Data Analyst Way of Stock Investing

Investasi ala data analyst
Investasi ala data analyst

Sudah penutupan tahun 2020, tahun yang luar biasa, karena Covid terutama. Sudah mau setahun ini kerja dari rumah saja, awal-awalnya di Jakarta, kemudian ke Bengkulu, ada banyak hal yang perlu dilakukan di Bengkulu. Nah selama tahun ini pula saya berkarir jadi Data Analyst, tapi jatuhnya end-to-end juga yang dikerjakan. Mulai dari jobdesc-nya Data Engineer yang collect & cleaning data, kemudian Data Scientist yang bikin modellingnya, kemudian Data Analysis yang bikin visualisasi dan deliver kepada customer. Terlepas dari apa yang saya kerjakan, satu hal yang pasti ketika saya bekerja ini mulailah terasa bahwa ini pekerjaan yang stabil, dan bisa mulai berpikir tentang rencana masa depan yang panjang, seperti beli tempat tinggal, membangun keluarga baru, bahkan hingga urusan pensiun.

Tentang tempat tinggal mungkin akan bahas nanti-nanti, belum mau nulis tentang hal ini. Walau memang hal ini merupakan salah satu hal terbesar juga yang terjadi di 2020 bagi saya pribadi. Untuk yang tentang keluarga baru wah ini belum dilakukan, baru direncanakan, doain lancar hingga pelaksanaannya ya. Nah untuk yang pensiun ini mungkin akan saya bahas duluan, karena saya yakin mayoritas dari rekan-rekan yang membaca tulisan ini memiliki pekerjaan tetap formal dan tentunya dicover dalam program pensiun, program pensiun universal pemerintah Indonesia yakni BPJS Ketenagakerjaan. Kalau misalnya anda perhatikan di slip gajian, ada kan itu potongan dari gaji sebesar 2% untuk BPJS Ketenagakerjaan, yang kemudian ditambahkan dari perusahaan sebesar 3.7% dari gaji kita juga. Katakanlah 5% (biar gampang hitungnya) dari gaji bulanan dimasukkan dalam rekening dana Jaminan Hari Tua individual kita masing-masing. Yang kemudian dana ini dikelola oleh BPJS dengan berbagai instrumen investasi seperti reksadana, obligasi dan saham, sehingga ada imbal hasilnya atas dana yang kita masukkan itu.

Berikut tabel simulasinya dengan asumsi penghasilan yang cukup besar, well, ini bukan penghasilan saya, hanya contoh saja. Penghasilan ini diasumsikan ada kenaikan 5% setiap tahunnya, sekali lagi ini bukan tingkat kenaikan gaji di perusahaan saya saat ini, hanya contoh saja. Mulainya di usia yang rata-rata sudah cukup mapan untuk pekerjaan, yakni 27 tahun. Imbal hasil dari BPJS Ketenagakerjaan hingga Q3 2020 adalah 7.2%, saya asumsikan saja 7% flat dari tahun ke tahun. Dan bekerja hingga usia 55 tahun.

Ada satu lagi sebenarnya yakni iuran pensiun, besarnya 3% dari gaji bulanan. Nah kalau misalnya kita lihat ini pas pensiun lumayan banget kan ya dapat 320 juta langsung sekaligus. Namun perlu diperhatikan juga bahwa angka harapan hidup orang Indonesia itu ada di 71 tahun, katakanlah kita sedikit beruntung bisa sampai usia 75 tahun. Artinya ada 20 tahun masa tanpa penghasilan yang mesti dicover uang dari manfaat pensiun dan juga jaminan hari tua. Untuk manfaat pensiun BPJS Ketenagakerjaan yang saya baca-baca itu sebesar 40% dari rata-rata penghasilan tiap bulan, ya sudah saya coba rata-ratakan dapatlah kira angka 17 juta. Jadi manfaat pensiun nanti sebesar 6.800.000 rupiah, ditambah kalau misalnya Jaminan Hari Tua mau dibagi rata tiap bulan ada sekitar 1.300.000 rupiah. Wah setelah pensiun nanti uang perbulannya jauh turun dari gaji terakhir, malah hampir sama seperti saat mulai kerja. Pantas orang semua berpikir mau jadi PNS, lah manfaat pensiun perbulannya saja 75% dari gaji terakhirnya, jelas lebih besar ketimbang pensiun pegawai swasta.

Mesti mikir-mikir lagi nih buat pensiun nanti, mulai deh baca-baca tentang financial planning, manfaat pensiun, investasi, dan pengelolaan dana. Baca-baca di Medium.com hal-hal ini, di Amerika mereka ada rencana pensiun 401(k), keren rencana pensiunnya baca-baca sekilas, pegawai swasta bisa kontribusi di dana pensiun sebesar yang mereka tentukan sendiri dengan batas atas yang ditentukan oleh pemerintah. Kemudian banyak perusahaan juga membuat program untuk matching kontribusi perusahaan sebesar dana yang disisihkan oleh pegawainya. Dan menariknya lagi, dana ini bisa dimanage oleh karyawan dengan memilih produk investasinya sendiri, apakah mau di saham, kemudian saham apa, atau mau di obligasi maupun reksadana.

Kalau misalnya ada program ini sepertinya menarik juga, tapi karena kita hanya ada BPJS Kesehatan, ya sudah saya berpikir mengapa tidak membuat Fund Management saya saja sendiri. Ada dana honor dari mengajar setiap bulannya parkir di rekening BRI saja tidak saya gunakan, lebih baik ini dimasukkan kedalam Fund ini. Dan biar seru mari kita namakan Fund ini sebagai AAA Fund, dibaca Triple A Fund, singkatan nama saya haha. Dan karena saya masih muda, masih bisa mengambil resiko yang cukup besar karena jangka waktu investasi yang masih lama, saya berpikir untuk masukkan semua dana AAA Fund ke dalam saham.

Cukup beruntung sebenarnya mulai masuk saham di masa Pandemi ini, kata orang-orang di Wallstreet sono sih “Even monkey make money in this time”. Jadi cukup mudah untuk dapat return yang bagus dari saham di masa-sama pandemi ini. Saya bakal share bagaimana saya memilih saham-saham untuk AAA Fund.

Sehabis baca-baca buku The Intelligent Investor karya Benjamin Graham, beliau merekomendasikan value stock, yang terus menerus grow baik laba maupun harga sahamnya. Oke gampang ngomongnya, tapi di Indonesia Stock Exchange, saham mana ajakah ini. Ada 713 saham di IDX, apakah mesti saya cek satu2 chart harga sahamnya. Lumayan juga mesti cek satu-satu ini, tapi karena saya tidak pengalaman dan tidak ada ide lain juga, ya sudah jalankan saja ide kurang kerjaan ini. Namun dengan Data Analyst Way dong tentunya, this is the way.

Jadi langkah pertama adalah scraping semua saham yang ada di IDX, saya scraping nama-namanya dari sini https://www.idx.co.id/data-pasar/data-saham/daftar-saham/

Kemudian saya buat script web automasi dengan python untuk mengambil screenshoot harga mulai dari awal data available hingga hari dimana saya melakukan automasi. Berikut screenshoot folder hasil kumpulan image scraping automasi saya. Scraping harganya butuh waktu cukup lama, saya tinggalin aja agak beberapa jam script running di laptop, di malam hari running sendiri automasinya.

Hasil automasi python

Setelah scraping selesai, sambil lalu akan saya cek satu persatu, mana yang graphnya menunjukkan pertumbuhan harga konsisten. Meski pada saat Covid jatuh, namun harapannya akan naik kembali. Saya tentukan bahwa saham BBRI merupakan salah satu kandidat yang memenuhi syarat. Dikarenakan juga kantor di menara BRI 2, dan saya mengajar sambilan weekend di BRI Institute. Banyak melihat bagaimana BRI dijalankan saat ini, menurut saya ini perusahaan yang akan terus berkembang ke depannya. Dan nyaman sepertinya untuk dipegang dalam jangka lama.

Tableau Interactive Chart (Untuk Pembaca di Laptop & PC)

Tableau Static Chart (Untuk Pembaca di Smartphone)

Nah jika kita perhatikan bagaimana saya melakukan investasi di saham BBRI ini, baru beli di tanggal 18 Mei ketika harga cukup turun, dan langsung aja beli 2 digit lot dalam pembelian pertama, selanjutnya diarahkan oleh si pacar untuk split order dalam beberapa pesanan, jumlah lot yang kecil-kecil, dan ambil bid di bawah-bawah saja. Cukup happy tuh gag sampe sebulan sahamnya dah naik harganya, eh ketika market mulai turun di tanggal 10 Juni, mulailah goyah hati ini haha. Begitu juga si pacar, mindset kita berdua awalnya investasi, begitu lihat harga turun semua, ya sudah dijual saja daripada keuntungannya tergerus terus. Di saat ini saya ada pegang BMRI juga, barengan dengan BBRI ini juga belinya, dan sama-sama dijual juga di 10 Juni ini haha.

Market sideways di BBRI sampai 2 bulan, di awal Agustus saya masuk lagi investasi di BBRI, kali ini lebih mantap iman investasinya. Terus tambah muatan selama bulan Agustus ini, meski harga terus naik, karena ada budgetnya juga buat diinvestasikan. Eh pada 9 September Gubernur Jakarta, Anis Baswedan mengumumkan rem darurat Covid-19, besok paginya auto turun semua portofolio. Sepanjang September dan Oktober portofolio saya merah, tapi karena sudah belajar dari pengalaman sebelumnya, tetap saja saya simpan sahamnya, malah tambah muatan selama periode merah parah ini. Terbukti bulan November sudah naik lagi, dan portofolio kembali hijau, dengan average down yang oke selama masa krisis rem darurat Anis Baswedan. Di bulan Desember ini jika dilihat harganya mulai turun lagi, saya tambah lagi muatan mumpung lagi ada budgetnya. Dan valuasinya masih oke untuk PBV & PER serta ada dividennya juga.

Posisi akhir 2020 BBRI di portofolio AAA Fund xx lot average di 3456 (angka cantik), dan closing harga 2020 di 4170. Persentase profitnya adalah 20.66 %

Tableau Interactive Chart (Untuk Pembaca di Laptop & PC)

Tableau Static Chart (Untuk Pembaca di Smartphone)

Saham lainnya yang menarik ketika saya cek-cek historical harganya melalui scraping python adalah ICBP, tapi di tengah-tengah Mei saat mulai investasi, harganya masih cukup mahal menurut saya, gag sempat masuk ICBP sudah rebound duluan sehabis titik terendah karena Covid-19 di bulan Maret 2020. Eh di akhir Mei, mereka umumkan akan akuisisi Pinehill, perusahaan afiliasi yang produksi dan pasarkan Indomie di beberapa negara luar, terutama Timur Tengah dan Afrika. Keputusan ini membuat harganya ARB (Auto Rejection Bawah) selama 2 hari berturut-turut, market menilai akuisisinya kemahalan PBV & PER Pinehillnya. Padahal menurut saya ini keputusan yang bagus, untuk ekspansi market ke luar negeri. Bukankah keren kalau nanti ICBP bisa menjadi perusahaan FMCG mendunia seperti P&G dan Unilever. Dan disisi lain saya merupakan penggemar Indomie, jadi ya sudah beli saja deh sahamnya mumpung murah. Di akhir Juli tambah muatan lagi, karena ada dana segar buat investasi. Kemudian didiamkan, dah gag kebeli lagi, mahal sekali 1 lotnya ICBP ini. Di tanggal 12 Agustus 2020 dapat dividen 215 rupiah setiap 1 sahamnya, lumayanlah 2% yield dividennya, dimasukkan lagi ke RDN buat beli saham.

Eh di bulan Desember ini turun terus ICBPnya, tetap hold aja, sambil beli beberapa lot lagi, saya suka makan Indomie soalnya.

Posisi akhir 2020 ICBP di portofolio AAA Fund xx lot average di 9075, closing harga 9575. Persentase profitnya adalah 5.51%

Tableau Interactive Chart (Untuk Pembaca di Laptop & PC)

Tableau Static Chart (Untuk Pembaca di Smartphone)

Nah kalau yang satu ini si WSKT agak menarik, saya cek perusahaan ini dari hasil scraping kok kasihan banget terjerembab begitu di tahun 2020. Saya cek lah kenapa, oh ternyata karena ada kasus korupsi yang menimpa pimpinannya. Korupsi di BUMN dah biasa gag sih kayaknya, apalagi di bidang konstruksi. Dan sudah diproses juga, saya berpikir mudah-mudahan para petingginya yang lain sudah tobat. Ya sudah mulai ambillah langsung banyak dua digit lot di awal-awal Agustus mulai masuknya di kisaran harga 600.

Ketika harganya naik di kisaran 660, tambah semangat itu saya beli, oh bagus ini saham, ada harapan bangkit kembali, toh di masa kejayaannya tahun 2018 saat banyak-banyaknya pembangunan Jokowi ini saham bisa sampai harga 3000 kok, ini cuma 1/5 nya saja harga saat ini, murah meriah, ambil banyak-banyak.

Nah mulai gamang ketika 9 September rem darurat Anis Baswedan, wah saham ini yang turunnya gag mikir-mikir ketimbang BBRI & ICBP, lossnya gede banget, double digit percentage. Untunglah di balkon apartemen baru yang saya tinggalin di Jakarta itu kelihatan banget tol layang baru yang dibangun oleh Waskita Karya, yakni tol Becakayu (Bekasi-Cawang-Kampung Melayu). Memang masih sepi ini tol, mengingat Covid-19 juga kan ya, tapi saya berpikir wah bermanfaat sekali perusahaan ini untuk pembangunan. Membuat jalan tol yang menghubungkan Bekasi dan Jakarta langsung. Serta konsesinya ini kan selama 45 tahun, ya kali gag bakal rame-rame ini tol dalam jangka waktu sepanjang itu. Mulailah agak kuat lagi iman investasinya, tambah muatan average down. Dari 620 ke 570 masih semangat itu average down double digit mulu tiap harinya, makin ke belakang makin kecil imannya, tergambarkan dari average downnya harga makin murah malah makin sedikit yang saya beli. Seperti 510 dan bahkan saat harganya di bawah 500, which is mendekati level terendahnya saat jatuh Covid-19, saya malah cuma beli 1 digit lot saja. Di satu sisi mulai gag percaya sama saham ini, disisi lain budgetnya juga sudah mulai menipis, lesson learn buat cash management, haha.

Eh awal Oktober saham ini melesat tinggi, didukung aturan pemerintah mengenai Omnibus Law, yang banyak menguntungkan perusahaan dengan pekerja kontrak yang banyak seperti perusahaan-perusahaan konstruksi. Kemudian terus melesat dengan adanya aturan pemerintah mengenai SWF, yang katanya akan banyak diinvestasikan ke proyek infrastruktur seperti jalan tol, dan BUMN pemilik jalan tol terbanyak adalah WSKT. Di masa-masa ini sudah saya gag tambah muatan lagi, sudah takut mau tambah muatan, haha.

Posisi akhir 2020 WSKT di portofolio AAA Fund xxx lot average di 600, closing harga 1440. Persentase profitnya adalah 139.89%

AAA Fund dananya terbagi rata ke tiga saham ini, overall yield invetasi dari AAA Fund selama 2020 ini adalah 61%. Not bad buat pemula kalau misalnya kita benchmark ke IHSG di periode investasi yang sama mulai dari 18 Mei 2020 hingga akhir 2020 adalah 32%, dan benchmark ke LQ45 yakni 41.5%

Terlihat memang benar bahwa “even monkey could make money in this time”, dan rekomendasi terbaik saya kalau misalnya gag begitu punya waktu untuk riset saham, dan kualitas iman investasinya so so saja, biar lega hatinya lebih baik masukkan dananya ke Passive Fund saja, seperti Reksa Dana LQ45, atau langsung saja ETF LQ45. Kembali ke keputusan masing-masing, dan kalau saya sendiri sangat bahagia dengan pencapaikan AAA Fund, bisa tidur dengan tenang untuk setiap invetasi yang dilakukan, dan bisa mempertanggungjawabkannya terhadap stakeholder AAA Fund, siapa aja, ya saya sendiri dan calon istri tentunya. Keep learning new things guys!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *