Live Report 4th Month, Muslim in China, Hijrah from Majority to Minority

Warga Muslim di Shanghai, Setelah Jum'atan

Sebenarnya saya gag qualified buat nulis hal ini, muslim, duh berat banget materinya, haha. Mengingat masih sering bolong-bolong sholatnya, terutama subuh, apalagi sekarang winter, ya ampun gravitasi selimut semasa winter itu luar biasa hebatnya, yah mudah-mudahan saya semakin membaik imannya dengan nulis ini.

So, muslim in China.

Pertama kali design mau ke China, udah clear semua di list, potensi ke depan, checked.
Performa kampus, checked.
Probability eksekusi agenda lainnya, checked.
Bisa survive ato nggak, makanan, cuaca, orang-orang, checked.
Dah aman semua list udah oke rasanya, coba dibaca-baca lagi, eh baru ingat ada ketinggalan satu hal, gimana muslim disana, haha.

Sejujurnya saya nggak ada ide di awal bagaimana muslim di China, gag ada teman untuk ditanya, dan materi-materi di online gag nemu yang bahas muslim di China. Tapi berhubung sudah ada teman kontak-kontak anak master degree juga di Shanghai Jiaotong University, Lemington, anaknya super pintar anyway, dan single, prospektif masa depan cerah, kalau ada cewe yang single dan minat boleh komentar di bawah :D, saya tanyalah ada kantin halal atau nggak di kampus, dia bilang ada, ya sudah, aman berarti, kampus mengakomodir kebutuhan siswa muslim yang persentasenya dikit banget di kampus udah cukup oke menurut saya, mau tau berapa persentase muslim di China, check pie cart berikut:

perbandingan muslim di Indonesia & China
perbandingan muslim di Indonesia & China

Makanya judul Live Report kali ini fix, Hijrah, dari Majority ke Minority.
Dan Chinese Religion itu apa please jangan tanya saya, hingga saat ini saya bingung itu apa, menurut saya, personally, pandangan subjektif, so please jangan dijadikan acuan, Chinese Religion lebih seperti kepada kepercayaan, kepada leluhur, hukum-hukum kemanusian, confusius, dan sebagainya, ini mungkin ya, besar kemungkinan juga saya salah.

Nah balik lagi ke topik Muslim in China, dari negara yang populasi muslimnya 87%, tiba2 hijrah ke negara yang populasi muslimnya gag sampe 2%, dan itupun mayoritas di provinsi Xinjiang dan Ningxia, di area lain seperti Shanghai, hmm, 1% ada harusnya udah bersyukur sih, haha, jadi coba kita bahas satu-satu beberapa hal yang membuat hijrah ini terasa begitu luar biasa.

1. Makanan Halal

Di Indonesia, everything is halal unless it say haram. In China, everything is haram unless it say halal.
Untuk makan aja susah, hadeh.
Tapi gag sesusah itu juga sih sebenarnya, untunglah di kampus SJTU udah ada 3 kantin yang menyediakan makanan halal, total kantin di SJTU ada 6, dan 3 kantin halal ini spesifik memiliki bangunan terpisah sendiri, dengan mekanisme food management sendiri, dan staff-staff muslimnya sendiri. Staffnya pake kopiah sama jilbab beberapa, meskipun standar pemakaiannya rada beda seperti di Indonesia.

Menunya?
Yaaa, okelah menurut saya, ayam goreng, daging, sayurnya banyak, ada berbagai jenis mie juga. Tapi lama-lama bosan juga sih sebenarnya sama menunya, haha, padahal saya baru beberapa bulan saja disini, apalagi kalau sudah beberapa tahun ntar, hmm. Tapi bagaimanapun inilah opsi tersimple, termurah dan tergampang yang bisa diakses untuk makan makanan halal. Harganya nasi, sayur dan lauk biasanya selalu di bawah 10 yuan sekali makan, kisaran antara 7-9 yuan biasanya.

Yang datang kesini siapa aja?
Xinjiang people, penampilannya berbeda dengan Han Chinese (majority China race), menurut saya lebih ke Turki, namun Asianya juga masih kentara, ngomongnya nggak mandarin, bahasa Xinjiang, rada ada arab-arabnya kadang. Cewek Xinjiang cantik-cantik, rambutnya ikal, tapi ya tetap masih cantik pacar saya, haha, perlu disclaimer ini.
Kemudian Han Chinese muslim, ada beberapa juga Han Chinese muslim disini mahasiswanya.
Dan yang paling ribut di kantin halal adalah geng Urdu speaking people, gengnya Pakistan. Ternyata ada banyak banget mahasiswa Pakistan di China, usut punya usut mereka punya program kerjasama yang sangat bagus dan sudah sejak lama antara China dengan Pakistan, sehingga kuota penerima beasiswa China Government Scholarship yang ke China jumlahnya super banyak, gag cuma di kampus saya saja, di berbagai kampus lain di seluruh China. Dan forum-forum diskusi scholarship China yang saya ikuti dulu juga banyak provider infonya dari Pakistan.

