Proposal seperti apa yang biasanya diterima oleh perusahaan?

So, sekitar bulan lalu, atau mungkin 2 bulan lalu, saya memberikan informasi yang hanya saya share di group XLFL batch 3, mengenai OPPO menerima proposal sponsorship di kampus-kampus Indonesia. Hanya saya share ke mereka karena menurut saya, mereka merupakan mahasiswa-mahasiswa yang cukup berpengaruh di kampusnya masing-masing, sehingga cukup mengenal HIMA atau BEM yang mengadakan kegiatan di kampus masing-masing.

Well, ternyata saya salah, mereka bukan masiswa yang “cukup berpengaruh”, tetapi “sangatttt berpengaruh”, so the message went viral, out of control. Email inbox overload, request ke pihak hosting untuk upgrade space, dikabulin, selang 2 hari udah overload lagi, dammnnn, request dispensasi extra big space for limited time, approved by hosting, karena udah langganan kali ya.

Gag semua email bisa saya respons, banyak sekali email proposal yang nyeleneh, gag nyambung, bukan dari mahasiswa, dari SMA, SMP, yayasan, bahkan ormas (what???)

Banyak juga dari mahasiswa, dari berbagai Universitas di Indonesia, banyak yang saya reject, ada yang saya beritahu, kebanyakan nggak sempat saya kasih tahu, karena workload di kantor lagi ngaco-ngaconya.

Banyak juga yang saya keep, baik karena timing yang belum fix, maupun butuh diskusi lebih lanjut baik dengan internal perusahaan maupun pihak penyelenggara.

Sebagai fresh grad, yang masih rasa-rasa mahasiswa (cieee), dimana dulu juga sering bikin proposal dan ngajuin ke beberapa perusahaan, berikut hal-hal yang bisa saya share kepada rekan-rekan mahasiswa sebagai concern  sebelum ngirim proposal apapun itu ke perusahaan.

 

1. Tangan di bawah vs Jabat Tangan

2 tahun lalu mungkin, saat ngajuin proposal kegiatan booktalk, pernah ngobrol bareng manager corpcomnya XL, dia bilang

“Proposal yang saya terima dari mahasiswa, kebanyakan begini (sambil menadahkan tangan kirinya) sama perusahaan, sementara yang kita butuhkan dari mereka adalah yang begini (sambil memberikan tangan kanannya untuk jabat tangan).”

Saat itu saya masih mikir-mikir, ini maksudnya apa ya bahwa kita Tangan di Bawah, sementara yang dia harapkan Jabat Tangan, dan bagaimana itu om-om bisa melihat mana “Tangan di Bawah” dan mana “Jabat Tangan” tanpa melihat tangan siapapun, dalam artian, dia hanya memegang hardcopy proposal, atau membaca email proposal.

Saat ini, setelah mereview ratusan proposal, saya baru paham apa maksudnya.

Mostly, proposal dari mahasiswa banyak bercerita tentang apa event mereka, siapa mereka, latar belakang mengapa mereka melakukan event tersebut, begitu panjang lebar, kemudian baru masuk ke budget event, lalu tentang paket sponsorship dan benefit untuk perusahaan.

Intinya adalah, proposal ini kebanyakan “Tangan di Bawah” untuk memenuhi kebutuhan mereka atas budgeting. Dengan sedikit pembahasan mengenai apa keuntungan bagi perusahaan atau institusi yang bersangkutan. Dengan perbandingan 8 halaman tentang mereka sendiri (which is company don’t care at all, seriously) baru 2 halaman tentang keuntungan bagi perusahaan (which is company CAARREEE SOOOO MUUCCHHHH). Tentunya hal ini hanya berlaku untuk kasus umum, bukannya ketika ada orang tua mahasiswa di perusahaan bersangkutan, itu mah sponsorship jalur khusus, hehe.

