Anak UNDIP jangan bersedih? Anak SWASTA jangan bunuh diri please…..

Anak swasta jangan bunuh diri please

Hari ini tanggal 5 Januari 2016, yep, tumben saya ingat hari ini tanggal berapa karena hari ini mesti naik kereta buat balik ke Jakarta. Jam di hape OPPO diskonan karyawan (dulu) menujukkan pukul 07.57, sambil melihat keluar jendela kereta, melihat orang-orang lalu lalang di stasiun tugu Yogya.

Tiba-tiba terlintas di pikiran saya, sialan, saya lupa beli air minum sama snack buat di kereta. Ya udahlah, ntar makan di kantin kereta aja. Terus tiba-tiba satu pikiran terlintas lagi, damn, headset saya ketinggalan entah dimana, tadi pagi pas beres2 tas gag ketemu itu headset dimana, batallah rencana nonton Sherlock The Abominable Bride yang kemaren bela-belain download make kuota di hape, hadeh.

Jadilah ngecek hape aja, cek WA, cek Line, cek timeline Line, ada tulisan menarik nih, yang mengilhami tulisan saya ini, saya screenshoot & share dimari ya guys, all credit to the original writers.

Anak swasta jangan bunuh diri please
Anak swasta jangan bunuh diri please

First of all, no hard feeling, sepenuhnya saya mendukung konten utama dari tulisan diatas, yakni anak UNDIP menggunakan fasilitas yang disediakan, apapun yang saya tulis berikutnya di bawah ini resmi merupakan opini saya pribadi, untuk merespon kedua paragraph pertama berdasarkan perspektif anak swasta, yang merefleksikan mengapa saya sampai menulis judul diatas, Anak UNDIP jangan bersedih? Anak SWASTA jangan bunuh diri dong…..

Sampai-sampai itu titiknya saya tulis sama persis, 5x titik lho. Dan sisanya, persis kebalikan dari judul tulisan yang saya share pict-nya diatas.

Ini pengalaman pribadi sebagai almameter kampus swasta (ciee, bangga gag wajar), yang rasanya mewakili suara-suara mistis (dafuq) anak-anak kampus swasta lainnya, di seluruh penjuru alam fana, eh salah, Nusantara. Dan ditujukan buat kamu-kamu anak perguruan tinggi swasta yang kebetulan gentayangan lewat, atau malah anak-anak negeri (terutama UNDIP, UI, ITB & UGM karena kalian tuh yang dibahas pada pict diatas) yang salah pergaulan jadi nyasar ke tulisan saya ini.

Paragraf pertama

Sudah begitu menohok bagi saya sendiri, saya quote disini.

“Kita mungkin acapkali merasa minder duluan jika berhadapan dengan mahasiswa-mahasiswa dari Universitas lain yang peringkatnya jauh lebih baik dari almamater kita Universitas Diponegoro”

Gag jauh kok peringkat Undip ketimbang Univ top lain di Indonesia, satu digit doang selisihnya, beberapa nomor doang, gag jauh-jauh amat kok.

Lah Univ swasta saya, kalo diibaratkan hasil search engine Google itu, mesti klik page kesekian baru nongol nama kampusnya, ini dah mendingan, teman-teman kampus swasta lain rasanya nasibnya lebih mengenaskan, yang kalau diibaratkan hasil search engine Google malah gag keindex sama sekali (wkwkw, sorry guys).

Dan itu saja kalian “acapkali merasa minder”, nah lho apalagi saya yang peringkat Univnya memang benar-benar jauh lebih bawah, mungkin kata yang levelnya diatas “acapkali” apa ya , “seringkali”, atau “tiapkali”. Nah saya harusnya “tiapkali merasa minder” duluan jika berhadapan (ciee, kayak IP MAN) dengan mahasiswa dari Univ lainnya. Apalagi yang nama kampus swastanya dibawah kampus swasta saya, lebih-lebih lagi kali mindernya, atau malah langsung bunuh diri aja kali pas ketemu (sorry lagi guys, haha).

