Life Report edisi Anniversary: Nilai, Pantai Bali & Peti Mati

Walau sudah membuat komitmen sebelumnya untuk nulis sebulan sekali dalam edisi life report di China, ternyata saya melanggar komitmen sendiri hanya dalam waktu satu semester.
Hmm, whyy?
Hal ini dikarenakan munculnya satu nilai D di report sekolah setelah menjalani satu semester di sini. Yep, nilai D, well, technically itu lulus, namun nilai GPAnya hanya 1 dari 4. Dan saya memilih satu course yang dapat nilai D itu sebagai salah satu nilai yang menentukan GPA. Alhasil, GPA drop jadi cuma 2.4 doang dari 4. Hahaha, eh buset, seumur-umur baru ini dapat nilai segini.

Stress jelas, karena saya gag pernah paham sebelumnya ada sistem milih2 course untuk jadi nilai GPA, dan milihnya salah lagi, kepilihlah matkul2 susah untuk jadi GPA, haha. Okelah, satu semester anggap aja gag sengaja, semester kedua bakal lebih serius, malu buat nulis di blog tentang study saya kalo GPA aja masih segitu. Ya sudah, semester dua udah hati-hati, milih course dengan hati-hati, nentukan yang mana buat GPA lebih hati-hati lagi. Dan ketika nilai semester 2 keluar kemaren, jeng jeng jeng, dengan tanpa bersalahnya muncul lagi satu nilai D, whattt thee fffff!!! Oh God whyy?? Dan satu matkul yang dapat nilai D ini dari supervisor saya sendiri, well, supervisor besar yang dimana dia Dekan fakultas juga, dan pada saat ngajar terkadang dia digantikan oleh asistennya, yang mana asistennya ini gag kenal saya. Padahal supervisor kecil, bawahannya supervisor besar suggest ambil matkul ini buat perbaiki nilai meskipun saya tahu gag bakal paham banyak karena kelasnya menggunakan bahasa mandarin, malah jadi memperparah keadaan, hahaha. Ya sudahlah, emang performa saya jelek di kelas, dan kelompoknya juga gag optimal ngerjain project akhirnya kemarin.

Sehingga akhirnya GPA keluar hanya dapat 2.62 saja dari 4. Standard LPDP berapa? saya ingat waktu itu Bu Ratna bilang di PK LPDP standardnya 3.25 kalo gag salah, buset, jauh bener, bakal dideportasi pulang nih saya sama LPDP. Untunglah ini direvisi di buku peraturan yang baru bahwa standardnya untuk Master by Research (which is program saya) mengikuti standard kampus dan fakultasnya, mengingat setengah masa study kami di riset, hanya setengahnya saja di coursework. Dan standar fakultas adalah, jeng jeng jeng jeng, 2.7, well, 0.08 lagi dari standard, hahaha. Jadi sekiranya saya udah ngurusin riset mulai semester 3 ini, masih harus retake 1 kelas lagi yang dapat D semester 1 kemaren.

Meskipun nilai masih di bawah standard, tapi ya sudahlah beda-beda tipis, mudah2an bisa bagusan nilai setelah semester 3 ini, haha. Dan performa di matkul yang sesuai dengan topik saya yakni Big data juga rata-rata rada bagus sebenarnya, Big Data Algorithm, Computer Networks, Big Data Security & Web Search Data Mining. Jadi lanjut nulis aja lagi akhirnya, di edisi spesial Anniversary 1 tahun kuliah di Shanghai Jiaotong University, China.

Demikian tulisan saya kali ini, yang membahas tentang Nilai, tuh kan ada di judulnya diatas.
Sekian.
.
.
.
.
Lha, terus itu di judul kenapa ada Pantai Bali & Peti Matinya juga.
Gag da apa-apa, random aja akhirnya pake i semua, ingat pelajaran bahasa Indonesia dulu, biar iramanya bagus, hahaha.
Okelah, mari kita lanjut ke bagian kedua dari tulisan ini, tentang Pantai Bali.
So semester kedua setelah mulai beradaptasi dengan kehidupan disini, udah santai, dikontaklah sama Annisa Ika (sebut saja Mawar, eh salah redaksi, Ika maksudnya), anak S2 di Amsterdam, sama-sama LPDP, sekelas dari XLFL batch 1 dari tahun 2012 dulu apa kalo gag salah, sama-sama anak didiknya Deedee, the most awesome Facilitator in the world! link reviewnya, hmm, cek2 di web dulu, nah disini nih http://ahmadarib.com/xl-future-leader.html dan http://ahmadarib.com/kegiatan-xl-future-leader.html
Link yang pertama gag penting, yang penting itu link kedua, disana saya ada nulis

Networking XL Future Leader

Satu hal yang saya dapatkan, selain materi yang luar biasa hebat, adalah teman-teman luar biasa dari berbagai kampus di Indonesia, dan berkenalan dengan mereka sungguh sebuah menambah informasi dan networking yang sangat berharga. Dari salah satu teman di XL Future Leader ini saja saya bisa bergabung ke komunitas business leader yang lainnya, dengan kapasitas yang sama baiknya seperti XL Future Leader.

Sehingga saya sekarang memahami, perkataan Pak Hasnul Suhaimi dahulu dan sampai sekarang terus diucapkannya, “saya membayangkan akan ada ratusan future leaders yang semuanya merupakan teman akrab pada saat mereka masih mahasiswa dahulu, duduk di meja makan konferensi ekonomi internasional, bertemu di event bisnis, menjalin kerjasama bisnis, kerjasama antar negara, dan bersama-sama mereka melakukan perubahan untuk kondisi Indonesia yang lebih baik.”

Well, saya nulis itu dulu waktu masih jaman bego-begonya, sekarang (walau masih bego), dan masih belum duduk di meja konferensi internasional (lha kan masih bego, IP aja 2.6), Ika udah ngajak buat perubahan agar Indonesia lebih baik, eh ciee super sekali kata-katanya. Well, intinya dia ngajakin lomba, namanya Telkom Socio Digi Leaders, SDL, yang ngadain Telkom Indonesia. Webnya di https://sdl.telkom.co.id/
Ika nanyain siapa lagi buat diajak, karena 3 orang 1 satu team, tidak lain dan tidak bukan kutunjuklah satu nama luar biasa, yang menggantikan tugas saya dulu saat kabur dari OPPO Indonesia (reviewnya disini mbak/om http://ahmadarib.com/saya-kerja-di-perusahaan-hape-cina-hmm-why-bro.html,) yang juga tidak lain dan tidak bukan merupakan teman sekelas XLFL 1 juga, balik lagi baca kutipan Network XL Future Leaders, masa iya saya copy paste lagi buat manjang-manjangin tulisan. Dan namanya adalah Irfan, saat ini dia udah pulang kampung ke Purworejo, sudah mau nikah juga dengan gadis Purworejo, ada toko pertanian keluarga di Purworejo, sawah-sawah, juragan beras Purworejo, dan punya anak nanti di Purworejo juga, demi Purworejo yang lebih baik lagi. (mudah-mudahan benar Purworejo, kan ada Purwokerto, Purwodadi, Purbolinggo apa, gag ngeh saya, anak Sumatera soalnya, harap maklum).
Singkat cerita, saya, Irfan dan pacarnya Ika, Aulia Recky kita jalan-jalan di Pantai Kuta Bali.
Whatt??, kesingkatan om.
Terus kenapa tiba-tiba muncul pacarnya Ika, si Aulia Recky? itu pemain bayaran darimana coba. Dari Belanda juga, TU Delft, LPDP juga, setahun diatas saya dan Ika tapi, dan anak XLFL 1 juga, dari kelas Yogya tapi. Banyak amat juga dan tapinya bro, lha iya, kembali lagi tentang Networking Xl Future Leaders diatas (eh buset, saya udah kayak brand ambassador XLFL).
Balik lagi ke SDLnya punya Telkom, karena Indonesia butuh kita (cuma anak SDL yang paham, haha), kita bikinlah sebuah ide, yang memiliki fitur lallaa, dan fungsi jajaja, untuk menyelesaikan masalah yayayaya, hahaha.
Tonton aja deh video idenya disini https://www.youtube.com/watch?v=zHR0D7Feexs

Nah, setelah panjang ceritanya dan ribet dokumennya, serta kita bertiga juga dimana-mana, Ika di Belanda, saya di Shanghai, Irfan di Purworejo, yang ribetnya super parah, dan koordinasinya luar biasa, untunglah kita dah temen lama jadi udah paham gimana kerja bareng meski jarak memisahkan kita semua, terutama Irfan yang internetnya super kaco parahhhh, maap bro, haha.
Masuklah kita interview video 100 besar oleh dewan juri, jadi itu harusnya kan ada 2 layar yang dilihat oleh dewan juri untuk interview, 1 layar PPT, 1 lagi untuk 3 peserta presentasi. Lha kalau kita jadi 4 layarnya, 1 PPT, masing-masing dari kita 1 layar, dan Irfan mesti pergi ke kantor pusat Telkom Purworejo bawa surat ijin dari Telkom pusat untuk interview disana, haha. Belum lagi, di tengah-tengah interview laptop yang layarnya menghadap saya mati (baru make Ubuntu, dan sebelumnya lagi dioprek parah), ya sudah Irfan langsung lanjut saja presentasi handle bagian saya juga.
Untunglah kita lolos ke 25 besar, diundang Bootcamp di Bali, Ika nya gag bisa karena ada ujian penting, maka berdasarkan musyarawah dan mufakat, kita pilihlah Recky untuk mewakili Ika, haha, super random. Walau emang Recky juga ikut sih sejak awal kita diskusi juga.

Soo, barulah resmi, singkat cerita saya, Irfan dan Recky jalan-jalan di Pantai Kuta Bali. Saat itu sunset, pantainya bagus banget, dan ini baru pertama kali saya ke Bali, suer, gag ada duit mau ke Bali, nunggu penugasan ITC dulu yang freelance gag pernah dapat kalo ke Bali. Dan baru sekarang ke Balinya, dibayarin lagi full transport dari Shanghai, terima kasih banyak Telkom, dan Pak Yudi selaku direktur SDL Telkom Indonesia.

Selama Bootcamp, kita bertiga makin bego-bego aja, we got no expectation to win, we just go to have fun, dan pulang kampung tentunya dibayarin, LPDP cuma bayarin pergi dan pulang sekolah aja, tengah-tengahnya gag ada, untunglah ada SDL Telkom, terima kasih Telkom.

SDL Telkom tahun ini internasional, ada beberapa foreigner yang join. Dan beberapa teman-teman yang sekolah di luar negeri yang join, termasuk tim kami, dan, kebanyakan anak-anak LPDP, jadi kita reunian deh Indonesia aku pasti mengabdi (cuma anak LPDP yang paham, haha). 2 orang bahkan dari PK yang sama dengan saya, wah wah, PK-66 super sekali. Balik lagi deh tentang Network diatas, cuma konteksnya ganti jadi LPDP sekarang, haha.

SDL are so awesome! Kamu mesti ikutan tahun depan! Jadi saya skip bagian Bootcampnya agar menjadi misteri yang menantangmu agar bisa dapet Bootcampnya. ehh, alesan, haha. Capek bro nulis, ini juga belum mandi, dah mau mandi dulu, ada temen backpacker Indonesia yang main ke Shanghai, beberapa bulan lalu dia main ke Shanghai statusnya pegawai PLN, ketemu saya, saya racuni dengan paham-paham radikal kekiri-kiran, dan September lalu dia resmi ganti statusnya jadi pengangguran yang sekolah di China, dengan beasiswa pemerintah China, gimana caranya, cuma dengan baca ini doang cukup http://ahmadarib.com/s2-yang-indah-itu-ketika-s2-keluar-negeri-barengan-si-dia-gratisan-lagi.html

Dan kemarin barusan nemenin mentor pada saat kita SDL kemarin, kak Aditya, direktur Gamatechno, serius? iye suer, profilnya disini nih kalo gag percaya https://www.gamatechno.com/about/greeting
Kemarin kak Adit transit bentar di Shanghai menuju Kanada, jadi mampir temeni keliling Shanghai dan ngobrol2 santai. Berkat SDL nihhh, sekali lagi terima kasih SDL Telkom (Pak Yudi, saya udah banyak nih Pak promo SDL nya, kalo ntar saya ikut rekrutman Telkom mohon rekomendasinya Pak, haha)

Dan akhir cerita SDL Telkom, kita gag menang, mentok di 10 besar, which is pretty good dengan tim super bego seperti cerita diatas. Dan project Kancatani masih kami lanjutkan mengingat itu bagian dari riset saya juga di SJTU, udah di approve sama supervisor, dan Irfan juga punya agenda sendiri mengingat bakal lama juga di industri agribisnis Purworejo.

Sudah acara SDLnya, saya pulang kampung ke Bengkulu.
Santai dulu di rumah, saya ajak adik saya di Yogya pulang kampung juga dulu, bayarin tiket pesawatnya dari uang transport SDL, Alhamdulilah ada banyak, terima kasih SDL Telkom, berkat SDL Telkom keluarga kami bisa dipertemukan kembali, ciee, hahaha.

Di Bengkulu makan yang banyak, capek makan makanan China.
Makanan Bengkulu enak-enak parah, apalagi makanan rumah, beuhh, the best!
Juga kumpul dengan teman-teman SMA, update kabar, 2 orang udah mau nikah, mantap!
Nonton di bioskop subtitlenya udah bahasa Indonesia lagi, gag pake subtitle Mandarin.

Dan, di tengah-tengah itu semua, pas lagi buka Facebook (yang udah gag diblok lagi, di China diblok tau), ada status dari Ibu Ratna, Monev LPDP, yang lagi di bandara menunggu jenazah alm. Syahrie Anggara, salah satu rekan LPDP yang kuliah di UK dari Bengkulu. Saya bilang kebetulan saya lagi di Bengkulu, kita PM2an, Ibu Ratna request untuk mewakili awardee LPDP mengantar jenazah ke rumah duka. Jadilah saya, ayah dan Ibu menemani dari bandara Fatmawati di kota Bengkulu, hingga ke rumah duka yang berjarak 4 hingga 5 jam naik mobil dengan kondisi jalan yang parah banget menembus jalan tambang batu bara ke rumah duka alamarhum. Disana banyak sekali keluarga almarhum yang berkumpul, teman-temannya, dan guru-guru serta juniornya. Dan saya menemani hingga prosesi penguburan. Kebetulan yang baru saya sadari beberapa waktu kemudian adalah, yang mendampingi almarhum saat mendaki gunung Mont Blac yang membawanya ke akhir hayatnya adalah anak dari China (berkebangsaan China), dan sekarang yang mendampinginya hingga ke penguburannya juga ada satu anak dari China, kebetulan.

Saya sampaikan ucapan duka kepada Ibu dan Ayah almarhum, juga kepada adiknya almarhum. Di rumah duka yang sederhana, di suatu dusun yang jauh di pedalaman sana. Kami pulang tidak lama setelah itu, dan saya pikir-pikir, well, tidak semua dari kami yang berjuang menuntut ilmu pulang dengan kesuksesan yang dibangga-banggakan tulisan lain di internet sana, beberapa pulang dengan berdarah-darah IPKnya (seperti saya), dan bahkan ada juga yang pulang dalam peti mati, literally. Bahwa proses yang sedang kami jalani merupakan perjuangan, dan tidak semua perjuangan berakhir bahagia, nope, this is not a happy story, sorry, you got into the wrong blog.

Sekian tulisan dari saya, udah panjang banget, semoga bisa menjadi pengganti life report yang harusnya ditulis tiap bulan sebelumnya. Semoga bermanfaat, baik mengenai Networking maupun kalau nanti berniat melanjutkan sekolahnya lagi, ingat-ingatlah, bahwa tidak semua perjuangan berakhir bahagia, waspadalah, waspadalah! (whattt, bang Napi? dah meninggal juga kan ya? hmm, kok suasananya jadi mencekam gini, gag papalah, edisi Halloween juga nih ini postingan, hahaha).

Salam pendidikan gratisan!

Tulisan terkait

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *