16th Month, How to Rapid Learn AI, or any other things

Ada waktu sejam setengah nunggu di ruang tunggu D7, terminal 2 Soetta, jam nunjukin pukul 22:16, duduk di samping chargeran yang ada layar TV-nya gede, eh ternyata bisa internetan dan bisa akses Youtube, ada speakernya juga, hmmm, langsung cari Brick by Boring Brick Paramore, sambil nulis 16th report, di bulan Februari ini, di akhir Februari, di akhir periode libur panjang winter break.

Nulis sebentar deh, mumpung ada waktu, tentang gimana aja sebulan ini berjalan. Jujur di awal liburan saya niatin buat fokus belajar AI, udah download full materi belajar buat AI, ada deep learning fast.ai punya Jeremy Howard, ada Natural Language Programming dari Oxford & Stanford, ada Reinforced Learning dari David Silver Deepmind, serta ada Machine Learning dari Jeremy Howard juga. Rencananya sih mau dipelajarin semua, gayanya tadi udah oke banget, haha, download semua materi videonya, dan dipelajari.

Eh ternyata, haha, semua tinggallah rencana, satu bulan habis, cuma 2 materi yang full selesai, yakni Deep Learningnya fast.ai Jeremy Howard dan Machine Learning dari Jeremy Howard juga, duh ngefans banget sama ini om Jeremy. Namun semuanya total full belajar, dan saya merasa benar-benar selesai untuk kedua materi ini, terutama machine learning. 1 bulan ini terasa banget maksimal belajarnya, gag merasa sia-sia liburannya, meskipun materi NLP benar-benar gag kesentuh, sama Speech recognition juga, tapi ya sudahlah, satu bulan memang terlalu singkat kalau mau dihajar semua, satu-satu aja.

Dan di liburan ini ketemu beberapa pembaca blog ini, hehe, ya ampun, gag nyangka ada yang baca, makasih ya yang udah baca, moga bermanfaat, ada Jeff temen GSA dulu, kita ketemu di acara AI Saturday, saat itu kebetulan baru nyampe Jakarta, gag langsung pulang, tapi ikutan AI Saturday dulu di Go-Jek HQ. materi belajarnya bagus, dari online sih sebenarnya, kita nonton bareng, terus diskusi bareng. Saat di Bengkulu ketemu sama teman-teman XLFL dari Bengkulu, kita diskusi banyak di Bengkulu.

Kebetulan sempat ketemu guru-guru saya juga saat pulang ini, saat di Jakarta keliling mall ambassador eh ketemu Deedee, mentor yang paling keren di XLFL. Deedee ini banyak banget berjasa selama 2 tahun masa training XLFL dulu di Jakarta. Kemudian pas di Bengkulu ketemu juga sama kak Rizky, mentor debat bahasa Inggris jaman SMA dulu, 3 tahun belajarnya dulu selama SMA, dari yang dulu yang ngerti ngomong apa-apa,bisa jadi ngerti dikit komunikasi bahasa Inggris, yang akhirnya bikin saya bisa ikut XLFL juga, tanpa ikut debat bahasa Inggris dulu, duh mustahil rasanya bisa ikutan XLFL. Serta ketemu guru-guru di SMA 2 Bengkulu dulu, ada Pak Jarot, Mam Oce, Pak Il, dan masih banyak guru-guru lainnya.

Nah sebenarnya diatas udah mencakup semua sih saran-saran saya, haha, udah keliatan belum pattern belajar saya? Belum, oke coba saya jabarin satu-satu deh. Dan ini berlaku juga saat saya mulai belajar AI, dan pastinya bisa kamu aplikasikan di berbagai topik belajar lainnya.

1. Cari profil mentor keren

Dulu pas SMA mentor saya kak Rizky itu diatas, kita belajar debat bahasa Inggris terus-terusan tiap minggu, sementara orang-orang lain tiap hari minggu nonton kartun, main game, pacaran, nah kita kurang kerjaan mulai dari jam 10 pagi sampai magrib, bahkan kadang lebih lama juga, kita di sekolah aja, debat bahasa Inggris. Selama 3 tahun di SMA, itu aja yang kita lakuin, dan hasilnya lumayan banget ketimbang teman-teman yang belajar formal di kelas saja. Saat kuliah juga ada mentor Deedee di XLFL yang keren parah, saya belajar banyak dari beliau, komunikasi, leadership, presentasi, dan banyak hal lainnya. Selain itu juga ada Anne Ahira, ini mentor belajar digital marketing, dari dialah saya banyak belajar tentang web development, promosi internet, social media marketing, dan banyak hal lainnya. Di AI ini, saya ketemu sama om-om namanya Jeremy Howard, duh sumpah omnya keren parah, langsung deh mendedikasikan diri belajar dari beliau.  Kalau SMA kontak sama mentornya langsung ketemu tiap minggu, personal, muridnya cuma dikit, paling cuma 10 orang saja yang belajar debat bahasa Inggris. Sama Deedee mulai agak lebih banyak, satu kelas, 20 orang apa kalo gag salah, sama Anne Ahira udah goes online, ketemu sesekali saja di forum offlinenya, begitu juga yang AI dari Jeremy Howard, ikutan yang online saja, walau ini lagi coba daftar Fastai International Fellowship, biar official jadi muridnya om Jeremy dan diajar langsung oleh beliau, wish me luck!

2. Cari komunitas keren

Carilah orang-orang yang seiman dan setakwa ketika belajar sesuatu yang baru, sehingga kita bisa lebih konsisten untuk menjalaninya. Dan biasanya, biasanya lho ya, gag selalu, mentor yang bagus akan membentuk komunitas yang keren pula. Case kak Rizky kita komunitas namanya Mahoni Debating Society (MDS), sampai sekarang masih aktif, dan kita saling kenal baik senior maupun juniornya, senior setahun diatas saya udah 2 orang yang dapat LPDP, satu udah di US LPDPnya. Junior setahun dibawah saya ada 1 yang udah dapat Stuned ke Belanda. Dan hal ini bukan hal yang sering terjadi di SMA 2 yang hitungannya masih di kampung, haha. Case Deedee, XLFL sendiri komunitas yang masih kontak-kontakan, walau kami sudah cukup lama lulusnya, anak-anaknya seru parah, lomba di Bali kemarin itu berkat anak-anak XLFL sekelas saya juga. Anne Ahira komunitasnya di Asianbrain, banyak bapak-bapak sama Ibu-ibu sih, jadi saya gag begitu nyambung sebenarnya, haha. Dan di fastai Jeremy, kita ada forumnya, gag tau personal, makanya ini coba gabung di International Fellowshipnya, biar pada kenal dan lebih komitmen.

3. Praktek

Bikin project, ada ide apa, hajar langsung kerjain. Entah itu lomba machine learning di Kaggle.com, atau drivendata.org (kemarin sempat ikutan https://www.drivendata.org/competitions/50/worldbank-poverty-prediction buat predict mana orang miskin mana yang nggak, dari model simple hasil belajar dari Jeremy bisa sampe ke top 20% terbaik, eh kaco, inilah pentingnya punya mentor, jadi proses belajarnya lebih efisien), bikin paper, bikin jurnal, AI itu luas banget, masalah yang bisa diselesaikan ada banyak banget, salah satunya jurnal yang saya coba kerjain sama pacar sendiri selama kita liburan di Bengkulu, melibatkan Profnya dia juga, yakni make Random Forest untuk Predict Determinant of Indonesia Export, jadi kita coba prediksi besarnya ekspor Indonesia ke target 189 negara di seluruh duniapartner trading Indonesia. Dan ini belum ada yang bikin sebelumnya, di Finance, apalagi Indonesia, belum ada yang coba analisis langsung data 189 negara sekaligus, kebanyakan datanya, banyak missing value juga, model forecastnya gag bakal stabil. Dan memang itulah yang terjadi ketika si doi make metode biasanya di Stata, tools standard untuk anak-anak Finance. Tapi jelek banget hasil R-square nya, modelnya jelek parah. Saya bilang, ya sudah coba solve pake machine learning, masukin data-datanya, train modelnya, eh gag pake lama langsung dapat hasilnya, dan bagus banget R-squarenya, bisa sampe 97%. Kita coba bkin draft jurnalnya, kasih ke dosen doi, dan dia setuju bahwa hasilnya bagus, dan dia coba submit ke jurnal, karena dia yang bertindak sebagai corresponding author, yeay, mudah-mudahan lancar. Dan semua ini kita lakukan dalam jangka 1 bulan liburan, di bulan Februari ini.

Dah itu saja rasanya, saran saya buat kamu yang mau belajar AI. Dedikasikan saja waktumu, mudah-mudahan bakal payoff di kemudian hari. Heh berdasarkan pengalaman pasti bakal payoff semua kok, belajar apapun itu, tapi emang mesti lihat belajar mana yang “paling” payoff. Cek trend di kemudian hari, para orang-orang pintar bilang apa yang dibutuhkan nanti di masa mendatang, ya sudah itu yang kamu kerjain aja. Yakin aja, sama kayak saya yakin-yakin aja kalo emang AI bakal banyak dibutuhkan nantinya, hehe.

Ya sudah, sudah mau boarding ini pesawat saya, sampai ketemu lagi di blogpost selanjutnya, salam pendidikan gratisan!

Tulisan terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *