18th Month, Man Jadda Wajada

30 April 2018, jam menunjukkan angka 14.15 di layar hitam putih jauh di depan saya, sambil di bawahnya ada tulisan-tulisan aneh yang kira-kira kalau dibaca artinya:
Beijing Nan – Shanghai Hongqiao.
Dengan kode G115 di pojok atas, G merupakan singkatan dari Gaotie, artinya kereta cepat, kebanggaaan pemerintah China, dan mode transportasi favorit saya keliling mainland China, kenapa mainland atau daratan nyebutnya? Karena kalau kamu naik kereta cepat ini bakal keliatan kalo China itu daratan semua, dari ujung ke ujung, kadang banyak pepohonan, kadang tower-tower apartemen, kadang ladang sawah penduduk. Mudah-mudahan Gaotie bisa mampir juga ke Indonesia, yang katanya bakal melayani rute Jakarta-Bandung.

Berdasarkan tiket online yang saya beli melalui App dan bayar melalui app juga, Alipay, kereta saya akan tiba di Shanghai tepat 1 jam lagi, pada 15.15, artinya masih ada 1 jam, beberapa urusan lain sudah beres tadi, jadi nulis dulu deh ini.

Dari Beijing ada apa?
Ada solusi atas masalah saya bulan lalu!
Apakah itu?
Panitia Pemilihan Luar Negeri namanya.

Alhamdulilah saya terpilih menjadi Panitia Pemilihan Luar Negeri Shanghai, dengan posisi sebagai Ketua, dengan honor yang tidak begitu jauh berbeda dari uang bulanan LPDP, sehingga saya masih memiliki uang bulanan untuk melanjutkan study saya di Shanghai, yeay!

Man jadda Wajada, seperti yang diutarakan oleh Dimas di komentar FB, teman baik saya. Barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti dapat. Dan memang dapat juga solusi atas masalah berat saya. Uang bulanan aman. Uang sekolah? Kembali deh ke sponsor yang paling setia dalam setiap urusan hidup saya, yakni orangtua. Jadinya biaya sekolah menjadi tanggungan Beasiswa Ayah Ibu namanya kalo istilah kita anak-anak disini, haha. Terima kasih Ayah & Ibu, Insya Allah beasiswanya akan dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin.

Dan sebelum ke Beijing, ada trip ke Chengdu terlebih dahulu, ngapain? Liat panda!
Haha, gag lah, presentasi conference math & artificial intelligence.
Orang-orangnya super keren, dan saya kebagian presentasi oral mengenai paper saya. Syarat lulus punya paper dah checklist, tinggal urus nilai sama thesis aja lagi berarti urusan kampus.
Kemaren milih Chengdu juga karena penasaran, banyak yang bilang kalo Chengdu itu super hot, makanannya hot banget, banyak makanan pedes dsini, cocok dengan lidah orang sumatera yang betah makan nasi padang. Cuacanya hot juga, mirip2 Bengkulu di musim panas ini. Dan katanya, katanya lho ya, ceweknya juga hot, bisa dicari deh di Google, saya tidak membenarkan, juga tidak menyalahkan statement ini, cuma menyampaikan kata-kata orang saja, karena, yah, *lirik kiri-lirik kanan*, ntar ada yang marah kalo saya iyain statement ini, haha. Chengdu lagi berkembang parah banget, banyak kesempatan disini, tempat belanja dan hiburan banyak, dan harga-harganya masih murah banget ketimbang Beijing-Shanghai. Checklist China bagian tengah-barat. Utara area Beijing udah beberapa kali. Timur area Shanghai tempat tinggal saya. Bucket list saya tinggal area Selatan aja lagi ini berarti, Guangdong, Shenzen ato Hongkong. Mudah-mudahan ada yang mau bayarin lagi nantinya, haha, saya mah apa atuh, gag ada duit sendiri untuk jalan-jalan.

Semenjak merantau di Jakarta, dan kerja sana kemari, saya tahu 1 hal yang pasti.
Orang yang memiliki keterampilan gag bakal dibiarkan kelaparan oleh yang diatas, dan dalam peribahasa China saya pernah mendengar:
Shou yi shi huo bao, tian xia e bu dao.
Yang kira-kira artinya: Ketrampilan adalah harta yang tak akan habis, menjaga seseorang tidak kelaparan kemanapun ia pergi.

Gunakanlah pendidikanmu untuk mendapatkan keterampilan, yang bisa digunakan oleh pihak-pihak lainnya. Dan usahakanlah agar keterampilan ini sekhusus mungkin, dan gag banyak orang yang bisa melakukannya. Serta terus tambah keterampilanmu dari waktu ke waktu. Jadilah orang yang bermanfaat, yang bernilai, yang bisa digunakan baik oleh pemerintah, swasta, institusi pendidikan, ataupun pihak-pihak lainnya.

Dan yakinlah bahwa kamu gag akan kelaparan dimanapun kamu berada.

Salam pendidikan nggak gratisan!

17th Month, Ketika Pendidikan Sudah Gag Gratisan Lagi

Sebagai anak beasiswa, sejak S1 dulu hingga S2 saat ini, tentu merupakan sebuah kesedihan menerima surat penolakan LPDP atas permohonan perpanjangan beasiswa saya? Lah, perpanjangan beasiswa? emang saya telat lulus S2? Well, emm, gag telat sih, di LoA study S2 saya di Shanghai Jiaotong University memang sudah tertulis sejak awal 2,5 tahun. Dan memang saya targetin dari awal mau masuk ke kampus ini saja, daftar LPDP langsung nulis nama kampus ini, lulus LPDP gag apply kampus-kampus yang lain cuma kampus ini saja, walau diawal sudah baca kalau LPDP cuma mau bayarin S2 selama 2 tahun saja, maksimal. Dan saya selalu berpikir bahwa jika niatannya baik, akan selalu ada jalan yang membantu saya, dan harapan saya selama 3 semester ini adalah LPDP akan mau membayari kelebihan 1 semester saya, yang memang gag bisa disingkat, S2 di SJTU merupakan master by research, 1 tahun coursework (yang nilai saya masih dudul parah), ditambah 1,5 tahun riset (riset saya oke, hehe, gag parah kayak coursework).

Dan durasi ini gag bisa disingkat-singkat lagi, semua teman-teman alumni lab yang setelah ngobrol ketahuan pintar-pintar parah, durasi study semuanya juga 2,5 tahun, dan Prof. supervisor saya di awal juga bilang bahwa 2,5 tahun itu gag bisa saya persingkat lagi. Ya sudah, 3 semester saya jalani dengan maksimal, belajar semua hal yang ingin saya pelajari, hingga sekarang menemukan bidang Artificial Intelligence yang rasanya saya nyaman untuk menghabiskan waktu, pikiran, dan resource saya disini.

Tepatnya 2 minggu lalu saya mengajukan surat permohonan perpanjangan durasi study kepada LPDP, dan hasilnya adalah, mereka menolak perpanjangan study saya. Dengan alasan kontraknya hanya 2 tahun saja, kemudian LPDP terikat peraturan bahwa mereka tidak bisa memberikan pembiayaan study lebih dari 2 tahun untuk S2. Dan mereka merekomendasikan saya untuk mencari pendanaan lain atau bekerja, yep, bekerja untuk memenuhi kebutuhan study saya.

Hmmm.

Ya sudahlah, 6 bulan biaya hidup + biaya sekolah harus coba dicari dengan berbagai cara. Sumber pendanaan lain, grant, scholarship, etc, sejauh yang saya tahu dan nanya-nanya semua pihak, untuk siswa yang sudah berjalan studynya gag bisa. Kalau mau dari awal bener, ikut China Government Scholarship (CGS), mereka mau bayarin sekolah S2 sampai selesai, maks 3 tahun, karena S2 di China memang bisa sampai 3 tahun, contohnya pacar saya Master of Finance di Shandong University. Plus 1 tahun bahasa China jika kuliahnya conduct in Chinese, dan 1 tahun bahasa ini sangat cukup untuk buat kamu survive di China, ikut kuliah bahasa China, dan nantinya kerja di China. Dan kemarin sempat dapat informasi Great Wall Fellowship kerjasama UNESCO-China, deadlinenya mepet, coba daftar, namun mesti dari rekomendasi kantor UNESCO Indonesia, kontak sana-sini, lempar-lempar gag dijawab, ya sudah, susah kontak pemerintah Indonesia dari jauh, harus datang ke kantor bener. Gagal deh apply fellowship ini. Bakal terus coba cari kemungkinan pendanaan lain, semoga bisa dapat dalam 1 semester ini, sudah semester 4 soalnya, semester 5 LPDP udah gag bayarin lagi.

Kerja, sejujurnya saya benar-benar prefer opsi ini, sebagai anak S1 yang selalu nguli kerja dulu di Jakarta, saya merasa bahwa bekerja memberikan pengalaman dan pembelajaran yang luar biasa untuk saya. Dan juga ada uangnya, yang bisa dipake untuk beli game di Steam, haha. Untuk bekerja saya yakin mampu, apalagi saat ini bidang riset saya di Artificial Intelligence, aplikasinya lagi hangat-hangatnya di China. Namun, setelah banyak ngobrol dengan alumni-alumni dan senior-senior kampus, kalau mau bekerja di China syarat pertamanya adalah bisa berbahasa China. Nah lu, haha, memang sejak awal saya pilih China juga untuk menambah bahasa ketiga saya. So sebenarnya masih sejalur juga sih, tapi yang tidak saya prediksi adalah bahwa saya tidak dibayari lagi dalam waktu 5 bulan dari sekarang, uang bulanan terakhir dari LPDP adalah pada Agustus 2018. Sehingga jika opsi yang saya pilih adalah bekerja, maka saya harus sudah bekerja pada 1 September 2018, atau saya gag ada uang untuk makan, sama gag ada tempat tinggal juga.

Nah, berantakan parah kan.

Untunglah pada winter break lalu saya mendaftar sekolah bahasa Mandarin di Shanghai Normal University untuk satu semester, bagi dua uang sekolahnya antara tabungan saya pribadi dengan biaya orangtua, 50%:50%. Kalau ada orang LPDP yang baca, saya gag pake uang LPDP kok, saya ada tabungan sedikit, itu dari tabungan saya. Nanti saya dituduh penyalahgunaan uang negara lagi, hehe. Mengapa saya ambil sekolah bahasa, karena tinggal inilah opsi untuk bisa berbahasa Mandarin dengan lancar, dan cukup oke, dalam waktu yang cukup singkat. Awalnya saya kira saya bisa sekolah bahasa 2 semester, kemudian baru terjun di dunia kerja China, saya yakin dalam waktu 1 tahun siap sih. Nah tapi dengan perkembangan terbaru ini, sekolah bahasa hanya bisa 1 semester saja. Habis itu kerja? siapkah? entahlah, saya gag begitu optimis sejauh ini, mari kita lihat tulisan saya di bulan September 2018 nanti, haha.

Mungkin ada benarnya juga orang-orang, mengambil jalan yang sudah banyak diambil oleh orang lain. Seperti ya sudah, ambil beasiswa S2nya ke Eropa saja, misalnya Belanda, itu banyak siswa Indonesianya. Yang durasinya sudah pas 2 tahun saja, ada banyak warga Indonesia disana, kemudian gag perlu belajar bahasa lagi, apalagi kalau bahasanya merupakan bahasa tersulit sedunia.

Well, I guess I’m just some really stupid guy.

I know exactly what other people do, tapi saya pengen melakukan yang berbeda, saya ingin melakukan suatu hal yang saya inginkan sendiri, dari hasil membaca saya, pemikiran saya, pemahaman saya, dan prediksi saya sendiri. Seperti pilihan S2 saya saat ini, di China, durasi 2,5 tahun, anak LPDP perdana di Univ ini, bahkan kota Shanghai, hingga sekarang saya belum menemukan awardee LPDP lainnya yang sekolah di Shanghai. Di China mainland sendiri bahkan sedikit sekali LPDP awardeenya, gag cukup buat bikin lurah-lurahan. Mahasiswa Indonesia di SJTU, bah, 20 orang yang degree aja kali gag sampe, itu udah semua S1-S3. (Dan saya gag bakal rekomendasi siapapun mengikuti jalan yang saya ambil, mau LPDP, cari negara lain! mau ke China, ambil CGS, jangan LPDP!)

Tapi ya saya punya pemikiran sendiri, sejak dulu saya yakin dengan China.

Saya yakin China akan maju.

Saya yakin Indonesia akan butuh berhubungan akrab dengan China.

Saya yakin posisi saya sebagai computer scientist yang bisa berbahasa Indonesia, Inggris dan China, serta paham mengenai Artificial Intelligence bisa membawa nilai tersendiri, untuk entah suatu posisi yang belum bisa saya bayangkan saat ini. Dan ketika posisi itu ada, saingannya gag bakalan ada, 1 atau 2 lah paling kalau ada. Dan sejujurnya saya gag suka kompetisi, karena selalu kalah, lha “stupid” tadi kan, mana bisa menang kompetisi lawan orang lain.

Dan yah, entahlah.

Maret 2018 ini merupakan bulan terberat saya di China, mungkin sainganlah yah sama bulan pertama saya di China. Dan semester 4 ini tentu fix merupakan semester terberat saya, bangun jam 6 pagi, mandi dingin-dingin, naik subway 1,5 jam, masuk sekolah bahasa jam 8 pagi, pulang jam makan siang, naik subway 1,5 jam lagi langsung ke lab, kerjain riset, lanjut belajar AI, urus thesis dan administrasi sekolah lainnya. Pulang dari lab biasanya jam 9 malam, yep, seperti sekarang ini, jam sudah menunjukkan 8.45, bentar lagi berarti jadwal pulang saya. Dan apakah lab sudah sepi? Nggak, sumpah, lab masih rame, anak-anak China bekerja jauh lebih keras ketimbang saya. Dan saya bangun jam 6, kerja sampai jam 9 malam, tidur jam 11 malam, 5 hari seminggu Senin sampe Jum’at dah mau mati rasanya.

Tapi yah mau bilang apalagi.

Inilah pilihan yang saya ambil, sekolah 2,5 tahun, di negara yang bahasanya sulit setengah mati, dengan bermodalkan beasiswa negara sendiri yang begitu berpedoman terhadap kontrak, yep, fix, salah saya sendiri. Hasilnya nanti apa? gag tau dah, haha, bisa jadi sukses, bisa jadi gagal. Saya lagi gambling dengan waktu yang saya punya, 2,5 tahun ini saya letakkan di China, hanya waktu yang bisa mengatakan apakah ini taruhan yang berbuah hasil bagus, atau malah rugi besar.

 

Salam pendidikan gag Gratisan!

16th Month, How to Rapid Learn AI, or any other things

Ada waktu sejam setengah nunggu di ruang tunggu D7, terminal 2 Soetta, jam nunjukin pukul 22:16, duduk di samping chargeran yang ada layar TV-nya gede, eh ternyata bisa internetan dan bisa akses Youtube, ada speakernya juga, hmmm, langsung cari Brick by Boring Brick Paramore, sambil nulis 16th report, di bulan Februari ini, di akhir Februari, di akhir periode libur panjang winter break.

Nulis sebentar deh, mumpung ada waktu, tentang gimana aja sebulan ini berjalan. Jujur di awal liburan saya niatin buat fokus belajar AI, udah download full materi belajar buat AI, ada deep learning fast.ai punya Jeremy Howard, ada Natural Language Programming dari Oxford & Stanford, ada Reinforced Learning dari David Silver Deepmind, serta ada Machine Learning dari Jeremy Howard juga. Rencananya sih mau dipelajarin semua, gayanya tadi udah oke banget, haha, download semua materi videonya, dan dipelajari.

Eh ternyata, haha, semua tinggallah rencana, satu bulan habis, cuma 2 materi yang full selesai, yakni Deep Learningnya fast.ai Jeremy Howard dan Machine Learning dari Jeremy Howard juga, duh ngefans banget sama ini om Jeremy. Namun semuanya total full belajar, dan saya merasa benar-benar selesai untuk kedua materi ini, terutama machine learning. 1 bulan ini terasa banget maksimal belajarnya, gag merasa sia-sia liburannya, meskipun materi NLP benar-benar gag kesentuh, sama Speech recognition juga, tapi ya sudahlah, satu bulan memang terlalu singkat kalau mau dihajar semua, satu-satu aja.

Dan di liburan ini ketemu beberapa pembaca blog ini, hehe, ya ampun, gag nyangka ada yang baca, makasih ya yang udah baca, moga bermanfaat, ada Jeff temen GSA dulu, kita ketemu di acara AI Saturday, saat itu kebetulan baru nyampe Jakarta, gag langsung pulang, tapi ikutan AI Saturday dulu di Go-Jek HQ. materi belajarnya bagus, dari online sih sebenarnya, kita nonton bareng, terus diskusi bareng. Saat di Bengkulu ketemu sama teman-teman XLFL dari Bengkulu, kita diskusi banyak di Bengkulu.

Kebetulan sempat ketemu guru-guru saya juga saat pulang ini, saat di Jakarta keliling mall ambassador eh ketemu Deedee, mentor yang paling keren di XLFL. Deedee ini banyak banget berjasa selama 2 tahun masa training XLFL dulu di Jakarta. Kemudian pas di Bengkulu ketemu juga sama kak Rizky, mentor debat bahasa Inggris jaman SMA dulu, 3 tahun belajarnya dulu selama SMA, dari yang dulu yang ngerti ngomong apa-apa,bisa jadi ngerti dikit komunikasi bahasa Inggris, yang akhirnya bikin saya bisa ikut XLFL juga, tanpa ikut debat bahasa Inggris dulu, duh mustahil rasanya bisa ikutan XLFL. Serta ketemu guru-guru di SMA 2 Bengkulu dulu, ada Pak Jarot, Mam Oce, Pak Il, dan masih banyak guru-guru lainnya.

Nah sebenarnya diatas udah mencakup semua sih saran-saran saya, haha, udah keliatan belum pattern belajar saya? Belum, oke coba saya jabarin satu-satu deh. Dan ini berlaku juga saat saya mulai belajar AI, dan pastinya bisa kamu aplikasikan di berbagai topik belajar lainnya.

1. Cari profil mentor keren

Dulu pas SMA mentor saya kak Rizky itu diatas, kita belajar debat bahasa Inggris terus-terusan tiap minggu, sementara orang-orang lain tiap hari minggu nonton kartun, main game, pacaran, nah kita kurang kerjaan mulai dari jam 10 pagi sampai magrib, bahkan kadang lebih lama juga, kita di sekolah aja, debat bahasa Inggris. Selama 3 tahun di SMA, itu aja yang kita lakuin, dan hasilnya lumayan banget ketimbang teman-teman yang belajar formal di kelas saja. Saat kuliah juga ada mentor Deedee di XLFL yang keren parah, saya belajar banyak dari beliau, komunikasi, leadership, presentasi, dan banyak hal lainnya. Selain itu juga ada Anne Ahira, ini mentor belajar digital marketing, dari dialah saya banyak belajar tentang web development, promosi internet, social media marketing, dan banyak hal lainnya. Di AI ini, saya ketemu sama om-om namanya Jeremy Howard, duh sumpah omnya keren parah, langsung deh mendedikasikan diri belajar dari beliau.  Kalau SMA kontak sama mentornya langsung ketemu tiap minggu, personal, muridnya cuma dikit, paling cuma 10 orang saja yang belajar debat bahasa Inggris. Sama Deedee mulai agak lebih banyak, satu kelas, 20 orang apa kalo gag salah, sama Anne Ahira udah goes online, ketemu sesekali saja di forum offlinenya, begitu juga yang AI dari Jeremy Howard, ikutan yang online saja, walau ini lagi coba daftar Fastai International Fellowship, biar official jadi muridnya om Jeremy dan diajar langsung oleh beliau, wish me luck!

2. Cari komunitas keren

Carilah orang-orang yang seiman dan setakwa ketika belajar sesuatu yang baru, sehingga kita bisa lebih konsisten untuk menjalaninya. Dan biasanya, biasanya lho ya, gag selalu, mentor yang bagus akan membentuk komunitas yang keren pula. Case kak Rizky kita komunitas namanya Mahoni Debating Society (MDS), sampai sekarang masih aktif, dan kita saling kenal baik senior maupun juniornya, senior setahun diatas saya udah 2 orang yang dapat LPDP, satu udah di US LPDPnya. Junior setahun dibawah saya ada 1 yang udah dapat Stuned ke Belanda. Dan hal ini bukan hal yang sering terjadi di SMA 2 yang hitungannya masih di kampung, haha. Case Deedee, XLFL sendiri komunitas yang masih kontak-kontakan, walau kami sudah cukup lama lulusnya, anak-anaknya seru parah, lomba di Bali kemarin itu berkat anak-anak XLFL sekelas saya juga. Anne Ahira komunitasnya di Asianbrain, banyak bapak-bapak sama Ibu-ibu sih, jadi saya gag begitu nyambung sebenarnya, haha. Dan di fastai Jeremy, kita ada forumnya, gag tau personal, makanya ini coba gabung di International Fellowshipnya, biar pada kenal dan lebih komitmen.

3. Praktek

Bikin project, ada ide apa, hajar langsung kerjain. Entah itu lomba machine learning di Kaggle.com, atau drivendata.org (kemarin sempat ikutan https://www.drivendata.org/competitions/50/worldbank-poverty-prediction buat predict mana orang miskin mana yang nggak, dari model simple hasil belajar dari Jeremy bisa sampe ke top 20% terbaik, eh kaco, inilah pentingnya punya mentor, jadi proses belajarnya lebih efisien), bikin paper, bikin jurnal, AI itu luas banget, masalah yang bisa diselesaikan ada banyak banget, salah satunya jurnal yang saya coba kerjain sama pacar sendiri selama kita liburan di Bengkulu, melibatkan Profnya dia juga, yakni make Random Forest untuk Predict Determinant of Indonesia Export, jadi kita coba prediksi besarnya ekspor Indonesia ke target 189 negara di seluruh duniapartner trading Indonesia. Dan ini belum ada yang bikin sebelumnya, di Finance, apalagi Indonesia, belum ada yang coba analisis langsung data 189 negara sekaligus, kebanyakan datanya, banyak missing value juga, model forecastnya gag bakal stabil. Dan memang itulah yang terjadi ketika si doi make metode biasanya di Stata, tools standard untuk anak-anak Finance. Tapi jelek banget hasil R-square nya, modelnya jelek parah. Saya bilang, ya sudah coba solve pake machine learning, masukin data-datanya, train modelnya, eh gag pake lama langsung dapat hasilnya, dan bagus banget R-squarenya, bisa sampe 97%. Kita coba bkin draft jurnalnya, kasih ke dosen doi, dan dia setuju bahwa hasilnya bagus, dan dia coba submit ke jurnal, karena dia yang bertindak sebagai corresponding author, yeay, mudah-mudahan lancar. Dan semua ini kita lakukan dalam jangka 1 bulan liburan, di bulan Februari ini.

Dah itu saja rasanya, saran saya buat kamu yang mau belajar AI. Dedikasikan saja waktumu, mudah-mudahan bakal payoff di kemudian hari. Heh berdasarkan pengalaman pasti bakal payoff semua kok, belajar apapun itu, tapi emang mesti lihat belajar mana yang “paling” payoff. Cek trend di kemudian hari, para orang-orang pintar bilang apa yang dibutuhkan nanti di masa mendatang, ya sudah itu yang kamu kerjain aja. Yakin aja, sama kayak saya yakin-yakin aja kalo emang AI bakal banyak dibutuhkan nantinya, hehe.

Ya sudah, sudah mau boarding ini pesawat saya, sampai ketemu lagi di blogpost selanjutnya, salam pendidikan gratisan!

15th Month, Journey to Become Artificial Intelligence Computer Scientist

Eaaa, judulnya gaya banget, padahal aslinya nggak sama sekali, baca deh sampe akhir buat yang penasaran apa itu artificial intelligence, bidang yang sedang banyak banget dibahas saat ini, dan mulai kelihatan muncul gerakan-gerakan belajar AI di Indonesia, yang sepertinya (sepertinya lho ya) baru kelihatan di kota-kota besar Indonesia saja, seperti Jakarta, Bandung, Yogya dan Surabaya. Padahal bidang ini menjanjikan banget ke depannya, dan selayaknya semua orang belajar mengenai hal ini, gag cuma yang belajar dan kerja di bidang IT aja, karena nantinya AI akan memasuki semua bidang, yep, semua bidang, mulai dari ekonomi, kesehatan, pertanian, keamanan, pendidikan, dan lainnya. Sama seperti internet, AI diyakini sebagai general technology yang akan membentuk masa depan.

Perkenalan saya dengan AI dimulai tahun lalu, tepatnya pada kelas big data algorithm, di kelas itu saya kenal dengan seorang siswa Phd yang asalnya dari Pakistan. Dia cerita mengenai machine learning dan Tensorflow, mulai dari sana saya tertarik untuk belajar tentang machine learning, ambil kelas online Andrew Ng (dulunya Prof di Stanford Univ, founder Coursera, former head Google Brain/Baidu AI)  di Coursera (berikut linknya: https://www.coursera.org/learn/machine-learning), dan ambil kelas formal machine learning di kampus di semester 2. Nggak daftar formal, karena kelasnya sudah penuh, cuma datang-datang aja ke kelas, dan kelasnya super rame, sampe banyak siswa yang berdiri di dalam kelas, satu departemen computer science tertarik untuk belajar machine learning semua. Tamat kelas online Andrew Ng dan setengah jalan kelas formal, saya ikut kelas online Convolutional Neural Network for Visual Recognition dari Stanford University juga (linknya disini  https://www.youtube.com/playlist?list=PL3FW7Lu3i5JvHM8ljYj-zLfQRF3EO8sYv).
Setengah jalan ikut kelas Visual Recognition dari Stanford, Ika ngajakin ikut lomba Telkom Socio Digi Leaders, kita ikutan, ajak Irfan juga, brainstrom, nemulah ide Kancatani, yang salah satu fungsinya adalah mendeteksi hama padi dan penyakitnya dengan menggunakan visual recognition. (cek video kita disini https://www.youtube.com/watch?v=zHR0D7Feexs)
Modelnya baru saja kelar saya riset, dan akan saya presentasikan di International Conference on Mathematics and Artificial Intelligence, Chengdu, China April nanti 🙂

acceptance letter conference

Di lomba Telkom SDL kita nggak menang, dapat 10 besar saja, tapi dapat tiket balik ke Indonesia gratis, ke Bali juga, akomodasi semua ditanggung, dan dapat uang jajan juga.

See, that’s not hard right?
Lakukan aja langkah-langkah yang sudah saya lakukan, ambil kelas online, ikuti lomba atau medium praktek lainnya, dan kalau mau tulis praktek yang kamu lakukan dalam bentuk paper, submit ke conference atau jurnal yang relevan, dan ulangi terus proses ini sebanyak yang kamu suka, atau sampe benar-benar paham mengenai AI.

Karena Indonesia butuh kita bro sist, Artificial Intelligence bakal dibutuhkan banyak untuk negara kita, dan di semua bidang, gag peduli saat ini bidang pekerjaan atau studimu apapun juga. Dunia udah lama gerak cepat (Alexnet 2012, bisa dibilang awal modern AI & deep learning), Amerika yang leading nomor 1, selalu, kita semua tahu itu. Eropa yang selanjutnya, agak gag fair juga karena Eropa sekumpulan negara, tapi okelah kita anggap mereka yang selanjutnya, Eropa luar biasa usaha yang dilakukan untuk Artificial Intelligence. Dan selanjutnya ada China, wah saya mesti kasih tahu ini karena banyak banget yang gag tahu, Maret 2016 (udah nyaris 2 tahun lalu) saat AlphaGo versus Lee Sedol di Seoul, dan Lee Sedol kalah 4-1, tayangan live-nya ditonton oleh 60.000.000 warga China doang, yep, CHINA doang itu ada 60.000.000 orang yang nonton. Untuk perbandingan, estimasi hanya ada 20.000.000 dari seluruh dunia yang menonton siaran live-nya. Go merupakan board game tertua di dunia yang terus dimainkan hingga saat ini, asalnya dari China dan usianya sekitar 3.000 tahun, populer di China, Jepang dan Korea Selatan. Itu 60.000.000 orang yang nonton 2 tahun lalu, cuma sebagian kecil banget yang pernah denger apa itu AI, dalam waktu seminggu (masa pertandingan AlphaGo versus Lee Sedol) 60.000.000 orang ini membicarakan tentang AI, satu negara membicarakan bidang ini, semua Universitas, lembaga Pemerintah, kantor-kantor BUMN dan Perusahaan Swasta mulai membicarakan hal ini. 60.000.000 orang itu banyak banget lho, itu nyaris seperempatnya warga Indonesia. Dan Xi Jinping memprioritaskan AI dalam pembangunan China di masa depan dalam Kongres Partai Komunis beberapa waktu lalu. Mari kita lihat eksekusi pemerintah di bidang AI, sejauh ini eksekusi pemerintah di bidang renewable energy (cek deh 3 gorges dam & xinjiang wind farm, both the biggest in their respective field) serta bidang transportasi (cek deh jaringan kereta cepat terpanjang di dunia) sangat keren menurut saya pribadi.

Kemudian dimana posisi Indonesia di dunia dalam bidang AI? negara yang memiliki penduduk nomor 4 terbesar di dunia. China populasi nomor 1 bisa bangga dengan berbagai pencapaiannya, termasuk berbagai orang top di bidang AI, sebut saja Angrew Ng (itu udah disebut profilnya diatas), Fei Fei Li (Prof Stanford, yang bikin Imagenet database dan kelas Conv Net diatas linknya, saat ini baru ditunjuk jadi head Google AI Lab di Beijing, China), Aja Huang (dari Taiwan sih, saya ambil posisi pemerintah China aja yang bilang kalo Taiwan provinsi di China, haha. Beliau tim DeepMind, ada profilnya di film dokumenter AlphaGo, dokumenter ini keren parah, wajib nonton, di Netflix ada, kalau mau torrent juga ada di situs-situs pirate seperti link ini https://rarbg.is/torrent/id9v4bq), dan lainnya. India bisa bangga dengan engineer IT-nya yang bejibun banyaknya, saya gag banyak tahu profilnya karena gag di India juga, namun semua orang tahu pasti CEO Google om Sundar Pichai dan Satya Nadella yang keduanya dari India. Amerika, best of the best, banyak banget kalo dari Amerika mah, mudah-mudahan nanti bisa lanjut sekolah kesana. Dan kemudian negara terbesar keempat di dunia, Indonesia, jeng jeng jeng. Saya tahu bahwa ada beberapa perusahaan yang mengaplikasikan AI di Indonesia, diantaranya kata.ai (bidang Natural Language Processing, NLP), snapcart.global (Image Recognition) dan banyak perusahaan lain di analisa data dan forecast. Dengan populasi sebanyak 261 juta orang, dan banyak juga yang berada di berbagai belahan dunia, banyak warga Indonesia yang di Amerika, Eropa, Australia, Jepang, Korea, China, dan berbagai negara lainnya. Juga kita punya ratusan Universitas di Indonesia, baik universitas negeri maupun swasta. Saya yakin kita masih bisa melakukan banyak hal di bidang AI, toh juga implementasi AI pada akhirnya sangat spesifik di field masing-masing dan negara masing-masing, yakin deh gag ada perusahaan startup dari Amerika atau China dalam waktu dekat yang sanggup saingan sama Kata.ai untuk NLP Bahasa Indonesia (atau mungkinkah???).

Beberapa bulan lalu sempat denger kalo tim dari Indonesia yang menang Microsoft Imagine Cup, dan menang di regional Asean bawa metode machine learning untuk deteksi hoax. tebak dari Universitas mana? ITB, darimana lagi. Klasik, best of the best, ekslusif, yang paling pintar, dosen terbaik, prestasi terbanyak, kesempatan kerja terbaik, dikumpukan di 3 Universitas terbesar di Indonesia, UI, ITB & UGM. Menurut saya, mereka yang berhasil masuk di Univ-univ top menikmati satu hal penting yang tidak dinikmati oleh yang lain, apa itu?
Informasi.
Sepenting apakah informasi?

Coba perhatikan hal berikut

Anggaplah kamu saat ini sedang ikut acara TV show di MetroTV, dihadapkan dengan 3 pilihan pintu. Salah satu dari pintu ini membuka hadiah mobil Tesla model S, sementara 2 lainnya hanya berisi kambing. Anggaplah kamu memilih pintu nomor 1, si host kemudian (yang tahu isi di belakang masing-masing pintu) membuka pintu nomor 3, yang dia tahu berisi kambing. Dan dia akan bertanya padamu, kamu masih mau tetap di pilihan awalmu di nomor 1 atau pindah ke nomor 2?
Pilihanmu? tetap nomor 1? atau pindah nomor 2?

Jika kamu tetap di nomor 1, kemungkinan dipintu tersebut ada mobil hanya 33%.
Namun kalau kamu memilih pindah ke pintu nomor 2, kemungkinannya menjadi 66%.
Bingung kok bisa? cek di google Monty hall problem.
Paradox ini menggambarkan betapa informasi, tepatnya curated information bisa membuat kemungkinan mendapat hadiah yang dalam hal diatas berupa mobil, dalam kenyataannya bisa jadi pekerjaan dengan gaji oke, beasiswa pendidikan lanjut, dll, bisa menjadi 2x lipat.
Saran saya saat ini kalau kamu masih SMA, targetin masuk Univ-Univ top Indonesia, kalau bisa dunia.
Begitu juga untuk lanjut S2 mapun S3 nantinya, targetin masuk Univ top.
Apakah saya awalnya dulu S1 Univ top, nggak, tapi saya merasakan beratnya mendapat kesempatan yang sama dengan tetangga kampus top. Terus apakah masuk Univ top juga menjamin? nggak juga, sekali lagi itu cuma melipatgandakan kesempatan, kalau pake contoh diatas, setelah pindah ke pintu 2 yang memiliki kesempatan 66% bisa jadi juga di pintu 2 yang keluar adalah kambing, bukannya mobil. Sekali lagi, ini cuma tentang kemungkinan, bahasa kerennya probabilitas.

Nah kemudian kalau sudah usaha, dapat kampus non-top, udah usaha sepenuh tenaga, tapi masih gag dapat juga, namun saya mau banget belajar Artificial Intelligence, apa yang bisa saya lakukan?
1. Siap-siap kurangi jam tidur (orang lain udah pada berapa tahun lebih awal darimu, masih bisa nyenyak tidur mikir ketertinggalan?)
2. Belajar bahasa Inggris (wajib fasih, minimal bisa baca blog bahasa Inggris dan buku bahasa Inggris)
3. Cari cara untuk koneksi internet (wifi kampus kek, warnet kek, bujuk ortu langganan internet di rumah kek)
4. Akses web www.fastai.com (mereka require 1 tahun pengalaman coding? belum punya pengalaman coding 1 tahun, belajar dulu coding, saran saya belajar Python & bashnya Linux)
5. Udah belajar coding, balik lagi ke www.fast.ai, akses juga materi-materi online berikut
https://www.youtube.com/playlist?list=PL3FW7Lu3i5JvHM8ljYj-zLfQRF3EO8sYv (fokus di Image)
https://www.youtube.com/playlist?list=PL3FW7Lu3i5Jsnh1rnUwq_TcylNr7EkRe6 (fokus di NLP)
http://www0.cs.ucl.ac.uk/staff/d.silver/web/Teaching.html (fokus di Reinforced Learning)
Mulai pusing? bagus, berarti udah pas kecepatan belajarnya, belum pusing? tambah lagi materi belajarnya.
Sesekali pahami teori dibelakang Artificial Intelligence, linear algebranya seperti apa, operasi matriks seperti apa saja. Pahami hardware di belakang AI ada apa saja, CUDA itu apa, mengapa orang-orang cuma pake Nvidia GPU graphic card, versi GPU mana yang cocok di budgetmu sama kebutuhan praktek. Gimana best practice deploy deep learning make cloud yang scalable. Baca-baca paper mengenai deep learning, AI, Machine Learning, semua bebas online di www.arxiv.org dan cek google scholar. Kemudian praktekkan yang udah kamu pelajari, bikin project yang menarik minatmu, idenya apa? cari sendiri, ada banyak banget! Kurang kreatif, join www.kaggle.com, ikuti kompetisi baik yang sedang jalan maupun yang udah lewat. Kemudian cari komunitas seiman dan setakwa, di forum.fast.ai rame banget, seru. Kalau kamu kebetulan di Jakarta, wajib ikutan https://www.meetup.com/AI-Saturdays-Jakarta/ yang diinisiasi oleh anak Singapura dan di Indonesia dibawakan oleh tim Gojek. Kebetulan di kota lain? inisiasi bareng teman-temanmu, isi form di https://nurture.ai/ai-saturdays. Nah kalau kebetulan lagi iseng dan ada waktu, nulis paper please entah di conference atau jurnal yang terindeks Scopus, pake bahasa Inggris. Malu ini kita akademisi Indonesia kalo dibandingkan dengan negara-negara tetangga karya tulis internasionalnya dikit banget. Saya juga baru mulai kok, baru coba-coba juga, Inggris saya masih kaco parah banget kok, tapi mulai aja, partisipasi minimal.
Dan mudah-mudahan tahun depan kita bisa lihat lebih banyak anak-anak Indonesia yang proficient di bidang AI secara khusus, dan IT secara general, amin.

Salam pendidikan gratisan!
Notes: Kalaupun kamu yang baca gag ada minat sedikitpun di bidang AI, please banget berikan ke temanmu yang kamu tahu bakal tertarik di bidang ini. Indonesia butuh sebanyak mungkin orang yang ngerti AI dalam tahun-tahun ke depan, please, bantu Indonesia 🙂