Daftarnya kan buat passport dulu, iya kalo keterima, kalo nggak, buat apa passportnya…

buat apa passport

Titiknya tiga kali lho.

Kalo tanda tanya di akhirnya saya masih bisa mengerti, ohh itu pertanyaan, maka saya bakal jawab dengan santai, lah ini titiknya tiga kali coba, maksudnya apa?

Well, sebagai orang kurang kerjaan yang sempat-sempatnya nulis di blog ini, saya memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan berbagai orang, mengenai topik yang sangat saya sukai, yakni mengenai beasiswa. Dan kali ini saya akan cerita mengenai salah satu komentar yang masuk ke admin panel blog saya.

Isinya begini, dan saya jawab begini.

buat apa passport

Maafkan kata-kata saya diatas, itu bukan buat anda, itu buat yang nanya aja, karena langsung reply ke emailnya kalo gag salah kalo saya reply via sistem.

Dan sejujurnya saya ingin menolong yang bertanya, dengan cara saya sendiri tentunya, dia harus paham betapa pentingnya passport.

Dan sejujurnya lagi, saya sangat menghargai orang-orang yang mau menyempatkan dirinya untuk mengetik komentar, mengenai apapun pemikirannya, dan saya pasti akan menyempatkan diri untuk membalasnya.

Nah, blog post ini, khusus untuk teman-teman yang lain, yang hingga saat ini masih belum punya passport juga. Iya kamu yang baca, kalau udah punya paspor udah close aja, ini buat yang belum punya paspor aja.

Berapa persentase warga Indonesia yang punya paspor saya belum tahu pasti, udah nyari kemana-mana tapi gag nemu, barusan saya emailin humas@imigrasi.go.id mengenai hal ini, mudah-mudahan dijawab, kalau dijawab nanti akan saya update disini, atau kalau ada teman-teman yang tahu datanya monggo komentar di bawah, tapi menurut saya pribadi rasanya gag banyak masyarakat Indonesia yang punya paspor, karenanya postingan ini rasanya masih valid untuk dipublikasikan.
Paspor itu penting banget, sumpah.

Dan lebih baik kalau kamu punya secepatnya.

Sekarang? Iya, sekarang!
Jangan nunggu-nunggu mau ke luar negeri dulu baru bikin, jangan nunggu-nunggu daftar program dulu baru bikin, atau nunggu dapat undian umroh dulu baru bikin paspornya, jangan, bikin sekarang juga, atur jadwal sekarang juga buat ke kantor imigrasi, atau baca di web tentang syarat membuat paspor.

Karena, yang ada kalau kamu gag punya paspor adalah seperti berikut.
Ada program pertukaran pelajar ke Jepang, butuh paspor, ahh saya gag punya paspor, ntar aja lah ikutnya.

Ada program beasiswa ke malaysia, butuh paspor, ahh saya gag punya paspor, ntar aja lah ikutnya.

Ada tiket promo Airasia murah banget ke Vietnam, ahh saya gag punya paspor, ntar aja lah belinya.

Nahhh, ntar nya ini gag ada batasnya, sementara program pertukaran pelajar, beasiswa dan tiket promo ada batas waktunya semua. Dan percayalah kamu bakal melewatkan batas waktunya sementara paspor belum ada.

Jangan nunggu mau ikut pertukaran pelajar, beasiswa atau tiket promo dulu baru bikin paspor.
Yang bener adalah, bikin paspor dulu baru cari program diatas, dan begitu dapat infonya, langsung ikutan!

Untuk biaya saya gag bisa ngomong apa-apa sih, ya memang sejumlah uang untuk bikin paspor itu cukup besar buat sebagian orang, namun percayalah ini hal yang diperlukan, kalau mau menjadi manusia global, kalau mau berkembang, kalau mau memiliki pandangan luas tentang dunia, paspor sangat diperlukan.

Nabung.
Cari uang.
Lakukan berbagai cara, kalau ada kemauan Insya Allah bakal ada jalan.

Saya cerita seperti diatas karena saya udah mengalami capeknya bikin paspor mendadak, mepet pas ikut program pertukaran pelajar, dan saya tidak mau hal ini terjadi sama siapapun, jauh lebih baik punya duluan sebelum dibutuhkan.

Waktu itu tahun 2010, 17 Juni, saya ingat banget karena hari itu ultah saya, dan saya dapat pemberitahuan lolos pertukaran pelajar Jenesys ke Jepang, di hari yang sama kami bertiga kandidat dari Bengkulu harus menyerahkan scan paspor ke Kemenpora pusat, gimana ceritanya paspor sehari jadi di tahun 2010?
3 bapak kami berkumpul, mengumpulkan semua berkas yang diperlukan untuk paspor.

Meminta surat rekomendasi dan penjelasan kebutuhan mendadak dari kemenpora Bengkulu.
Berjam-jam diskusi di kantor imigrasi.
Akhirnya bisa juga, ambil foto, masuk jalur prioritas, wawancara, dan jadi hari itu juga paspornya.

Capeknya luar biasa, belum lagi ngomong biayanya.

Dan karena itu saya jadi yang pertama di keluarga, yang punya paspor, sekarang keluarga saya sudah punya semua. Adik saya udah 3 kali dibelikan tiket promo Airasia, Singapura tahun ini, Malaysia April 2017 nanti, Thailand, Cambodia & Vietnam November 2017. Mudah-mudahan dia juga mampu dan mau buat lanjut kuliah S2 diluar negeri juga nantinya. Insya Allah kedua orangtua juga bakal menunaikan ibadah haji nantinya, umroh kalau ada rejeki, dan yang terdekat mungkin wisuda saya 2019 nanti di Shanghai, China.

Dimulainya darimana? Dari paspor.

Masih mikir ntar aja bikin paspornya?
Salam pendidikan gratisan!

2nd Month, I’m still Alive in China, I Even Participate in 双十一

tari saman di shanghai jiaotong university china

Setelah 2 bulan tinggal di China, dan setelah sebulan seperti tulisan saya disini https://ahmadarib.com/please-dengerin-kata-kata-saya-jangan-mau-kuliah-lagi-ambil-computer-science-apalagi-ke-china.html, hal yang menakjubkan terjadi…..

Saya masih hidup, ternyata manusia gag bisa mati sama overdosis belajar dan membaca, ini fakta menarik yang harus diberitahu ke setiap guru di penjuru Indonesia, paksa aja anak didiknya buat belajar dan membaca, tenang aja, gag bakal mati itu anak.

Dan banyak hal menakjubkan lainnya terjadi, seperti

  1. Dompet saya menjadi tipis sekali

Tipikal isi dompet saya sehari-hari adalah, 3 kartu, 1 kartu transport, 1 kartu mahasiswa dan 1 kartu ATM bank, ada 2 pas foto (cewe satu cowo satu, yang cowo cakep yang cewe nya cantik, anak saya? bukan!), kemudian selembar 20 yuan, 2 lembar 10 yuan dan 4 koin recehan, biasanya 2 koin 1 yuan dan 2 koin setengah yuan. Dan gag peduli kapanpun, hari apapun, pergi kemanapun isi dompet saya gitu-gitu aja. Karena saya kere kah? hmmm, ya iya saya kere sih, tapi bukan karena itu juga sepenuhnya, di Jakarta dulu saya juga kere tapi masih tebel juga dompetnya, minimal 5 ribuan ada kayak 10 lembar lah nangkring di dompet, tapi sekarang semua sudah berubah, sejak negara api menyerang!

…………………….

waaat……. daaa….. pakkkk

No, seriously.

Yang sebenarnya adalah karena avatar menghilang…….

Oke2, kali nih serius, saya baru dapat inspirasi menulis lagi.

Yakni karena simplifikasi hidup di China, mulai dari kartu, saya hanya punya 3 kartu ketimbang dulu di Indonesia punya lebih dari 5 kartu, apa aja? udah… buka dompet masing2 deh, cek kartu apa aja ada disana.

Nah disini cuma 3 kartu aja, udah, cukup. Mengapa cukup?

1 kartu transport, ini kartu warna ungu bisa dipake buat semua kendaraan umum di Shanghai, mulai dari bus, kemudian subway, juga ada kapal dan taksi, 1 kartu buat semua mode transportasi, dan bisa deposit di setiap stasiun kereta. Jadi semisal saya mau Jum’atan di masjid Huxi area kota, maka saya akan naik sepeda dari dorm ke pintu gerbang kampus, dari gerbang kampus saya bakal naik bus tap pake kartu transport, untuk ke stasiun subway, di stasiun subway tap lagi buat naik subway, subway disini bisa cover semua area dan destinasi, jadi keluar subway tinggal jalan kaki. Habis dari Jum’atan, saya jalan2 dulu keliling kota, pulangnya kemalaman di stasiun akhir udah gag ada subway lagi (maklum, kampus di pinggiran kota), jadi mesti naik taksi, bayar taksi juga bisa tap pake kartu transport.

1 kartu bank, Bank of China, dulu di Indonesia saya punya setidaknya tiga kartu bank, BNI, BCA, Mandiri, karena masing-masing punya fungsi transaksi yang berbeda, dan kalo transfer beda bank sayang, kena fee transfer, kan anak mahasiswa kere, jadi mesti perhitungan dong. Kalo disini duh seingat saya, saya belum pernah make ATM buat transfer duit, ambil duit dari ATM aja masih bisa diitung sama jari, jangan ditanya kalo dulu di Indonesia deh, sehari bisa dua kali ke ATM, dah kayak mandi. Mengapa 1 bank cukup, karena ada Alipay, saya bakal cerita lagi tentang Alipay di bawah.

1 kartu mahasiswa, ini kartu segala fungsi pembayaran di dalam kampus, bayar makan di kantin tap pake kartu ini, beli snack di minimarket kampus tap pake kartu ini, beli apel juga tap, beli milk tea juga tap, masuk dorm tap kartu, masuk perpus tap kartu, pinjam buku tap kartu di mesin, mau mandi air panas tap kartu (air panas bayar), bayar tagihan listrik tap kartu di mesin, naik bis kampus yang ke Xuhui kampus di kota tap kartu ini juga, semua pake kartu ini.

Kemudian bawa uang juga cukup selembar 20 yuan, 2 lembar 10 yuan dan 4 koin recehan aja, bawa 30 yuan karena saya kadang lupa bawa kartu mahasiswa buat makan siang di kantin, abis mandi air panas pagi sebelum kelas biasanya saya lupa ambil kartunya, bawa recehan buat bayar parkir sepeda di stasiun kereta, setengah yuan seharian, bisa ditinggal lama, tinggal dikali aja setengah yuan per harinya. Dan transaksi lainnya, makan di luar bareng temen, beli apapun di supermarket besar, atau Family Mart pinggir jalan, semua bisa dilakukan dengan Alipay, nanti nanti saya jelasin Alipaynya, sabar om.

 

2. Saya menjadi Unofficial, Unpaid, Unrecognized Taobao Ambassador

Taobao adalah salah satu marketplace consumer terbesar di China, dan terdiri dari banyak merchant yang jual semua hal yang bisa kamu pikirkan, di Indonesia sama aja kayak Tokopedia deh, dimiliki oleh group Alibaba, dan banyak banget barang di dalamnya, apa aja ada, dan banyak yang murahhhh.

Murahnya itu kebangetan, gag paham lagi, sepatu gimana ceritanya bisa 20 yuan (40rb rupiah), powerbank bisa 40 yuan, jaket winter tebal 180 yuan, kompor listrik beserta 2 alat masak 170 yuan, sepeda gunung 200 yuan, dan semuanya menurut saya dan teman Pakistan barang2 yang kami beli oke, layak pakai, enak, dan semua barang yang saya beli sejauh ini free ongkir, dan nyampenya cepat, diantar langsung di box logistik di gedung dorm, nanti bakal terima sms notifikasi passwordnya, kemudian kita ambil sendiri di box masukin kode dr sms, logistik disini oke punya.

Dan beruntungnya lagi, beberapa hari yang lalu adalah hari belanja online terbesar di planet ini, dan itu terjadi di China, dan namanya 双十一 (karakter pertama shuang, artinya double) (karakter berikutnya shiyi, artinya eleven), yap, double eleven, 11.11 yang secara harfiah terjadi di tanggal 11 November lalu, disebut-sebut sebagai hari single di China, tapi yang merayakan satu negara.

Di hari ini, buanyak banget yang diskon, terutama online, offline juga banyak.
Yang paling heboh di online sih tetep, di taobao.
jadi satu negara China, di tanggal 10 November malam, sekitar jam 23.59 jempolnya udah siap semua buat klik order dan bayar di Taobao, disini behavior belanjanya sekitar 85% dari smartphone semua, jadi makanya saya bilang jempolnya udah ready semua, termasuk saya, 双十一 pertama gag mau kalau dari warga China yang lain, begitu jam 00.00 tanggal 11.11 tiba, denggg, internet lalod, appnya lalod, hahaha, beberapa menit kemudian baru lancar lagi, banyak barang bagus dah habis, diambil orang, sialan, saya kebagian sisa-sisanya aja, tapi lumayan, masih diskon dan masih bagus juga, begitu selesai order, bayar pake Alipay juga, gag mesti buka internet banking atau ke ATM tengah malam buat transfer, cukup masukkan password transaksi Alipay, done, order dibayar dan diproses oleh merchant, sementara saya yang bergerak cuma jempol tangan kanan aja, sama kelingking tangan kiri, buat apaan kelingkingnya? buat ngupil.

3. Alipay, bikin Saya Lupa Diri

Makan diluar yuk?
Ayuk, makan dimana?
Di resto halal aja, ada Arib ikutan.
Hmm, memang saya perusak suasana, gag jadi kan teman-teman saya makan makanan haram karena saya, hahaha, anyway saya di kampus berdua muslim disini, satu orang Phd dan saya master.
Selesai makan, satu orang bayar billnya pake Alipaynya dia.
Terus billnya kita bagi bertujuh, dan masing-masing dari kami transfer via Alipay ke Alipaynya yang bayar bill tadi, sebut saja Wirawan, nama asli.
Biasa bayar berapaan sudah dibagi, kadang 17,81 yuan, kadang 21,3 yuan, bisa berapapun, dan enak, tinggal klik aja di aplikasi Alipaynya sudah deh transfernya.

Atau kalau misalnya lagi mau belanja dimanapun juga di Shanghai, mereka pasti nerima Alipay, di pinggir jalan, resto, famili mart, supermarket, toko baju tas, bahkan kakek2 jual apel di pinggir jalan juga terima Alipay, sayangnya gag nemu pengemis disini, di Shanghai, sapa tau kan mereka pake Alipay juga, hehe.
Dan pemakaiannya juga sangat gampang, kita bisa isi deposit di Alipay dari bank, sekali klik, atau tiap transaksi secara otomatis ambil saldo kita di bank, juga sekali klik, bebas, pilih manapun yang kita suka.

Alipay ini juga punya Alibaba, sama kayak Taobao, makanya belanja online jadi gampang banget.
Food delivery makanan halal juga pake Alipay.
Beli tiket movie Dr Strange lalu juga pake Alipay.
Beli tiket kereta cepat liburan kek Jinan ketemu sang kekasih juga pake Alipay.
Alipay is the best dah.

Karena Alipay kadang kaget, tiba2 ATM dah kosong aja, duh maklum kere.
jadi mesti nukar USD kiriman LPDP dulu jadi yuan ke bank, dan inilah satu2nya hal yang saya lakukan kalo ke ATM. terima kasih LPDP atas kiriman uangnya 😀
Saya habiskan dengan baik kok, di taobao juga belanja keperluan pendidikan, saya beli Kindle ebook reader di taobao, buat baca buku kuliah, seriusan, novelnya juga ada sih, dikit doang.

Then, saya realized satu hal, Indonesia kapan begininya ya?
Punya payment system seperti Alipay, mobile based, praktis, full integrity ke bank, free transaction fee dan diterima secara global baik online maupun offline.
Atau punya sistem transport integritas, satu kartu buat semua public transport.
Atau punya kartu mahasiswa buat semua kebutuhan mahasiswa di kampus, kampus S1 saya dulu gag ada, tapi kampus saya jelek sih, gag tau kalo kampus bagus di Indonesia gimana.

No idea, mungkin nanti, setelah selesai demoin Ahoknya 😀
Salam pendidikan gratisan!
Nih foto dari team tari saman Shanghai Jiaotong University, di acara international student show, ayo tebak saya yang mana?
Yang pojok kiri atas yang pake jas? wanjir, bukanlah!

tari saman di shanghai jiaotong university china
tari saman di shanghai jiaotong university china

Please Dengerin Kata-Kata Saya, Jangan Mau Kuliah Lagi, Ambil Computer Science, Apalagi ke China!

belajar-bahasa-china

So sebelumnya, disclaimer dulu nih, saya lahir dari keluarga sederhana yang kedua orangtua saya gag ada yang S2, di Bengkulu, pernah dengar Bengkulu? gag pernah, wajar, banyak orang rasanya gag tau Bengkulu ada dimana, kadang ada yang bilang di sebelah Balikpapan, ada yang berpendapat di Sulawesi, dibawah Toraja, yah, terserah. Dan saya juga orang bodoh, S1 nya cuma di Universitas Swasta, bukan Universitas negeri peringkat atas di Indonesia. Peringkat Universitas Swasta S1 saya entah di ranking berapa, ranking Univ di Indonesia lho, bukan dunia, gag tegaan mau carinya di list ranking Universitas, mesti cek halaman kesekian dulu baru ketemu, hehe. Akreditasinya apaan? Duh, please jangan nanya itu dong, saya gag pernah cek.

akreditasi-kampus
akreditasi-kampus

Jadi, secara sederhana, nasehat dibawah ditujukan untuk anak daerah yang kurang paham bagaimana dunia akademik standard baik itu seperti apa, keluarganya gag ada yang S2 sehingga gag ngerti proses kuliah S2 seperti apa, dan bodoh sehingga banyak gag pahamnya ketimbang pahamnya ketika di kelas atau dimanapun.

Untuk anda yang lebih beruntung, lahir dan tinggal di kota besar sehingga lebih memahami bagaimana dunia akademik standard baik bahkan ikut serta di dalamnya, pernah menemui atau kenal seseorang yang S2 bahkan mungkin di keluarga sendiri, atau bahkan S3 malah, serta cerdas dalam artian mudah memahami pembelajaran di kelas dikarenakan memiliki bekal pengetahuan yang cukup sebelum masuk kelas, well, tulisan ini bukan untuk anda, konteksnya kurang pas, serta perspektif saya juga gag pas rasanya 😀

Nah disclaimer sudah disebutkan diatas, jadi mari kita mulai.

Kuliah S2 itu berat banget.

Apalagi ambil jurusan engineering, semisal Computer Science.

Begonya lagi ambil ke luar negeri, kayak China.

 

Oke kita bahas satu-satu.

Kuliah S2 itu Berat Banget

Pernah merasa kesal dengan tugas matematika saat S1, nah pas S2 tugas matematikanya itu udah gag ada angkanya lagi, simbol semua, sama huruf-huruf. S1 enak, masukin angka ke rumusnya, selesailah sudah, S2? hmm, buktikan bahwa rumus A bisa menghasilkan rumus B, C, D, E. Dan buktikan kembali bahwa proses tersebut bisa dibalik sehingga dari rumus E, bisa diturunkan untuk menghasilkan D, C, B & A.

Assignmentnya setiap professor kasih pertanyaan di kelas, dan gag da yang jawab, maka itu jadi assignment.

Hadir gag hadir gag dihitung, tapi kalo gag hadir gimana ngerti Pak Prof-nya ngajarin apa? Sama assignment buat minggu depan apaan.

Nyontek? Hahahahahahahahhahahahahahahaha, Good luck, kalo kamu cuma satu-satunya siswa dari Indonesia di kelas.

Teman? Kamu kira yang sekolah S2 anak-anak remaja yang hobi gaul, main2, akrab, dan suka mencari teman baru?