Kalau bisa, mulai ubah konsep proposal sponsorship yang kalian ajukan, dibalik formatnya, 8 halaman benefit untuk perusahaan dan 2 halaman tentang acaranya kapan, dimana, tentang apa, berapa audience & exposurenya, dokumentasi event kalau ada. Atau formatnya 5 halaman : 5 halaman deh, biar adil, itu juga udah cukup “Jabat Tangan” menurut standar perusahaan.

 

2. Proposal keren & stylish vs proposal print & jilid

Well, ehm, gimana ya bilangnya, sebenarnya perusahaan gag begitu peduli lho proposal kalian keren & stylish atau proposal biasa saja, mungkin saat mahasiswa dulu saya mikir, kalau saya bikin proposal yang keren, stylish, maka perusahaan akan terkagum-kagum, salut dan percaya bahwa kegiatan kami memang keren, sehingga layak untuk mendapat sponsorship dari mereka.

But then setelah diperusahaan, concern saya berubah, kegiatan “keren” menurut perusahaan itu ternyata indikatornya tidak pernah ada tampilan proposalnya. Tapi lebih kepada berapa besar exposurenya, cocok atau tidak tema dan kegiatannya, seberapa besar kampusnya, masuk list 100 kampus top atau tidak (saya pake list ini http://bit.ly/1g18LpM), kalaupun masuk ada di peringkat berapa, di provinsi itu sendiri apakah termasuk yang favorit, bagaimana exposure brand di provinsi yang bersangkutan, apakah sudah ada kegiatan brand di provinsi yang bersangkutan atau belum, kalendernya cocok atau tidak dengan planning brand, dan beberapa indikator lainnya.

But then, personally saya suka dengan proposal yang “usable”, seperti dari Telkom University berikut, proposalnya keren, ada kalender dibaliknya, kebetulan belum ada kalender di meja saya, maklum anak baru, dan kalaupun sudah ada saya yakin akan saya berikan ke siapa kek, keren soalnya. Apakah akan saya terima? Hmm, masih ada beberapa concern sih, tapi yang jelas, saya akan terus ingat sama Telkom University, dan entah dengan satu atau dua cara akan saya “bayarin” kalender meja dari mereka.

IMAG2534IMAG2535

3. Hard copy proposal vs soft copy proposal

Saya pribadi prefer hardcopy sebenarnya, karena lebih enak enak megangnya, lebih cepat reviewnya, lebih gampang kalaupun jadi dan minta persetujuan dari brand manager.

Tapi memang concern di mahasiswa adalah budgeting, sehingga mengirim softcopy proposal dirasakan sebagai opsi yang paling enak untuk dilakukan, yah, okelah, saya juga baca kok softcopy proposal, namun dalam durasi yang lebih lama ketimbang hard-copy, karena email2 kerjaan lah yang pertama kali saya baca, softcopy proposal baru saya baca ketika ada alokasi waktu untuk hal itu.

Dan mohon banget perhatikan hal-hal berikut ketika mengirim proposal via softcopy

1. Jangan lupa lampirannya

1.Jangan lupa lampiran
1.Jangan lupa lampiran

 

2. Jangan kirim massal please, kan gag enak lihat di recepientnya ada banyak perusahaan-perusahaan lainnya

2.Jangan penerima massal
2.Jangan penerima massal

 

3. Isi email to the point, apa? kapan? dimana? siapa?

3. Isi email langsung dan deskriptif, lengkap
3. Isi email langsung dan deskriptif, lengkap

 

4. nama file attachment pake format please, jangan cuma “proposal” atau hal general lainnya, saat review sekilas jadi bingung, begitu juga pas nyarinya kembali. kalau bisa penamaannya seperti proposal dari Universitas Brawijaya, atau UNIB, ada nama Universitas, nama event, nama provinsi dan bulan apa acaranya.