But then, ehmm, ngapain mesti minder coba, kita manusia yang sama, diciptakan dari materi yang sama, dan berkedudukan yang sama baik di mata agama maupun di mata hukum. Terus ngapain ente mesti minder bro/sist?

Itu anak kampus lain sama aja kok kayak ente-ente pada, gag da bedanya, suer.

Anak kampus terbaik itu sama aja anaknya kayak anak kampus terburuk, sama-sama manusia.

Dan perasaan minder ini, umumnya dibentuk oleh perasaan kamu sendiri, yang merasa lebih rendah dibanding orang-orang lainnya. Just don’t do that please. Kamu sama seperti yang lainnya, jangan merasa minder cuma karena peringkat kampusmu lebih rendah, atau prestasimu lebih sedikit, atau motormu lebih butut, atau wajahmu yang lebih mirip lukisan abstrak. Please, jangan minder. Ngapain minder, gag asiklah orang-orang yang minder cuma karena masalah-masalah sepele demikian. Ngapain juga minder karena urusan peringkat kampus, emang kampus bakal merepresentasikan prestasimu, kualitasmu, kehebatanmu, nggak kan? Kamu bisa aja jago walau kampusmu gag jelas.

Dan biasanya perasaan minder ini muncul karena kalian merasa bahwa mereka (anak-anak yang peringkat Univ nya diatas kalian) melihat kalian dengan sebelah mata (red: meremehkan). Padahal yang sebenarnya terjadi sama sekali tidak demikian. Anak-anak kampus terbaik yang pernah saya temui, belum ada yang terlihat meremehkan seseorang berdasarkan asal kampusnya. Belum ada tuh anak UI atau anak ITB apalagi anak UGM yang melihat saya langsung menyipitkan mata, geleng-geleng kepala, atau malah langsung meludah seperti di sinetron-sinetron itu, suer, gag pernah ada. Yang ada malah kebalikannya, jabat tangan erat, obrolan ramah (terkadang agak menyimpang dikit), dan ketawa-ketawa gag jelas. Mereka sama-sama manusia, dan mereka menghargai siapapun sebagaimana manusia berpendidikan lainnya.

JANGAN MINDER!

Dan mungkin kalian merasa minder karena saat seleksi, test atau lomba, itu anak-anak UI, UGM atau ITB udah pada kenal duluan, duduk barengan, saling sapa, ketawa-ketawa bareng. Sementara kalian cuma duduk di pojokan, bareng anak kampus sendiri, yang perginya bareng cowok semua, sementara anak UI, UGM atau ITB ada cewek cakepnya. Jadi minder karena gag bisa kumpul bareng mereka.

Ya wajarlah cuy, itulah lingkaran pergaulan mereka, seleksi, test atau lomba itu bukan pertama kalinya mereka bertemu, udah kesekian kalinya, jadi wajarlah mereka langsung akrab dan kumpul bareng. Kalau kamu mau kumpul bareng mereka juga, JANGAN MINDER, masuk ke dalam lingkaran pergaulan itu entah gimana caranya, ngobrol bareng, nanya2, apa aja deh, kreatif-kreatif caramu aja, yang penting adalah PEDE, JANGAN MINDER. Kalo dah gabung kamu bakal tahu bahwa mereka santai-santai & asik-asik kok anaknya, kan lumayan juga bisa kenal ama cewek-cewek cakepnya, hehe.

 

Paragraf Kedua

Pembahasan saya yang kedua sekaligus yang terakhir, saya quote disini.

            “Pengalaman ini pernah disampaikan oleh salah satu alumni UNDIP yang saat ini bekerja di salah satu perusahaan MNC. Ia menyatakan bahwa, lulusan UNDIP seringkali malu, kurang percaya diri dan minder duluan di setiap penyaringan kerja di tempat-tempat kerja yang top. Mereka minder duluan bertemu lulusan UI, UGM dan alumnus universitas lainnya.”

(Notes, diatas ada tulisan perusahaan MNC, nah buat yang gag paham, ini maksudnya perusahaan Multi National Company, perusahaan global, yang keren, yang mantep, yang gajiya gede, yang dikejar-kejar oleh anak-anak Universitas top)

Nah, ini nih yang paling banyak disinggung oleh anak-anak dari Univesitas nggak keren, apalagi anak-anak Universitas Swasta. Mengenai kesempatan bekerja yang tidak sama, antara mahasiswa kampus nomor 1 dengan mahasiswa kampus nomor 1 dari bawah.

Seorang teman yang ikutan jobfair di sebuah gedung besar, melihat panitia rekrutment perusahaan, memilah ratusan berkas applicant hanya dengan melihat sampul depan mapnya saja, dari nama & Universitas. Dengan sakit hati itu teman memperhatikan si penyeleksi langsung memisahkan berkas applicant berdasarkan nama kampus top & non top, dan sesuai dugaan mapnya masuk dalam tumpukan kampus non top.

Well, sebagai mantan pegawai magang HR di perusahaan MNC (baca disini untuk pengalaman saya magang di P&G), dan beberapa kali bantuin HR perusahaan recruitment saat mengawas test TOEIC untuk recruitment perusahaan-perusahaan top (baca disini untuk pengalaman saya freelance ngawas test di ITC), saya bisa memahami sepenuhnya, mengapa itu si penyeleksi melakukan hal demikian.

Intinya begini, seleksi itu takes time banget buat baca resume satu-satu sehingga mendapatkan applicant dengan kualifikasi terbaik untuk posisi yang ditawarkan. Cara mempersingkat proses tersebut adalah dengan mempercayai filter yang telah ada sebelumnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa untuk masuk ke Universitas top itu dilakukan saringan yang sangat ketat. Sehingga yang didapat adalah anak-anak dengan kualifikasi terbaik saja. Nah filter inilah yang dipercayai dan digunakan langsung oleh si penyeleksi kita tadi, untuk mempermudah pekerjaannya.

Nggak fair?

Kualifikasi kamu siapa tahu lebih bagus?

Ya inilah dunia bro/sist, get used to it, world never fair to you, and also to anyone.

Saran saya adalah sebaiknya kamu mempersiapkan solusi atas masalah ini, ketimbang marah-marah, apa solusinya?

  1. Milikilah kualifkasi (skill) yang bermanfaat bagi orang banyak, dan dapat digunakan oleh pemberi kerja. Milikilah kualifikasi diri yang bisa dijual di pasaran, serta dibutuhkan orang lain. Semakin banyak skill yang kamu kuasai semakin baik.
  2. Buatlah orang-orang disekitarmu (terutama mereka yang penting) mengetahui skill apa yang kamu miliki, apakah dengan cara membantu mereka, bercerita dengan mereka, atau hal apapun deh. Dan semakin banyak orang yang tahu semakin baik.

Cukup lakukan 2 hal diatas selama masa kuliahmu yang 4 tahun itu, dan yakinlah saat lulus nanti kamu tidak akan perlu untuk ikut ke jobfair di gedung-gedung berisi ribuan orang dan mengalami sakit hati seperti teman saya sebelumnya.

Dan sejujurnya, kamu bisa memiliki pilihan untuk tidak bekerja nantinya saat lulus jika memiliki kedua hal diatas.

 

Anak SWASTA jangan bunuh diri please …..

Ya, kamu anak swasta, dan negeri mungkin, harusnya bersedih dengan keadaan yang ada, dengan keterbatasan kesempatan, dengan keterbatasan guru, dengan keterbatasan fasilitas pendidikan, dengan keterbatasan gag adanya alumnus di perusahaan MNC.

Terus di lap matanya tuh sekarang pake tissue.

Terus mikir, mau ngapain dengan semua keterbatasan itu?

Mau bersedih lagi sampe Judith anaknya Rick di The Walking Dead nikah sama Leon di Resident Evil 4? silahkan.

Mau bangkit berdiri dan meninju semua masalah sampe habis kayak Saitama One Punch Man, itu lebih baik lagi.

List semua masalah yang kamu hadapi saat ini, science the shit out of it.

“You do the math. You solve one problem. And then you solve another. And then another. Solve enough and you stay alive.” – Mark Watney, The Martian.

Good luck bro/sist, keep survive!

Tulisan terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *