Live Report 4th Month, Muslim in China, Hijrah from Majority to Minority

Sebenarnya saya gag qualified buat nulis hal ini, muslim, duh berat banget materinya, haha. Mengingat masih sering bolong-bolong sholatnya, terutama subuh, apalagi sekarang winter, ya ampun gravitasi selimut semasa winter itu luar biasa hebatnya, yah mudah-mudahan saya semakin membaik imannya dengan nulis ini.

So, muslim in China.

Pertama kali design mau ke China, udah clear semua di list, potensi ke depan, checked.
Performa kampus, checked.
Probability eksekusi agenda lainnya, checked.
Bisa survive ato nggak, makanan, cuaca, orang-orang, checked.
Dah aman semua list udah oke rasanya, coba dibaca-baca lagi, eh baru ingat ada ketinggalan satu hal, gimana muslim disana, haha.

Sejujurnya saya nggak ada ide di awal bagaimana muslim di China, gag ada teman untuk ditanya, dan materi-materi di online gag nemu yang bahas muslim di China. Tapi berhubung sudah ada teman kontak-kontak anak master degree juga di Shanghai Jiaotong University, Lemington, anaknya super pintar anyway, dan single, prospektif masa depan cerah, kalau ada cewe yang single dan minat boleh komentar di bawah :D, saya tanyalah ada kantin halal atau nggak di kampus, dia bilang ada, ya sudah, aman berarti, kampus mengakomodir kebutuhan siswa muslim yang persentasenya dikit banget di kampus udah cukup oke menurut saya, mau tau berapa persentase muslim di China, check pie cart berikut:

perbandingan muslim di Indonesia & China

perbandingan muslim di Indonesia & China

Makanya judul Live Report kali ini fix, Hijrah, dari Majority ke Minority.
Dan Chinese Religion itu apa please jangan tanya saya, hingga saat ini saya bingung itu apa, menurut saya, personally, pandangan subjektif, so please jangan dijadikan acuan, Chinese Religion lebih seperti kepada kepercayaan, kepada leluhur, hukum-hukum kemanusian, confusius, dan sebagainya, ini mungkin ya, besar kemungkinan juga saya salah.

Nah balik lagi ke topik Muslim in China, dari negara yang populasi muslimnya 87%, tiba2 hijrah ke negara yang populasi muslimnya gag sampe 2%, dan itupun mayoritas di provinsi Xinjiang dan Ningxia, di area lain seperti Shanghai, hmm, 1% ada harusnya udah bersyukur sih, haha, jadi coba kita bahas satu-satu beberapa hal yang membuat hijrah ini terasa begitu luar biasa.

1. Makanan Halal

Di Indonesia, everything is halal unless it say haram. In China, everything is haram unless it say halal.
Untuk makan aja susah, hadeh.
Tapi gag sesusah itu juga sih sebenarnya, untunglah di kampus SJTU udah ada 3 kantin yang menyediakan makanan halal, total kantin di SJTU ada 6, dan 3 kantin halal ini spesifik memiliki bangunan terpisah sendiri, dengan mekanisme food management sendiri, dan staff-staff muslimnya sendiri. Staffnya pake kopiah sama jilbab beberapa, meskipun standar pemakaiannya rada beda seperti di Indonesia.

Menunya?
Yaaa, okelah menurut saya, ayam goreng, daging, sayurnya banyak, ada berbagai jenis mie juga. Tapi lama-lama bosan juga sih sebenarnya sama menunya, haha, padahal saya baru beberapa bulan saja disini, apalagi kalau sudah beberapa tahun ntar, hmm. Tapi bagaimanapun inilah opsi tersimple, termurah dan tergampang yang bisa diakses untuk makan makanan halal. Harganya nasi, sayur dan lauk biasanya selalu di bawah 10 yuan sekali makan, kisaran antara 7-9 yuan biasanya.

Yang datang kesini siapa aja?
Xinjiang people, penampilannya berbeda dengan Han Chinese (majority China race), menurut saya lebih ke Turki, namun Asianya juga masih kentara, ngomongnya nggak mandarin, bahasa Xinjiang, rada ada arab-arabnya kadang. Cewek Xinjiang cantik-cantik, rambutnya ikal, tapi ya tetap masih cantik pacar saya, haha, perlu disclaimer ini.
Kemudian Han Chinese muslim, ada beberapa juga Han Chinese muslim disini mahasiswanya.
Dan yang paling ribut di kantin halal adalah geng Urdu speaking people, gengnya Pakistan. Ternyata ada banyak banget mahasiswa Pakistan di China, usut punya usut mereka punya program kerjasama yang sangat bagus dan sudah sejak lama antara China dengan Pakistan, sehingga kuota penerima beasiswa China Government Scholarship yang ke China jumlahnya super banyak, gag cuma di kampus saya saja, di berbagai kampus lain di seluruh China. Dan forum-forum diskusi scholarship China yang saya ikuti dulu juga banyak provider infonya dari Pakistan.

Kalau lagi makan di luar, selalu ada beberapa pilihan restoran halal di luar kampus, biasanya dominasi warna hijau, dengan logo halal di palangnya, serta menunya rata-rata sama antara restoran halal satu dengan yang lainnya, Xinjiang Restaurant apa namanya, saya lupa.

Namun yang terbaik adalah tetap masakan sendiri, berhubung sudah bosan dengan makanan kantin dan malas beli keluar, beberapa bulan ini saya belajar masak, yep, setelah berusia 23 tahun akhirnya saya belajar masak juga, gag cuma nasi mie aja seperti tahun yang sudah-sudah, namun mulai mencoba masak nasi goreng, masak ayam goreng, masak udang sambal goreng, masak ikan, serta udah juga bikin sop ayam, sejauh ini yang paling mantap sop ayam sih, hehe. Kompor listrik sudah beli, di lantai 1 ada kitchen set sih, tapi saya tinggal di lantai 5 cuy, haha, capek duluan naik turun tangganya, jadi belilah kompor listrik, panci set, piring mangkok dan kitchen set.

Bahan makanan halalnya?
Bumbu halal ada di minimarket dekat kampus, sama ada sayur-sayuran juga disana, dan seafood, saya suka udang, ikan susah prosesingnya, repot bener, haha.
Kemudian ayam sama daging sapi dan domba mesti beli ke friday market di Huxi mosque, area kota, sejam naik subway dari kampus. Hari jum’at sengaja saya kosongkan semua jadwal kuliah, buat sholat jum’at dan makan-makan di friday muslim market, satenya enak bener disini, dan kadang ketemu teman Indonesia juga, seringan orang Malaysia sih, sama Pakistan tentunya yang paling banyak, sering banget ketemu teman Pakistan kampus disini.

2. Sholat

Sholat 5 waktu no problem, kan bisa sendiri di kamar, kebetulan juga roomate saya yang awalnya sekamar, dari Korea Selatan, entah mengapa memutuskan untuk pindah keluar, gag jadi sekamar dengan saya, hmm, no idea why, jadi stay lah saya sendiri di kamar dan sholat sendiri di kamar gag jadi masalah.

Nah, buat Jum’atan gimana?
Karena peraturan pemerintah, di fasilitas pendidikan dan pemerintah lainnya itu nggak ada masjid, atau surau, atau bangunan keagamaan buat agama apapun, bukan hanya untuk muslim saja. Jadi yah opsi terbaik untuk jum’atan adalah melakukannya di kota, di masjid area kota yang jumlahnya gag begitu banyak.
Atau ikut sholat Jum’at versi mahasiswa Pakistan di dorm kami ini, dorm 51.
Di lantai dasar ada ruang belajar, itu kami bereskan dulu meja dan kursinya, bentang tikar, kemudian sholat jum’at deh disana. Ada mungkin 20 sampai 30 orang yang sholat jum’at di dorm. Imamnya sama mas-mas itu aja, khotbahnya full bahasa Arab, tak paham sama sekali saya.
Di kota, imamnya khotbahnya 2 kali, dengan 2 imam, pake bahasa China semua, tak paham sama sekali juga saya, hahaha.

Dan berikut beberapa foto kehidupan muslim di China selama saya disini

Pelayan Restoran Halal di Jinan

Pelayan Restoran Halal di Jinan

 

Waktu Sholat di Masjid, Jinan, Shandong

Waktu Sholat di Masjid, Jinan, Shandong

 

Masjid di Jinan, Shandong

Masjid di Jinan, Shandong

 

Friday Muslim Market, Shanghai

Friday Muslim Market, Shanghai

 

Khotbah Huxi Mosque, Shanghai

Khotbah Huxi Mosque, Shanghai

 

Warga Muslim di Shanghai, Setelah Jum'atan

Warga Muslim di Shanghai, Setelah Jum’atan



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

YOU MAY LIKE