Nah ini baru ngomongin coursework, sialnya saya milih master by research (lah karena saya bodoh tadi, kan sebelumnya gag tau S2 seperti apa, jenis-jenisnya, mana yang susah mana yang gampang), keambil deh program master degree by research. 1 tahun coursework (sekolah di kelas, ujian), 1,5 tahun lagi bikin research, bukan sejenis research yang sering kamu nonton di TV, atau sinetron, atau bayangan kamu pada umumnya, bukan. Saya juga baru tau research itu susah banget, baca paper banyak banget, percobaan terus, seringan gagal, collect data, pagi sampe malam di lab, labnya bukan yang ada layar gede di depan, terus tiap orang ngetik di panel kontrol yang keyboardnya panjang banget bukan, labnya persis kayak kantor, kotak2 cubicle, tiap meja ada tumpukan buku study serta satu PC dan layarnya sekalian.

Yakin masih mau lanjut kuliah S2?

 

Ambil jurusan Susah, semisal Engineering, Computer Science

Entah kenapa dulu saya maunya cuma ambil jurusan Computer Science (IT), karena suka game kali, saya pikir belajar computer science enak, kayak main game, kenyataannya?
Duh, jauh banget dari main game, yang ada dimainin sama Computer Sciencenya iya.

Belajar matematikanya banyak banget.

Belajar banyak banget pemrograman, ada PHP, HTML, CSS, Java, C++, Phyton, Ruby, SQL, MySQL, NoSQL.

Belajar computer science di kelas itu jarang beli textbook dari dosen, iya emang, karena materinya berubah terus tiap bulan, updatenya cepet banget, mesti ngikutin terus perkembangan terbaru yang lebih efisien, lebih baik, dan lebih baik lagi. Dan kalau di kelas cuma bahas general saja, sisanya spesifik di bidang yang mau ditekuni mesti belajar sendiri, beli buku textbook atau material cari sendiri online.

Banyak praktek, banyak nyoba, banyak gagal codingnya, banyakan stressnya.

Yakin masih mau lanjut kuliah S2?

 

Ambil Keluar Negeri, China lagi

Seakan-akan belum cukup dengan 2 hal diatas, saya milihnya keluar negeri, di China lagi, ya ampun, saya baru paham mengapa sedikit banget LPDP dari angkatan pertama sampai angkatan saya (66) yang memilih ke China. Seharusnya saya milih negara-negara mainstream aja, yang udah banyak orang kesana, dan udah banyak yang mengalami, udah banyak yang pengalaman dan cerita di blog,  jadi gag perlu shock sendiri begini.

Saya kasih tau deh dari sekarang sehingga kamu bisa memilih dengan baik dan benar tujuan study buat S2 nanti.

  1. Pelajaran di China, terutama Math & Sciencenya udah advance, materi yang diajarkan udah jauh bangett bagi saya. Jadi ada rongga kosong, jarak antara yang saya pelajari S1 di Indonesia di kampus swasta saya yang entah rankingnya berapa itu mungkin kalau di analogikan sudah sampai di skala 16, nah ini S2 mulainya langsung di skala 729. Jadi ada jarak 713 skala yang harus saya pelajari sendiri, di waktu yang sama mesti ngikutin pelajaran di kelas dengan baik.
  2. Internet blockage, No Google, No facebook, No gmail, noooo so muchhh things. Ada namanya China Great Firewall, kontrol dari pemerintahnya. Akses web2 yang biasanya rutin saya akses dan sudah jadi rutinitas, harus pake VPN.
  3. Culture shock, gag sanggup buat bahas disini, googling aja ya please, petunjuknya, toilet, antri, meludah, susah makanan halal.
  4. Language barrier, bahasa China itu susah banget belajarnya, fonemnya, aksaranya, tone nya. Saya udah punya basic? kata siapa! nol besar, beda dengan teman-teman saya disini yang udah punya modal bahasa China semua, karena dari keluarganya sudah dibiasakan sejak kecil, keluarga saya, selalu bahasa Bengkulu brooo. Duh, tobat. Dan saya mesti belajar bahasa China kalau mau survive disini. Yang bilang susah siapa? saya? Bukan! Cek disini http://list25.com/25-of-the-most-difficult-languages-to-learn-in-the-world/5/
belajar-bahasa-china
belajar-bahasa-china

 

Yakin masih mau lanjut kuliah S2?

 

Dengan adanya tiga hal diatas, rasanya mau pulang ke Bengkulu saja tiap hari.

Tapi begitu mikir mau pulang, saya lihat kamar saya.

Hmm, kasur saya empuk, selama 5 tahun sejak S1, ini adalah kasur terempuk yang pernah saya miliki. Ada ranjangnya lagi, 5 tahun ini selalu tidur di kasur yang langsung ketemu lantai. Kamarnya luas (menurut saya pribadi), ada meja belajar dan kursi belajarnya (saya gag pernah punya sebelumnya), lemari pakeannya gede. Internet kencang, 90 Mbps via speedtest.net, di kostan dulu cuma 5 Mbps. Ada mesin cuci pake koin, masukin koin, masukin baju, kasih deterjen udah deh tinggalin 45 menit udah bersih dan cukup kering, tinggal angin2kan saja udah kering, duh jangan tanya dulu S1 gimana nyucinya, pake tangan, peras sendiri, jemur depan kostan. Terus dorm yang ini ada balkonnya, lantai 5, view balkon ada sungai kecil, pohon-pohonnya rindang. Harganya 1.200 yuan, sekitar 2,4 juta rupiah perbulan, 4x lipat sewa kostan saya perbulan dulu.

Siapa yang bayarin? LPDP.

4.000 yuan perbulan, 8 juta rupiah per bulan, untuk biaya hidup bulanan saja. Belum menghitung biaya kuliah saya yang dibayarkan ke kampus.

Untuk apa LPDP bayarin saya? Biar saya belajar, karena saya bodoh, dan banyak orang bodoh lain di Indonesia, bangsa ini masih banyak orang bodohnya seperti saya. Dan saya rasa LPDP berpikir Indonesia butuh banyak orang pintar agar bisa menjadi negara maju, membangun Indonesia dalam jangka panjang. Tanpa LPDP saya yakin tidak akan bisa sekolah disini, dengan semua fasilitas dan kebutuhan hidup yang mendukung study saya. Agar menjadi orang pintar, dan bermanfaat untuk keluarga, negara dan masyarakat nantinya.

Ya ini amanah.

Dan ini adalah hutang, yang nanti wajib saya cicil pelunasannya.

Dan saya paham betul, belajar diluar negeri itu kemewahan, yang cuma sebagian kecil sekali dinikmati oleh orang Indonesia. Dan saya ditawarkan kesempatan ini, entah saya mampu atau tidak saya wajib berusaha semaksimal mungkin terlebih dahulu.

 

Dan sebagai anak internet, yang menghabiskan sebagian besar waktu saya di internet.

Saya tahu dengan pasti bahwa bahasa merupakan kunci untuk membuka akses ke dunia lain, bukan dunia lain seperti acara TV itu lho bro/sist.

Saat saya paham bahasa Indonesia, saya bisa mengakses dan mengeksplorasi semua informasi yang menggunakan bahasa Indonesia, dan mendapatkan berbagai keuntungan dan kesempatan dari informasi berbahasa Indonesia.
Begitu saya mengerti bahasa Inggris, saya bisa mengakses material dalam bahasa Inggris, di waktu yang sama memperoleh keuntungan serta kesempatan yang tidak dinikmati oleh mereka yang hanya bisa berbahasa Indonesia saja.

Dan pahamilah bahwa nyaris 1 dari 5 orang di dunia ini berbicara dalam bahasa China, dan bahasa China merupakan bahasa yang paling banyak digunakan di dunia.

most-used-language-in-the-worldSource: http://www.infoplease.com/ipa/A0775272.html

 

Betapa banyaknya material, kesempatan dan keuntungan yang bisa saya dapatkan seandainya saya bisa menguasai bahasa China, dimana bahasa ini digunakan secara umum di China, Taiwan, Singapura serta Indonesia sendiri juga lumayan banyak (dalam beberapa konteks). Belum lagi ketika bisa menguasai karakter China, akan lebih mudah untuk mempelajari karakter serta bahasa Jepang & Korea, katanya lho ya, saya belum paham sedikitpun karakter China, jadi belum bisa confirm. Tapi ada anak S1 disini sudah fasih Indonesia, Inggris, China & Korea, asalnya dari Pontianak, SD sampe SMA di Pontianak lho, mirip status pedalamannya kayak Bengkulu rasanya. Duh, malu banget pas udah tua baru saya belajarnya.

 

Yang pastinya bakal banyak banget masalah ke depannya, tapi toh kehidupan siapa sih yang tanpa masalah?

Belum lagi berpikir LPDP hanya akan membiayai study saya selama 2 tahun, sementara kuliah disini MINIMAl, minimal lho ya, untuk master degree itu 2,5 tahun, karena ada coursework dan research, serta sebelum thesis HARUS publish paper research dulu di jurnal atau seminar internasional yang telah ditentukan, top tier journal dan seminar. Dan karena saya rada bodoh tadi, saya rasanya butuh waktu 3 tahun deh buat bisa lulus.

Terus 1 tahun lagi bayarnya gimana, hmm, akan saya pikirkan lagi nanti rasanya, haha, sayangnya karena kurangnya fokus dan pendeknya pemikiran, saya cuma bisa mikir satu hal di satu waktu. Seperti apply beasiswa dulu, mikir satu satu, ambil beasiswa apa, LPDP, ya udah urus LPDP, satu program beasiswa aja, LPDP doang, eh LPDP dapat. baru mikir apply kampus gimana, daftarnya satu kampus doang, gag da yang lain, cari supervisor, interview, lalalala, eh dapat Shanghai Jiaotong University, di jurusan dan research area yang sesuai. Dan sekarang saya mikir course aja dulu, agar lulus dengan nilai sesuai harapan, dan belajar sebanyak mungkin dari semua waktu yang tersedia. Dan begitu waktunya tiba nanti, saya yakin akan mendapat solusinya juga.

Dan bukankah ada hadist yang berkata bahwa

“Barangsiapa keluar (dari rumahnya) dalam rangka menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang.” (HR At-Tirmidzi, hadits ini dinilai hasan li ghairihi oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 88.)

Allah tidak akan meninggalkan hambanya yang kecil ini kan ya rasanya, yang mengikuti jalanNya.

Dan bukankah ada pepatah Arab yang berkata bahwa
“Tuntutlah ilmu hingga ke negeri China.”
Maka ke China lah saya menuntut ilmu, dan bagaimana denganmu teman? Yakin masih mau lanjut kuliah S2?
Salam Pendidikan Gratisan!

S2 yang Indah itu Ketika S2 keluar Negeri Barengan si dia, Gratisan Lagi

Tulisan ini, yah, kali ini saya dedikasikan bukan untuk diri saya sendiri. Bukan, ini bukan cerita tentang saya, bukan tentang S2 saya, atau tips-tips dapet beasiswa S2 dari saya, maupun tentang bagaimana cara dapet beasiswa LPDP sama seperti yang saya dapatkan.

Karena case & background saya mendapat beasiswa S2 ini rasanya gag relevan buat sebagian orang, mungkin termasuk kamu-kamu yang baca saat ini, bagaimana bisa gag relevan?

1. 5 tahun lalu, saya apply beasiswa full S1 ke Rusia, Korsel, India & Mercubuana Jakarta. 3 yang pertama hingga tahap akhir, wawancara di kedubes & gagal. Yang terakhir lulus. Saya paham preparation beasiswa sejak 5 tahun lalu, bahkan menulis buku tentang hal ini.

2. Saya cukup paham membaca mekanisme & prepare beasiswa, September tahun 2015 saya resign sudah dapat saya prediksi bahwa saya berangkat kuliah September tahun 2016, dengan semua hal yang perlu dipersiapkan, saya tahu bahwa 1 tahun waktu yang wajar.

3. Skor TOEIC saya 950 dari max skor 990.
3 tahun SMA debat bahasa Inggris, 3 tahun di kuliah nyambi jadi supervisor TOEIC & TOEFL test, yang ngawas test lho ya, mana nggak hapal sama tipe soal & jawabannya apa, hehe.

Lha terus ini tulisan tentang siapa?

Pacar saya, Chisillia Mayang Sari 🙂

Kondisinya menurut saya, sekali lagi menurut saya lho ya, lebih relevan dengan kebanyakan orang yang mau lanjut S2 keluar negeri dengan beasiswa, apa aja kondisi pacar saya?

1. Resign bulan Desember 2015, mulai prepare beasiswa bulan Januari 2016, ini juga sambilan bantu perusahaan keluarga.

2. S1-nya dulu di Universitas MH. Thamrin, kampus swasta yang gag begitu jelas juga sebenarnya, mirip2 kampus saya Mercubuana, haha, bahkan namanya aja baru ganti sekitar 2 tahun lalu, dulunya AKA STIEBI. Gedung kampusnya 1 bangunan tua banget, mesti zikir dan baca Al Fatihah dulu sebelum masuk kuliah, dan katanya pernah dipake sama salah satu stasiun TV untuk syuting acara show yang ada hantu-hantunya itu lho.

3. Pertama kali test TOEIC, skornya 510 (standard LPDP TOEIC keluar negeri 750), beberapa bulan kemudian test lagi setelah beli buku, kursus di kampung inggris, saya ajarin, dan berdoa yang banyak alhamdullilah naik, jadi 535, wkwkwk.

4. Jurusan S1-nya tentang ekonomi, spesifik di Pasar Modal, tiba-tiba juga masuknya ke jurusan itu karena dulu gag begitu disiapin milih jurusannya. Tapi memang tepat juga sih pada akhirnya, karena terbukti dari kerjanya ternyata sesuai dengan minatnya.

Dan tepatnya akhir bulan Juli lalu, dia berhasil dapat beasiswa penuh S2 selama 3 tahun di Shandong University, Jinan, Tiongkok. Dibiayain semua biaya kuliah, asrama kampus, dan biaya hidup sebesar 3.000 yuan perbulan selama 3 tahun oleh Pemerintah Tiongkok, tanpa kontrak, tanpa kewajiban kerja apapun pasca study.

Berangkatnya barengan lagi, di bulan September tahun ini, wahh.

LoA dari Universitas di Tiongkok, yang kanan punya saya, kehujanan, wkwk
LoA dari Universitas di Tiongkok, yang kanan punya saya, ada noda kehujanan, wkwk. Di LoA pacar saya dia diterima sejak 27 April, namun dari pihak CGS-nya baru memutuskan pada akhir Juli lalu.

Well, sebenarnya banyak juga sih teman-teman yang sudah pasangan waktu udah mau berangkat S2 keluar negeri, baik itu masih pacaran, tunangan ataupun menikah, apalagi di LPDP tuh. Banyak yang sebelum berangkat, yang jomblo cari pacar dulu yang sama negara tujuannya, atau yang sudah pacaran nikah dulu sebelum berangkat kuliah diluar negeri, pasangannya ikut dibawa keluar negeri. Atau kadang juga ada pasangan yang sudah menikah pisah dulu selama study, karena bisa jadi pasangannya sudah memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan atau study S2 juga namun negara dan waktunya berbeda (jadi inget om Wide di LPDP PK-66, barengan test ke Aussie istrinya lolos dia enggak, pas lolos LPDP dapetnya ke UK lagi, kasian si om kangen berat sama anaknya sih katanya, bukan kangen istrinya, hehe).

Banyak yang bilang kejadian seperti kami, sama2 dapat S2 keluar negeri di negara yang sama dan waktu intake yang sama merupakan keberuntungan parah, tapi sebenarnya menurut saya ini bukan karena keberuntungan juga bro/sist.
Pacar saya dapat beasiswa S2 keluar negeri hanya dalam waktu 7 bulan saja (Januari-Juli), dan pertama kali mencoba, full beasiswa lagi, dengan jurusan yang sesuai, tentunya bukan karena keberuntungan saja, tetapi karena persiapannya yang sempurna di awalnya.

Yang dapat beasiswa itu bukan mereka yang pintar, tapi mereka yang siap.

Si dia bisa dapat beasiswa full karena persiapannya luar biasa.

Januari, riset tentang semua kemungkinan beasiswa full ke China, opsi apa aja yang dimiliki sesuai kemampuannya. Ada LPDP, ada China Government Scholarship (CGS), CGS ini juga ada CGS jalur bilateral embassy Tiongkok di Indonesia, CGS jalur University di China, CGS jalur kerjasama khusus.

Februari, persiapan untuk setiap jalur, melihat mana yang mungkin dilakukan mana yang nggak. LPDP skip karena b.ing kurang. CGS jalur embassy skip karena kompetisi tinggi banget, gag worth to try. CGS jalur University hajar full, riset lagi tentang semua Universitas yang menyediakan program yang dinginkan dan tingkat persaingan yang bisa dihandle dan kalau bisa dekat dengan Shanghai (saya target sejak awal di Shanghai, susah kalo LDR kejauhan bro/sist, berat diongkos, wkwk).

Maret, dapat list 6 Universitas yang sesuai kriteria (waktu itu saya targetin 10), mulai usaha untuk penuhi semua requirement yang diminta oleh Universitas.

April, Requirement Universitas dipenuhi semua, kirim dokumen aplikasi via Pos Indonesia (biar murah) ke 6 Universitas di Tiongkok. Tiba-tiba ada pengumuman beasiswa penuh program kerjasama khusus antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Tiongkok. Kesempatannya sebesar 50 orang lebih, via Kemenristekdikti, ini apply juga. Total ada 7 berkas aplikasi dikirimkan dalam sebulan, 7 kesempatan yang menurut hitungan saya cukup tinggi persentase lolosnya.

Mei, Juni, penantian, lagi puasa juga, banyak-banyak berdoa.

Juli, hasil mulai keluar. CGS University 3 gagal sejak awal (rejected), 2 diproses statusnya (on review) dan akhirnya 1 lolos, di Shandong University, Master of Finance, diajarkan dalam bahasa Inggris, selama 3 tahun masa study, full scholarship.

Agustus, urus visa, beli tiket pesawat (dapet promo Airasia). Sementara program kerjasama Kemenristekdikti belum pengumuman, jadi kalau bisa diawal jangan cuma ngandalin satu kesempatan aja, tapi bikin beberapa peluang sekaligus.

 

Review & tulisan pacar saya bisa dicek di link berikut https://www.facebook.com/notes/chisillia-mayang-sari/cara-mendapatkan-beasiswa-di-tiongkok/1220671444633129, disana dibahas lebih detail teknis-teknis bagaimana dia bisa mendapatkan beasiswa S2-nya. Dan saya sendiri Insya Allah akan segera release tulisan-tulisan berikutnya tentang bagaimana dapet beasiswa S2 secara umum, dan LPDP juga, walaupun sebenarnya kalian bisa cek di Google udah banyak banget sih yang bahas, haha, mungkin saya cover bagian2 yang belum banyak dibahas aja, kayak mengapa lanjut S2, persiapan budget diawal, dan hal-hal lainnya.

Satu hal yang harus kamu inget banget, kalau mau dapat beasiswa, wajib nebeng persiapan sama mereka yang udah pro.

Saya saat test LPDP persiapannya bareng teman XLFL namanya Annisa Ika, dari UI Kesmas angkatan 2010, pacarnya dari UGM udah lulus LPDP duluan, dia nyusul pacarnya ke Belanda. Sebelum ikut LPDP, Ika udah coba ikut 5 beasiswa lain sebelumnya, kebayang dong betapa preparenya, nah makanya saya nebeng sama dia persiapan berkas bahkan sampai latihan interview bareng fasilitator XLFL Deedee (thanksss Deedee), dan kita lolos bareng LPDP, saya PK-66 dia PK-68, thanks banget Ika, LPDP jadi percobaan beasiswa pertama saya dan langsung lolos, hehe.

Dan pacar saya persiapannya nebeng saya, yang lulus LPDP ke Tiongkok. Meskipun dengan program yang berbeda namun persiapan ke universitasnya mirip2 juga, dan syarat dapat beasiswanya juga mirip, jadi lolos juga dia dalam waktu yang menurut saya cukup singkat dan pertama kali mencoba juga.

Percayalah kamu juga bisa lanjut sekolah gratisan, asal persiapannya oke.

Salam Pendidikan Gratisan!