4. Penamaan File, jangan proposal atau proposal sponsorship
4. Penamaan File, jangan proposal atau proposal sponsorship

 

5. Kenal orang dalam vs gag kenal siapa-siapa

Well, ini gag banyak pengaruh sih sebenarnya, hanya mempermudah proposal sampai, penjelasannya seperti apa, dan follow up-nya bagaimana, sudah, titik. Sisanya adalah bagaimana kegiatan itu sendiri, budget plannya cocok atau nggak, kalendernya cocok atau nggak, dan berbagai pertimbangan lainnya.

 

At the end, gag semua proposal yang dikirim lantas diterima dan didanai oleh perusahaan.
Banyak bahkan tidak sempat untuk diresponse (I still working on system to make every proposal are reviewed, decided and responsed in short time, that’s big work actually, and not simple at all).

 

Dan sejauh 2 bulan lebih dikit saya disini, OPPO sudah sponsorin

1. Workshop FT Universitas Gunadarma, untuk workshop IT

2. Event seni budaya sekolah vokasi UGM, Yogyakarta

3. D’preneur Surabaya, bersama detik.com, audience 1500, mayoritas mahasiswa Surabaya

4. Innovation Idea Competition dari OPPO Campus Club, yang anggotanya dari berbagai Universitas di Jabodetabek, idea.oppomobile.co.id

 

Serta saya masih review banyak proposal kegiatan dan pihak yang bisa bekerjasama untuk kegiatan-kegiatan di kampus, hingga bulan-bulan kedepannya.

Mengapa saya share hal ini? yah, saya harap anda para mahasiswa mengerti bagaimana kebutuhan kami (orang perusahaan yang terima dan review kegiatan kampus) untuk “Jabat Tangan”, sehingga anda bisa menawarkan “Jabat Tangan” yang perusahaan butuhkan. Percayalah, kampus selamanya akan menarik bagi perusahaan, tinggal bagaimana cara kalian mengemasnya dan menawarkan jabat tangan ke pihak-pihak yang dirasakan cocok dengan kegiatan tersebut. Karena aslinya saling membutuhkan kok antara perusahaan dengan kampus, tinggal bagaimana format komunikasinya yang disamakan aja lagi. Happy hunting proposal guys!

Kalau mau tahu gimana hunting Danus, Dana Usaha, sehingga ada opsi lain mengumpukan dana untuk acara, bisa dicek di blog cewe ini, caranya kreatif untuk mencari danus hingga puluhan juta, sehingga acara HIMA nya tidak perlu cari sponsor lagi http://gelangdanus.blogspot.co.id/

Dan Berhubung banyak yang request sample proposal yang “Jabat Tangan” seperti apa, berikut rekomendasi saya, saya share atas persetujuan panitia. Dan tentunya saya approve dan sponsorin mereka saat saya masih di OPPO. (Saat ini saya sudah resign, mau lanjut sekolah)

Link download via Google Drive, klik di kanan atas, ada button Donwload/Unduh

https://drive.google.com/file/d/0B7AaQPahuTeUWXYxaWtfdEh2cm8/view?pref=2&pli=1

Apa Pendapat Orang tentang Saya, Pada Awal Pertemuan Sebelum Saling Kenal

Ahmad Arib First Impression

Sabtu, tanggal 12 April 2014, saya menghadiri gathering perdana Agent of Wisdom di Andrie Wongso Learning Center, APL Tower lantai 18, persis di sebelah Central Park. 50 pemuda terpilih dari seluruh Jabodetabek akan mendapatkan pelatihan langsung dari Andrie Wongso, motivator terkemuka di Indonesia. Pada pertemuan perdana ini kami belum bertemu dengan Pak Andrie Wongso, namun sudah hadir di tengah-tengah kami Ibu Leni Wongso, istri dari Pak Andrie Wongso. Beliau menjelaskan betapa beruntungnya kami mendapatkan sesi pelatihan ini, juga agar kami dapat memanfaatkan sepenuhnya kesempatan yang didapatkan kali ini. Ibu Leni menjelaskan tidak mudah bagi seorang mahasiswa biasa seperti kami mendapatkan pelatihan langsung face to face oleh Andrie Wongso secara cuma-cuma.

Dipandu oleh Recca, gathering kali ini diisi dengan berbagai penjelasan mengenai Term of Condition dan Rule yang berlaku selama pelatihan bersama Pak Andrie Wongso untuk 6 bulan kedepan, dalam 12 sesi pertemuan. Selanjutnya ada tugas untuk menjawab 20 pertanyaan tentang “Who Am I”, jadi di kertas A4 yang bertuliskan

I am —————————————

Sebanyak 20 entri yang mesti kami isi semuanya, hal ini untuk melihat seperti apa kami melihat diri sendiri.

Sesi selanjutnya sangat seru dan juga menyenangkan, yakni sebuah game bertemakan My First Impression. Jadi dalam game ini, setiap orang akan ditempelkan kertas kosong di punggungnya, kemudian kami akan berkeliling untuk berkenalan secara cepat kepada setiap orang baru di ruangan yang sebelumnya belum saling kenal. Setelah kenalan dalam waktu singkat, kami akan menuliskan kesan pertama yang dilihat dari orang tersebut di punggungnya.
Dan berikut kesan-kesan pertama yang orang lain lihat dari diri saya

Ahmad Arib First Impression
Ahmad Arib First Impression

Jadi senyum-senyum sendiri melihat apa yang orang lain pikirkan, satu kata pertama yang terlintas di benak orang yang pertama kali bertemu dan berkenalan dengan saya. Dan memang inilah diri saya yang terlihat sehari-hari, seperti ramah, friendly, baik, semangat, sopan, cool, hehe. Melalui permainan ini, saya lebih menyadari betapa pembawaan diri sehari-hari mulai dari tatapan mata, jabat tangan, senyuman, dan pilihan kata akan membentuk first impression dari diri kita terhadap orang lain.
Dan first impression inilah yang nantinya akan berlanjut ke banyak hal, mungkin perkenalan lebih lanjut, obrolan yang lebih jauh, dan banyak hal lainnya. Karena tidak dipungkiri, sangat sering terjadi ketika kita hanya memiliki sedikit waktu untuk berkenalan dengan orang lain, dan bagaimana caranya kita bisa meninggalkan kesan pertama yang bagus sehingga dapat membentuk hubungan relasional yang baik di kemudian hari.

Sekian dari saya, terima kasih.

Ahmad Arib Alfarisy

Agent of Wisdom, Andrie Wongso Learning Center

Meet the CEO, Learn Together with StudentsxCEOs

StudentsxCEOs
CEO Meeting bareng Pak Hasnul Suhaimi
CEO Meeting bareng Pak Hasnul Suhaimi

Dulu, duluuuu banget, kalau melihat perusahaan besar itu pasti salut dengan orang-orang di belakangnya, terutama CEO-nya, bagaimana bisa dia mengelola perusahaan dan mengarahkannya menjadi lebih baik lagi kedepannya. Keren ya nggak sih, menjadi CEO sebuah perusahaan yang dikenal oleh banyak orang, well, walau memang bukan hal itu yang menjadi tujuan dari banyak CEO yang kami temui. Lagian waktu dulu, rasanya gag mungkin banget deh bisa jadi CEO, mesti dari keluarga yang terlanjur kaya, punya pendidikan super, otaknya jenius bukan main, dan sebagainya. Rasanya udah seperti manusia super deh CEO-CEO perusahaan besar itu. Serta sulit dijangkau juga rasanya, mesti jadi GM dulu baru ketemu CEO, mesti jadi pejabat dulu baru jadi CEO, mesti pacarin anaknya dulu baru jadi CEO, haha.

Well, that’s not true guys, CEO itu manusia juga kok, mereka juga ada yang mulai dari seseorang yang biasa-biasa aja, ada juga yang memang dari keluarga kaya raya, ada yang dari luar negeri, dan ada juga yang wanita. Dengan berbagai background yang benar-benar manusiawi, dulunya pun sama seperti teman-teman yang saya temui saat ini. Namun hal apakah yang membuat mereka maju menjadi yang terdepan, yang tertinggi, yang terhebat di perusahaan tersebut ?
Ada banyak hal, ada banyak pelajaran, ada banyak value yang diberikan oleh mereka, untuk pemuda-pemuda yang pada dasarnya akan menjadi pemimpin juga nantinya, menggantikan mereka yang akan mangkat. Apakah pembelajaran dari mereka akan memastikan kami yang belajar dari mereka jadi CEO juga kedepannya? Belum tentu.

Tapi setidaknya, kami telah mendengar langsung step by step bagaimana mereka menjadi pimpinan tertinggi. Kami telah belajar dari berbagai CEO dengan berbagai background, pembelajaran dan pemahaman inilah yang nantinya bisa kami gunakan untuk percepatan posisi leadership kedepannya. Tentu ini merupakan pengalaman yang sangat berharga.

Selain itu, bertemu dengan CEO di ruangan meeting kantor pusat mereka, dengan 14 future business leader lainnya, tentu menjadi pengalaman yang berbeda ketimbang menjadi salah satu dari ratusan peserta seminar dengan pembicara CEO. You will know them personally, and if you’re good enough, they will know you personally. CEO tahu nama kamu ? Yang masih mahasiswa gaje ? Yang bajunya aja belum disterika ? Yang sepatunya gag pernah dicuci ? Yang bukan siapa-siapa ? THAT’S POSSIBLE GUYS!
Saya bohong ? Gag lah ! Mau bukti, No Pict = HOAX,  iya nih ada buktinya.

Booktalk Everyone Can Lead
Booktalk Everyone Can Lead

Nah tuh fotonya, ada Pak Hasnul Suhaimi, CEO XL Axiata Tbk, Mas Syafiq Pontoh, dan saya di sebelah kanan. Itu lagi booktalk, membahas leaderships, kebetulan Pak Hasnul baru publish buku “Everyone Can Lead”, saya juga ada publish buku, anak XL FL juga, juga pernah ketemu di kantornya saat sesi sharing bareng StudentsxCEOs, makanya diajakin sharing bareng sebagai perwakilan dari pemuda.

Itu dari CEOnya, kalau dari teman-teman saya sendiri juga luar biasa semua, kita saling sharing, saling bantu, dan sering ketemu juga di kegiatan lainnya. Ada yang ikut Unilever Leaders League, ada Danamon Youth Leader Award, di Nutrifood Leadership Award juga ada, kemudian di XL Future Leaders juga ada. Ini jadi networking yang berharga banget.

So, saya benar-benar recommend kamu untuk join di komunitas ini, bisa diisi formnya, yang essay gag usah panjang-panjang, yang penting menjawab tema dan menggambarkan dirimu saja. Linknya bisa dicek disini
StudentsxCEOs Recruitment

Mulai Melihat ke Samping, Berhenti Melihat dan Menggapai ke Atas

Hunting Kuliner

Seringkali, saya berpikir bahwa mereka yang saat ini berada di top position yang bisa membantu hidup saya menjadi lebih baik, menjadi lebih hebat, menjadi lebih bermakna. Sehingga setahun belakangan, saya aktif di berbagai aktivitas yang mampu membawa saya ke hadapan orang-orang yang saat ini berada di top position. CEO, Direktur, Ketua lembaga, ketua institusi, kepala pemerintahan, dan sederet posisi lainnya yang wah.

Sebuah kebanggaan rasanya bisa duduk bersama mereka, ngobrol, bahkan hingga mereka mengenal saya, benar-benar menyenangkan rasanya, saat itu. Tapi setelah waktu berlalu, entah mengapa saya merasa bahwa hal ini tidak terlalu membantu hidup dan kehidupan saya. Kehadiran mereka tidak mengubah apapun dari kehidupan saya, malah ternyata keberadaan teman-teman yang berada di sekitar saya, yang bersama-sama menghabiskan waktu, tertawa bersama, capek bersama, makan bersama, ternyata yang lebih banyak membawa hal-hal positif.

Melalui catatan yang singkat ini, saya ingin bercerita satu hal sederhana, bahwa teman-teman yang anda miliki saat ini, yang sama-sama masih remaja, yang masih memimpikan hal-hal gila, yang untuk makan saja susah, yang ketawanya gag ditahan lagi, yang persis sama seperti anda, adalah hal paling berharga bagi hidup anda.

Mungkin keren dan hebat bisa mengenal dan dikenal CEO, tapi bukankah si CEO sudah punya banyak kenalan lain, coba lihat kembali siapa anda, hanya mahasiswa biasa dekil yang lain, apa untungnya bagi dia mengenal anda, kecuali kalau anda keponakannya, tentu kasus ini bisa jadi berbeda. Kasar emang rasanya saya mengatakan hal ini, tapi yah, inilah yang bisa saya sampaikan. Berhentilah melihat dan menggapai ke atas, mereka yang diatas sudah sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Mengapa tidak mulai melihat ke samping kiri dan kanan anda saat ini, ke wajah-wajah kucel teman-teman anda, yang rambutnya kadang kusut, yang kadang kuliah gag mandi pagi lagi, yang pake sepatu tapi gag pake kaos kaki. Tahukah anda, suatu saat nanti, ketika anda dewasa, mereka yang saat ini berada di top position pasti sudah tua, gag mungkin menjabat lagi, malah mungkin sudah banyak yang “lewat”. Dan tebak siapa yang akan menggantikan posisi mereka? Ya siapa yang tahu, mungkin orang luar negeri yang kerja di Indonesia, mungkin anak orang kaya lainnya, atau MUNGKIN saja teman anda yang kucel tadi, atau yang kuliah gag mandi pagi tadi, atau yang gag pake kaos kaki tadi, who knows?

I mean, ayolah, jika mau hitung-hitungan probabilitas dan Return of Investment (ROI) benefit antara berusaha dekat dengan mereka yang di top position dengan mereka yang saat ini berada di sekitar anda, I could say, it’s better to get more friends, trust me, I already did both of that.

Oke, sekarang kita tahu bahwa lebih penting untuk mendapatkan banyak teman, namun teman seperti apakah yang perlu kita “dapatkan” ? Hmm, tahukah anda bahwa dari 100 orang, hanya ada 3 sampai 5 orang yang benar-benar sukses nantinya, mereka yang berada di top position. Tapi sekarang dengan keadaan mereka yang masih gaje parah, gimana caranya mendeteksi mereka yang cuma 5% dapi populasi ini.

It’s hard actually, I have no idea how to identify them, mereka yang saat ini sukses punya seribu kisah, seribu alasan, seribu background, dan seribu karakter yang unik, dan masing-masing dari mereka sukses mencapai puncak. Tapi dibalik seribu perbedaan itu, satu hal sederhana yang tampaknya mereka miliki adalah bahwa mereka punya banyak teman, mereka punya jaringan networking yang bagus, dengan teman-teman yang luas, dari berbagai background yang berbeda-beda.

So indikatornya sudah dapat, yakni mereka yang punya banyak teman, dari berbagai background, adalah mereka yang punya “kemungkinan” untuk sukses diatas rata-rata. Next stepnya jadi lebih mudah, yakni mencari mereka, di wadah dimana mereka biasanya berkumpul. Wadah ini, bisa berbentuk komunitas, kompetisi, exchange, or whatever. Karena biasanya orang-orang ini punya keanehan untuk terus berkompetisi, berjuang, dan berkumpul dengan mereka yang setipe, yakni high achiever.

Perjuangan awal bisa jadi sangat sulit, namun begitu sudah berada di komunitas ini, jangan terkejut bahwa anda akan terus terbawa ke tempat lainnya, ke komunitas lainnya, ke kompetisi lainnya, ke event lainnya, anda temui lagi teman lama anda, atau anda temui teman baru yang mengenal teman anda, haha. Seriously, this happen too often. Dan pada akhirnya anda tidak sadar bahwa anda sudah berada di Inner circle, ketika semua yang anda kenal juga saling mengenal balik, ketika anda tahu bahwa semua yang berada di dalam Inner circle itu somehow sometime bakal jadi seseorang yang powerful, seseorang yang sukses di bidangnya. Inner circle tersebut tidak begitu besar rasanya, 5% dari populasi bukanlah angka yang besar.

Mungkin anda berpikir bahwa nanti sajalah membangun networking ini, bahwa bisa kapan-kapan saja mengenal orang lainnya, selesaikan saja kuliah dulu dengan baik-baik, nanti kerja baru urus urusan begini. Hmm, I would say that’s not really wise my friend. Masa remaja, ketika kita sama-sama makan nasi bungkus warung padang atau warteg, ketika masih sama-sama naik angkot dan metromini, adalah saat dimana pertemanan dan persahabatan tidak dihitung berdasarkan untung dan rugi. Kita dapat berteman dengan siapa saja, dan menggapai siapapun, tidak ada batasan, tidak ada kekakuan. Inilah saat yang tepat untuk mengembangkan pertemanan anda, seluas-luasnya. Karena ketika anda suda bekerja nanti, semua sudah dinilai berdasarkan untung dan rugi untuk setiap waktu yang orang lain habiskan bersama anda.

In the end, saya ingin menyampaikan hasil diskusi 7 orang calon potensial pemimpin masa depan, yang berasal dari background berbeda-beda, di atas rumput basah puncak Bogor yang sejuk, sambil menghabiskan nasi uduk hangat jatah peserta leadership camp, hehe. Kami percaya, bahwa pemimpin Indonesia di masa depan akan saling terhubung, pemimpin bisnis, pemimpin pemerintahan, pemimpin pengusaha, pemimpin korporasi, pemimpin sains dan teknologi, pemimpin ormas, pemimpin agama, semuanya akan saling terhubung sejak mereka remaja.

Kita lihat dengan puluhan program yang menyeleksi dan menggabungkan para pemimpin potensial dari seluruh penjuru Indonesia, let’s say Beswan Djarum, Young Leader for Indonesia, Nutrifood Leadership Award, Xl Future Leader, Young on Top, Indonesia Future Leader, Parlemen Muda Indonesia, Unilever Future Leaders, Microsoft Student Partner, Google Students Ambassador, StudentsXCEOs, berbagai leadership camp, berbagai kompetisi, dan berbagai exchange akan saling mengenalkan pemimpin muda yang satu dengan yang lain.
Dan bersama, mereka akan kuat, untuk membentuk perubahan yang berarti, untuk melakukan hal yang besar secara bersama-sama. Tidak seperti saat ini, yang saling terpisah, yang saling menghancurkan, tidak, sangat berbeda nantinya. Dan hal ini sedang terjadi saat ini, berbagai program tersebut sedang berjalan, hasilnya belum tampak, tentu, mereka masih berusia dua puluhan tahun, namun proses telah berjalan, dan pasti akan menunjukkan hasilnya, entah 5 tahun lagi, atau 10 tahun lagi.
Kereta sudah berjalan, saya beruntung sudah naik di dalamnya, ya, beruntung, tidak ada kata lain yang cukup untuk menjelaskan mengapa seorang mahasiswa dekil dari kampus usang rantauan dari kampung tak dikenal bisa ada di kereta yang sama dengan mereka dari kampus mentereng, keluarga powerful, pengalaman hebat, dan kemampuan luar biasa, selain kata beruntung.

Nah akankah anda mencoba peruntungan anda untuk naik di kereta yang sama, kereta Inner circle, atau anda sudah cukup nyaman di bus publik yang anda naiki, atau jet mewah milik orangtua anda, bersama dengan keluarga hebat anda, hmm, your choice.