Please Dengerin Kata-Kata Saya, Jangan Mau Kuliah Lagi, Ambil Computer Science, Apalagi ke China!

belajar-bahasa-china

So sebelumnya, disclaimer dulu nih, saya lahir dari keluarga sederhana yang kedua orangtua saya gag ada yang S2, di Bengkulu, pernah dengar Bengkulu? gag pernah, wajar, banyak orang rasanya gag tau Bengkulu ada dimana, kadang ada yang bilang di sebelah Balikpapan, ada yang berpendapat di Sulawesi, dibawah Toraja, yah, terserah. Dan saya juga orang bodoh, S1 nya cuma di Universitas Swasta, bukan Universitas negeri peringkat atas di Indonesia. Peringkat Universitas Swasta S1 saya entah di ranking berapa, ranking Univ di Indonesia lho, bukan dunia, gag tegaan mau carinya di list ranking Universitas, mesti cek halaman kesekian dulu baru ketemu, hehe. Akreditasinya apaan? Duh, please jangan nanya itu dong, saya gag pernah cek.

akreditasi-kampus
akreditasi-kampus

Jadi, secara sederhana, nasehat dibawah ditujukan untuk anak daerah yang kurang paham bagaimana dunia akademik standard baik itu seperti apa, keluarganya gag ada yang S2 sehingga gag ngerti proses kuliah S2 seperti apa, dan bodoh sehingga banyak gag pahamnya ketimbang pahamnya ketika di kelas atau dimanapun.

Untuk anda yang lebih beruntung, lahir dan tinggal di kota besar sehingga lebih memahami bagaimana dunia akademik standard baik bahkan ikut serta di dalamnya, pernah menemui atau kenal seseorang yang S2 bahkan mungkin di keluarga sendiri, atau bahkan S3 malah, serta cerdas dalam artian mudah memahami pembelajaran di kelas dikarenakan memiliki bekal pengetahuan yang cukup sebelum masuk kelas, well, tulisan ini bukan untuk anda, konteksnya kurang pas, serta perspektif saya juga gag pas rasanya 😀

Nah disclaimer sudah disebutkan diatas, jadi mari kita mulai.

Kuliah S2 itu berat banget.

Apalagi ambil jurusan engineering, semisal Computer Science.

Begonya lagi ambil ke luar negeri, kayak China.

 

Oke kita bahas satu-satu.

Kuliah S2 itu Berat Banget

Pernah merasa kesal dengan tugas matematika saat S1, nah pas S2 tugas matematikanya itu udah gag ada angkanya lagi, simbol semua, sama huruf-huruf. S1 enak, masukin angka ke rumusnya, selesailah sudah, S2? hmm, buktikan bahwa rumus A bisa menghasilkan rumus B, C, D, E. Dan buktikan kembali bahwa proses tersebut bisa dibalik sehingga dari rumus E, bisa diturunkan untuk menghasilkan D, C, B & A.

Assignmentnya setiap professor kasih pertanyaan di kelas, dan gag da yang jawab, maka itu jadi assignment.

Hadir gag hadir gag dihitung, tapi kalo gag hadir gimana ngerti Pak Prof-nya ngajarin apa? Sama assignment buat minggu depan apaan.

Nyontek? Hahahahahahahahhahahahahahahaha, Good luck, kalo kamu cuma satu-satunya siswa dari Indonesia di kelas.

Teman? Kamu kira yang sekolah S2 anak-anak remaja yang hobi gaul, main2, akrab, dan suka mencari teman baru?

Nah ini baru ngomongin coursework, sialnya saya milih master by research (lah karena saya bodoh tadi, kan sebelumnya gag tau S2 seperti apa, jenis-jenisnya, mana yang susah mana yang gampang), keambil deh program master degree by research. 1 tahun coursework (sekolah di kelas, ujian), 1,5 tahun lagi bikin research, bukan sejenis research yang sering kamu nonton di TV, atau sinetron, atau bayangan kamu pada umumnya, bukan. Saya juga baru tau research itu susah banget, baca paper banyak banget, percobaan terus, seringan gagal, collect data, pagi sampe malam di lab, labnya bukan yang ada layar gede di depan, terus tiap orang ngetik di panel kontrol yang keyboardnya panjang banget bukan, labnya persis kayak kantor, kotak2 cubicle, tiap meja ada tumpukan buku study serta satu PC dan layarnya sekalian.

Yakin masih mau lanjut kuliah S2?

 

Ambil jurusan Susah, semisal Engineering, Computer Science

Entah kenapa dulu saya maunya cuma ambil jurusan Computer Science (IT), karena suka game kali, saya pikir belajar computer science enak, kayak main game, kenyataannya?
Duh, jauh banget dari main game, yang ada dimainin sama Computer Sciencenya iya.

Belajar matematikanya banyak banget.

Belajar banyak banget pemrograman, ada PHP, HTML, CSS, Java, C++, Phyton, Ruby, SQL, MySQL, NoSQL.

Belajar computer science di kelas itu jarang beli textbook dari dosen, iya emang, karena materinya berubah terus tiap bulan, updatenya cepet banget, mesti ngikutin terus perkembangan terbaru yang lebih efisien, lebih baik, dan lebih baik lagi. Dan kalau di kelas cuma bahas general saja, sisanya spesifik di bidang yang mau ditekuni mesti belajar sendiri, beli buku textbook atau material cari sendiri online.

Banyak praktek, banyak nyoba, banyak gagal codingnya, banyakan stressnya.

Yakin masih mau lanjut kuliah S2?

 

Ambil Keluar Negeri, China lagi

Seakan-akan belum cukup dengan 2 hal diatas, saya milihnya keluar negeri, di China lagi, ya ampun, saya baru paham mengapa sedikit banget LPDP dari angkatan pertama sampai angkatan saya (66) yang memilih ke China. Seharusnya saya milih negara-negara mainstream aja, yang udah banyak orang kesana, dan udah banyak yang mengalami, udah banyak yang pengalaman dan cerita di blog,  jadi gag perlu shock sendiri begini.

Saya kasih tau deh dari sekarang sehingga kamu bisa memilih dengan baik dan benar tujuan study buat S2 nanti.

  1. Pelajaran di China, terutama Math & Sciencenya udah advance, materi yang diajarkan udah jauh bangett bagi saya. Jadi ada rongga kosong, jarak antara yang saya pelajari S1 di Indonesia di kampus swasta saya yang entah rankingnya berapa itu mungkin kalau di analogikan sudah sampai di skala 16, nah ini S2 mulainya langsung di skala 729. Jadi ada jarak 713 skala yang harus saya pelajari sendiri, di waktu yang sama mesti ngikutin pelajaran di kelas dengan baik.
  2. Internet blockage, No Google, No facebook, No gmail, noooo so muchhh things. Ada namanya China Great Firewall, kontrol dari pemerintahnya. Akses web2 yang biasanya rutin saya akses dan sudah jadi rutinitas, harus pake VPN.
  3. Culture shock, gag sanggup buat bahas disini, googling aja ya please, petunjuknya, toilet, antri, meludah, susah makanan halal.
  4. Language barrier, bahasa China itu susah banget belajarnya, fonemnya, aksaranya, tone nya. Saya udah punya basic? kata siapa! nol besar, beda dengan teman-teman saya disini yang udah punya modal bahasa China semua, karena dari keluarganya sudah dibiasakan sejak kecil, keluarga saya, selalu bahasa Bengkulu brooo. Duh, tobat. Dan saya mesti belajar bahasa China kalau mau survive disini. Yang bilang susah siapa? saya? Bukan! Cek disini http://list25.com/25-of-the-most-difficult-languages-to-learn-in-the-world/5/
belajar-bahasa-china
belajar-bahasa-china

 

Yakin masih mau lanjut kuliah S2?

 

Dengan adanya tiga hal diatas, rasanya mau pulang ke Bengkulu saja tiap hari.

Tapi begitu mikir mau pulang, saya lihat kamar saya.

Hmm, kasur saya empuk, selama 5 tahun sejak S1, ini adalah kasur terempuk yang pernah saya miliki. Ada ranjangnya lagi, 5 tahun ini selalu tidur di kasur yang langsung ketemu lantai. Kamarnya luas (menurut saya pribadi), ada meja belajar dan kursi belajarnya (saya gag pernah punya sebelumnya), lemari pakeannya gede. Internet kencang, 90 Mbps via speedtest.net, di kostan dulu cuma 5 Mbps. Ada mesin cuci pake koin, masukin koin, masukin baju, kasih deterjen udah deh tinggalin 45 menit udah bersih dan cukup kering, tinggal angin2kan saja udah kering, duh jangan tanya dulu S1 gimana nyucinya, pake tangan, peras sendiri, jemur depan kostan. Terus dorm yang ini ada balkonnya, lantai 5, view balkon ada sungai kecil, pohon-pohonnya rindang. Harganya 1.200 yuan, sekitar 2,4 juta rupiah perbulan, 4x lipat sewa kostan saya perbulan dulu.

Siapa yang bayarin? LPDP.

4.000 yuan perbulan, 8 juta rupiah per bulan, untuk biaya hidup bulanan saja. Belum menghitung biaya kuliah saya yang dibayarkan ke kampus.

Untuk apa LPDP bayarin saya? Biar saya belajar, karena saya bodoh, dan banyak orang bodoh lain di Indonesia, bangsa ini masih banyak orang bodohnya seperti saya. Dan saya rasa LPDP berpikir Indonesia butuh banyak orang pintar agar bisa menjadi negara maju, membangun Indonesia dalam jangka panjang. Tanpa LPDP saya yakin tidak akan bisa sekolah disini, dengan semua fasilitas dan kebutuhan hidup yang mendukung study saya. Agar menjadi orang pintar, dan bermanfaat untuk keluarga, negara dan masyarakat nantinya.

Ya ini amanah.

Dan ini adalah hutang, yang nanti wajib saya cicil pelunasannya.

Dan saya paham betul, belajar diluar negeri itu kemewahan, yang cuma sebagian kecil sekali dinikmati oleh orang Indonesia. Dan saya ditawarkan kesempatan ini, entah saya mampu atau tidak saya wajib berusaha semaksimal mungkin terlebih dahulu.

 

Dan sebagai anak internet, yang menghabiskan sebagian besar waktu saya di internet.

Saya tahu dengan pasti bahwa bahasa merupakan kunci untuk membuka akses ke dunia lain, bukan dunia lain seperti acara TV itu lho bro/sist.

Saat saya paham bahasa Indonesia, saya bisa mengakses dan mengeksplorasi semua informasi yang menggunakan bahasa Indonesia, dan mendapatkan berbagai keuntungan dan kesempatan dari informasi berbahasa Indonesia.
Begitu saya mengerti bahasa Inggris, saya bisa mengakses material dalam bahasa Inggris, di waktu yang sama memperoleh keuntungan serta kesempatan yang tidak dinikmati oleh mereka yang hanya bisa berbahasa Indonesia saja.

Dan pahamilah bahwa nyaris 1 dari 5 orang di dunia ini berbicara dalam bahasa China, dan bahasa China merupakan bahasa yang paling banyak digunakan di dunia.

most-used-language-in-the-worldSource: http://www.infoplease.com/ipa/A0775272.html

 

Betapa banyaknya material, kesempatan dan keuntungan yang bisa saya dapatkan seandainya saya bisa menguasai bahasa China, dimana bahasa ini digunakan secara umum di China, Taiwan, Singapura serta Indonesia sendiri juga lumayan banyak (dalam beberapa konteks). Belum lagi ketika bisa menguasai karakter China, akan lebih mudah untuk mempelajari karakter serta bahasa Jepang & Korea, katanya lho ya, saya belum paham sedikitpun karakter China, jadi belum bisa confirm. Tapi ada anak S1 disini sudah fasih Indonesia, Inggris, China & Korea, asalnya dari Pontianak, SD sampe SMA di Pontianak lho, mirip status pedalamannya kayak Bengkulu rasanya. Duh, malu banget pas udah tua baru saya belajarnya.

 

Yang pastinya bakal banyak banget masalah ke depannya, tapi toh kehidupan siapa sih yang tanpa masalah?

Belum lagi berpikir LPDP hanya akan membiayai study saya selama 2 tahun, sementara kuliah disini MINIMAl, minimal lho ya, untuk master degree itu 2,5 tahun, karena ada coursework dan research, serta sebelum thesis HARUS publish paper research dulu di jurnal atau seminar internasional yang telah ditentukan, top tier journal dan seminar. Dan karena saya rada bodoh tadi, saya rasanya butuh waktu 3 tahun deh buat bisa lulus.

Terus 1 tahun lagi bayarnya gimana, hmm, akan saya pikirkan lagi nanti rasanya, haha, sayangnya karena kurangnya fokus dan pendeknya pemikiran, saya cuma bisa mikir satu hal di satu waktu. Seperti apply beasiswa dulu, mikir satu satu, ambil beasiswa apa, LPDP, ya udah urus LPDP, satu program beasiswa aja, LPDP doang, eh LPDP dapat. baru mikir apply kampus gimana, daftarnya satu kampus doang, gag da yang lain, cari supervisor, interview, lalalala, eh dapat Shanghai Jiaotong University, di jurusan dan research area yang sesuai. Dan sekarang saya mikir course aja dulu, agar lulus dengan nilai sesuai harapan, dan belajar sebanyak mungkin dari semua waktu yang tersedia. Dan begitu waktunya tiba nanti, saya yakin akan mendapat solusinya juga.

Dan bukankah ada hadist yang berkata bahwa

“Barangsiapa keluar (dari rumahnya) dalam rangka menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang.” (HR At-Tirmidzi, hadits ini dinilai hasan li ghairihi oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 88.)

Allah tidak akan meninggalkan hambanya yang kecil ini kan ya rasanya, yang mengikuti jalanNya.

Dan bukankah ada pepatah Arab yang berkata bahwa
“Tuntutlah ilmu hingga ke negeri China.”
Maka ke China lah saya menuntut ilmu, dan bagaimana denganmu teman? Yakin masih mau lanjut kuliah S2?
Salam Pendidikan Gratisan!

Tulisan terkait

5 Comments

  1. spechless 😀 antara lucu, sedih, seneng, miris. campur aduk deh

    oh ya, mau tanya nih, kuliah di luar negeri dg beasiswa itu alurnya gmna ya? kita apply beasiswa dulu atau daftar di univ. dulu?

    1. haha, makasih Vio, saya yg mengalami juga lebih speechless lg.
      tergantung program beasiswanya, beda2, LPDP oke buat ambil LPDP dulu baru apply Univ, beberapa wajib daftar Univ dulu baru boleh apply beasiswa, beberapa pas apply beasiswa kita specify mau ke Univ mana mereka juga sekalian yang daftarin Univnya, beda2, dibaca dengan jelas programnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *