Data Analyst Way of Stock Investing

Sudah penutupan tahun 2020, tahun yang luar biasa, karena Covid terutama. Sudah mau setahun ini kerja dari rumah saja, awal-awalnya di Jakarta, kemudian ke Bengkulu, ada banyak hal yang perlu dilakukan di Bengkulu. Nah selama tahun ini pula saya berkarir di Huawei jadi Data Analyst, tapi jatuhnya end-to-end juga yang dikerjakan. Mulai dari jobdesc-nya Data Engineer yang collect & cleaning data, kemudian Data Scientist yang bikin modellingnya, kemudian Data Analysis yang bikin visualisasi dan deliver kepada customer. Terlepas dari apa yang saya kerjakan, satu hal yang pasti ketika saya bekerja di Huawei ini mulailah terasa bahwa ini pekerjaan yang stabil, dan bisa mulai berpikir tentang rencana masa depan yang panjang, seperti beli tempat tinggal, membangun keluarga baru, bahkan hingga urusan pensiun.

Tentang tempat tinggal mungkin akan bahas nanti-nanti, belum mau nulis tentang hal ini. Walau memang hal ini merupakan salah satu hal terbesar juga yang terjadi di 2020 bagi saya pribadi. Untuk yang tentang keluarga baru wah ini belum dilakukan, baru direncanakan, doain lancar hingga pelaksanaannya ya. Nah untuk yang pensiun ini mungkin akan saya bahas duluan, karena saya yakin mayoritas dari rekan-rekan yang membaca tulisan ini memiliki pekerjaan tetap formal dan tentunya dicover dalam program pensiun, program pensiun universal pemerintah Indonesia yakni BPJS Ketenagakerjaan. Kalau misalnya anda perhatikan di slip gajian, ada kan itu potongan dari gaji sebesar 2% untuk BPJS Ketenagakerjaan, yang kemudian ditambahkan dari perusahaan sebesar 3.7% dari gaji kita juga. Katakanlah 5% (biar gampang hitungnya) dari gaji bulanan dimasukkan dalam rekening dana Jaminan Hari Tua individual kita masing-masing. Yang kemudian dana ini dikelola oleh BPJS dengan berbagai instrumen investasi seperti reksadana, obligasi dan saham, sehingga ada imbal hasilnya atas dana yang kita masukkan itu.

Berikut tabel simulasinya dengan asumsi penghasilan yang cukup besar, well, ini bukan penghasilan saya, hanya contoh saja. Penghasilan ini diasumsikan ada kenaikan 5% setiap tahunnya, sekali lagi ini bukan tingkat kenaikan gaji di perusahaan saya saat ini, hanya contoh saja. Mulainya di usia yang rata-rata sudah cukup mapan untuk pekerjaan, yakni 27 tahun. Imbal hasil dari BPJS Ketenagakerjaan hingga Q3 2020 adalah 7.2%, saya asumsikan saja 7% flat dari tahun ke tahun. Dan bekerja hingga usia 55 tahun.

Ada satu lagi sebenarnya yakni iuran pensiun, besarnya 3% dari gaji bulanan. Nah kalau misalnya kita lihat ini pas pensiun lumayan banget kan ya dapat 320 juta langsung sekaligus. Namun perlu diperhatikan juga bahwa angka harapan hidup orang Indonesia itu ada di 71 tahun, katakanlah kita sedikit beruntung bisa sampai usia 75 tahun. Artinya ada 20 tahun masa tanpa penghasilan yang mesti dicover uang dari manfaat pensiun dan juga jaminan hari tua. Untuk manfaat pensiun BPJS Ketenagakerjaan yang saya baca-baca itu sebesar 40% dari rata-rata penghasilan tiap bulan, ya sudah saya coba rata-ratakan dapatlah kira angka 17 juta. Jadi manfaat pensiun nanti sebesar 6.800.000 rupiah, ditambah kalau misalnya Jaminan Hari Tua mau dibagi rata tiap bulan ada sekitar 1.300.000 rupiah. Wah setelah pensiun nanti uang perbulannya jauh turun dari gaji terakhir, malah hampir sama seperti saat mulai kerja. Pantas orang semua berpikir mau jadi PNS, lah manfaat pensiun perbulannya saja 75% dari gaji terakhirnya, jelas lebih besar ketimbang pensiun pegawai swasta.

Mesti mikir-mikir lagi nih buat pensiun nanti, mulai deh baca-baca tentang financial planning, manfaat pensiun, investasi, dan pengelolaan dana. Baca-baca di Medium.com hal-hal ini, di Amerika mereka ada rencana pensiun 401(k), keren rencana pensiunnya baca-baca sekilas, pegawai swasta bisa kontribusi di dana pensiun sebesar yang mereka tentukan sendiri dengan batas atas yang ditentukan oleh pemerintah. Kemudian banyak perusahaan juga membuat program untuk matching kontribusi perusahaan sebesar dana yang disisihkan oleh pegawainya. Dan menariknya lagi, dana ini bisa dimanage oleh karyawan dengan memilih produk investasinya sendiri, apakah mau di saham, kemudian saham apa, atau mau di obligasi maupun reksadana.

Kalau misalnya ada program ini sepertinya menarik juga, tapi karena kita hanya ada BPJS Kesehatan, ya sudah saya berpikir mengapa tidak membuat Fund Management saya saja sendiri. Ada dana honor dari mengajar setiap bulannya parkir di rekening BRI saja tidak saya gunakan, lebih baik ini dimasukkan kedalam Fund ini. Dan biar seru mari kita namakan Fund ini sebagai AAA Fund, dibaca Triple A Fund, singkatan nama saya haha. Dan karena saya masih muda, masih bisa mengambil resiko yang cukup besar karena jangka waktu investasi yang masih lama, saya berpikir untuk masukkan semua dana AAA Fund ke dalam saham.

Cukup beruntung sebenarnya mulai masuk saham di masa Pandemi ini, kata orang-orang di Wallstreet sono sih “Even monkey make money in this time”. Jadi cukup mudah untuk dapat return yang bagus dari saham di masa-sama pandemi ini. Saya bakal share bagaimana saya memilih saham-saham untuk AAA Fund.

Sehabis baca-baca buku The Intelligent Investor karya Benjamin Graham, beliau merekomendasikan value stock, yang terus menerus grow baik laba maupun harga sahamnya. Oke gampang ngomongnya, tapi di Indonesia Stock Exchange, saham mana ajakah ini. Ada 713 saham di IDX, apakah mesti saya cek satu2 chart harga sahamnya. Lumayan juga mesti cek satu-satu ini, tapi karena saya tidak pengalaman dan tidak ada ide lain juga, ya sudah jalankan saja ide kurang kerjaan ini. Namun dengan Data Analyst Way dong tentunya, this is the way.

Jadi langkah pertama adalah scraping semua saham yang ada di IDX, saya scraping nama-namanya dari sini https://www.idx.co.id/data-pasar/data-saham/daftar-saham/

Kemudian saya buat script web automasi dengan python untuk mengambil screenshoot harga mulai dari awal data available hingga hari dimana saya melakukan automasi. Berikut screenshoot folder hasil kumpulan image scraping automasi saya. Scraping harganya butuh waktu cukup lama, saya tinggalin aja agak beberapa jam script running di laptop, di malam hari running sendiri automasinya.

Hasil automasi python

Setelah scraping selesai, sambil lalu akan saya cek satu persatu, mana yang graphnya menunjukkan pertumbuhan harga konsisten. Meski pada saat Covid jatuh, namun harapannya akan naik kembali. Saya tentukan bahwa saham BBRI merupakan salah satu kandidat yang memenuhi syarat. Dikarenakan juga kantor Huawei itu di menara BRI 2, dan saya mengajar sambilan weekend di BRI Institute. Banyak melihat bagaimana BRI dijalankan saat ini, menurut saya ini perusahaan yang akan terus berkembang ke depannya. Dan nyaman sepertinya untuk dipegang dalam jangka lama.

Tableau Interactive Chart (Untuk Pembaca di Laptop & PC)

Tableau Static Chart (Untuk Pembaca di Smartphone)

Nah jika kita perhatikan bagaimana saya melakukan investasi di saham BBRI ini, baru beli di tanggal 18 Mei ketika harga cukup turun, dan langsung aja beli 2 digit lot dalam pembelian pertama, selanjutnya diarahkan oleh si pacar untuk split order dalam beberapa pesanan, jumlah lot yang kecil-kecil, dan ambil bid di bawah-bawah saja. Cukup happy tuh gag sampe sebulan sahamnya dah naik harganya, eh ketika market mulai turun di tanggal 10 Juni, mulailah goyah hati ini haha. Begitu juga si pacar, mindset kita berdua awalnya investasi, begitu lihat harga turun semua, ya sudah dijual saja daripada keuntungannya tergerus terus. Di saat ini saya ada pegang BMRI juga, barengan dengan BBRI ini juga belinya, dan sama-sama dijual juga di 10 Juni ini haha.

Market sideways di BBRI sampai 2 bulan, di awal Agustus saya masuk lagi investasi di BBRI, kali ini lebih mantap iman investasinya. Terus tambah muatan selama bulan Agustus ini, meski harga terus naik, karena ada budgetnya juga buat diinvestasikan. Eh pada 9 September Gubernur Jakarta, Anis Baswedan mengumumkan rem darurat Covid-19, besok paginya auto turun semua portofolio. Sepanjang September dan Oktober portofolio saya merah, tapi karena sudah belajar dari pengalaman sebelumnya, tetap saja saya simpan sahamnya, malah tambah muatan selama periode merah parah ini. Terbukti bulan November sudah naik lagi, dan portofolio kembali hijau, dengan average down yang oke selama masa krisis rem darurat Anis Baswedan. Di bulan Desember ini jika dilihat harganya mulai turun lagi, saya tambah lagi muatan mumpung lagi ada budgetnya. Dan valuasinya masih oke untuk PBV & PER serta ada dividennya juga.

Posisi akhir 2020 BBRI di portofolio AAA Fund xx lot average di 3456 (angka cantik), dan closing harga 2020 di 4170. Persentase profitnya adalah 20.66 %

Tableau Interactive Chart (Untuk Pembaca di Laptop & PC)

Tableau Static Chart (Untuk Pembaca di Smartphone)

Saham lainnya yang menarik ketika saya cek-cek historical harganya melalui scraping python adalah ICBP, tapi di tengah-tengah Mei saat mulai investasi, harganya masih cukup mahal menurut saya, gag sempat masuk ICBP sudah rebound duluan sehabis titik terendah karena Covid-19 di bulan Maret 2020. Eh di akhir Mei, mereka umumkan akan akuisisi Pinehill, perusahaan afiliasi yang produksi dan pasarkan Indomie di beberapa negara luar, terutama Timur Tengah dan Afrika. Keputusan ini membuat harganya ARB (Auto Rejection Bawah) selama 2 hari berturut-turut, market menilai akuisisinya kemahalan PBV & PER Pinehillnya. Padahal menurut saya ini keputusan yang bagus, untuk ekspansi market ke luar negeri. Bukankah keren kalau nanti ICBP bisa menjadi perusahaan FMCG mendunia seperti P&G dan Unilever. Dan disisi lain saya merupakan penggemar Indomie, jadi ya sudah beli saja deh sahamnya mumpung murah. Di akhir Juli tambah muatan lagi, karena ada dana segar buat investasi. Kemudian didiamkan, dah gag kebeli lagi, mahal sekali 1 lotnya ICBP ini. Di tanggal 12 Agustus 2020 dapat dividen 215 rupiah setiap 1 sahamnya, lumayanlah 2% yield dividennya, dimasukkan lagi ke RDN buat beli saham.

Eh di bulan Desember ini turun terus ICBPnya, tetap hold aja, sambil beli beberapa lot lagi, saya suka makan Indomie soalnya.

Posisi akhir 2020 ICBP di portofolio AAA Fund xx lot average di 9075, closing harga 9575. Persentase profitnya adalah 5.51%

Tableau Interactive Chart (Untuk Pembaca di Laptop & PC)

Tableau Static Chart (Untuk Pembaca di Smartphone)

Nah kalau yang satu ini si WSKT agak menarik, saya cek perusahaan ini dari hasil scraping kok kasihan banget terjerembab begitu di tahun 2020. Saya cek lah kenapa, oh ternyata karena ada kasus korupsi yang menimpa pimpinannya. Korupsi di BUMN dah biasa gag sih kayaknya, apalagi di bidang konstruksi. Dan sudah diproses juga, saya berpikir mudah-mudahan para petingginya yang lain sudah tobat. Ya sudah mulai ambillah langsung banyak dua digit lot di awal-awal Agustus mulai masuknya di kisaran harga 600.

Ketika harganya naik di kisaran 660, tambah semangat itu saya beli, oh bagus ini saham, ada harapan bangkit kembali, toh di masa kejayaannya tahun 2018 saat banyak-banyaknya pembangunan Jokowi ini saham bisa sampai harga 3000 kok, ini cuma 1/5 nya saja harga saat ini, murah meriah, ambil banyak-banyak.

Nah mulai gamang ketika 9 September rem darurat Anis Baswedan, wah saham ini yang turunnya gag mikir-mikir ketimbang BBRI & ICBP, lossnya gede banget, double digit percentage. Untunglah di balkon apartemen baru yang saya tinggalin di Jakarta itu kelihatan banget tol layang baru yang dibangun oleh Waskita Karya, yakni tol Becakayu (Bekasi-Cawang-Kampung Melayu). Memang masih sepi ini tol, mengingat Covid-19 juga kan ya, tapi saya berpikir wah bermanfaat sekali perusahaan ini untuk pembangunan. Membuat jalan tol yang menghubungkan Bekasi dan Jakarta langsung. Serta konsesinya ini kan selama 45 tahun, ya kali gag bakal rame-rame ini tol dalam jangka waktu sepanjang itu. Mulailah agak kuat lagi iman investasinya, tambah muatan average down. Dari 620 ke 570 masih semangat itu average down double digit mulu tiap harinya, makin ke belakang makin kecil imannya, tergambarkan dari average downnya harga makin murah malah makin sedikit yang saya beli. Seperti 510 dan bahkan saat harganya di bawah 500, which is mendekati level terendahnya saat jatuh Covid-19, saya malah cuma beli 1 digit lot saja. Di satu sisi mulai gag percaya sama saham ini, disisi lain budgetnya juga sudah mulai menipis, lesson learn buat cash management, haha.

Eh awal Oktober saham ini melesat tinggi, didukung aturan pemerintah mengenai Omnibus Law, yang banyak menguntungkan perusahaan dengan pekerja kontrak yang banyak seperti perusahaan-perusahaan konstruksi. Kemudian terus melesat dengan adanya aturan pemerintah mengenai SWF, yang katanya akan banyak diinvestasikan ke proyek infrastruktur seperti jalan tol, dan BUMN pemilik jalan tol terbanyak adalah WSKT. Di masa-masa ini sudah saya gag tambah muatan lagi, sudah takut mau tambah muatan, haha.

Posisi akhir 2020 WSKT di portofolio AAA Fund xxx lot average di 600, closing harga 1440. Persentase profitnya adalah 139.89%

AAA Fund dananya terbagi rata ke tiga saham ini, overall yield invetasi dari AAA Fund selama 2020 ini adalah 61%. Not bad buat pemula kalau misalnya kita benchmark ke IHSG di periode investasi yang sama mulai dari 18 Mei 2020 hingga akhir 2020 adalah 32%, dan benchmark ke LQ45 yakni 41.5%

Terlihat memang benar bahwa “even monkey could make money in this time”, dan rekomendasi terbaik saya kalau misalnya gag begitu punya waktu untuk riset saham, dan kualitas iman investasinya so so saja, biar lega hatinya lebih baik masukkan dananya ke Passive Fund saja, seperti Reksa Dana LQ45, atau langsung saja ETF LQ45. Kembali ke keputusan masing-masing, dan kalau saya sendiri sangat bahagia dengan pencapaikan AAA Fund, bisa tidur dengan tenang untuk setiap invetasi yang dilakukan, dan bisa mempertanggungjawabkannya terhadap stakeholder AAA Fund, siapa aja, ya saya sendiri dan calon istri tentunya. Keep learning new things guys!

Pulang Kampung

Terakhir nulis blog 21 Oktober 2018, sudah 2 tahun yang lalu, wah itu masih di tengah-tengah sekolah, dan begitu banyak hal yang terjadi ketika itu. Sekarang sudah jadi kenangan semua, coba review dulu deh apa aja yang terjadi sepanjang 2 tahun hiatus nulis blog. Eh sebelumnya, saya tobat dah nulis pake bahasa Inggris, gag banyak manfaatnya juga, kemampuan nulis bahasa Inggris gitu2 aja, jurnal atau paper gag nambah2 juga, dan yang lihat juga gag ada tulisan-tulisan bahasa Inggris ini, statistiknya di bawah ini (Tampilan maksimal di laptop/PC, di mobile bisa cek static chart dibawahnya) :

Tuh kan, yang dibaca yang pake bahasa Indonesia semua, yang paling banyak untuk tulisan tentang Topologi jaringan, haha, ya sudahlah balik pake bahasa Indonesia aja lagi nulis ini blog.

Selanjutnya, apa aja yang terjadi dalam 2 tahun belakangan.

1. Saya Lulus dari Shanghai Jiaotong University 😀

Yeay, akhirnya lulus juga setelah menempuh pendidikan nyaris 3 tahun untuk program Master by research di Shanghai Jiaotong University, meski nilai pas-pasan, dengan paper seadanya, dan beasiswa yang cuma sampai 2 tahun aja dari LPDP, bisa selesai juga program S2 ini. Paper researchnya saya publish di link berikut, silahkan dibaca-baca dan disitasi juga kalau misalnya relevan, hehe. Yang disebelah itu Chisillia, pacar saya, dia lulus juga S2 nya dari Shandong University.

Deep learning based classification for paddy pests & diseases recognition

Authors: Ahmad Arib Alfarisy, Quan Chen, Minyi Guo

Selain itu, sempat juga belajar bahasa Mandarin di Shanghai Normal University, meski sampai intermediate aja, dan itupun seadanya aja belajarnya. Yah buat beli makan sama jalan2 di China cukuplah, gag bisa lebih dari itu, gag bakat saya bahasa Mandarin.

2. Pemilu Luar Negeri Shanghai Lancar hingga Selesai

Duh untung aja ada Pemilu, jadi ada KPU yang lanjut bayarin hidup ketika LPDP sudah habis masa bayarnya. Ditambah uang orang tua juga untuk bayar SPP sekolahnya. Kebetulan dipercaya oleh rekan-rekan di KJRI & Panitia Pemilu Luar Negeri (PPLN) Shanghai untuk menjadi ketua PPLN. Masa-masa yang tak terlupakan deh pokoknya selama menjadi PPLN ini. Mulai dari pendataan warga di area kerja PPLN Shanghai, ada training-trainingnya banyak, hiring rekan-rekan untuk membantu PPLN di hari H, dan akhirnya pelaksanaan di hari H itu sendiri.

Rekan-Rekan PPLN & KPPSLN serta KJRI Shanghai
Bimbingan Teknis mengenai Pemilu, PPLN Shanghai yang arrange
Panitia ikutan milih juga, dan dokumentasipun tak lupa
Press Release hasil Pemilu di Shanghai

Senang rasanya bisa partisipasi aktif untuk menentukan masa depan Indonesia 5 tahun ke depan. Dan kami bekerja dengan keras, terbukti dari angka partisipasi Pemilu warga di area kerja PPLN Shanghai yang mencapai 91.53%, jauh diatas target dari KPU dan Kemenlu, yakni 50% untuk semua PPLN. Serta cukup tinggi ketimbang partisipasi Pemilu Shanghai periode sebelumnya, yakni 30an% (lupa spesifiknya).

Dan setelah selesai study, kembali ke Indonesia, mulai bekerja, ada undangan dari KPU pusat kepada semua PPLN sedunia untuk menghadiri rapat evaluasi Pemilu 2019 dimana hayo, jeng jeng jeng, di Bali, haha. Senang banget bisa kumpul PPLN seluruh dunia di Bali, dibayarin full oleh KPU Pusat pastinya.

3. Pulang Kampung, Mengabdi (alias cari duit buat makan)

Well not gonna lie, meski LPDP sudah dikontrak pulang kampung setelah study, tetap aja nekad cari-cari kerjaan di luar negeri. Sebelum lulus sempat magang di perusahaan Startup di Shanghai, bayarannya cukuplah, kerjaannya cocok, eh Startupnya bubar. Lesson learn, magang cari perusahaan multinasional (MNC) yang udah gede aja sekalian bagusnya, jadi kepastian kerjanya lebih tinggi, kayak role model saya bro Lemington, senior di SJTU, yang magang di HP Shanghai, dan akhirnya setelah lulus bekerja di HP Singapura, keren. Berikut Linkedin profilenya buat yang mau berguru kepada beliau https://sg.linkedin.com/in/lemington

Ada satu perusahaan MNC yang waktu itu saya sudah sampai tahap akhir seleksinya, namanya Jardines, HQ nya di Hongkong, perusahaan konglomerasi besar milik UK yang usahanya ada di Asia. Di Indonesia salah satu kepemilikan usaha mereka adalah Astra Internasional & hotel Mandarin Oriental. Sayangnya dah tahap terakhir gag lulus, sedih waktu itu, dah all out, tapi apa boleh buat belum nasib sepertinya. Padahal waktu itu sempat sampai berguru sama rekan XLFL dulu yang sedang penugasan kerja di Hongkong, dia dari Astra Internasional, dipilih untuk dapat job training 1 tahun di Jardines HK. Saya sampe nginap di apartemennya, gag da duit sewa penginapan di HK, mahal banget. Niatnya sih nanya2 tips & triks biar lulus seleksi Jardines, eh malah banyakan jalan-jalannya haha. Berikut profilnya beliau, keren, https://id.linkedin.com/in/wildand-angesti-88579491

Sebulan terakhir masa berlaku visa di China, dapat offering kerja di perusahaan kecil yang jualan gitar di China, ambil barang dari Amerika & Eropa. Butuh personel buat handle website, server & databasenya. Perusahaannya di Qingdao, ya udah saya pikir coba aja dulu sebulan ini, kalau gag cocok anggap aja liburan di Qingdao. Salah satu kota pantai yang terkenal dengan bir nya di China, pantainya ya beginilah fotonya, pasirnya gag putih, orangnya rame sekali.

Kerja disini, bosnya ok, bayarannya lumayan ok, tp mikir karir sama belajarnya agak kurang bisa berkembang disini, saya udah khatam lah kalo masalah web & server, mau coba ekplorasi area baru di data analysis dan data sains. Jadi niatnya bisa kepake lah ilmu belajar S2 nya, itu web & server ilmu jaman S1 dulu, udah cukup. Jadi setelah satu bulan saya tinggalin bos nya, dengan offering lain dari Huawei, dengan posisi awal IT Engineer.

Training Karyawan Baru Huawei

Cukup beruntung juga saya sebelum selesai study sudah ada offering kerja fulltime di kampung halaman, dengan bayaran yang cukup oke, dan posisi yang sesuai dengan background saya. Awalnya di project XL Axiata, bantu sana sini, ini itu. Mulai tambah menarik ketika beberapa bulan belakang pindah ke project Indosat, jadi Data Analyst disini. Mulailah kepake banget itu python data analysisnya, database manipulation, robotic process automation dengan python dan bash scripting, manage server, dan dapat mainan baru Tableau yang licensenya dibelikan oleh kantor, mahal ini software, gag mampu beli dulu jaman kuliah, haha. Sambil ngajar juga di BRI Institute, karena apa ya, hmm, pengen aja sih ngajar ilmu yang bermanfaat buat rekan-rekan S1. Kebetulan rektornya BRI Instutute itu Wakil Rektor jaman saya kuliah di Universitas Mercubuana, ada kontaknya di Linkedin, saya kontak deh apply dosen paruh waktu, dan diterima, hehe. Inilah fungsinya Linkedin, kalau mau add saya boleh dicek link berikut https://www.linkedin.com/in/ahmadaribalfarisy

Sebenarnya ada banyak hal lainnya yang terjadi 2 tahun belakangan, tapi cerita-cerita 3 hal ini aja dulu cukup deh sepertinya, semoga bermanfaat buat rekan-rekan yang lain. Ingatlah bahwa setiap proses itu akan ada hasilnya, dan hasilnya terkadang memang tidak seperti yang kita bayangkan, atau harapkan, tapi selama kita terus berusaha pada akhirnya akan dapat yang terbaik juga.

Ditulis di Bengkulu, saya lagi pulang kampung beneran, mumpung WFH juga di kantor Huawei. Kalau ada rekan-rekan di Bengkulu hayo kontak kita ngobrol2.

25th Month, Life is a Long Marathon

Another weekend journey to another city, to Hangzhou, on a fast train, without internet access. Leaving me with the option either read
my Kindle or just write anything, I just finished reading the last book, pragmatic programming, finding a new book to read will takes some
time, and I do not yet decide what I want to learn for the next week. So let’s stick to writing this time. Writing without the internet is fun! No distraction to watch a movie or look at my web statistic or reading some Medium article. But yeah the publishing gonna be quite late, just note for myself, I write this post on 20 October, 12.10, fast train from Shanghai to Hangzhou, for Indonesia General Election socialization program.

I’m taking Chinese class now every morning, and I did not so good, compared to my peers in language campus, but hey it’s not so bad when we compare it to my peers in computer science campus.

Why not so good, because of most of the student in my language class, which is now I’m in Basic level 3, they just learn some month ago, and read perfectly well, they only live in China since like 1 month ago.
While me? already 2 years in China and still in Basic level 3, above my level, there is Intermediate level 1 and 2, Advance level 1 and 2. So basically my capability is just 3/7 currently. My reading is bad, I’m one of the slowest readers in class. For writing, ah forget it, I prefer writing a website with HTML & PHP code by hand, on the damn paper, rather than writing a story about a duck in Chinese character.

One of my friend asking me why my Chinese learning speed so slow?
I answer him, I do my learning like a marathon, a really long marathon, that last for years. My expectation is not to see the difference in months, but years. I do plan to master the Chinese language not on just like 1 years, but I expect to learn it for much more years. Just like I learn English for 3 intensive years with debating community in high school, while actually I already learn some English vocabulary since junior high school. Until now I still learn English as well, trying to write it down this time.
Why did I do besides that? I do multiple marathons.
I’m not a good student on single specific things. Instead, I do my learning in parallel.

While I learn the Chinese language, I also learn Computer Science class.
If you want to know, I start to learn to code since junior high school, professionally. Because that time I selected as programming
competition candidate from my city. But until now I still learn a lot of new things as well, some of my studies paid off with my research going on well. So does my web development work with Megichina, accounting cloud software in Shanghai.
But then, compared to my peers in my engineering school, well, I’m kind of nobody here, I still need to learn so much more.
This case is not only for me, but I also try to influence my girlfriend, Chisil to do this process as well. She learns about financial analytics
since year 2 of her undergraduate study, last year use new tools (Stata) and method that used by her Prof to analyze the data, now she learn how to use IT tools and technique to do that. It takes years, and the result still not out yet, our paper even on revision, she did not win anything as well, but yeah she started just some years ago, let give her some time.
I need to get off the train now, I’m already in Hangzhou.

21 October, in the morning.
Wake up, get breakfast, breakfast in this hotel is excellent, love it.
The activity yesterday is fantastic, it’s nice to see so much new student coming to China, to learn in here. Some come to learn the Chinese
language, some come to finish their degree. Wish them all the best in their own marathon.

Room in Hangzhou

The feel of this room reminds me of my working time in Jakarta. When I’m working as a TOEIC test supervisor, go around Indonesia, testing
some student, or do some testing for recruitment for some company. Sometimes I will meet my friend from XLFL, or any other program
when I come to do a recruitment test. And the hotel room, sometimes it’s nice like this room, this room is quite similar to a hotel room
in Balikpapan. Oh my, I miss Balikpapan crab, they produce the best black pepper crab in my opinion.

The last night feels when I give my speech in front of the student, while at the same time giving them sponsorship, is precisely the same
like what I did when I work in OPPO smartphone. I sponsor their activity, bring the value of my working place (now for Election Committee
Indonesia), to support student activity, and reach them out. Both of that is my marathon when I’m in Indonesia. I implement what I learn to a new place. And everything just keeps repeating itself, I never know before that I will be back to do a speech in front of the student.

I just really like to be in the middle of students, well perhaps this is a natural trait, we used to live inside high school for like 13 years probably. My mother is a teacher for elementary school, while my father works in the ministry of education.

Now let me pack my backpack, and get ready to get back to Shanghai, and continue my marathon in Shanghai. My marathon here in Hangzhou is over.
Wish you all the best on your own marathon guys.

2nd Anniversary, People are Back Home, and I’m still Stuck Here, doing Everything

Today is 9 September 2018, two years ago I’m coming to Shanghai Jiaotong University to continue my study. No idea at all what’s gonna happen to me here. I’m the only stupid person decided to study here from my scholarship program, LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, Indonesia Education Endowment Fund). And nobody ever told me what am I gonna face in here, while doing my study. Both of my parents never take beyond a bachelor degree, so they can’t really tell me what I need to prepare.

People back there on my old campus, they have some idea about the study in China. Since they send a student every year to study in Beijing Institute of Technology and back to teach on campus.  Well, that’s not my dream, and SJTU far heavier the challenge than BIT, so their story feels a little bit not relevant. And my XLFL, StudentsxCEOs, Intern work, and LPDP awardee, most of them go to Europe, Australia and US. With some goes to the middle east, Japan, South Korea, Hongkong. But nobody ever going to Shanghai.

There are only a few of us LPDP awardee here in China, perhaps just one people in each province. So, I’m coming empty hand and empty head. In term of academic things, well, I’m the worst. I’m not following any formal study, or research or paper or anything related to academic at all while I’m doing my bachelor degree.

So, no wonder everything running so hard for me for the last 2 years. The review is here, all article I have been write about my life in China.

https://ahmadarib.com/life-in-china

Challenge of Master degree in China

And the hardest one is my GPA mark, which is required to be at least 2.7 to graduated. And LPDP stopped my funding, since last August. Yeah, this month I’m no longer get funded by LPDP, not anymore, after two years. And I still need to live here in Shanghai, China. For at least seven more months, March 2019 is my expected graduation.

Everything turns out to be well for my financial, as you could read in my previous blog post. Now money is not my issue anymore. I could live relatively well despite LPDP abandon me here.

For my GPA, I recently open my school account and find out that my mark is finally passing 2.7, yay! Just a little bit above that, since one course that I redo last semester is getting B+. Improvement from last year which I get D. So I could submit my thesis proposal, which I have done since last semester, about my deep learning research paddy pest recognition. It’s on the link below if you guys want to read it, and cited it if needed.

https://dl.acm.org/citation.cfm?id=3208795

Research work

And that research field is going well; I get contacted by one student from Warwick University, UK, that also work for this field, and would like to use my image dataset.

academic discourse deep learning based paddy pest and disease

And not just that, I get news that one competition about Artificial Intelligence is doing this exact field. With a quite significant amount of money prize. Well well well, it’s time to rolling my sleeve and say hi to my GPU again, time to work.

Deep Learning based diseases competition

Some people research for the sake of research itself. But for me, I want to see the direct result from my research work. I want to work on a problem faced by real people. So that’s why I choose that research on the first place, and it was giving me much. Like get my ticket home, presentation in the conference, finishing my degree materials, and excellent learning experience. This research is the entry point that makes me understand artificial intelligence, even just a little bit part of it.

Final semester

Now I’m in the final game, in the last semester. Doing everything at once, writing my thesis, doing AI research, doing some AI competition. Working with the Indonesian embassy in Shanghai to conduct general election 2019. Working at my intern place where we do web development with WordPress and managing their Alibaba cloud server. Writing about everything with a focus on academic writing and technical writing (now in English, yay).  And Chinese language study too, I have taken another semester to study the Chinese language at Shanghai Normal University. Oh my God, just thinking about it feels so heavy and hard, but that’s my choice.

While my LPDP friends they all already finished their master degree. Some even end it faster, just one year completing the master degree. And here I am, still one more semester ahead, not even finish writing my thesis. But then, everyone starting differently, for me, I’m just a stupid guy from a silly place, that learn everything along the way by trial and error. Wish me luck, and wish you all the best too, my friend.