napi? dah meninggal juga kan ya? hmm, kok suasananya jadi mencekam gini, gag papalah, edisi Halloween juga nih ini postingan, hahaha).

Salam pendidikan gratisan!

Techtalk 2, Autoreply Gmail, balas email otomatis sesuai keyword

Ini semua berawal ketika saya kerja di OPPO Smartphone (napa kerja di OPPO?? baca dimari https://ahmadarib.com/saya-kerja-di-perusahaan-hape-cina-hmm-why-bro.html), dan ditugaskan untuk membuat acara kampus, dan sebagai orang yang malas, saya pikir paling cepat terima sponsor kegiatan mahasiswa kemudian saya utak atik thema dan isi acaranya sehingga jadi bertemakan OPPO, sekalian bentuk OPPO Campus Club (OCC) waktu itu, nanti saya share juga cerita dibalik pembentukan OCC, cerita yang penuh nepotisme, wkwk.

Singkat cerita, karena malas saya bikin broadcast saja untuk disebar ketimbang cari kegiatan tanya sana sini, repot, detailnya apa yang saya lakukan bisa cek disini https://ahmadarib.com/proposal-seperti-apa-yang-biasanya-diterima-oleh-perusahaan.html

Postingan diatas dan broadcast request proposal dishare begitu banyak orang, dan proposal yang masuk ke email saya, luar biasa banyaknya, hingga sekarang setelah saya sudah satu tahun lebih resign dan sudah sekolah lagi. Dan sayangnya itu semua menggunakan email pribadi saya, yep to be honest waktu saya share itu dulu saya belum dapat email official kerja, yah sudahlah, jadi semuanya masuk ke email pribadi saya. Secara sederhana rasanya saya biarkan saja email2 itu masuk ke email saya, no problem, toh bukan urusan saya lagi kok, mereka juga bukan siapa-siapa buat saya kok itu yang kirim2 proposal ke saya.Tapi yah rasanya nggak professional  kalau mereka sama sekali tidak mendapat konfirmasi apapun atas action yang telah mereka lakukan, dan saya berjanji ke diri saya sendiri siapapun yang kirim email ke saya, akan saya respons, walau terkadang entah setelah beberapa hari saya respons, hehe.

Jadi, saya pikirkanlah cara untuk membalas email2 permintaan sponsor dan proposal ini.

Cara pertama, bikin template, save di draft, seminggu sekali email yang judulnya ada proposal, sponsor, dan sejenisnya akan saya reply dengan paste template email yang saya buat. Nah kalau seminggu sekali email yang masuk 20 atau 30 biji mending, ini ada seratusan email, 102, 114, 123 email perminggu, rutin tiap minggu. Setidaknya 2 jam mesti saya alokasikan untuk buka email satu-satu, paste email satu-satu.

Nahhhh, pass, saya terlalu malas.

Cara kedua, sebagai anak IT dan juga praktisi SEO ala kadarnya, saya punya software backlink yang jalan 24 jam di Virtual Private Server, jalan otomatis. It’s called automation.

autoreply gmail

Hmm, bisakah email saya diautomasikan untuk jawab satu-satu email orang yang mengajukan proposal, dan spesifik hanya ke yang nanya tentang proposal saja?

Hunting kesana kemari ketemulah script ini (well, sudah dibilang saya malas, capek coding sendiri, saya yakin udah ada yang bikin scriptnya, haha)

https://chrome.google.com/webstore/detail/email-autoresponder/aohckefanobajaljiobafejcdjjefejl?hl=en

It’s free!
It’s worked!
It’s created from Indian guy, well, jadi ingat dulu apply beasiswa S1 Computer Science ke India tapi gag dapat, gagal di interview di kedubes Indianya, kalo dapat dulu rasanya saya gag bakal semalas ini dan udah bisa bikin scriptnya sendiri, hehe.

Disana udah ada video penjelasannya, detail banget, dan simple untuk diikuti, cukup

  1. Add dulu Add-on ini di Chrome browser dari Google
  2. Buat draft email tempatenya, simpan di Draft
  3. Bikin rulenya, kalau rule saya “label:Inbox is:unread newer_than:2d proposal or permohonan or pengajuan or sponsor or bantuan”
    Yang secara umum artinya hanya reply email di Inbox (kotak masuk) yang Unread (belum dibaca), usianya belum sampat 48 jam (2d, 2 day, 2 hari) dan memiliki keyword proposal atau permohonan atau pengajuan atau sponsor atau bantuan, dan kalau ada email masuk serta di judul atau isinya ada salah satu keyword diatas, maka akan di execute script reply email otomatisnya. Mau bikin rule lain yang lebih advance, monggo cek semua operator variable Gmail disini https://support.google.com/mail/answer/7190?hl=en
Autoreply email berdasarkan keyword
Autoreply email berdasarkan keyword, Memasukkan Rule

 

autoreply gmail otomatis
autoreply gmail otomatis, contoh rule yang dimasukkan.

 

Dan hasilnya sebagai berikut

autoreply gmail berdasarkan keyword
autoreply gmail berdasarkan keyword, itu dibalas oleh autoreply semua, ada satu case salah kirim ke Jagoan Hosting itu diatas, sisanya pas dan benar sesuai harapan. Dan semua email yang sudah direspons akan dibeli label Responded.

 

Autoreply email, jeda waktu balas yang singkat
Autoreply email, jeda waktu balas yang singkat, diatas hanya 37 menit, karena scriptnya jalan cek tiap jam, otomatis 😀

Serta ada reportnya juga di Google sheet akun gmailnya.

Autoreply gmail, report sent by script
Autoreply gmail, report sent by script

Nah, demikian Techtalk 2 kali ini, semoga bermanfaat. kalau kata Abdi rekan ngobrol Tekno saya, yang fokus di network, “Automate everything, and let we just dowbload movie and watch it and getting paid.” He is damn lazy guy, mentang-mentang kerja di server, internet kenceng bawa hardisk eksternal mulu buat download.

Live Report 4th Month, Muslim in China, Hijrah from Majority to Minority

Sebenarnya saya gag qualified buat nulis hal ini, muslim, duh berat banget materinya, haha. Mengingat masih sering bolong-bolong sholatnya, terutama subuh, apalagi sekarang winter, ya ampun gravitasi selimut semasa winter itu luar biasa hebatnya, yah mudah-mudahan saya semakin membaik imannya dengan nulis ini.

So, muslim in China.

Pertama kali design mau ke China, udah clear semua di list, potensi ke depan, checked.
Performa kampus, checked.
Probability eksekusi agenda lainnya, checked.
Bisa survive ato nggak, makanan, cuaca, orang-orang, checked.
Dah aman semua list udah oke rasanya, coba dibaca-baca lagi, eh baru ingat ada ketinggalan satu hal, gimana muslim disana, haha.

Sejujurnya saya nggak ada ide di awal bagaimana muslim di China, gag ada teman untuk ditanya, dan materi-materi di online gag nemu yang bahas muslim di China. Tapi berhubung sudah ada teman kontak-kontak anak master degree juga di Shanghai Jiaotong University, Lemington, anaknya super pintar anyway, dan single, prospektif masa depan cerah, kalau ada cewe yang single dan minat boleh komentar di bawah :D, saya tanyalah ada kantin halal atau nggak di kampus, dia bilang ada, ya sudah, aman berarti, kampus mengakomodir kebutuhan siswa muslim yang persentasenya dikit banget di kampus udah cukup oke menurut saya, mau tau berapa persentase muslim di China, check pie cart berikut:

perbandingan muslim di Indonesia & China
perbandingan muslim di Indonesia & China

Makanya judul Live Report kali ini fix, Hijrah, dari Majority ke Minority.
Dan Chinese Religion itu apa please jangan tanya saya, hingga saat ini saya bingung itu apa, menurut saya, personally, pandangan subjektif, so please jangan dijadikan acuan, Chinese Religion lebih seperti kepada kepercayaan, kepada leluhur, hukum-hukum kemanusian, confusius, dan sebagainya, ini mungkin ya, besar kemungkinan juga saya salah.

Nah balik lagi ke topik Muslim in China, dari negara yang populasi muslimnya 87%, tiba2 hijrah ke negara yang populasi muslimnya gag sampe 2%, dan itupun mayoritas di provinsi Xinjiang dan Ningxia, di area lain seperti Shanghai, hmm, 1% ada harusnya udah bersyukur sih, haha, jadi coba kita bahas satu-satu beberapa hal yang membuat hijrah ini terasa begitu luar biasa.

1. Makanan Halal

Di Indonesia, everything is halal unless it say haram. In China, everything is haram unless it say halal.
Untuk makan aja susah, hadeh.
Tapi gag sesusah itu juga sih sebenarnya, untunglah di kampus SJTU udah ada 3 kantin yang menyediakan makanan halal, total kantin di SJTU ada 6, dan 3 kantin halal ini spesifik memiliki bangunan terpisah sendiri, dengan mekanisme food management sendiri, dan staff-staff muslimnya sendiri. Staffnya pake kopiah sama jilbab beberapa, meskipun standar pemakaiannya rada beda seperti di Indonesia.

Menunya?
Yaaa, okelah menurut saya, ayam goreng, daging, sayurnya banyak, ada berbagai jenis mie juga. Tapi lama-lama bosan juga sih sebenarnya sama menunya, haha, padahal saya baru beberapa bulan saja disini, apalagi kalau sudah beberapa tahun ntar, hmm. Tapi bagaimanapun inilah opsi tersimple, termurah dan tergampang yang bisa diakses untuk makan makanan halal. Harganya nasi, sayur dan lauk biasanya selalu di bawah 10 yuan sekali makan, kisaran antara 7-9 yuan biasanya.

Yang datang kesini siapa aja?
Xinjiang people, penampilannya berbeda dengan Han Chinese (majority China race), menurut saya lebih ke Turki, namun Asianya juga masih kentara, ngomongnya nggak mandarin, bahasa Xinjiang, rada ada arab-arabnya kadang. Cewek Xinjiang cantik-cantik, rambutnya ikal, tapi ya tetap masih cantik pacar saya, haha, perlu disclaimer ini.
Kemudian Han Chinese muslim, ada beberapa juga Han Chinese muslim disini mahasiswanya.
Dan yang paling ribut di kantin halal adalah geng Urdu speaking people, gengnya Pakistan. Ternyata ada banyak banget mahasiswa Pakistan di China, usut punya usut mereka punya program kerjasama yang sangat bagus dan sudah sejak lama antara China dengan Pakistan, sehingga kuota penerima beasiswa China Government Scholarship yang ke China jumlahnya super banyak, gag cuma di kampus saya saja, di berbagai kampus lain di seluruh China. Dan forum-forum diskusi scholarship China yang saya ikuti dulu juga banyak provider infonya dari Pakistan.

Kalau lagi makan di luar, selalu ada beberapa pilihan restoran halal di luar kampus, biasanya dominasi warna hijau, dengan logo halal di palangnya, serta menunya rata-rata sama antara restoran halal satu dengan yang lainnya, Xinjiang Restaurant apa namanya, saya lupa.

Namun yang terbaik adalah tetap masakan sendiri, berhubung sudah bosan dengan makanan kantin dan malas beli keluar, beberapa bulan ini saya belajar masak, yep, setelah berusia 23 tahun akhirnya saya belajar masak juga, gag cuma nasi mie aja seperti tahun yang sudah-sudah, namun mulai mencoba masak nasi goreng, masak ayam goreng, masak udang sambal goreng, masak ikan, serta udah juga bikin sop ayam, sejauh ini yang paling mantap sop ayam sih, hehe. Kompor listrik sudah beli, di lantai 1 ada kitchen set sih, tapi saya tinggal di lantai 5 cuy, haha, capek duluan naik turun tangganya, jadi belilah kompor listrik, panci set, piring mangkok dan kitchen set.

Bahan makanan halalnya?
Bumbu halal ada di minimarket dekat kampus, sama ada sayur-sayuran juga disana, dan seafood, saya suka udang, ikan susah prosesingnya, repot bener, haha.
Kemudian ayam sama daging sapi dan domba mesti beli ke friday market di Huxi mosque, area kota, sejam naik subway dari kampus. Hari jum’at sengaja saya kosongkan semua jadwal kuliah, buat sholat jum’at dan makan-makan di friday muslim market, satenya enak bener disini, dan kadang ketemu teman Indonesia juga, seringan orang Malaysia sih, sama Pakistan tentunya yang paling banyak, sering banget ketemu teman Pakistan kampus disini.

2. Sholat

Sholat 5 waktu no problem, kan bisa sendiri di kamar, kebetulan juga roomate saya yang awalnya sekamar, dari Korea Selatan, entah mengapa memutuskan untuk pindah keluar, gag jadi sekamar dengan saya, hmm, no idea why, jadi stay lah saya sendiri di kamar dan sholat sendiri di kamar gag jadi masalah.

Nah, buat Jum’atan gimana?
Karena peraturan pemerintah, di fasilitas pendidikan dan pemerintah lainnya itu nggak ada masjid, atau surau, atau bangunan keagamaan buat agama apapun, bukan hanya untuk muslim saja. Jadi yah opsi terbaik untuk jum’atan adalah melakukannya di kota, di masjid area kota yang jumlahnya gag begitu banyak.
Atau ikut sholat Jum’at versi mahasiswa Pakistan di dorm kami ini, dorm 51.
Di lantai dasar ada ruang belajar, itu kami bereskan dulu meja dan kursinya, bentang tikar, kemudian sholat jum’at deh disana. Ada mungkin 20 sampai 30 orang yang sholat jum’at di dorm. Imamnya sama mas-mas itu aja, khotbahnya full bahasa Arab, tak paham sama sekali saya.
Di kota, imamnya khotbahnya 2 kali, dengan 2 imam, pake bahasa China semua, tak paham sama sekali juga saya, hahaha.

Dan berikut beberapa foto kehidupan muslim di China selama saya disini

Pelayan Restoran Halal di Jinan
Pelayan Restoran Halal di Jinan

 

Waktu Sholat di Masjid, Jinan, Shandong
Waktu Sholat di Masjid, Jinan, Shandong

 

Masjid di Jinan, Shandong
Masjid di Jinan, Shandong

 

Friday Muslim Market, Shanghai
Friday Muslim Market, Shanghai

 

Khotbah Huxi Mosque, Shanghai
Khotbah Huxi Mosque, Shanghai

 

Warga Muslim di Shanghai, Setelah Jum'atan
Warga Muslim di Shanghai, Setelah Jum’atan

Techtalk 1, Blogspot & Gmail are Toooo Mainstream!

Sooo, setelah Live Report bulan ketiga, salah satu teman ngobrol teknologi saya protes.
“Bro, ente nulis tentang pendidikan sama kehidupan mulu, padahal ente orang teknologi, sesekali share lah tentang teknologi'”

Well, sejujurnya saya malu kalau mau nulis tentang teknologi, belum qualified rasanya, masih jadi anak sekolahan hingga sekarang. Tapi ya rasanya beberapa waktu belakangan beberapa teman saya dari IT yang mulai masuk dunia kerja mulai nanya-nanya tentang beberapa hal yang saya gunakan sejak dulu, hal-hal yang saya pahami, dan rasanya tidak salah juga berbagi ke publik beberapa hal kecil yang saya pahami dan sejauh ini membantu saya. Walau saya yakin yang terbantu dan mengaplikasikannya cuma 1 atau 2 orang ya tidak masalah, sesuai hadist “sebaik-baiknya manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Dan untuk topik pertama adalah, jeng jeng jeng
Blogspot & Gmail are toooo Mainstream!
Well, lebih tepatnya yang saya maksud adalah .blogspot.com sama @gmail.com sih, haha, lha, apa bedanya? akan saya jelaskan dibawah.

Blogspot.com are toooo Mainstream

Sekarang adalah jamannya personal branding, facebook, twitter, instagram, youtube, you name it all!
Dan tak ketinggalan juga blog pribadi.
Melalui blog pribadi kita bisa menyampaikan ke publik tentang siapa kita, hal-hal apa saja yang kita pahami, dan di bagian apa saja yang kita cukup expert di dalamnya.
Dan untuk media blog pribadi, yang terkenal sejauh ini adalah Blogspot.com, mudah dikelola, gratis (siapa yang gag suka gratisan), dan mudah dipahami untuk penggunaannya.
Tapi, karena kemudahan-kemudahan inilah juga menurut saya pribadi memiliki blogspot.com tidak menjadi ekslusif lagi, anda punya blogspot and then so what? Malah kesannya blogspot itu untuk anak-anak SMA yang mengisinya dengan puisi-puisi atau diari masa SMA 😀
Jauh lebih baik untuk memiliki domain sendiri, yep, “nama website” istilahnya adalah domain. “ahmadarib.com” ini artinya memiliki domain .com, ada juga domain .co.id seperti “bankmandiri.co.id”
Jujur aja, antara ahmadarib.blogspot.com sama ahmadarib.com mana yang lebih “terlihat” eksklusif dan lebih bisa dipercaya?
Dan seluruh dunia ini bakal cuma ada 1 ahmadarib.com, gag ada yang punya ahmadarib.com yang lain selain saya.
Karena nama domain hanya bisa dimiliki satu saja, tidak bisa double dan sudah diatur oleh ICANN (The Internet Corporation for Assigned Names and Numbers). Nah, yang bisa memiliki domain ini bukan cuma orang-orang tertentu saja, tapi setiap orang bisa memilikinya, tinggal beli saja domain, paling 150.000 setahun, mahal? hmm, ntar dibawah kita cek hitung-hitungannya.

Dan sejujurnya, kamu tetap bisa menggunakan blogspot kok, dengan domain sendiri, namanya blogspot custom domain.
Walau saya sendiri tidak prefer menggunakan blogspot, namun langsung menggunakan wordpress saja di domain yang saya beli.
Dan hal ini mensyaratkan tambahan 100.000 setahun untuk hostingnya.

@Gmail.com are tooo Mainstream

Gmail kamu yang sekarang pake apa hayo? gmail.com? yahoo.co.id?
Udah mainstream, semua orang juga punya.
Yang anti mainstream itu kalau kamu punya alamat email dengan nama sendiri, misal, mail@ahmadarib.com
Dijamin, ketika apply apapun via online punyamu bakal menarik perhatian ketimbang yang lainnya, dan ini sudah saya buktikan sendiri, daftar ini itu lalala macam2 pake alamat email domain sendiri menurut saya membuat aplikasi apapun menjadi stand out from the crowd.

Dan apakah memilikinya sulit, nggak, kata siapa. Dengan memiliki hosting, sebagai tambahan dari domain yang sudah saya jelaskan diatas, kamu udah bisa punya alamat email sendiri, configurasinya ada di Cpanel namanya, tinggal klik menu Email Account > Create New Account, kasih mau namanya apa gmail@namakamu.com kek, atau apa aja bebas, kemudian kasih passwordnya apa, sudah deh.
Kamu bisa akses email ini via online, di Cpanel nantinya, full function email, walau memang tampilannya gag sekeren gmail, dan spacenya disesuaikan dengan ukuran space hosting yang kamu beli.

Masih mau tetap pake gmail namun dengan domain sendiri, bisa!
Namanya Gmail Custom Domain, saya pake service ini untuk mail@ahmadarib.com, why? spacenya jauh lebih gede, 30Gb untuk email saja, dan saya butuh space email yang besar dikarenakan banyak proposal masuk, dari jaman kerja di OPPO lalu, sampai sekarang masih masuk juga, buset, perminggu rasanya ada puluhan proposal yang masuk, dan saya reply semuanya satu persatu, iya bener satu persatu, secara otomatis tentunya, capek kali reply email satu-satu tiap minggu ada puluhan email. Ntar deh mungkin di next Techtalk saya bahas autoreply engine untuk gmail.

Hitung-hitungannya

Oke, simple aja, sekarang kita hitung-hitungan deh, ini semua berdasarkan yang saya alami ya, hasil masing-masing orang bisa jadi sangat berbeda.
Domain : 150.000,-
Hosting: 100.000,-
Total 250.000,- pertahun.

Benefit?
– Jadi Google Student Ambassador, flight PP Jkt-Yogya + menginap seminggu di Hyatt regency Yogyakarta (kurang lebih Rp 10.000.000,-), reviewnya dimari https://ahmadarib.com/search-summit-2013-with-google.html
– Jadi XL Future Leaders, Pulsa 200.000/bulan x 24 bulan + Smartphone + Laptop = 14.000.000, yang mahal sebenarnya kurikulum dan pembelajarannya dari facilitator kita, Deedee yang super sekali, duh itu mahaalll sekali, reviewnya dimari https://ahmadarib.com/xl-future-leader.html

– Jadi magang di P&G 5 bulan, gaji hmmm, gag boleh publish sebenarnya, but yeah it’s one of the highest paid internship in Indonesia, reviewnya dimari https://ahmadarib.com/pg-dari-banting-stir-ke-fmcg-bro.html
– Kerja di OPPO smartphone 5 bulan, interview bentar, gag lama kemudian diterima, saya masuk kerja persis setelah wisuda, gaji juga gag boleh publish apa boleh ya, lupa saya peraturan HRD nya, haha, tapi gaji magang di P&G lebih gede dari first time job ini, gag saya ambil fulltime employee offernya, karena keburu kabur sekolah, reviewnya dimari https://ahmadarib.com/saya-kerja-di-perusahaan-hape-cina-hmm-why-bro.html– Dapat beasiswa S2, yeay, haha, nominalnya 8.000.000 rupiah/bulan untuk biaya hidup, biaya study silahkan cek sendiri webnya sjtu.edu.cn, haha, selama 2 tahun. Kecil banget sih ketimbang teman-teman saya yang di UK, Eropa atau Amerika sana, but yeah who the hell care, it’s pretty damn big for me, haha. Bukan review sih, tapi yah sekadar tulisan yang relevan dimari https://ahmadarib.com/s2-yang-indah-itu-ketika-s2-keluar-negeri-barengan-si-dia-gratisan-lagi.html

Masih mikir stay di blogspot & gmail?

menjadi berbeda
menjadi berbeda

Kunci untuk mendapatkan hal-hal yang kebanyakan orang lain tidak dapatkan itu sederhana, lihat apa yang mereka tidak lakukan, dan lakukan hal itu. Jadilah berbeda, jadilah anti-mainstream dan mencolok dari orang lainnya, dan seringkali hal itu butuh pengorbanan di awalnya, seperti 250.000 diatas, namun percayalah, itu worth it untuk setiap rupiahnya.

Salam pendidikan gratisan!