Kalau lagi makan di luar, selalu ada beberapa pilihan restoran halal di luar kampus, biasanya dominasi warna hijau, dengan logo halal di palangnya, serta menunya rata-rata sama antara restoran halal satu dengan yang lainnya, Xinjiang Restaurant apa namanya, saya lupa.

Namun yang terbaik adalah tetap masakan sendiri, berhubung sudah bosan dengan makanan kantin dan malas beli keluar, beberapa bulan ini saya belajar masak, yep, setelah berusia 23 tahun akhirnya saya belajar masak juga, gag cuma nasi mie aja seperti tahun yang sudah-sudah, namun mulai mencoba masak nasi goreng, masak ayam goreng, masak udang sambal goreng, masak ikan, serta udah juga bikin sop ayam, sejauh ini yang paling mantap sop ayam sih, hehe. Kompor listrik sudah beli, di lantai 1 ada kitchen set sih, tapi saya tinggal di lantai 5 cuy, haha, capek duluan naik turun tangganya, jadi belilah kompor listrik, panci set, piring mangkok dan kitchen set.

Bahan makanan halalnya?
Bumbu halal ada di minimarket dekat kampus, sama ada sayur-sayuran juga disana, dan seafood, saya suka udang, ikan susah prosesingnya, repot bener, haha.
Kemudian ayam sama daging sapi dan domba mesti beli ke friday market di Huxi mosque, area kota, sejam naik subway dari kampus. Hari jum’at sengaja saya kosongkan semua jadwal kuliah, buat sholat jum’at dan makan-makan di friday muslim market, satenya enak bener disini, dan kadang ketemu teman Indonesia juga, seringan orang Malaysia sih, sama Pakistan tentunya yang paling banyak, sering banget ketemu teman Pakistan kampus disini.

2. Sholat

Sholat 5 waktu no problem, kan bisa sendiri di kamar, kebetulan juga roomate saya yang awalnya sekamar, dari Korea Selatan, entah mengapa memutuskan untuk pindah keluar, gag jadi sekamar dengan saya, hmm, no idea why, jadi stay lah saya sendiri di kamar dan sholat sendiri di kamar gag jadi masalah.

Nah, buat Jum’atan gimana?
Karena peraturan pemerintah, di fasilitas pendidikan dan pemerintah lainnya itu nggak ada masjid, atau surau, atau bangunan keagamaan buat agama apapun, bukan hanya untuk muslim saja. Jadi yah opsi terbaik untuk jum’atan adalah melakukannya di kota, di masjid area kota yang jumlahnya gag begitu banyak.
Atau ikut sholat Jum’at versi mahasiswa Pakistan di dorm kami ini, dorm 51.
Di lantai dasar ada ruang belajar, itu kami bereskan dulu meja dan kursinya, bentang tikar, kemudian sholat jum’at deh disana. Ada mungkin 20 sampai 30 orang yang sholat jum’at di dorm. Imamnya sama mas-mas itu aja, khotbahnya full bahasa Arab, tak paham sama sekali saya.
Di kota, imamnya khotbahnya 2 kali, dengan 2 imam, pake bahasa China semua, tak paham sama sekali juga saya, hahaha.

Dan berikut beberapa foto kehidupan muslim di China selama saya disini

Pelayan Restoran Halal di Jinan
Pelayan Restoran Halal di Jinan

 

Waktu Sholat di Masjid, Jinan, Shandong
Waktu Sholat di Masjid, Jinan, Shandong

 

Masjid di Jinan, Shandong
Masjid di Jinan, Shandong

 

Friday Muslim Market, Shanghai
Friday Muslim Market, Shanghai

 

Khotbah Huxi Mosque, Shanghai
Khotbah Huxi Mosque, Shanghai

 

Warga Muslim di Shanghai, Setelah Jum'atan
Warga Muslim di Shanghai, Setelah Jum’atan

Techtalk 1, Blogspot & Gmail are Toooo Mainstream!

menjadi berbeda

Sooo, setelah Live Report bulan ketiga, salah satu teman ngobrol teknologi saya protes.
“Bro, ente nulis tentang pendidikan sama kehidupan mulu, padahal ente orang teknologi, sesekali share lah tentang teknologi'”

Well, sejujurnya saya malu kalau mau nulis tentang teknologi, belum qualified rasanya, masih jadi anak sekolahan hingga sekarang. Tapi ya rasanya beberapa waktu belakangan beberapa teman saya dari IT yang mulai masuk dunia kerja mulai nanya-nanya tentang beberapa hal yang saya gunakan sejak dulu, hal-hal yang saya pahami, dan rasanya tidak salah juga berbagi ke publik beberapa hal kecil yang saya pahami dan sejauh ini membantu saya. Walau saya yakin yang terbantu dan mengaplikasikannya cuma 1 atau 2 orang ya tidak masalah, sesuai hadist “sebaik-baiknya manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Dan untuk topik pertama adalah, jeng jeng jeng
Blogspot & Gmail are toooo Mainstream!
Well, lebih tepatnya yang saya maksud adalah .blogspot.com sama @gmail.com sih, haha, lha, apa bedanya? akan saya jelaskan dibawah.

Blogspot.com are toooo Mainstream

Sekarang adalah jamannya personal branding, facebook, twitter, instagram, youtube, you name it all!
Dan tak ketinggalan juga blog pribadi.
Melalui blog pribadi kita bisa menyampaikan ke publik tentang siapa kita, hal-hal apa saja yang kita pahami, dan di bagian apa saja yang kita cukup expert di dalamnya.
Dan untuk media blog pribadi, yang terkenal sejauh ini adalah Blogspot.com, mudah dikelola, gratis (siapa yang gag suka gratisan), dan mudah dipahami untuk penggunaannya.
Tapi, karena kemudahan-kemudahan inilah juga menurut saya pribadi memiliki blogspot.com tidak menjadi ekslusif lagi, anda punya blogspot and then so what? Malah kesannya blogspot itu untuk anak-anak SMA yang mengisinya dengan puisi-puisi atau diari masa SMA 😀
Jauh lebih baik untuk memiliki domain sendiri, yep, “nama website” istilahnya adalah domain. “ahmadarib.com” ini artinya memiliki domain .com, ada juga domain .co.id seperti “bankmandiri.co.id”
Jujur aja, antara ahmadarib.blogspot.com sama ahmadarib.com mana yang lebih “terlihat” eksklusif dan lebih bisa dipercaya?
Dan seluruh dunia ini bakal cuma ada 1 ahmadarib.com, gag ada yang punya ahmadarib.com yang lain selain saya.
Karena nama domain hanya bisa dimiliki satu saja, tidak bisa double dan sudah diatur oleh ICANN (The Internet Corporation for Assigned Names and Numbers). Nah, yang bisa memiliki domain ini bukan cuma orang-orang tertentu saja, tapi setiap orang bisa memilikinya, tinggal beli saja domain, paling 150.000 setahun, mahal? hmm, ntar dibawah kita cek hitung-hitungannya.

Dan sejujurnya, kamu tetap bisa menggunakan blogspot kok, dengan domain sendiri, namanya blogspot custom domain.
Walau saya sendiri tidak prefer menggunakan blogspot, namun langsung menggunakan wordpress saja di domain yang saya beli.
Dan hal ini mensyaratkan tambahan 100.000 setahun untuk hostingnya.

@Gmail.com are tooo Mainstream

Gmail kamu yang sekarang pake apa hayo? gmail.com? yahoo.co.id?
Udah mainstream, semua orang juga punya.
Yang anti mainstream itu kalau kamu punya alamat email dengan nama sendiri, misal, mail@ahmadarib.com
Dijamin, ketika apply apapun via online punyamu bakal menarik perhatian ketimbang yang lainnya, dan ini sudah saya buktikan sendiri, daftar ini itu lalala macam2 pake alamat email domain sendiri menurut saya membuat aplikasi apapun menjadi stand out from the crowd.

Dan apakah memilikinya sulit, nggak, kata siapa. Dengan memiliki hosting, sebagai tambahan dari domain yang sudah saya jelaskan diatas, kamu udah bisa punya alamat email sendiri, configurasinya ada di Cpanel namanya, tinggal klik menu Email Account > Create New Account, kasih mau namanya apa gmail@namakamu.com kek, atau apa aja bebas, kemudian kasih passwordnya apa, sudah deh.
Kamu bisa akses email ini via online, di Cpanel nantinya, full function email, walau memang tampilannya gag sekeren gmail, dan spacenya disesuaikan dengan ukuran space hosting yang kamu beli.

Masih mau tetap pake gmail namun dengan domain sendiri, bisa!
Namanya Gmail Custom Domain, saya pake service ini untuk mail@ahmadarib.com, why? spacenya jauh lebih gede, 30Gb untuk email saja, dan saya butuh space email yang besar dikarenakan banyak proposal masuk, dari jaman kerja di OPPO lalu, sampai sekarang masih masuk juga, buset, perminggu rasanya ada puluhan proposal yang masuk, dan saya reply semuanya satu persatu, iya bener satu persatu, secara otomatis tentunya, capek kali reply email satu-satu tiap minggu ada puluhan email. Ntar deh mungkin di next Techtalk saya bahas autoreply engine untuk gmail.

Hitung-hitungannya

Oke, simple aja, sekarang kita hitung-hitungan deh, ini semua berdasarkan yang saya alami ya, hasil masing-masing orang bisa jadi sangat berbeda.
Domain : 150.000,-
Hosting: 100.000,-
Total 250.000,- pertahun.

Benefit?
– Jadi Google Student Ambassador, flight PP Jkt-Yogya + menginap seminggu di Hyatt regency Yogyakarta (kurang lebih Rp 10.000.000,-), reviewnya dimari https://ahmadarib.com/search-summit-2013-with-google.html
– Jadi XL Future Leaders, Pulsa 200.000/bulan x 24 bulan + Smartphone + Laptop = 14.000.000, yang mahal sebenarnya kurikulum dan pembelajarannya dari facilitator kita, Deedee yang super sekali, duh itu mahaalll sekali, reviewnya dimari https://ahmadarib.com/xl-future-leader.html

– Jadi magang di P&G 5 bulan, gaji hmmm, gag boleh publish sebenarnya, but yeah it’s one of the highest paid internship in Indonesia, reviewnya dimari https://ahmadarib.com/pg-dari-banting-stir-ke-fmcg-bro.html
– Kerja di OPPO smartphone 5 bulan, interview bentar, gag lama kemudian diterima, saya masuk kerja persis setelah wisuda, gaji juga gag boleh publish apa boleh ya, lupa saya peraturan HRD nya, haha, tapi gaji magang di P&G lebih gede dari first time job ini, gag saya ambil fulltime employee offernya, karena keburu kabur sekolah, reviewnya dimari https://ahmadarib.com/saya-kerja-di-perusahaan-hape-cina-hmm-why-bro.html– Dapat beasiswa S2, yeay, haha, nominalnya 8.000.000 rupiah/bulan untuk biaya hidup, biaya study silahkan cek sendiri webnya sjtu.edu.cn, haha, selama 2 tahun. Kecil banget sih ketimbang teman-teman saya yang di UK, Eropa atau Amerika sana, but yeah who the hell care, it’s pretty damn big for me, haha. Bukan review sih, tapi yah sekadar tulisan yang relevan dimari https://ahmadarib.com/s2-yang-indah-itu-ketika-s2-keluar-negeri-barengan-si-dia-gratisan-lagi.html

Masih mikir stay di blogspot & gmail?

menjadi berbeda
menjadi berbeda

Kunci untuk mendapatkan hal-hal yang kebanyakan orang lain tidak dapatkan itu sederhana, lihat apa yang mereka tidak lakukan, dan lakukan hal itu. Jadilah berbeda, jadilah anti-mainstream dan mencolok dari orang lainnya, dan seringkali hal itu butuh pengorbanan di awalnya, seperti 250.000 diatas, namun percayalah, itu worth it untuk setiap rupiahnya.

Salam pendidikan gratisan!

3rd Month, Orang China (Rasis Mode:On)

Panda di Shanghai Wild Animal Park

“yep, entering America looks like will be harder now since Trump becoming president.” Ucap salah seorang teman native China saya di SJTU, dia tahun terakhir S1 yang lagi menyiapkan aplikasi S3-nya ke US, iya, kamu gag salah baca, S3, Phd, Doctoral degree, langsung dari S1. Gila ini anak, badannya kecil banget, kurus, masih muda, udah mau langsung Phd aja, apa bisa? iya bisa, sumpah! Saya juga tahu kalau bisa sejak saya kesini.

“well sure, it will harder for me also later on if I deciding to take my Phd there, since I’m a muslim, they racist to muslim also”, balas saya.

“you know what, I have friends who is muslim and chinese also, wonder what will happen to him”. Dan kita tertawa, kemudian merenungi nasib si China muslim ini tadi, kaco juga ya, untung dia gag kulit hitam juga sekalian, bisa triple kill nanti di US kalo bahasa Counter Strikenya.

Rasis ada dimana-mana, suka gag suka rasis ada dimana-mana.
Tulisan ini bukan untuk menyebar bibit-bibit kebencian (sumpe, ini situs namanya ahmadarib.com, bukan lalalalalapiyungan.com).
Juga bukan untuk menebar kedamaian antar umat beragama (yeelah, saya belum qualified suer, sholat Ied di Ho Chi Minh tahun lalu aja salah tanggal sehari lebih awal, rada telat lagi datangnya, yang hadir beberapa orang Malaysia doang, untung ada ustadnya dari Malaysia satu).

Tulisan ini cuma buat cerita ke 1 atau 2 orang yang membaca, tentang bagaimana keadaan di kondisi yang dirasiskan itu sendiri, gimana orang-orangnya, dan apa yang mereka pikirkan tentang sisi yang lain secara menyeluruh.
Yep, ini cuma cerita, keadaan sehari-hari yang saya temui, sepenuhnya subjektif, karena case saya sendiri juga cuma ketemu beberapa orang saja, di China juga baru ke 2 area saja, Shanghai sama Shandong, dengan harapan 1 atau 2 orang yang membacanya mengerti tentang pihak lainnya. Karena menurut saya orang rasis karena belum paham dengan apa yang dirasiskannya, belum masuk ke dunia yang dirasiskannya, bahkan belum pernah ngobrol atau punya teman dengan orang yang dirasiskannya. Karenanya, mari kita bahas satu-satu beberapa hal menarik sesuai judul.

Orang China

1.Pemalu

Well, pake wechat disini dan ngobrol dengan beberapa teman native disini sedikit membingungkan di awalnya, why? lah ini teman-teman China saya di wechat foto profilnya kartun semua, ada one piece lah, emot lah, pemandangan lah, macam-macam, terus tulisan namanya kan keriting semua tuh aksara China, susah banget nyarinya.

Begitu saya tanya ke teman Indonesia yang sudah lama disini dan Taiwan, dia bilang bahwa native sini malu-malu orangnya. Pada malu buat ngepost fotonya di profil wechat, begitu juga di moment wechat, jarang banget mereka post foto sendiri, moment wechat itu udah kayak timeline facebook lah. Tapi gag tau deh kalau weibo atau QQ, social platform yang lain, belum nyobain.
Begitu juga di kelas, dosen nanya ada pertanyaan atau nggak atau siapa yang bisa jawab soal di depan, dieemm semua, termasuk saya, lah kalau saya kan jelas gag nanya karena gag paham sama sekali, kalau mereka harusnya kan paham, minimal beberapa orang. Jadi kalau misalnya kurikulum siswa aktif di Indonesia mau diterapkan disini gag bakal work saya yakin.

2. Hemat & Efisien

Waktu itu kita mau tampil tari saman, kan ada kelas tuh ya, terus kita dibagikan surat izinnya buat dikasih guru di kelas. Surat izinnya itu selembar kertas A4 yang dibagi 4, dipotongin jadi 4 panjang-panjang.
Duh, ya ampun.
Sebagai mantan ketua OSIS yang dulu hobi banget bikin rapat gag penting agar bisa bolos kelas saya ingat banget tiap surat izin itu mesti selembar kertas A4 full, meskipun nama yang diizinkan cuma 1 orang, tapi kan ya ada kop suratnya, ada nomor dan perihalnya, ada kata pengantarnya, ada isi dan detail kegiatan, baru penutup dan salam hormat. Kalau nggak kayak gitu bakal marah lah guru di kelas, dibilang nanti gag menghormati, apalagi kalau salah tulis dikit nama gurunya, beuhhh, gag bakal diijinkan keluar itu yang ada di surat pas jamnya dia.
Lah ini A4 dibagi 4 coba, panjang2 kecil gitu, kagak ada kop surat, pengantar, dll, apalagi salam hormat. Bayangin gimana ceritanya kalau ini dikasih ke guru saya dulu, haha.
Kemudian ada satu lagi teman native China saya, namanya David, nama Chinanya ahhh sudahlah, dia bilang waktu itu dalam tempo 2 detik saya sudah lupa, terlalu rumit untuk diingat di memory saya yang kecil dan sumpek sama katalog game & movie.
David, itu dia udah kerja sambilan ngajar anak SMA sejak dia S1. Penghasilan sambilannya sekitar 3.000-8.000 yuan perbulan, tergantung banyaknya jam dan kelas yang dia ajar, dan dengan ini dia cukup untuk bayarin hidupnya sehari-hari, serta biaya kuliah S1 & S2nya. Sekarang dia udah mau graduation S2 Maret nanti, barusan kemarin akhirnya dapat kerja sebagai guru di SMA negeri di Shanghai, dengan gaji 11.000 yuan/bulan (1 yuan=2.000 rupiah).  Waktu saya gag sengaja kelihat saldo Alipaynya ada 80.000 yuan depositnya disana, pas saya bilang buset banyak amat tabungan ente cuy (dalam bahasa Inggris tentunya), dia bilang dengan santainya, ane masih punya 50.000 yuan lagi masbro dalam bentuk saham, ini 80.000 yuan ane pindahin ke Alipay semua karena rate bunganya lebih tinggi 2x lipat ketimbang rate bunga bank (dalam b.ing juga tentunya, ya kali ini anak ngomong ane ama masbro, ntar kaskusan lagi dia).
Dan, tiap ketemu saya dia masih pake sepeda butut itu-itu aja, yang saya yakin harganya gag lebih dari 200 yuan, karena sepeda saya sama bututnya dan harganya segitu.

Ya salam.
Ini anak.
Hemat sekaliii !
Jangan kalau mau bandingkan dengan salah satu kenalan di kampung halaman saya di Bengkulu, kerja di salah satu perusahaan dengan gaji 3 juta rupiah (estimasi yg baik banget, beberapa bilang dibawah itu) sudah kredit mobil aja, gajinya full buat bayarin kredit mobil, lah terus hidupnya, makan, minum, tempat tinggal? kan tinggal sama orangtua, jadi gratis dong, gubrak. (true story anyway, all things I state I never lie or made it up).

3. Study hard, Work hard, Live hard

Tiap liat anak native China disini saya selalu malu, mereka baca buku kuat banget, kayak kecanduan.
Yang pake kacamata di kelas itu nyaris 4/5.
Belajar itu dari jam 8 pagi sampai jam 12 malam, jedanya cuma untuk tidur, toilet & makan.
Bioskop sepi.
Di kafe kampus bawa laptop sama buku semua, baca buku sama kerjain pe er.

Dan hidupnya, dari SMA udah tinggal di dorm sekolah, S1 juga di dorm sekolah.
Sekamar 4 orang, ranjang bunk bed kamar sempit ala ala militer.
Kamar mandi diluar gedung, jadi kalau mau mandi bawa baskom, handuk sama peralatan mandi jalan kaki dulu ke kamar mandi.
They live hard by design, sekolah ya seperti ini, keras, meskipun di rumah mereka rumah mewah, orangtua sediakan bed nyaman ber-AC tapi kalau udah sekolah ya seperti ini kondisinya.
Dan sebagai anak yang dulu hidup keras, not by design, tapi emang karena dulu kondisi hidup susah menurut saya ini hal yang oke. Kita yang biasa hidup keras bakal survive mau ditaro dimana aja, keadaannya seperti apa aja, bakal hidup, dan bakal nyaman sendiri. Tanpa AC, kasur keras di lantai, cuci baju pake tangan, tidur rame2 di kamar tipe dorm. Dan bakal sangat appreciate ketika keadaan membaik, seperti sekarang punya kamar single sendiri, punya AC sama kulkas sendiri, ada kompor & peralatan masak sendiri, ada mesin cuci sama mesin pengering, serta punya uang cukup buat makan apa aja di kantin sekolah. Dan walau nanti keadaan memburukpun dan setiap fasilitas menjadi tiada juga tidak masalah, karena sudah biasa.
Orang Indonesia di China
Siapapun orang yang memiliki paspor Indonesia maka dia orang Indonesia, sudah, titik, itu definisi saya.
Tanpa ada pembagian jenisnya lagi.
Atau definisi lanjutannya.
Walau diantara yang memiliki paspor Indonesia mungkin ada juga yang memiliki paspor Taiwan atau China, sama bahasa Indonesianya nggak lancar, tak masalah, kita orang Indonesia semua.

Dan suatu ketika, saya sama seorang teman, sebut saja William, kita sama-sama Orang Indonesia di China yang sama-sama sedang belajar dan kebetulan sama-sama di kampus Shanghai Jiaotong University dan dulu kebetulan sudah kenal duluan di Indonesia, berencana untuk menemui teman-teman Indonesia rombongan IChYEP (Indonesia China Youth Exchange Program) yang singgah ke Shanghai semalam untuk selanjutnya balik ke Indonesia keesokan harinya.
Ya udah kita datang ke hotel mereka, kita tungguin teman kita.
Nah teman kita datang, terus kita duduk-duduk dulu ngobrol di lobi hotel.
Terus datang ibu-ibu Indonesia rombongan, dikenalkanlah kita sebagai mahasiswa Indonesia di Shanghai, berikut petikan kenalannya.
Arib: Halo Bu, saya Arib, mahasiswa di SJTU.
Ibu-ibu: Oalah, mahasiswa ya.
William: Saya William Bu. (perlu saya tegaskan, kita semua ngomong dalam bahasa Indonesia)
Ibu-ibu: Ohhh, dari Indonesia ya, temannya ABC semua?
William: Iya Bu, dulu satu kegiatan.
Ibu-ibu: Sudah bisa bahasa Mandarin semua berarti ya?
Arib: Saya belum bisa Bu, masih belajar, William yang bisa.
William: bisa sedikit aja
Ibu-ibu: Ohhh, kamu China kan? (what????)
William: (bingung) Nggak Bu, saya Indonesia (lah jelas ini anak ngomong Indonesia kok, lahir ama besar di Indonesia, paspor Indonesia, kuliah juga baru S2 ini kesini)
Ibu-ibu: Iya, saya tau, tapi kamu China kan?

Well, then, terlalu awkward moment itu untuk diceritakan lagi.
Yah, mau bilang apa lagi, teman saya yg di IChYEP jadi gag enak banget sama William, kaco itu Ibu-ibu.

I do really hope, teman-teman yang baca jangan seperti Ibu-ibu itu ya please, please banget.
Dan cobalah untuk melihat hal-hal baru dari sudut pandang yang lain.
Saya dulu tinggal di kota kecil terus ke kota besar jadi paham sudut padang masing-masing pihak.
Sekolah di Univ swasta yang entah ranking berapa dan kumpul sama anak-anak top 4 Univ, paham perspektif masing2 pihak.
Ikut organisasi difabel selama setahun, dua minggu pelatihan hidup bersama mereka, jadi paham bagaimana perspektif difabel di Indonesia.
Dan sekarang saya sekolah di China, sebagai muslim dari Indonesia, saya masih belajar tentang perspektif mereka.

Hidup itu terlalu singkat untuk rasis & diskriminatif terhadap pihak-pihak lain, lebih menyenangkan untuk memahami pihak-pihak tersebut secara langsung, serius, sangat menyenangkan dan membuka pikiran.
Sebagai penutup berikut model paling non rasis menurut saya, why?
Panda is WHITE.
Panda is BLACK.
Panda come from CHINA.
Be like Panda, be non racist.
#credit to 9gag, they always have stupid poem like this

Panda di Shanghai Wild Animal Park
Panda di Shanghai Wild Animal Park

Salam pendidikan gratisan!

Daftarnya kan buat passport dulu, iya kalo keterima, kalo nggak, buat apa passportnya…

buat apa passport

Titiknya tiga kali lho.

Kalo tanda tanya di akhirnya saya masih bisa mengerti, ohh itu pertanyaan, maka saya bakal jawab dengan santai, lah ini titiknya tiga kali coba, maksudnya apa?

Well, sebagai orang kurang kerjaan yang sempat-sempatnya nulis di blog ini, saya memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan berbagai orang, mengenai topik yang sangat saya sukai, yakni mengenai beasiswa. Dan kali ini saya akan cerita mengenai salah satu komentar yang masuk ke admin panel blog saya.

Isinya begini, dan saya jawab begini.

buat apa passport

Maafkan kata-kata saya diatas, itu bukan buat anda, itu buat yang nanya aja, karena langsung reply ke emailnya kalo gag salah kalo saya reply via sistem.

Dan sejujurnya saya ingin menolong yang bertanya, dengan cara saya sendiri tentunya, dia harus paham betapa pentingnya passport.

Dan sejujurnya lagi, saya sangat menghargai orang-orang yang mau menyempatkan dirinya untuk mengetik komentar, mengenai apapun pemikirannya, dan saya pasti akan menyempatkan diri untuk membalasnya.

Nah, blog post ini, khusus untuk teman-teman yang lain, yang hingga saat ini masih belum punya passport juga. Iya kamu yang baca, kalau udah punya paspor udah close aja, ini buat yang belum punya paspor aja.

Berapa persentase warga Indonesia yang punya paspor saya belum tahu pasti, udah nyari kemana-mana tapi gag nemu, barusan saya emailin humas@imigrasi.go.id mengenai hal ini, mudah-mudahan dijawab, kalau dijawab nanti akan saya update disini, atau kalau ada teman-teman yang tahu datanya monggo komentar di bawah, tapi menurut saya pribadi rasanya gag banyak masyarakat Indonesia yang punya paspor, karenanya postingan ini rasanya masih valid untuk dipublikasikan.
Paspor itu penting banget, sumpah.

Dan lebih baik kalau kamu punya secepatnya.

Sekarang? Iya, sekarang!
Jangan nunggu-nunggu mau ke luar negeri dulu baru bikin, jangan nunggu-nunggu daftar program dulu baru bikin, atau nunggu dapat undian umroh dulu baru bikin paspornya, jangan, bikin sekarang juga, atur jadwal sekarang juga buat ke kantor imigrasi, atau baca di web tentang syarat membuat paspor.

Karena, yang ada kalau kamu gag punya paspor adalah seperti berikut.
Ada program pertukaran pelajar ke Jepang, butuh paspor, ahh saya gag punya paspor, ntar aja lah ikutnya.

Ada program beasiswa ke malaysia, butuh paspor, ahh saya gag punya paspor, ntar aja lah ikutnya.

Ada tiket promo Airasia murah banget ke Vietnam, ahh saya gag punya paspor, ntar aja lah belinya.

Nahhh, ntar nya ini gag ada batasnya, sementara program pertukaran pelajar, beasiswa dan tiket promo ada batas waktunya semua. Dan percayalah kamu bakal melewatkan batas waktunya sementara paspor belum ada.

Jangan nunggu mau ikut pertukaran pelajar, beasiswa atau tiket promo dulu baru bikin paspor.
Yang bener adalah, bikin paspor dulu baru cari program diatas, dan begitu dapat infonya, langsung ikutan!

Untuk biaya saya gag bisa ngomong apa-apa sih, ya memang sejumlah uang untuk bikin paspor itu cukup besar buat sebagian orang, namun percayalah ini hal yang diperlukan, kalau mau menjadi manusia global, kalau mau berkembang, kalau mau memiliki pandangan luas tentang dunia, paspor sangat diperlukan.

Nabung.
Cari uang.
Lakukan berbagai cara, kalau ada kemauan Insya Allah bakal ada jalan.

Saya cerita seperti diatas karena saya udah mengalami capeknya bikin paspor mendadak, mepet pas ikut program pertukaran pelajar, dan saya tidak mau hal ini terjadi sama siapapun, jauh lebih baik punya duluan sebelum dibutuhkan.

Waktu itu tahun 2010, 17 Juni, saya ingat banget karena hari itu ultah saya, dan saya dapat pemberitahuan lolos pertukaran pelajar Jenesys ke Jepang, di hari yang sama kami bertiga kandidat dari Bengkulu harus menyerahkan scan paspor ke Kemenpora pusat, gimana ceritanya paspor sehari jadi di tahun 2010?
3 bapak kami berkumpul, mengumpulkan semua berkas yang diperlukan untuk paspor.

Meminta surat rekomendasi dan penjelasan kebutuhan mendadak dari kemenpora Bengkulu.
Berjam-jam diskusi di kantor imigrasi.
Akhirnya bisa juga, ambil foto, masuk jalur prioritas, wawancara, dan jadi hari itu juga paspornya.

Capeknya luar biasa, belum lagi ngomong biayanya.

Dan karena itu saya jadi yang pertama di keluarga, yang punya paspor, sekarang keluarga saya sudah punya semua. Adik saya udah 3 kali dibelikan tiket promo Airasia, Singapura tahun ini, Malaysia April 2017 nanti, Thailand, Cambodia & Vietnam November 2017. Mudah-mudahan dia juga mampu dan mau buat lanjut kuliah S2 diluar negeri juga nantinya. Insya Allah kedua orangtua juga bakal menunaikan ibadah haji nantinya, umroh kalau ada rejeki, dan yang terdekat mungkin wisuda saya 2019 nanti di Shanghai, China.

Dimulainya darimana? Dari paspor.

Masih mikir ntar aja bikin paspornya?
Salam pendidikan gratisan!