S2 yang Indah itu Ketika S2 keluar Negeri Barengan si dia, Gratisan Lagi

Tulisan ini, yah, kali ini saya dedikasikan bukan untuk diri saya sendiri. Bukan, ini bukan cerita tentang saya, bukan tentang S2 saya, atau tips-tips dapet beasiswa S2 dari saya, maupun tentang bagaimana cara dapet beasiswa LPDP sama seperti yang saya dapatkan.

Karena case & background saya mendapat beasiswa S2 ini rasanya gag relevan buat sebagian orang, mungkin termasuk kamu-kamu yang baca saat ini, bagaimana bisa gag relevan?

1. 5 tahun lalu, saya apply beasiswa full S1 ke Rusia, Korsel, India & Mercubuana Jakarta. 3 yang pertama hingga tahap akhir, wawancara di kedubes & gagal. Yang terakhir lulus. Saya paham preparation beasiswa sejak 5 tahun lalu, bahkan menulis buku tentang hal ini.

2. Saya cukup paham membaca mekanisme & prepare beasiswa, September tahun 2015 saya resign sudah dapat saya prediksi bahwa saya berangkat kuliah September tahun 2016, dengan semua hal yang perlu dipersiapkan, saya tahu bahwa 1 tahun waktu yang wajar.

3. Skor TOEIC saya 950 dari max skor 990.
3 tahun SMA debat bahasa Inggris, 3 tahun di kuliah nyambi jadi supervisor TOEIC & TOEFL test, yang ngawas test lho ya, mana nggak hapal sama tipe soal & jawabannya apa, hehe.

Lha terus ini tulisan tentang siapa?

Pacar saya, Chisillia Mayang Sari 🙂

Kondisinya menurut saya, sekali lagi menurut saya lho ya, lebih relevan dengan kebanyakan orang yang mau lanjut S2 keluar negeri dengan beasiswa, apa aja kondisi pacar saya?

1. Resign bulan Desember 2015, mulai prepare beasiswa bulan Januari 2016, ini juga sambilan bantu perusahaan keluarga.

2. S1-nya dulu di Universitas MH. Thamrin, kampus swasta yang gag begitu jelas juga sebenarnya, mirip2 kampus saya Mercubuana, haha, bahkan namanya aja baru ganti sekitar 2 tahun lalu, dulunya AKA STIEBI. Gedung kampusnya 1 bangunan tua banget, mesti zikir dan baca Al Fatihah dulu sebelum masuk kuliah, dan katanya pernah dipake sama salah satu stasiun TV untuk syuting acara show yang ada hantu-hantunya itu lho.

3. Pertama kali test TOEIC, skornya 510 (standard LPDP TOEIC keluar negeri 750), beberapa bulan kemudian test lagi setelah beli buku, kursus di kampung inggris, saya ajarin, dan berdoa yang banyak alhamdullilah naik, jadi 535, wkwkwk.

4. Jurusan S1-nya tentang ekonomi, spesifik di Pasar Modal, tiba-tiba juga masuknya ke jurusan itu karena dulu gag begitu disiapin milih jurusannya. Tapi memang tepat juga sih pada akhirnya, karena terbukti dari kerjanya ternyata sesuai dengan minatnya.

Dan tepatnya akhir bulan Juli lalu, dia berhasil dapat beasiswa penuh S2 selama 3 tahun di Shandong University, Jinan, Tiongkok. Dibiayain semua biaya kuliah, asrama kampus, dan biaya hidup sebesar 3.000 yuan perbulan selama 3 tahun oleh Pemerintah Tiongkok, tanpa kontrak, tanpa kewajiban kerja apapun pasca study.

Berangkatnya barengan lagi, di bulan September tahun ini, wahh.

LoA dari Universitas di Tiongkok, yang kanan punya saya, kehujanan, wkwk
LoA dari Universitas di Tiongkok, yang kanan punya saya, ada noda kehujanan, wkwk. Di LoA pacar saya dia diterima sejak 27 April, namun dari pihak CGS-nya baru memutuskan pada akhir Juli lalu.

Well, sebenarnya banyak juga sih teman-teman yang sudah pasangan waktu udah mau berangkat S2 keluar negeri, baik itu masih pacaran, tunangan ataupun menikah, apalagi di LPDP tuh. Banyak yang sebelum berangkat, yang jomblo cari pacar dulu yang sama negara tujuannya, atau yang sudah pacaran nikah dulu sebelum berangkat kuliah diluar negeri, pasangannya ikut dibawa keluar negeri. Atau kadang juga ada pasangan yang sudah menikah pisah dulu selama study, karena bisa jadi pasangannya sudah memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan atau study S2 juga namun negara dan waktunya berbeda (jadi inget om Wide di LPDP PK-66, barengan test ke Aussie istrinya lolos dia enggak, pas lolos LPDP dapetnya ke UK lagi, kasian si om kangen berat sama anaknya sih katanya, bukan kangen istrinya, hehe).

Banyak yang bilang kejadian seperti kami, sama2 dapat S2 keluar negeri di negara yang sama dan waktu intake yang sama merupakan keberuntungan parah, tapi sebenarnya menurut saya ini bukan karena keberuntungan juga bro/sist.
Pacar saya dapat beasiswa S2 keluar negeri hanya dalam waktu 7 bulan saja (Januari-Juli), dan pertama kali mencoba, full beasiswa lagi, dengan jurusan yang sesuai, tentunya bukan karena keberuntungan saja, tetapi karena persiapannya yang sempurna di awalnya.

Yang dapat beasiswa itu bukan mereka yang pintar, tapi mereka yang siap.

Si dia bisa dapat beasiswa full karena persiapannya luar biasa.

Januari, riset tentang semua kemungkinan beasiswa full ke China, opsi apa aja yang dimiliki sesuai kemampuannya. Ada LPDP, ada China Government Scholarship (CGS), CGS ini juga ada CGS jalur bilateral embassy Tiongkok di Indonesia, CGS jalur University di China, CGS jalur kerjasama khusus.

Februari, persiapan untuk setiap jalur, melihat mana yang mungkin dilakukan mana yang nggak. LPDP skip karena b.ing kurang. CGS jalur embassy skip karena kompetisi tinggi banget, gag worth to try. CGS jalur University hajar full, riset lagi tentang semua Universitas yang menyediakan program yang dinginkan dan tingkat persaingan yang bisa dihandle dan kalau bisa dekat dengan Shanghai (saya target sejak awal di Shanghai, susah kalo LDR kejauhan bro/sist, berat diongkos, wkwk).

Maret, dapat list 6 Universitas yang sesuai kriteria (waktu itu saya targetin 10), mulai usaha untuk penuhi semua requirement yang diminta oleh Universitas.

April, Requirement Universitas dipenuhi semua, kirim dokumen aplikasi via Pos Indonesia (biar murah) ke 6 Universitas di Tiongkok. Tiba-tiba ada pengumuman beasiswa penuh program kerjasama khusus antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Tiongkok. Kesempatannya sebesar 50 orang lebih, via Kemenristekdikti, ini apply juga. Total ada 7 berkas aplikasi dikirimkan dalam sebulan, 7 kesempatan yang menurut hitungan saya cukup tinggi persentase lolosnya.

Mei, Juni, penantian, lagi puasa juga, banyak-banyak berdoa.

Juli, hasil mulai keluar. CGS University 3 gagal sejak awal (rejected), 2 diproses statusnya (on review) dan akhirnya 1 lolos, di Shandong University, Master of Finance, diajarkan dalam bahasa Inggris, selama 3 tahun masa study, full scholarship.

Agustus, urus visa, beli tiket pesawat (dapet promo Airasia). Sementara program kerjasama Kemenristekdikti belum pengumuman, jadi kalau bisa diawal jangan cuma ngandalin satu kesempatan aja, tapi bikin beberapa peluang sekaligus.

 

Review & tulisan pacar saya bisa dicek di link berikut https://www.facebook.com/notes/chisillia-mayang-sari/cara-mendapatkan-beasiswa-di-tiongkok/1220671444633129, disana dibahas lebih detail teknis-teknis bagaimana dia bisa mendapatkan beasiswa S2-nya. Dan saya sendiri Insya Allah akan segera release tulisan-tulisan berikutnya tentang bagaimana dapet beasiswa S2 secara umum, dan LPDP juga, walaupun sebenarnya kalian bisa cek di Google udah banyak banget sih yang bahas, haha, mungkin saya cover bagian2 yang belum banyak dibahas aja, kayak mengapa lanjut S2, persiapan budget diawal, dan hal-hal lainnya.

Satu hal yang harus kamu inget banget, kalau mau dapat beasiswa, wajib nebeng persiapan sama mereka yang udah pro.

Saya saat test LPDP persiapannya bareng teman XLFL namanya Annisa Ika, dari UI Kesmas angkatan 2010, pacarnya dari UGM udah lulus LPDP duluan, dia nyusul pacarnya ke Belanda. Sebelum ikut LPDP, Ika udah coba ikut 5 beasiswa lain sebelumnya, kebayang dong betapa preparenya, nah makanya saya nebeng sama dia persiapan berkas bahkan sampai latihan interview bareng fasilitator XLFL Deedee (thanksss Deedee), dan kita lolos bareng LPDP, saya PK-66 dia PK-68, thanks banget Ika, LPDP jadi percobaan beasiswa pertama saya dan langsung lolos, hehe.

Dan pacar saya persiapannya nebeng saya, yang lulus LPDP ke Tiongkok. Meskipun dengan program yang berbeda namun persiapan ke universitasnya mirip2 juga, dan syarat dapat beasiswanya juga mirip, jadi lolos juga dia dalam waktu yang menurut saya cukup singkat dan pertama kali mencoba juga.

Percayalah kamu juga bisa lanjut sekolah gratisan, asal persiapannya oke.

Salam Pendidikan Gratisan!

Tulisan terkait

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *