Live Report 3rd Month, Orang China (Rasis Mode:On)

“yep, entering America looks like will be harder now since Trump becoming president.” Ucap salah seorang teman native China saya di SJTU, dia tahun terakhir S1 yang lagi menyiapkan aplikasi S3-nya ke US, iya, kamu gag salah baca, S3, Phd, Doctoral degree, langsung dari S1. Gila ini anak, badannya kecil banget, kurus, masih muda, udah mau langsung Phd aja, apa bisa? iya bisa, sumpah! Saya juga tahu kalau bisa sejak saya kesini.

“well sure, it will harder for me also later on if I deciding to take my Phd there, since I’m a muslim, they racist to muslim also”, balas saya.

“you know what, I have friends who is muslim and chinese also, wonder what will happen to him”. Dan kita tertawa, kemudian merenungi nasib si China muslim ini tadi, kaco juga ya, untung dia gag kulit hitam juga sekalian, bisa triple kill nanti di US kalo bahasa Counter Strikenya.

Rasis ada dimana-mana, suka gag suka rasis ada dimana-mana.
Tulisan ini bukan untuk menyebar bibit-bibit kebencian (sumpe, ini situs namanya ahmadarib.com, bukan lalalalalapiyungan.com).
Juga bukan untuk menebar kedamaian antar umat beragama (yeelah, saya belum qualified suer, sholat Ied di Ho Chi Minh tahun lalu aja salah tanggal sehari lebih awal, rada telat lagi datangnya, yang hadir beberapa orang Malaysia doang, untung ada ustadnya dari Malaysia satu).

Tulisan ini cuma buat cerita ke 1 atau 2 orang yang membaca, tentang bagaimana keadaan di kondisi yang dirasiskan itu sendiri, gimana orang-orangnya, dan apa yang mereka pikirkan tentang sisi yang lain secara menyeluruh.
Yep, ini cuma cerita, keadaan sehari-hari yang saya temui, sepenuhnya subjektif, karena case saya sendiri juga cuma ketemu beberapa orang saja, di China juga baru ke 2 area saja, Shanghai sama Shandong, dengan harapan 1 atau 2 orang yang membacanya mengerti tentang pihak lainnya. Karena menurut saya orang rasis karena belum paham dengan apa yang dirasiskannya, belum masuk ke dunia yang dirasiskannya, bahkan belum pernah ngobrol atau punya teman dengan orang yang dirasiskannya. Karenanya, mari kita bahas satu-satu beberapa hal menarik sesuai judul.

Orang China

1.Pemalu

Well, pake wechat disini dan ngobrol dengan beberapa teman native disini sedikit membingungkan di awalnya, why? lah ini teman-teman China saya di wechat foto profilnya kartun semua, ada one piece lah, emot lah, pemandangan lah, macam-macam, terus tulisan namanya kan keriting semua tuh aksara China, susah banget nyarinya.

Begitu saya tanya ke teman Indonesia yang sudah lama disini dan Taiwan, dia bilang bahwa native sini malu-malu orangnya. Pada malu buat ngepost fotonya di profil wechat, begitu juga di moment wechat, jarang banget mereka post foto sendiri, moment wechat itu udah kayak timeline facebook lah. Tapi gag tau deh kalau weibo atau QQ, social platform yang lain, belum nyobain.
Begitu juga di kelas, dosen nanya ada pertanyaan atau nggak atau siapa yang bisa jawab soal di depan, dieemm semua, termasuk saya, lah kalau saya kan jelas gag nanya karena gag paham sama sekali, kalau mereka harusnya kan paham, minimal beberapa orang. Jadi kalau misalnya kurikulum siswa aktif di Indonesia mau diterapkan disini gag bakal work saya yakin.

2. Hemat & Efisien

Waktu itu kita mau tampil tari saman, kan ada kelas tuh ya, terus kita dibagikan surat izinnya buat dikasih guru di kelas. Surat izinnya itu selembar kertas A4 yang dibagi 4, dipotongin jadi 4 panjang-panjang.
Duh, ya ampun.
Sebagai mantan ketua OSIS yang dulu hobi banget bikin rapat gag penting agar bisa bolos kelas saya ingat banget tiap surat izin itu mesti selembar kertas A4 full, meskipun nama yang diizinkan cuma 1 orang, tapi kan ya ada kop suratnya, ada nomor dan perihalnya, ada kata pengantarnya, ada isi dan detail kegiatan, baru penutup dan salam hormat. Kalau nggak kayak gitu bakal marah lah guru di kelas, dibilang nanti gag menghormati, apalagi kalau salah tulis dikit nama gurunya, beuhhh, gag bakal diijinkan keluar itu yang ada di surat pas jamnya dia.
Lah ini A4 dibagi 4 coba, panjang2 kecil gitu, kagak ada kop surat, pengantar, dll, apalagi salam hormat. Bayangin gimana ceritanya kalau ini dikasih ke guru saya dulu, haha.
Kemudian ada satu lagi teman native China saya, namanya David, nama Chinanya ahhh sudahlah, dia bilang waktu itu dalam tempo 2 detik saya sudah lupa, terlalu rumit untuk diingat di memory saya yang kecil dan sumpek sama katalog game & movie.
David, itu dia udah kerja sambilan ngajar anak SMA sejak dia S1. Penghasilan sambilannya sekitar 3.000-8.000 yuan perbulan, tergantung banyaknya jam dan kelas yang dia ajar, dan dengan ini dia cukup untuk bayarin hidupnya sehari-hari, serta biaya kuliah S1 & S2nya. Sekarang dia udah mau graduation S2 Maret nanti, barusan kemarin akhirnya dapat kerja sebagai guru di SMA negeri di Shanghai, dengan gaji 11.000 yuan/bulan (1 yuan=2.000 rupiah).  Waktu saya gag sengaja kelihat saldo Alipaynya ada 80.000 yuan depositnya disana, pas saya bilang buset banyak amat tabungan ente cuy (dalam bahasa Inggris tentunya), dia bilang dengan santainya, ane masih punya 50.000 yuan lagi masbro dalam bentuk saham, ini 80.000 yuan ane pindahin ke Alipay semua karena rate bunganya lebih tinggi 2x lipat ketimbang rate bunga bank (dalam b.ing juga tentunya, ya kali ini anak ngomong ane ama masbro, ntar kaskusan lagi dia).
Dan, tiap ketemu saya dia masih pake sepeda butut itu-itu aja, yang saya yakin harganya gag lebih dari 200 yuan, karena sepeda saya sama bututnya dan harganya segitu.

Ya salam.
Ini anak.
Hemat sekaliii !
Jangan kalau mau bandingkan dengan salah satu kenalan di kampung halaman saya di Bengkulu, kerja di salah satu perusahaan dengan gaji 3 juta rupiah (estimasi yg baik banget, beberapa bilang dibawah itu) sudah kredit mobil aja, gajinya full buat bayarin kredit mobil, lah terus hidupnya, makan, minum, tempat tinggal? kan tinggal sama orangtua, jadi gratis dong, gubrak. (true story anyway, all things I state I never lie or made it up).

3. Study hard, Work hard, Live hard

Tiap liat anak native China disini saya selalu malu, mereka baca buku kuat banget, kayak kecanduan.
Yang pake kacamata di kelas itu nyaris 4/5.
Belajar itu dari jam 8 pagi sampai jam 12 malam, jedanya cuma untuk tidur, toilet & makan.
Bioskop sepi.
Di kafe kampus bawa laptop sama buku semua, baca buku sama kerjain pe er.

Dan hidupnya, dari SMA udah tinggal di dorm sekolah, S1 juga di dorm sekolah.
Sekamar 4 orang, ranjang bunk bed kamar sempit ala ala militer.
Kamar mandi diluar gedung, jadi kalau mau mandi bawa baskom, handuk sama peralatan mandi jalan kaki dulu ke kamar mandi.
They live hard by design, sekolah ya seperti ini, keras, meskipun di rumah mereka rumah mewah, orangtua sediakan bed nyaman ber-AC tapi kalau udah sekolah ya seperti ini kondisinya.
Dan sebagai anak yang dulu hidup keras, not by design, tapi emang karena dulu kondisi hidup susah menurut saya ini hal yang oke. Kita yang biasa hidup keras bakal survive mau ditaro dimana aja, keadaannya seperti apa aja, bakal hidup, dan bakal nyaman sendiri. Tanpa AC, kasur keras di lantai, cuci baju pake tangan, tidur rame2 di kamar tipe dorm. Dan bakal sangat appreciate ketika keadaan membaik, seperti sekarang punya kamar single sendiri, punya AC sama kulkas sendiri, ada kompor & peralatan masak sendiri, ada mesin cuci sama mesin pengering, serta punya uang cukup buat makan apa aja di kantin sekolah. Dan walau nanti keadaan memburukpun dan setiap fasilitas menjadi tiada juga tidak masalah, karena sudah biasa.
Orang Indonesia di China
Siapapun orang yang memiliki paspor Indonesia maka dia orang Indonesia, sudah, titik, itu definisi saya.
Tanpa ada pembagian jenisnya lagi.
Atau definisi lanjutannya.
Walau diantara yang memiliki paspor Indonesia mungkin ada juga yang memiliki paspor Taiwan atau China, sama bahasa Indonesianya nggak lancar, tak masalah, kita orang Indonesia semua.

Dan suatu ketika, saya sama seorang teman, sebut saja William, kita sama-sama Orang Indonesia di China yang sama-sama sedang belajar dan kebetulan sama-sama di kampus Shanghai Jiaotong University dan dulu kebetulan sudah kenal duluan di Indonesia, berencana untuk menemui teman-teman Indonesia rombongan IChYEP (Indonesia China Youth Exchange Program) yang singgah ke Shanghai semalam untuk selanjutnya balik ke Indonesia keesokan harinya.
Ya udah kita datang ke hotel mereka, kita tungguin teman kita.
Nah teman kita datang, terus kita duduk-duduk dulu ngobrol di lobi hotel.
Terus datang ibu-ibu Indonesia rombongan, dikenalkanlah kita sebagai mahasiswa Indonesia di Shanghai, berikut petikan kenalannya.
Arib: Halo Bu, saya Arib, mahasiswa di SJTU.
Ibu-ibu: Oalah, mahasiswa ya.
William: Saya William Bu. (perlu saya tegaskan, kita semua ngomong dalam bahasa Indonesia)
Ibu-ibu: Ohhh, dari Indonesia ya, temannya ABC semua?
William: Iya Bu, dulu satu kegiatan.
Ibu-ibu: Sudah bisa bahasa Mandarin semua berarti ya?
Arib: Saya belum bisa Bu, masih belajar, William yang bisa.
William: bisa sedikit aja
Ibu-ibu: Ohhh, kamu China kan? (what????)
William: (bingung) Nggak Bu, saya Indonesia (lah jelas ini anak ngomong Indonesia kok, lahir ama besar di Indonesia, paspor Indonesia, kuliah juga baru S2 ini kesini)
Ibu-ibu: Iya, saya tau, tapi kamu China kan?

Well, then, terlalu awkward moment itu untuk diceritakan lagi.
Yah, mau bilang apa lagi, teman saya yg di IChYEP jadi gag enak banget sama William, kaco itu Ibu-ibu.

I do really hope, teman-teman yang baca jangan seperti Ibu-ibu itu ya please, please banget.
Dan cobalah untuk melihat hal-hal baru dari sudut pandang yang lain.
Saya dulu tinggal di kota kecil terus ke kota besar jadi paham sudut padang masing-masing pihak.
Sekolah di Univ swasta yang entah ranking berapa dan kumpul sama anak-anak top 4 Univ, paham perspektif masing2 pihak.
Ikut organisasi difabel selama setahun, dua minggu pelatihan hidup bersama mereka, jadi paham bagaimana perspektif difabel di Indonesia.
Dan sekarang saya sekolah di China, sebagai muslim dari Indonesia, saya masih belajar tentang perspektif mereka.

Hidup itu terlalu singkat untuk rasis & diskriminatif terhadap pihak-pihak lain, lebih menyenangkan untuk memahami pihak-pihak tersebut secara langsung, serius, sangat menyenangkan dan membuka pikiran.
Sebagai penutup berikut model paling non rasis menurut saya, why?
Panda is WHITE.
Panda is BLACK.
Panda come from CHINA.
Be like Panda, be non racist.
#credit to 9gag, they always have stupid poem like this

Panda di Shanghai Wild Animal Park

Panda di Shanghai Wild Animal Park

Salam pendidikan gratisan!



2 responses to “Live Report 3rd Month, Orang China (Rasis Mode:On)”

  1. Yzk says:

    Tulisanmu itu lho bawaannya enak dibaca ya, mas Arib! Dibawa mengalir! Ntap! Bakal belajar banyak nih dari post-mu, mas. Sukseskan di sana ya 🙏

    Salam erat dari saya yang bukan teman native Tiongkok-mu,
    David
    FL003

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

YOU MAY LIKE